
Setelah Semua Penderitaan Berlalu
Bab 2
Begitu sampai di rumah dan melihat kamar yang kosong, aku pun langsung mengerti.
Rizky pergi ke rumah sakit untuk menjaga Susan.
Aku membuka pintu kamar bayi dan terbengong menatap kamar bernuansa merah muda itu.
Ada ranjang bayi berwarna merah muda di dalamnya, di atasnya tertata mainan anak kecil, kerincingan merah muda dan boneka stroberi merah muda….
Lemari pakaian juga penuh dengan gaun-gaun kecil berwarna merah muda untuk bayi dari lahir hingga usia tiga tahun.
Saat pertama kali tahu diriku hamil, aku sempat bingung dan belum siap menjadi seorang ibu.
Namun, Rizky sangat gembira.
Suatu malam, saat bangun untuk ke kamar mandi, aku menyadari dia tidak ada. Aku pun berjalan ke ruang kerja dan melihat dia duduk di depan komputer.
Cahaya dari komputer membuat wajah tampannya terlihat lembut.
Dia sedang mencari di internet [cara merawat ibu hamil] dan bahkan mencatat satu halaman penuh di kertas.
Saat itulah aku benar-benar tersadar bahwa diriku akan menjadi seorang ibu.
Bisa dibilang, semua harapanku pada anak ini awalnya datang dari Rizky.
Karena mengandung anak dari orang yang kucintai, aku pun dengan sendirinya mencintai bayi di dalam perutku.
Seiring perutku yang mulai membesar, rasa sayangku pada bayi itu makin dalam.
Sementara itu, Rizky jadi rajin berburu perlengkapan bayi di berbagai mal besar.
Namun entah kenapa, semua yang dibelinya selalu untuk bayi perempuan.
Aku sempat menertawakannya, “Kok kamu yakin sekali ini anak perempuan? Bagaimana kalau ternyata laki-laki?”
Rizky hanya tersenyum bangga dan menempelkan wajahnya di perutku yang mulai menonjol.
Tatapan matanya dipenuhi cahaya kebahagiaan.
“Kamu nggak mengerti. Ini adalah ikatan batin antara ayah dan anak perempuannya. Aku punya firasat, kamu pasti mengandung seorang putri cantik yang manis.”
Tuk… tuk….
Tiba-tiba, suara langkah kaki membawaku kembali ke kenyataan. Aku berbalik dan melihat Rizky sudah kembali.
Wajahnya terlihat lelah. Dia berjalan mendekat dan menuntunku ke sofa.
“Sayang, jangan berdiri terlalu lama saat hamil, kakimu bisa bengkak.”
Melihat aku diam saja, dia pun melanjutkan,
“Sayang, hari ini hanya kebetulan. Keadaan di sana sangat mendesak, jangan marah, ya?”
“Aku yang salah, nggak seharusnya meninggalkanmu di rumah sakit. Aku janji nggak akan mengulanginya lagi.”
Nada suaranya terdengar begitu tulus, seolah dia benar-benar bisa menepati janjinya.
Namun, ini bukan pertama kalinya dia berbicara seperti itu. Setiap kali Susan mengalami ‘kecelakaan’, dia selalu memprioritaskan Susan.
Usai bicara, Rizky pun memijat kakiku.
Saat aku hendak berbicara, tiba-tiba tercium aroma parfum manis yang kuat dari tubuhnya.
Itu adalah aroma mawar kesukaan Susan.
Aku merasa mual dan tak bisa menahannya, langsung muntah.
Wajah Rizky panik. Dia mengambilkan tempat sampah untukku dan bertanya, “Kenapa? Kok mual-mual lagi?”
Setelah agak pulih, aku pun bicara dengan lelah, “Ini bukan mual karena hamil, tapi karena jijik.”
“Apa kamu bilang?” tanyanya karena tak mendengar jelas.
“Ini bukan mual karena hamil, tapi karena jijik mencium aroma parfum di tubuhmu.”
Dia pun memperlihatkan ekspresi sedihnya.
“Sayang, aku….”
Aku memotongnya, “Kita cerai saja!”
Dia terdiam sejenak, lalu tiba-tiba mendekat dan memelukku erat.
Suaranya sedikit bergetar,
“Sayang, kata cerai nggak boleh sembarang diucapkan, itu sangat menyakitkan. Kita sudah punya anak, mana mungkin bercerai? Kita harus hidup bersama sampai tua.”
Aku mendorongnya dan menatap matanya, lalu menjawab, “Rizky, bukankah sudah kubilang hari ini, kalau kamu pergi, hubungan kita selesai? Kamu nggak dengar?”
Dia pun panik dan menjawab, “Bukan seperti yang kamu pikirkan….”
Aku mendorongnya menjauh dan tak ingin mendengar penjelasannya.
Sejak Susan kembali, antara aku dan Susan, dia tak pernah memprioritaskan diriku.
Aku berjalan masuk ke kamar dan mengunci pintu dari dalam.
Mengabaikan ketukan Rizky, air mataku terus menetes.
Bayi di perutku pun sepertinya merasakan emosiku dan mulai gelisah.
Aku mengelus perutku untuk menenangkannya.
Maaf, nak. Gara-gara ibu, kamu harus lahir tanpa ayah.
Namun, ibu tak ingin kamu sama sepertiku, berulang kali ditinggalkan ayahmu untuk pergi mencari orang lain.
Anda Mungkin Juga Suka





