
Setelah Pergi Penelitian, Tunanganku Menyesal
Bab 6
Hari kelima dari hitung mundur, aku mengajukan pengunduran diri dari sekolah.
Dulu, demi bersama Hendri, aku menolak tawaran dosen untuk melanjutkan penelitian di laboratorium dan memilih untuk tinggal di Kota R dan menjadi pengajar di sekolah.
Rekan-rekan kerja terkejut saat aku mengajukan pengunduran diri.
"Kenapa kamu mengundurkan diri, Bu Nandia?"
"Beberapa hari yang lalu kamu bahkan memberi kami permen pernikahan, jadi kamu akan menjadi ibu rumah tangga? Pak Hendri benar-benar beruntung."
Beberapa rekan bercanda.
Aku tersenyum sambil membawa barang-barangku.
"Bukan, pernikahan dibatalkan."
Begitu aku membuka pintu rumah, aku melihat Hendri dan Chelsia duduk di sofa setelah satu minggu tidak bertemu.
Hendri melihat barang-barang yang aku bawa dan bertanya,
"Kamu bawa barang-barang itu untuk apa?"
Aku segera mencari alasan.
"Ini barang-barang yang tidak terpakai, jadi aku bawa pulang."
Hendri mengangguk dan memandang sekeliling ruangan dengan sedikit kebingungan.
"Aku baru saja seminggu tidak pulang, kenapa rasanya banyak barang yang hilang?"
Aku meletakkan kotak di kamar tidur dan menjawab dengan tenang,
"Aku hanya membersihkan beberapa barang yang tidak diperlukan lagi."
Hendri tampak ingin mengatakan sesuatu, tapi Chelsia langsung memotongnya.
"Kak Nandia, terima kasih beberapa hari ini kasih Bang Hendri menemani aku liburan, terima kasih juga sudah mengizinkan Bang Hendri untuk foto prewed denganku, mengabulkan impianku."
"Begini saja, aku traktir kalian makan sebagai tanda terima kasih telah menjagaku, kedepannya mungkin akan merepotkan kalian lebih lama, semoga Kak Nandia tidak keberatan."
Aku melihat pandangan penuh kebanggaan dari Chelsia, dan dia menebak bahwa aku tidak akan menerimanya.
Sejak aku menerima surat pemeriksaan kehamilan itu, aku tidak pernah menunjukkan reaksi apapun, bahkan tidak pernah menanyakan Hendri satu kata pun.
Namun sekarang, aku tidak ingin terjebak dalam perdebatan yang tidak ada gunanya. Lima hari lagi, aku tidak akan muncul lagi di hadapan Hendri. Saat ini, aku hanya ingin menyelesaikan semua urusan di sini dan kemudian pergi.
Melihat aku diam, mata Chelsia langsung berkaca-kaca.
"Bang Hendri, apakah Kak Nandia marah? Karena kalian akan menikah, tapi..."
Begitu mendengar kata-kata Chelsia, Hendri langsung mengerutkan dahi, dengan nada tidak senang menyalahkanku.
"Chelsia tulus ingin berterima kasih pada kita, kenapa kamu harus menunjukkan wajah cemberut seperti ini? Hanya makan bersama, bukan meracunimu, kamu harus pergi!"
Aku belum sempat mengatakan apa-apa, Hendri sudah menetapkan aku sebagai orang yang bersalah.
Akhirnya, aku tetap dibawa juga.
Sesampainya di restoran, pelayan datang untuk menanyakan menu yang ingin kami pesan.
Saat aku baru membuka menu, Hendri langsung berkata,
"Jangan terlalu berminyak dan pedas, dan jangan ada ketumbar di semua makanan."
Setelah makanan datang, Hendri dengan perhatian memberi makanan ke piring Chelsia.
Kemudian dia mendorong sebuah piring udang besar ke arahku.
"Chelsia tidak boleh makan makanan laut, jadi ini untukmu."
Melihat piring udang itu, aku langsung kehilangan selera makan dan meletakkan sendok.
"Aku alergi sama makanan laut."
Betapa lucunya.
Selama lima tahun pacaran, Hendri tidak tahu bahwa aku alergi makanan laut, tapi dia tahu apa yang tidak bisa dimakan Chelsia. Bahkan detail kecil seperti tidak memakan ketumbar pun dia ingat.
Hendri tampak kebingungan sejenak.
Saat dia menatapku lagi, matanya menunjukkan sedikit rasa bersalah, lalu dia menambahkan beberapa hidangan lagi.
Namun, aku tidak menyentuh makanan apapun, hanya diam-diam meminum air.
Setelah selesai, saat turun dari tangga, aku menerima telepon dari kakak senior.
"Nandia, dosen ingin memastikan lagi apakah kamu akan melanjutkan eksperimen sesuai jadwal normal? Eksperimen pertama di laboratorium ini melibatkan proyek rahasia, dan mungkin kamu tidak akan bisa berhubungan dengan dunia luar selama satu atau dua tahun."
Aku melihat Hendri dan Chelsia yang berjalan berdampingan di depanku.
Saat turun tangga, Hendri dengan hati-hati merangkul pinggang Chelsia.
Suaraku sangat tenang saat menjawab.
"Iya pasti."
Setelah mendapatkan jawaban yang pasti, kakak senior merasa lega.
"Syukurlah, dosen takut kamu tidak bisa meninggalkan suamimu."
Aku menarik kembali pandanganku dan berbalik menuju arah lain.
"Pernikahan sudah dibatalkan."
"Aku sudah siap untuk pergi."
Begitu aku selesai berkata, aku mendengar suara kebingungan di belakangku.
"Siapa yang mau pergi?"
Anda Mungkin Juga Suka





