
Setelah Reinkarnasi, Aku Menjauhinya
Bab 3
Rekan-rekan kerja di sekitarku mulai berbisik pelan. Jelas sekali mereka sedang memuji betapa serasinya Jefri dan Paula.
Tatapan mereka diam-diam tertuju padaku.
Mereka terus membandingkan aku dengan Paula. Hingga akhirnya, mereka menyimpulkan bahwa Paula jauh lebih cantik dariku.
Ketika mendengar percakapan mereka, hatiku terasa sedikit sakit.
Namun, lebih dari itu, aku justru merasa lega.
Ketika melihat betapa mesranya Jefri dan Paula, makin banyak rekan kerja yang sibuk dengan pekerjaannya, tetapi diam-diam mengalihkan perhatian mereka pada kami bertiga.
Semua orang di perusahaan tahu.
Mereka tahu bahwa aku dan Jefri adalah pasangan yang sudah bertunangan. Mereka juga tahu bahwa aku sangat mencintai Jefri.
Namun, sekarang Jefri dengan terang-terangan melindungi Paula, tanpa sedikit pun peduli padaku. Tatapan mereka padaku penuh dengan rasa iba dan pengertian.
Seolah mereka bisa membayangkan bagaimana aku menangis tersedu-sedu, memohon agar Jefri tidak meninggalkanku.
Seorang rekan kerja yang cukup dekat denganku menatapku dengan tatapan cemas.
Namun, aku hanya diam, terus membereskan barang-barangku.
Jefri menatapku dengan kening berkerut, tampak tidak senang. Dia berkata, "Kenapa wajahmu seperti orang mati? Apa yang sedang kamu lakukan?"
Aku tersenyum simpul dengan tenang, menunjuk barang-barang di mejaku, lalu membalas, "Aku sudah mengundurkan diri. Sekarang aku sedang berkemas. Tenang saja, aku nggak akan mengganggumu. Aku juga nggak akan membuat Paula kesal."
Pada saat itu, Paula melenggok mendekat dengan pinggang rampingnya, berjalan dengan anggun ke arahku.
Dia meletakkan sepotong kue mangga di hadapanku.
Dia tersenyum lembut sambil berujar, "Nona Sonia, ini kue yang dibuat sendiri oleh Jefri untukku. Aku rasa kamu belum pernah mencicipi masakannya, 'kan? Dia sangat ahli dalam membuat makanan! Kamu harus mencobanya!"
"Jangan bertengkar dengan Jefri, ya. Mendapatkan pekerjaan yang baik itu nggak mudah. Meski keluarga Nona Sonia sangat kaya, tetap saja kesempatan ini terlalu berharga untuk disia-siakan."
Aku tidak mengambil kue dari tangannya.
Senyum di wajah Paula sedikit menegang, sementara dia menatap Jefri dengan ekspresi sedikit terluka.
Wajah Jefri makin terlihat kesal. Kemudian, dengan suara dingin dan tajam, pria itu berkata, "Paula dengan baik hati ingin berbagi denganmu, kenapa kamu nggak menerimanya? Apa kamu nggak tahu sopan santun?"
Berbagi?
Aku perlahan tersenyum, lalu menatap Jefri sambil berkata, "Jefri, aku alergi mangga."
Jefri tertegun. "Kenapa aku nggak tahu?" gumam pria itu.
Paula yang melihat Jefri terdiam, buru-buru berkata, "Aku mendengar dari Jefri kalau kamu sering membeli mangga untuk dibawa pulang. Nona Sonia, kalau kamu membenciku, kamu bisa langsung mengatakannya, nggak perlu berbohong begitu."
Aku kembali tersenyum.
Aku memang sering membeli mangga, tetapi itu karena Jefri yang menyukainya. Aku sendiri bahkan tidak pernah menyentuhnya.
Melihat ekspresi dingin Jefri, hatiku tetap terasa sakit.
Kami tumbuh besar bersama sejak kecil, tetapi dia bahkan tidak tahu kalau aku alergi mangga.
Aku belum sempat mengatakan apa-apa, tetapi Jefri sudah lebih dulu naik pitam.
Dia mengambil potongan mangga dari tangan Paula, melemparkannya tepat ke wajahku. Melihat aku tidak menunjukkan reaksi apa pun, tatapan matanya menjadi makin tajam. Dia berujar, "Sonia, sejak kapan kamu jadi pembohong seperti ini?"
Aku menundukkan kepala. Rasa perih mulai menjalar di wajahku. Bintik-bintik merah kecil bermunculan di kulitku, makin lama makin banyak.
Rekan kerja di sampingku yang melihat ruam merah menyebar di wajahku, langsung menjerit kaget.
Aku merasa napasku mulai tersengal. Kemudian, kesadaranku menghilang sepenuhnya.
Anda Mungkin Juga Suka





