APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Seputih Mawar

Seputih Mawar

Saat jiwanya terguncang, Dinda akhirnya mengungkap cinta terpendamnya kepada Shalu. Pengakuan ini terpaksa ia lakukan karena Shalu nekat menodongkan senjata ke kepalanya sendiri. Meski sadar takdir mustahil mempersatukan hubungan mereka, Dinda dan Shalu tetap teguh mempertahankan perasaan tersebut. Di tengah keterbatasan yang ada, keduanya memilih terus saling berbagi kisah dan menghargai setiap momen kebersamaan yang tersisa dalam hidup mereka.
Bab
Bagikan

Bab 1

1. The Tittle    : Seputih Mawar.

  Adinda tak pernah menyangka kalau hatinya yang sedang rapuh akan terbelah oleh kehadiran Shalu. Duda tampan dari negeri seberang yang gigih menunjukkan rasa sukanya tanpa peduli Dinda akan terima atau tidak. Sudah berulang kali Dinda mencoba menjauh namun pada akhirnya menyerah saat tanpa sengaja melihat Shalu kumat penyakit jantungnya, semua karena ucapannya. Dan ketika Shalu menodongkan senjata di kepalanya sendiri, tanpa sengaja isi hati Dinda terungkap.

  Pagi yang dingin karena embun baru saja turun membuat Dinda malas melakukan pekerjaan rumahnya. Dia lebih memilih kembali ke tempat tidur dan masuk dalam selimut bermaksud kembali melanjutkan memejamkan mata. Namun karena tak jua terlelap akhirnya jemari tangannya meraih gawai yang ada di meja kecil samping tempat tidur.

" lt's you!"

Entah kenapa tangannya mengetik kalimat itu pada foto yang di unggah Shalu,tanpa peduli akan di balas atau tidak.Namun hati Dinda merasa ada sesuatu yang membuatnya ingin bertanya.

" Yes."

  Tak di duganya kalau Shalu akan membalas komentarnya.Karena sejak inbox yang pertama kali, Shalu tak pernah lagi lagi membalas inbox dari Dinda.

" Good morning!" sapa Dinda yang mengira kalau di negaranya Shalu saat itu juga sudah pagi.

" Very very morning this time," sahut Shalu. Membaca balasan dari Shalu yang bilang masih terlalu dini untuk di bilang pagi membuat Dinda sadar, kalau ada perbedaan waktu antara dua negara meskipun masih satu benua.

"How time in your place?" tanya Shalu kemudian.

"04.30 am ," jawab Dinda, ada sedikit rasa penasaran di hati nya jam berapa di sana. "And your time?"

" 03.00, and night coming in 20.00 pm," papar Shalu yang memberi tahu kalau waktu malam di mulai jam delapan.Itu berarti jam sembilan lewat tiga puluh menit.

" Sorry!" Dinda mengirim pesan permintaan maaf saat sadar kalau di tempat Shalu bahkan belum tengah malam.

"Why sorry?" tanya Shalu yang heran kenapa Dinda minta maaf.

" Disturb your rest time," jujur Dinda menjawab kalau sudah mengganggu waktu istirahat Shalu.

" Its ok," jawaban pesan dari Shalu,lalu kembali datang pesan selanjutnya, "No problem!"

"Realy?" tanya Dinda tak yakin .

"Yes!" jawaban dari pesan yang di terimanya membuat hatinya lega. Setidaknya Dia tak mengganggu waktu istirahat dari Shalu yang mungkin ingin memejamkan mata.

" Thank you!" pesan yang kembali datang membuat keningnya berkerut. Akhirnya Dinda mengetik pesan dan bertanya, "For?"

" Your messege!" jawaban dari Shalu justru dirasa aneh olehnya, "Bagaimana bisa berterima kasih hanya karena di kirim pesan," batinnya.

" Will you become my friend?" Datang lagi pesannya yang menurut Dinda terasa aneh. Bukankah mereka sudah berteman, tapi kenapa juga Shalu bertanya apa dirinya bersedia berteman.

"Why you asking? We friend in fb?" jawabnya bingung, bukan karena pertanyaan dari Shalu tapi lebih bingung bagaimana nanti melanjutkan obrolan mereka. Sudah tak banyak lagi kosakata bahasa Inggris yang di ingatnya.

"Yes, you are right!" jawab Shalu membenarkan Dinda kalau mereka sudah berteman di Fb. "Send me your WA !"

"Apa! Kasih no WA gimana nanti kalau dia minta ngobrol di sana?" pikirnya. Tapi bagaimana menolaknya dengan halus, kembali Dinda berpikir keras berusaha mengingat kata apa yang harus di katakan. Tidak etis kan tadi Dia yang ngajak ngobrol duluan langsung bilang no.

Akhirnya Dinda bisa bernapas lega saat ingat dua kata yang di rasa tepat untuk membalas pesan Shalu, segera jemarinya mengetikkan kata, "Next time," segera pesannya terkirim dan tak menunggu lama centang biru terlihat.

"Oky," jawaban dari Shalu segera datang.Dinda merasa kalau Shalu orang yang baik, tak mau memaksakan kehendaknya.

"Where your husband?" tanya Shalu yang membuatnya sedikit terkejut. Setelah satu dua kali inboxnya tak di balas oleh Shalu tentu saja Dinda pikir kalau Shalu pasti cuek dan lupa dengannya, apalagi menanyakan keberadaan suaminya.

  " Go to his office," jawab Dinda jujur. Karena memang Bayu suaminya baru saja berangkat ke tempatnya bekerja.

" Whats your job?" tanya Shalu menanyakan profesi Dinda sekarang, tentu saja Dia senang karena ada teman berbalas pesan.

"Sewing at home!" Dinda menjawab dengan jujur kalau Dia hanya penjahit rumahan. Tapi dalam hatinya ada sedikit rasa takut kalau Shalu bertanya lagi mungkin tak akan bisa menjawab. Bahasa lnggris yang di kuasainya cuma ada beberapa kata yang masih dia ingat.

" And you?" tanya balik Dinda pada Shalu.

" Just shopkeeper!" jawab shalu. Entah apakah Dia jujur atau tidak Dinda tak berani bertanya meski sedikit tak percaya. "Bagaimana mungkin seorang pramuniaga bajunya bagus semua," batinnya dalam hati.

" You not shy?" pesan dari Shalu yang menanyakan apa dia tidak malu membuat kening Dinda berkerut. Sambil berpikir dia lalu  menjawab pesan itu dan bertanya, "Why?"

" Your friend just shopkeeper," terang Shalu kembali menegaskan kalau dirinya hanya seorang pramuniaga. Dan kembali datang pesannya yang seperti sebuah keluhan, "l am not rich man!"

  Membaca pesan yang baru saja datang dari Shalu yang mengatakan kalau dirinya bukan orang kaya membuat Dinda paham maksud pertanyaan dari Shalu. "We same," hanya itu balasnya, karena nggak tahu gimana ngomongnya kalau dirinya juga bukan orang yang banyak duit. Bahkan terkadang Dinda tak pegang uang sama sekali, untung semua anaknya udah ngerti jadi mereka nggak minta uang jajan sama sekali.

"Realy! You not shy?" tegas Shalu seakan tak percaya kalau Dinda tak malu berteman dengannya.

" Yes!" jawab Dinda cepat.

" Thank you," kata Shalu berterimakasih membuat Dinda merasa heran lantas cepat bertanya, " Thanks for?"

" Your friendship!" katanya, Dia berterimakasih atas pertemanan dari Dinda, membacanya membuat senyum samar terbit di bibir Dinda.

" You are wellcome," balas Dinda, sambil melihat ke arah jendela nampak kalau gelap sudah pergi. Akhirnya Dia mengirim pesan serta berpamitan pada Shalu, "Sorry!"

" Why?" balas Shalu cepat.

" l am must doing my home work!" ujarnya di sertai rasa sedikit bingung, bener tidak ya susunan kalimatnya.

" Ok!" jawab Shalu.

Tanpa membuang waktu lagi bergegas Dinda bangkit dan merapikan tempat tidur. Mulai pagi ini sengaja Dia tidak memasak, "Biar nanti Amel serta kedua adiknya belajar memasak sayur," ujarnya dalam hati.

Yah pengalamannya kemarin saat virus cikungunya menyerang tubuh Dinda, membuatnya berpikir keras bagaimana caranya agar semua putrinya mau belajar memasak di dapur. Apalagi mengingat mereka sudah tumbuh remaja, sudah waktunya belajar memasak.

Dan entah kenapa tiba-tiba dia berpikir kalau besok Dia akan menyuruh Amel serta adiknya untuk belajar bicara bahasa bule langsung dengan Shalu. "Bagaimana nanti kalau Ayah mereka tahu ya?" pikirnya kembali.

"Ah sudahlah, belum tentu juga mereka mau kan?" lanjut pikirnya sambil menyapu lantai .

Sambil meneruskan semua pekerjaan rumah kembali Dinda mengingat saat pertama kalinya    berbalas pesan dengan Shalu. Begitu dirinya mengkonfirmasi permintaan pertemanannya.

"Hello!" sapa Shalu pertama kali.

"Hi" balasnya agak ragu, jujur di hatinya bingung bagaimana nanti lanjut ngobrolnya.

"How r u," kembali pesan datang dari Shalu. Karena yakin Shalu orang lndia di pikirnya itu bahasa lndia. Jadilah dengan penuh percaya diri membalas dengan kata, "Engglish please!"

"Ok, How are you!" Membaca jawaban pesan yang datang membuat Dinda menepuk keningnya keras dan sedikit mengeluh dalam hati, "Gapteknya aku! Itukan tadi singkatan."

"I am fine, and you?" balasnya setelah sadar kalau itu bukan bahasa lndia.

"Good, l am fine," sahut Shalu.

"You married?" lanjutnya lagi.

"Yes, i have three daughter," jawab Dinda jujur, kalau memang sudah memiliki tiga buah hati. Baginya tak ada masalah jika teman yang baru di kenalnya tahu status yang sebenarnya. Untuk beberapa saat tak ada lagi pesan datang dari Shalu.

Tingg!

Terdengar ada pesan datang saat Dinda baru saja meletakkan gawai di meja. Di bukanya pesan yang baru saja di terimanya, seketika matanya terbuka lebar melihat isi pesan itu. Satu buket besar penuh dengan bunga mawar dan satunya lagi setangkai mawar merah di vas terlihat sangat anggun sekali.

"Hmm apa maksudnya ya?" batinnya berkecamuk rasa heran.

"Take one pict!" Datang lagi pesan dari Shalu menyuruhnya agar memilih satu gambar.

"What means?" tanya Dinda kebingungan apa maksud dari permintaan Shalu.

"Nothing, but please tell me your choice!" pinta Shalu lewat pesannya. Akhirnya Dinda pun menuruti permintaannya, dan  segera menimbang gambar mana yang akan di pilihnya.

"This one," jawab Dinda dengan mengirim gambar mawar merah yang ada dalam vas bunga.

"Ok, you good women," sahut Shalu.

"Thank you," balasnya berterima kasih atas pujian yang di terimanya.

"You are wellcome!" jawab Shalu.

"Bu! Bu! Ambilkan air minum!" Terdengar suara Mas Bayu dari depan rumah memanggilnya agar mengambilkan air minum.

"Ya bentar!" sahut Dinda. Bergegas meletakkan  gawai di atas meja dan segera ke dapur mengambil air minum untuk Bayu suaminya. Segera di sodorkan air minum yang di bawanya pada sang suami yang baru saja selesai mencuci motor di depan rumah.

Saat itu entah kenapa netranya tertuju pada gawai baru suaminya ada sedikit heran dalam hati, sebab tak pernah sekalipun dirinya di telpon atau di kirim pesan dengan gawai baru itu.

"Mas berapa nomornya yang baru?" tanya Dinda memberanikan diri bertanya meski sedikit ada rasa takut di hatinya.

"Emang kenapa?" ketus Bayu membuat Dinda menghela napas yang terasa sedikit sesak.

"Nggak apa-apa," sahutnya pelan karena terselip sedikit kepiluan dalam hatinya. Seakan tanggap dengan suasana hati Dinda suaminya segera menoleh dan sedikit gusar berkata, "Nggak ada apa-apa di sana! Nggak perlu curiga!"

Tak mau memperpanjang masalah, Dinda kembali duduk di kursi ruang tamu dan meraih gawai yang tadi di tinggalkannya di meja. Kembali membuka inbox yang tadi di tinggalkannya begitu saja

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Istri pilihan
8.8
Demi menyelamatkan hari pernikahan, Leana terpaksa menggantikan Sasmita, kakaknya yang mendadak kabur. Ia pun terjebak dalam rumah tangga tanpa cinta bersama Elvano Mahendra, pria dingin yang terus menyalahkannya. Sadar tak pernah diinginkan, kesabaran Leana akhirnya habis saat sang kakak kembali. Namun, ketika Leana menuntut perceraian, Elvano justru menolak melepaskannya meski sang kekasih lama telah pulang. Mengapa pria itu bersikeras mempertahankan pernikahan mereka?
Sampul Novel Cinta Tersayat Dendam
9.5
Arta, wanita tangguh yang kerap diremehkan karena penampilannya yang sederhana, fokus meniti karier demi membuktikan dirinya setelah dicampakkan akibat perbedaan kasta. Takdir mempertemukannya dengan Evan, seorang pengusaha duda yang sukses. Di tengah badai dan dendam masa lalu yang terus menguji hubungan mereka, keduanya kini harus bersatu guna menyelidiki dalang di balik kekacauan yang melanda perusahaan masing-masing.
Sampul Novel Desakan Perceraian dari Saudara Laki-Laki
8.5
Setelah diceraikan saat hamil dan diusir oleh ibu mertua serta putri angkat bernama Linda Santoso, hidup Sita Hartanto berubah total. Sita ternyata merupakan putri kandung Keluarga Syailendra yang hilang. Ia kini dilindungi oleh enam kakak laki-laki kandungnya yang luar biasa sukses—mulai dari pengusaha raksasa, ilmuwan AI, ahli bedah, pianis, pengacara, hingga aktor terkenal. Ketika mantan suaminya memohon untuk rujuk kembali, ia harus menghadapi rintangan berat dari para kakak Sita yang protektif.
Sampul Novel Gadis buta Milik CEO
8.8
Kehidupan ceria Laras sirna sejak sebuah tragedi merenggut penglihatannya. Kini, mantan mahasiswi ini harus bertahan di tengah siksaan perundungan dari para penggemar fanatik Damar, CEO yang pernah mengisi hatinya. Dulu, Damar memilih pergi demi melindunginya, namun langkah itu justru menghancurkan hidup Laras. Dihantui rasa bersalah yang besar, sang CEO kini kembali. Ia bertekad menebus semua dosa masa lalunya dan berharap Laras bisa merasakan ketulusan cintanya.
Sampul Novel Psychopath Love
9.0
Dapatkah seorang psikopat merasakan cinta yang tulus? Di balik kesempurnaan fisiknya, Johan menyimpan jiwa rapuh dan pikiran yang kacau. Kegelapan hidupnya hanya diterangi oleh kehadiran adik tirinya, sosok yang ia cintai secara diam-diam. Namun, pergolakan batin Johan mencapai titik kritis ketika sebuah kenyataan pahit terungkap. Bagaimana jadinya jika sang adik ternyata mencintai pria lain?
Sampul Novel Wanita Penakluk Direktur Muda
8.0
Demi memulihkan harga dirinya, Raellyn nekat mengancam Arnav, direktur hiburan ternama, memakai pisau lipat. Ia menuntut pertanggungjawaban atas pengkhianatan adik Arnav, Arsene, yang membatalkan janji pernikahan mereka. Namun, Arnav tidak mudah diintimidasi. Melihat peluang untuk memenuhi tuntutan mencari istri, ia justru menawarkan pernikahan kepada Raellyn. Meski motifnya uang, Arnav bertekad mendapat kompensasi setimpal dari wanita itu.