APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Setelah Bercerai

Setelah Bercerai

Pasca-perceraian, sepasang mantan suami istri dipertemukan kembali oleh kondisi kritis buah hati mereka yang di ambang maut. Sang ibu selama ini berjuang sendirian sebagai orang tua tunggal, sedangkan sang mantan suami justru sibuk dengan kehidupan barunya. Meski sang istri sempat membatasi pertemuan, kini ego harus ditekan demi anak mereka yang tengah bertaruh nyawa akibat kelalaian masa lalu. Akankah mereka mampu bersatu demi menyelamatkannya?
Bab
Bagikan

Bab 3

Masih menggendong Andi, Widya mengetuk pintu rumah itu. Desi-pembantu rumah tangganya masih setia menunggui rumah.

"Gimana Bu?" Desi tak tahan untuk tidak bertanya. "Kondisi Andi?"

"Baik-baik saja, Des." ujar Widya yang langsung menuju  kamar anaknya. "Sudah dibersihkan kamar Andi, Des?" tanya Widya kemudian.

"Sudah Bu,"

Desi langsung membantu Widya membukakan pintu kamar anaknya. Membantu Widya membaringkan Andi ke tempat tidurnya.

"Sudah malam Des, pulanglah. Biar besok pagi-pagi kamu bisa kesini lagi."

"Iya, Bu," jawab Desi. "Kalau Ibu mau makan malam, tadi saya sempatkan masak. Semuanya sudah siap di meja makan."

"Ya, terima kasih, Des."

Widya lantas keluar kamar. Mengikuti langkah Desi yang keluar rumah. Setelah memastikan pembantunya itu pulang dalam keadaan aman, Widya lalu ke kamar mandi untuk mandi.

Usai mandi, layaknya seorang Ibu yang sangat memerhatikan anaknya, Widya kembali ke kamar Andi dengan baskom berisi air hangat kuku untuk mengompres kepala anak itu.

Widya mengompres kening Andi dengan perasaan sayang. Bulir air matanya akhirnya tumpah. Dia berharap Andi baik-baik saja, dan esok semoga keadaan anaknya sudah lebih baik.

Andi tampak menggeliat, kemudian anak itu memiringkan badannya. Dengan air mata yang keluar dari sepasang matanya, Widya mengelus puncak kepala anak itu dan menciuminya  dengan penuh rasa sayang.

***

Pram baru saja masuk ke rumah itu. Rumah besar miliknya. Dilihatnya penghuni rumah. Sepi. Sari-pembantu mereka mungkin sudah istirahat di kamarnya. Dan ketika masuk kamar, Pram malah tidak menemukan Intan berada di kamar mereka.

Tatkala membuka kamar Kavita-anak perempuan mereka. Pram menyaksikan istrinya itu tertidur di kamar anaknya itu.

Pram beranjak ke kamar tidur. Sesampainya di kamar, pria itu membuka kancing atas pakaiannya untuk mengusir hawa panas.

Pram lalu berbaring di tempat tidurnya. Pikirannya kemudian menerawang. Lama ia masih membayangkan wajah mantan istri dan anak laki-lakinya. Baru kali ini rasanya ia membayangkan betapa susahnya Widya mengurus anak mereka. Mengapa ia baru kepikiran sekarang?

Hanya lantaran ia kecewa terhadap Widya, ia hanya mencukupi kebutuhan Andi, dan itupun hanya lewat rekening, jarang menemui mereka. Hampir tidak pernah lagi Pram menjenguk anaknya pasca perceraian. Ya ampun. Ayah seperti apa dia?

Pram akhirnya mengubek-ubek poto lama yang masih ia simpan secara sembunyi-sembunyi, karena ia tidak ingin barang-barang pribadinya diketahui Intan-istrinya yang sekarang.

Namun justru melihat poto-poto ia dengan mantan istrinya itu, serta  anak mereka-Andi membuat Pram berpikir jernih, bahwa keduanya sungguh butuh perhatian darinya.

Kini, Pram baru menyadari bahwa selama ini ia sudah begitu egois.

***

Widya memindahkan dua loyang berukuran besar berisi Muffin ke nampan-nampan kecil dan menaruhnya di etalase depan. Seperti inilah hari-harinya. Mengurus toko kue yang coba dibangunnya setelah perceraian 4 tahun lalu.

Setelah merasa kesulitan uang sesaat setelah bercerai, ia memilih bertahan. Ia membangun toko kue dengan segenap tenaganya. Passion yang selama ini ia pendam dan ia geluti dengan baik, akhirnya bisa ia aplikasikan dengan sangat baik.

Widya tahu, sejak bercerai, ia harus menghidupi dirinya sendiri. Walaupun ia menerima uang kiriman dari Pram  untuk anak laki-lakinya, namun ia bukanlah perempuan yang mau berpangku tangan.

Widya berhasil survive. Widya berhasil move on. Widya berhasil meneruskan hidup. Bodoh namanya jika menyerah pada keadaan dan dia bukan termasuk perempuan yang seperti itu.

Setelah baru saja selesai meletakkan kue-kue muffin yang matang itu, ia beralih   menyusun kue brownies kukus yang sudah dipotong-potong  dengan sangat cantik.

Widya terhenyak saat Haikal-seseorang yang kini masih berstatus teman-bagi Widya. Dan pria itu nampak sudah tersenyum padanya.

"Kemarin aku tidak melihatmu ada di toko kue," katanya.

"Andi sakit. Tiba-tiba saja keluar darah dari hidungnya."

"Mimisan! Kau serius?"

Widya mengangguk pelan.

"Dari kantor aku memang langsung kesini kemarin. Kepala bagian memintaku untuk memesan kue disini buat rapat nanti hari Sabtu."

"Kau sudah memesannya?"

"Sudah, saat memesan aku bertanya soal kamu?"

Widya menghela napas. Dia lalu berjalan ke depan. Widya duduk di sebuah kursi dan  Haikal mengikuti Widya lalu duduk di depan perempuan itu.

"Aku cemas dengan kondisi anakku. Aku takut ia..."

"Tapi Andi baik-baik saja kan?" potong Haikal.

"Saat ini masih dalam keadaan baik."

"Terus di rumah?" tanya Haikal.

"Aku minta Desi yang menjaga dan urus. Karena kau tahu sendirilah aku sibuk di toko kue. Ya, kau tahu sendiri jika sampai aku tidak bekerja."

Sepasang mata Widya sudah menerawang. Terbayang sudah saat dulu sebelum toko kue ini dibangun, dan ia hidup dengan begitu susahnya. Sampai akhirnya Haikal memberanikan diri menggenggam jemarinya.

"Aku mengerti. Mungkin...aku akan merasakan apa yang kau rasakan jika aku punya anak, dan harus menghidupi anakku dan menjaganya pula."

"Aku terlalu takut," kata Widya. Masih terbayang peristiwa kemarin pagi. Bantal tidur Andi yang penuh darah.

"Jangan terlalu khawatir. Sebaiknya harus tetap optimis. Jangan pesimis Widya, aku tahu kamu perempuan yang kuat."

"Aku sampai harus memanggil Pram!"

"Agar kau tak selalu disalahkan?" tanya Haikal.

Widya mengangguk.

"Tetap tabah, Widya. Anakmu membutuhkanmu, karena kau Ibunya."

Widya mengusap air mata yang tiba-tiba tumpah. "Eh, kau mau minum  apa Kal, kubuatkan es teh manis ya?"

"Nggak usah Wid, aku harus balik ngantor lagi. Kesini cuma memastikan pesanan itu. Ya, aku harap kau tahu apa-apa yang aku pesan untuk Sabtu besok."

"Beres, ntar aku lihat-lihat di meja pesanan kue," ujar Widya. "Oh iya, aku harus bekerja lagi. Aku mau ke ruangan produksi."

"Aku juga mau balik ke kantor." Pria itu sudah berdiri dan menyunggingkan senyumnya. "Terima kasih Widya."

"Aku yang terima kasih. Karena kau sudah menjadi pelanggan setia untuk toko kueku." Setelah mengatakan itu Widya pun tertawa.

Pria itu sudah keluar dari toko kue dan melambaikan tangannya.

Widya tersenyum dengan perasaan yang sulit ia gambarkan.

Terlihat Haikal sudah masuk ke dalam mobilnya, dan Widya pun sudah masuk ke dalam untuk kemudian menuju ruang produksi kue.

***

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AKU DAN TEMAN SUAMIKU
9.7
Nasib Tara berbalik total setelah dirinya terpaksa menjadi istri kedua dari teman dekat almarhum suaminya. Pernikahan ini menyeretnya ke dalam pusaran konflik domestik yang rumit dan menyiksa batin. Di tengah badai perasaan yang tiada habisnya, Tara dihadapkan pada persimpangan jalan yang krusial. Haruskah ia tetap tegar mempertahankan ikatan tersebut, ataukah ia akan melangkah pergi karena tak sanggup lagi memikul penderitaan yang kian menumpuk?
Sampul Novel Gadis Imut Kesayangan Sugar Daddy
8.9
Arsitek ternama berusia 37 tahun, William Samsons MacRay, tidak sengaja bertemu Emmy Estelia Setiawan di bandara saat situasi kacau. Siapa sangka, lulusan Harvard yang baru kembali ke Jakarta itu ternyata bekerja di perusahaan miliknya. Terpikat oleh Emmy, William kerap mengajaknya dalam perjalanan bisnis global hingga hubungan mereka berlanjut sebagai sugar daddy dan baby. Sayangnya, rencana perjodohan dari orang tua William kini mengancam kelangsungan kisah cinta beda usia ini.
Sampul Novel Kaka Iparku Brengsek
8.7
Nadia Pamungkas menghadapi petaka setelah memilih menetap di kediaman kakaknya, Tasya, di Jakarta. Kesibukan Tasya membuat Nadia sering berinteraksi dengan kakak iparnya, Aldo. Pria blasteran yang semula bersikap ramah itu lambat laun menunjukkan ketertarikan tak wajar pada Nadia. Keduanya pun terjebak dalam hubungan terlarang hingga melakukan kekhilafan fatal. Kini, keutuhan keluarga mereka berada di ambang kehancuran. Akankah skandal gelap ini terbongkar?
Sampul Novel Mengungkap Istriku yang Dijauhi: Dia Menyembunyikan Seribu Identitas
9.4
Kehilangan orang tua akibat pembunuhan, Kathryn kembali untuk menuntut hak warisnya. Dia kerap dicaci sebagai anak haram yang tak layak bersanding dengan Evan. Namun, sang suami justru sangat mencintai wanita misterius ini. Di balik keanggunannya, Kathryn menyimpan rahasia sebagai peretas andal, dukun legendaris, dan peracik parfum istana. Saat Evan memanjakannya di hadapan publik, satu per satu topeng Kathryn terbuka, memaksa para pembencinya tunduk.
Sampul Novel Kawin Kontrak dengan CEO Kejam
8.3
Penyiksaan yang tiada henti selalu terbayang di mata Elle, seorang Ayah yang seharusnya mengayomi malah sebaliknya dia dipaksa bekerja untuk mencari uang. Ayahnya semakin hari semakin gila. "Ayah, aku mohon hentikan!" isaknya sambil memohon. "Kamu menginginkan ini! Kamu seharusnya sudah menyiapkan uang yang aku butuhkan?!" "Ayah, hentikan! Sakit!" Elle seorang gadis berusia dua puluh dua tahun harus menanggung kehidupan yang pahit. Elle si gadis penari telanjang itulah profesinya saat ini. Kini ia bertekad untuk mengakhiri semua ini dia tidak ingin dijadikan budak lagi oleh Ayahnya, dia ingin keluar dari kehidupan yang kotor dia tidak ingin menjual tubuhnya lagi, malam ini adalah malam terakhir dia bekerja sebagai penari telanjang disebuah club.
Sampul Novel Last Twilight
8.5
Senja Aluna selalu bingung dengan sikap dingin kedua orang tuanya. Saat adiknya sakit keras, ia malah menjadi pelampiasan amarah sang bunda. Beruntung, ada Dilan, sahabat setia yang selalu melindunginya di tengah kehampaan kasih sayang keluarga. Namun, hidup Senja kian goyah saat takdir mengancam akan memisahkan Dilan darinya. Di ambang keputusasaan, Senja hanya mendambakan pelukan hangat dan perhatian tulus ibunya. Akankah impian sederhana itu terwujud?