
Setelah Reinkarnasi, Aku Menjauhinya
Bab 4
Aku memiliki alergi mangga yang cukup parah. Bahkan hanya mencium baunya saja sudah membuatku merasa tidak nyaman. Jangankan lagi jika buah mangga segar langsung menghantam wajahku.
Saat aku tersadar kembali, aku sudah terbaring di ranjang rumah sakit.
Jefri berdiri di hadapanku dengan ekspresi penuh rasa bersalah. Tatapannya terlihat rumit. "Aku nggak tahu …."
"Maaf."
Aku tidak menjawab.
Jefri menatapku lekat-lekat, seolah menyadari ada sesuatu yang berbeda dariku.
Belakangan ini, aku memang sangat dingin padanya.
Aku juga selalu menghindarinya.
Sekilas, kegelisahan melintas di matanya. Dia menuangkan segelas air, menyodorkannya padaku, lalu berujar, "Sonia, kenapa aku merasa kamu sudah berubah?"
Aku menatapnya, pria yang telah kucintai dalam dua kehidupan. Namun, sekarang wajah itu tampak begitu asing bagiku.
Aku menjawab dengan nada acuh tak acuh, "Yang berubah itu kamu. Aku nggak pernah berubah."
Jefri menghela napas tak berdaya, nada bicaranya sedikit melunak, "Kemarin aku hanya memintamu untuk nggak mengganggu Paula, bukan menyuruhmu mengundurkan diri."
"Paula baru saja mulai bekerja di perusahaan. Dia hanya mengenalku di sini, jadi wajar kalau aku harus sedikit memperhatikannya .… Oh ya, bagaimana perkembangan rencana proyek yang kamu kerjakan akhir-akhir ini? Serahkan saja pada Paula, dia pasti lebih membutuhkannya daripada kamu," lanjut Jefri.
Ketika mendengar kata-katanya, aku tersenyum simpul tanpa tenaga, lalu membalas, "Paula sudah merebut tunanganku, sekarang dia masih ingin merebut proyekku juga?"
Wajah Jefri langsung berubah muram.
Pria itu menatapku dengan raut kecewa, lalu berkata, "Aku dan Paula sekarang hanya teman. Sonia, bisakah kamu berhenti bersikap kekanak-kanakan seperti ini? Apa kamu tahu? Sifat posesifmu ini sangat keterlaluan! Aku benar-benar merasa sesak tinggal di kota yang sama, di negara yang sama denganmu!"
Aku menatapnya dengan tatapan tajam.
Kemudian, aku mengambil ponsel, meletakkan formulir aplikasi imigrasi di depannya.
Aku berkata dengan suara tegas, "Jangan khawatir. Aku akan pindah ke Negara Amaris. Aku nggak akan pernah muncul di hadapanmu lagi."
Jefri terdiam.
Dia hanya menatapku dengan ekspresi yang sulit ditebak.
Aku mengira bahwa dengan keputusan ini, dia akan merasa lega. Namun, aku tidak melihat secuil pun senyuman di wajahnya.
Aku tersenyum pahit.
Jadi, dia bahkan tidak sudi untuk tersenyum sedikit pun?
Rasa lelah yang tak terlukiskan tiba-tiba menyelimuti hatiku. Aku baru saja hendak menyuruh Jefri pergi.
Namun, tiba-tiba ponselnya berdering.
Ekspresinya langsung berubah muram begitu dia melihat layar ponselnya.
Setelah sekian lama, dia berkata, "Acara pertunangan kita sebaiknya dibatalkan dulu. Paula sedang sakit parah belakangan ini, dia butuh aku di sisinya."
"Aku tidak ingin dia merasa sedih."
Aku mengangguk.
Aku tidak peduli lagi. Lagi pula, pertunangan itu memang tidak akan terjadi.
Aku tidak ingin mengulang takdir yang sama. Aku tidak ingin mati di tangan Jefri lagi.
Sebulan sebelum keberangkatanku ke Negara Amaris, aku menemukan sebuah buku harian saat aku sedang berkemas.
Isinya adalah semua rahasia kecil tentang cintaku pada Jefri.
Tepat saat aku baru saja akan membuang buku itu ke tempat sampah, ponselku tiba-tiba berdering.
Panggilan ini dari Jefri.
Suara Jefri yang ada di ujung telepon terdengar asing dan jauh.
Dia berkata, "Beberapa hari lagi adalah ulang tahunmu. Aku ingat kamu selalu ingin melihat matahari terbit di Kota Andalus. Aku akan pergi menemanimu ke sana."
Ketika mendengar kata-katanya, hatiku yang sudah membatu masih juga melembut.
Selama bertahun-tahun ini, Jefri adalah keluargaku, kekasihku.
Bahkan ketika dia membenciku, dia tetap berjaga di sisiku sepanjang malam saat aku sakit parah.
Aku berpikir, mungkin ini saatnya untuk mengucapkan selamat tinggal dengan baik.
Di pagi hari ulang tahunku, aku datang lebih awal ke dek observasi terkenal di Kota Andalus, menunggu Jefri.
Namun, yang datang bukanlah Jefri, bukan pula matahari terbit, melainkan gempa bumi.
Di hadapan bencana alam, manusia tampak begitu rapuh dan kecil. Aku tidak punya waktu untuk berpikir panjang. Berdasarkan yang pernah aku baca di buku panduan mitigasi bencana, aku segera mencari tempat yang relatif lebih aman.
Getaran hebat mengguncang segalanya, membuatku kehilangan kesadaran.
Saat aku tersadar kembali, aku sudah terjebak di bawah tumpukan puing-puing.
Untungnya, ada dua batang kayu besar yang menahan reruntuhan di atasku, memberiku sedikit ruang untuk bertahan hidup.
Di dalam kegelapan, aku banyak berpikir.
Yang paling sering aku pikirkan adalah ayah dan ibuku. Syukurlah mereka tidak ikut bersamaku ke Kota Andalus.
Namun, pasti sekarang mereka sangat cemas. Ini semua salahku.
Di dalam gelap, waktu seolah berhenti.
Aku pikir aku akan mati begitu saja di bawah reruntuhan ini. Tiba-tiba, sepasang tangan penuh luka-luka dengan hati-hati menarikku keluar. Dengan pandangan yang kabur, aku hanya bisa melihat wajah yang tidak asing ….
Anda Mungkin Juga Suka





