APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Seratus Kali Janji Palsu

Seratus Kali Janji Palsu

Sepuluh tahun menjalin hubungan, Soni kembali menelantarkan kekasihnya di Kantor Catatan Sipil demi menemani cinta pertamanya, Yeni. Setelah puluhan telepon diabaikan dan dihina, sang protagonis memutuskan bahwa batas kesabarannya telah habis pada kegagalan pernikahan yang keseratus ini. Saat Soni mengirim pesan untuk janji berikutnya, dia memilih mengabaikannya dan terbang ke luar negeri. Kepergian mendadak ini seketika membuat Soni yang biasanya tenang menjadi panik dan kehilangan kendali.
Bab
Bagikan

Bab 2

Aku sarapan sambil membuka laptop untuk mengurus pendaftaran visa daring.

Setelah semua selesai, tanpa sadar aku kembali membuka linimasa Yeni.

Ada dua unggahan baru.

Ungahan pertama baru saja diunggah. [Aku bilang lagi nggak enak badan, kamu langsung nyetir ke sini. Aku benar-benar beruntung bisa ketemu kamu! Kamu beneran sayang banget sama aku! Aku juga sayang kamu!]

Fotonya memperlihatkan Soni dari samping. Dia menggenggam tangan Yeni erat-erat, seakan takut dia pergi di detik berikutnya.

Seketika aku teringat beberapa tahun lalu. Demi pekerjaan, aku sering begadang berlatih piano sampai lupa makan. Akhirnya maagku kambuh. Rasa sakit itu membuatku hampir tidak bisa berdiri. Dengan susah payah aku memohon padanya untuk mengantarku ke rumah sakit. Tapi, dia hanya menjawab, "Kamu bisa nggak jangan lebay? Paling juga nggak parah. Minum air hangat saja, beres."

Pada akhirnya, karena sudah tidak kuat, aku sendiri yang menelpon ambulans.

Saat aku pingsan, samar-samar kudengar suaranya. "Ih, merepotkan sekali."

Aku baru benar-benar paham. Perlakuan manusia pada manusia lain memang bisa sangat berbeda.

Aku terus menggulir linimasa. Pagi ini, ada unggahan dengan latar kamar hotel. Meja dipenuhi sarapan mewah. Yeni tersenyum bahagia sambil berpose tanda damai.

[Kakak memang baik banget! Tadi malam aku cuma bilang mau makan roti sup udang dari Hadalo. Pagi ini kamu langsung bangun lebih awal, nyetir satu jam buat beliin aku. Yang nggak habis malah dikasih ke anjing.]

Aku hanya bisa tertawa getir.

Dulu aku percaya cinta bisa mengalahkan segalanya. Aku pikir, selama aku memberikan lebih banyak, Soni akhirnya akan melihat ketulusanku.

Nyatanya aku terlalu tinggi menilai posisiku di hatinya.

Aku tidak tahan lagi melihat unggahan itu. Aku membereskan barang-barang lalu pergi jalan-jalan. Tidak kusangka, begitu masuk ke toko tas, aku justru berpapasan dengan Soni dan Yeni yang baru keluar.

Yeni sedang manja. Suaranya manis sekali. "Aku 'kan sudah bilang jangan kebanyakan beli. Tapi kamu tetap beliin, beliin, beliin! Ini terlalu banyak, pasti habis banyak uang ya?"

Aku jelas melihat Soni membawa lima sampai enam kantong belanjaan. Padahal dulu saat aku minta dia membawakan satu tas belanja saja, dia langsung menolak dengan wajah kesal.

Wajah Soni sedikit canggung. "Kamu kok di sini? Yeni bilang dia lagi butuh tas, jadi aku temani dia lihat-lihat."

Lalu dia menambahkan. "Kamu ada yang mau dibeli nggak?"

Aku menggeleng. Kami sudah di ambang perpisahan. Untuk apa aku menyimpan barang-barang darinya.

Soni merasa sedikit kesal, entah kenapa juga muncul rasa tidak tenang.

Yeni merangkul lenganku dengan ramah. "Waktu itu untung ada Soni yang bantu aku. Aku sudah bilang, nanti aku pasti suruh dia minta maaf sama kamu. Kebetulan kami mau makan malam, kamu ikut ya?"

Soni langsung menimpali. "Ikut saja."

Belum sempat aku menolak, dia sudah menarikku dengan paksa.

...

Aku akhirnya duduk di kursi belakang, terhimpit bersama banyak kantong belanjaan.

Yeni menoleh dan tersenyum padaku. "Maaf banget, aku gampang mabuk kalau naik mobil. Jadi aku duduk di depan. Kamu nggak keberatan, 'kan?"

Soni langsung mewakiliku menjawab, "Dia nggak keberatan. Cuma naik mobil sebentar saja."

Padahal aku pernah bilang padanya bahwa kursi depan itu khusus untuk pacarnya.

Dia bahkan pernah berjanji manja padaku. "Ya, ya, kursi depan itu punyamu. Nggak boleh ada orang lain yang duduk di sana."

Mataku menatap foto mereka berdua yang ditempel di dekat setir. Di bawahnya ada tulisan kecil dengan gambar hati. Hati-hati nyetirnya ya, jangan sampai kelelahan!

Soni buru-buru menjelaskan. "Yeni takut aku ngantuk pas nyetir, jadi dia sengaja nulis itu. Kalau kamu nggak suka, nanti aku hapus."

"Nggak apa-apa." Suaraku datar tanpa emosi.

Soni sadar ada yang aneh denganku. Saat menyetir, dia berkali-kali melirik kaca spion, memastikan aku baik-baik saja sambil berusaha mengajakku bicara.

Tapi, aku sama sekali tidak menyangka tujuan mereka ternyata restoran seafood. Dia lupa, aku alergi makanan laut.

Dengan manis, dia membukakan pintu mobil, menggenggam tanganku, lalu mengajakku masuk. "Restoran ini enak banget. Nanti kita bisa sering datang. Kamu mau makan apa, bilang saja."

Aku hanya menatapnya, sambil berbicara dalam hati.

Tapi, Soni, antara kita sudah tidak ada masa depan lagi.

Katanya aku boleh pilih menu, tapi tidak ada yang bisa kumakan. Aku akhirnya hanya memesan beberapa hidangan penutup, sementara Yeni memesan banyak seafood.

Saat makanan tersaji, aku hanya menyentuh makanan penutup di depanku. Yeni menarik lengan Soni dengan wajah polos. "Cepat minta maaf sama dia! Pasti gara-gara kamu kemarin di rumah sakit nemenin aku. Makanya Cesya sekarang cuma makan manis-manis, nggak makan lauknya."

Soni menggenggam tanganku erat dengan wajah penuh penyesalan. "Maaf, Cesya. Soal nikah kemarin, aku pasti akan menebus kesalahanku."

Aku jengkel lalu menarik tanganku. "Aku alergi makanan laut. Aku sudah bilang ke kamu."

Wajah Soni makin dipenuhi rasa bersalah. Tapi, Yeni justru menimpali dengan manja. "Aku saja yang jantungku nggak bagus, tetap berani coba hal-hal yang menantang. Ada orang sedikit-sedikit alergi, benar-benar manja."

Aku menunduk. Aku malas menanggapi, lalu bangkit hendak pergi.

Soni baru saja berdiri untuk mengejarku, Yeni langsung memegangi dadanya dan merengek. "Aduh, Soni… jantungku… jantungku mulai sakit lagi."

Tanpa pikir panjang, dia menggendong Yeni dan bergegas keluar.

Yeni sempat menoleh padaku dan melemparkan senyum penuh tantangan.

Tengah malam, Soni akhirnya pulang.

Dia langsung memeluk pinggangku erat, menyandarkan kepala di pundakku sambil merengek. "Baru pulang dari rumah sakit. Capek banget. Kamu bikinin aku mi ya?"

Aku mendorongnya pelan dan tetap fokus membaca novel. "Pesan saja makanan. Aku nggak mau masak."

Itu pertama kalinya aku menolak permintaannya. Dia mengira aku sedang marah, lalu mencubit pipiku sambil tertawa. "Kamu lagi cemburu sama Yeni, ya? Aku sama dia sekarang cuma teman kok."

Aku hanya mengangguk, tidak menanggapi lebih jauh.

Suaranya bergetar, penuh kegelisahan. "Besok kita ke Kantor Catatan Sipil, ya? Kali ini nggak bakal ada halangan apa pun."

Aku menoleh sebentar dan hanya menjawab singkat. "Ya."

Soni girang bukan main. Dia mencium pipiku dengan keras, lalu manja memanggilku, "Sayang."

Keesokan paginya, aku mendapati visaku sudah disetujui.

Namun, Soni lagi-lagi dipanggil Yeni. Dia hanya meninggalkan pesan. [Sayang, jam sepuluh ketemu di Kantor Catatan Sipil.]

Aku mendengus, mengabaikan pesan itu. Cepat-cepat aku berkemas dan memesan taksi menuju bandara.

Setelah itu aku langsung menghapus dan memblokir mereka berdua.

Soni, mulai hari ini kita tidak akan pernah bertemu lagi!

Aku patahkan kartu SIM, melemparkannya ke tempat sampah, lalu melangkah masuk ke pesawat yang membawaku pergi ke luar negeri.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Cari "B89318" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Goodnovel untuk melanjutkan membaca.
B89318
Salin

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Tidak Akan Pernah Diam Saat Keluargaku Terancam
9.6
Adikara, duda berkuasa yang divonis mandul, melampiaskan rasa frustrasinya melalui hubungan singkat yang ceroboh. Takdir mempertemukannya dengan Alara, model 19 tahun sekaligus putri bawahannya. Setelah malam tragis yang merenggut kesucian Alara, kejutan besar muncul sebulan kemudian saat Alara mengaku hamil. Kini, di tengah perbedaan usia 15 tahun dan rahasia medisnya, Adikara harus memilih: bertanggung jawab atau menghancurkan masa depan gadis itu demi egonya.
Sampul Novel Cinta Buta Gadis Mafia
7.9
Bagaimana jika takdir memaksa Anda tinggal serumah dengan wanita yang telah menghancurkan pernikahan Anda sendiri? Hidup seorang pria seketika berbalik arah saat kehadiran gadis dari dunia mafia mengacaukan masa depannya secara brutal. Di tengah badai dendam dan kebingungan, ikatan rumit justru mulai terjalin di antara mereka. Akankah kebencian ini berujung pada cinta, atau malah menjadi awal kehancuran yang jauh lebih kelam bagi keduanya dalam romansa mafia ini?
Sampul Novel Cinta Dalam Keheningan
9.3
Aria menjalani kehidupan yang sunyi sebagai seorang tunawicara yang terabaikan sejak lahir. Takdir membawanya menjadi nyonya di Keluarga Kurnia secara tidak sengaja, meski ia sadar sang suami, Ian, tidak pernah menaruh hati padanya. Situasi kian pelik ketika Letty, cinta pertama Ian, kembali dari luar negeri dan kembali dekat dengan suaminya. Menyadari posisinya yang kian tergeser, Aria memilih menyembunyikan kabar kehamilannya dan bersiap untuk mundur dari pernikahan tanpa cinta tersebut.
Sampul Novel Meninggalkan Pengkhianatan Maut, Merangkul Kehidupan Baru
7.9
Sepuluh tahun pengabdianku sia-sia ketika Bramanta menikahi Hana di altar rancanganku. Demi selingkuhannya itu, ia tega memaksaku donor darah, membiarkan kucingku mati, bahkan nyaris menenggelamkanku. Puncaknya, ia membiarkanku sekarat karena syok anafilaksis demi drama Hana. Sadar nyawaku terancam, aku pun menerima tawaran ayah untuk menikah kontrak dengan CEO Arga Hadinata. Di titik terendah ini, aku memilih bangkit dan memulai hidup baru bersama Arga.
Sampul Novel Suami Pengganti
8.1
Kepergian Rian akibat kecelakaan tragis demi melindunginya membuat dunia Tania runtuh. Di tengah duka mendalam, ia dihadapkan pada tuntutan orang tuanya untuk menikahi Andre, sahabat lamanya sendiri. Pernikahan ini harus terjadi demi memulihkan kondisi kesehatan sang ayah yang memburuk. Tania merasa dikhianati oleh kesediaan Andre menerima perjodohan sepihak ini. Tanpa landasan cinta, akankah rumah tangga paksaan ini berujung bahagia, atau justru membawa luka baru bagi mereka?
Sampul Novel Terbelenggu Obsesi Sang CEO
9.1
Lima tahun berlalu, dendam Xavier pada Clara akibat patah hati masa lalu belum juga padam. Namun, krisis keluarga justru memaksa sang CEO menjadi pelindung bagi wanita yang dibencinya itu. Di tengah berbagai ancaman berbahaya, kebencian Xavier bergeser menjadi obsesi yang begitu kuat. Terjebak dalam situasi rumit, hubungan keduanya kian intens hingga batas antara rasa benci dan cinta yang membara perlahan-lahan mulai memudar.