APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel SENYUM DI TAMAN SEKOLAH

SENYUM DI TAMAN SEKOLAH

Seorang pemuda yang terbiasa menyendiri kerap menghabiskan waktu di taman sekolah yang sepi. Kehidupan sunyinya berubah total sejak kehadiran seorang gadis ceria yang selalu tersenyum hangat. Pertemuan tidak sengaja itu perlahan membawa warna baru yang cerah dalam kesehariannya yang semula terasa hampa. Sosok gadis tersebut pun mulai mengubah cara pandangnya dalam menjalani hari-hari di sekolah.
Bab
Bagikan

Bab 1

Arya selalu menemukan kenyamanan dalam kesendirian. Bukan karena dia tidak menyukai orang lain, tetapi karena kesunyian memberikan ruang baginya untuk berpikir, jauh dari keramaian sekolah yang selalu riuh. Setiap istirahat, dia akan pergi ke tempat favoritnya-taman sekolah yang berada di sudut, tersembunyi dari lalu-lalang siswa lain.

Taman itu sederhana, hanya ada beberapa pohon rindang dan bangku kayu tua, tapi bagi Arya, tempat itu seperti surga. Suara angin yang berdesir di antara dedaunan dan kicauan burung yang bersembunyi di dahan, membuatnya merasa damai. Di sinilah ia bisa melarikan diri dari dunia luar yang menurutnya terlalu ramai dan membosankan.

Namun, hari ini terasa sedikit berbeda. Begitu ia sampai di taman, Arya melihat sesuatu yang tak biasa-seorang gadis duduk di bawah salah satu pohon besar. Gadis itu sedang asyik membaca buku, sesekali tersenyum sendiri. Arya tidak mengenal gadis itu, dan anehnya, ia merasa sedikit terganggu dengan kehadirannya di tempat yang biasanya menjadi "milik" Arya seorang.

Arya memperhatikan dari kejauhan. Gadis itu tampak begitu nyaman di sana, seakan-akan taman itu juga miliknya. Rambutnya yang panjang tergerai di bahunya, dan setiap kali angin bertiup, helai-helai rambutnya berayun lembut. Arya tidak bisa mengalihkan pandangan. Ada sesuatu tentang senyum gadis itu yang membuatnya penasaran.

"Siapa dia?" Arya bergumam dalam hati. Dia merasa aneh, karena biasanya, dia tak pernah peduli pada orang lain. Apalagi pada seseorang yang tiba-tiba "menduduki" tempat favoritnya.

Tak ingin mengusik gadis itu, Arya duduk di bangku kayu yang sedikit jauh. Dari tempatnya duduk, ia masih bisa melihat gadis itu, tapi cukup jauh untuk tidak menarik perhatian. Ia membuka bukunya sendiri, tapi pikirannya terus melayang ke arah gadis yang tersenyum itu.

Sebenarnya, Arya tidak tahu apa yang membuatnya begitu penasaran. Mungkin karena senyumnya. Senyum itu bukan sekadar senyum biasa, melainkan senyum yang seolah-olah menceritakan kisah di baliknya. Sebuah senyum yang penuh makna, namun juga misterius.

Waktu berlalu dengan cepat. Gadis itu terus membaca dengan tenang, sementara Arya sesekali mencuri pandang. Saat bel tanda istirahat berakhir berbunyi, gadis itu menutup bukunya, berdiri, dan berjalan pergi. Arya memperhatikan dari kejauhan, melihat langkah ringan gadis itu yang perlahan menghilang di balik pintu gedung sekolah.

Arya menghela napas panjang. Ada perasaan aneh yang ia rasakan. Sesuatu yang membuat hatinya sedikit bergetar. Ia tidak tahu siapa gadis itu, tapi kehadirannya meninggalkan kesan mendalam di hati Arya.

"Besok, mungkin aku akan melihatnya lagi," Arya berkata pelan pada dirinya sendiri. Sesuatu di dalam dirinya ingin mengenal gadis yang selalu tersenyum itu. Tapi di sisi lain, Arya juga ragu. Bagaimana jika besok gadis itu tak lagi datang ke taman? Apa dia hanya sesekali ke sana? Atau apakah taman ini memang juga tempat favoritnya?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepala Arya sepanjang sisa hari itu. Taman yang biasanya menjadi tempatnya melarikan diri kini justru menimbulkan rasa penasaran baru. Siapa gadis itu? Dan mengapa senyumnya begitu memikat?

Arya pulang dengan perasaan yang tak biasa. Entah kenapa, ia berharap esok hari segera datang. Mungkin, besok ia akan melihat senyum itu lagi.

Malam itu, Arya tidak bisa berhenti memikirkan gadis yang ditemuinya di taman. Ia mencoba menepisnya dengan mengerjakan PR, menonton televisi, bahkan bermain gim di ponselnya, namun bayangan senyum gadis itu selalu kembali menghantuinya.

"Apa yang salah denganku?" Arya bertanya pada dirinya sendiri. Ia merasa aneh, karena biasanya ia tidak terlalu memikirkan orang lain, apalagi seseorang yang baru dilihatnya sekali. Tetapi senyum gadis itu begitu hangat, seakan-akan ada kebahagiaan yang ia bagikan tanpa harus mengucapkan sepatah kata pun. Arya mencoba tidur lebih awal, berharap pikirannya akan jernih di pagi hari.

Keesokan harinya, saat bel istirahat berbunyi, Arya segera bergegas menuju taman. Ada perasaan berdebar di dadanya - sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Selama ini, taman adalah tempat di mana ia merasa tenang dan nyaman, tapi sekarang ia malah merasa gelisah. Setiap langkah yang ia ambil menuju taman membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

Begitu sampai di taman, Arya berhenti sejenak, matanya langsung mencari ke arah pohon besar di mana gadis itu kemarin duduk. Dan di sana, tepat di tempat yang sama, gadis itu ada lagi. Kali ini, ia tidak sedang membaca buku, melainkan menatap langit dengan senyum yang sama-senyum yang kemarin membuat Arya terpaku.

Arya berdiri diam beberapa saat, mencoba memutuskan apakah ia harus mendekat atau tetap di tempatnya seperti kemarin. Tapi hari ini, ada dorongan aneh di dalam dirinya. Arya merasa, jika ia hanya terus memperhatikan dari kejauhan, ia tidak akan pernah tahu siapa gadis itu. Akhirnya, dengan langkah perlahan namun pasti, Arya mendekati pohon besar tersebut.

Saat ia semakin dekat, gadis itu menoleh dan tersenyum padanya-senyum yang seolah-olah mengatakan bahwa dia telah menunggu Arya. Arya merasakan jantungnya berdegup lebih cepat, tapi ia berusaha tetap tenang.

"Hai," sapa gadis itu tiba-tiba, membuat Arya sedikit terkejut. Suaranya lembut, cocok dengan kepribadian ceria yang terpancar dari wajahnya. "Kamu sering ke sini ya?" tanyanya sambil tetap tersenyum.

Arya merasa canggung, tapi ia mengangguk. "Iya... aku suka tempat ini. Kamu?"

Gadis itu mengangguk pelan. "Aku baru beberapa kali ke sini. Biasanya aku duduk di perpustakaan, tapi rasanya sesekali menikmati udara luar juga menyenangkan, ya?"

Arya hanya bisa tersenyum kecil sebagai jawaban. Gadis ini membuatnya sedikit kikuk, sesuatu yang jarang sekali ia rasakan. Setelah beberapa detik hening, Arya akhirnya memberanikan diri bertanya, "Apa yang kamu baca kemarin?"

"Oh, itu?" Gadis itu tertawa kecil, suaranya terdengar ringan. "Itu novel roman, mungkin bukan genre favoritmu ya?"

Arya terdiam sejenak. Benar, ia bukan penggemar novel roman, tapi karena ini adalah satu-satunya topik percakapan yang terbuka, ia mencoba menanggapinya. "Aku lebih suka buku-buku sejarah atau sains... tapi aku pernah baca beberapa novel roman juga."

Gadis itu tampak terkejut. "Benarkah? Wah, jarang-jarang ada cowok yang ngaku suka baca novel roman."

Arya tersenyum kecil, meski sebenarnya ia tidak begitu tertarik pada novel roman, hanya pernah membaca beberapa untuk tugas sekolah. "Apa yang membuatmu suka dengan novel roman?"

Senyum gadis itu semakin lebar, matanya berkilau saat berbicara tentang sesuatu yang disukainya. "Aku suka bagaimana cerita cinta dalam novel bisa sangat sederhana, tapi juga rumit. Setiap karakter punya perjuangan masing-masing, tapi pada akhirnya mereka selalu menemukan jalan untuk bersama. Seperti... ada keindahan dalam ketidaksempurnaan mereka."

Arya memperhatikan cara gadis itu berbicara. Ada semangat dan kebahagiaan yang ia pancarkan saat menjelaskan sesuatu yang ia cintai. Ini membuat Arya teringat pada dirinya sendiri saat berbicara tentang sejarah atau astronomi-ada gairah dalam menemukan sesuatu yang menarik, dan itu juga yang ia lihat pada gadis ini.

"Aku Arya," katanya akhirnya, memperkenalkan diri.

Gadis itu tersenyum lagi. "Aku Naira. Senang bisa ngobrol denganmu, Arya."

Percakapan mereka terus berlanjut, meskipun singkat dan sesekali diiringi oleh keheningan yang canggung. Tapi bagi Arya, pertemuan ini meninggalkan kesan yang lebih dalam. Naira, dengan senyum cerah dan sikap terbukanya, telah membuat hari Arya sedikit lebih berwarna.

Saat bel tanda istirahat selesai berbunyi, Naira bangkit dan bersiap-siap untuk kembali ke kelas. "Sampai ketemu lagi di taman?" tanyanya sambil tersenyum lembut.

Arya hanya bisa mengangguk, sedikit terkejut karena Naira yang justru mengundang pertemuan berikutnya. "Iya... sampai ketemu lagi."

Naira melambaikan tangan sebelum berbalik dan berjalan menjauh, meninggalkan Arya yang masih terpaku di tempat. Ia merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya. Seperti ada perasaan baru yang mulai tumbuh, perasaan yang selama ini tak pernah ia sadari.

Ketika Naira menghilang di balik pintu gedung sekolah, Arya tersenyum sendiri. Taman ini, yang dulu hanya tempat pelariannya dari dunia, kini menjadi tempat di mana hatinya mulai menemukan warna baru.

Bersambung...

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ketika Istriku Tidak Meminta Jatah Lagi
8.8
Kehidupan pernikahan Habib dan Sheila terasa hambar karena sang istri tak kunjung hamil meski sangat agresif. Kejenuhan membuat Habib gelap mata hingga memutuskan bercerai demi menikahi wanita lain. Namun, tepat setelah perpisahan mereka, Sheila rupanya positif mengandung anak yang mereka dambakan. Habib pun didera penyesalan yang luar biasa setelah mengetahui rahasia kehamilan sang mantan istri. Apakah ia akan mencoba kembali merebut hati Sheila?
Sampul Novel PENGANTIN DADAKAN (Menikah Dengan Chef)
8.6
Hidup Cantika berbalik seratus delapan puluh derajat akibat sebuah peristiwa tak disangka. Tanpa ada rencana atau persiapan, ia mendadak dipaksa masuk ke dalam pernikahan kilat yang sangat mengejutkan. Kenyataan baru sebagai istri yang datang tiba-tiba ini membuatnya dilingkupi rasa bingung sekaligus linglung. Kini, Cantika hanya bisa tertegun dan meratapi takdirnya yang berubah drastis dalam sekejap, terikat dalam pernikahan yang tak pernah ia bayangkan.
Sampul Novel Proses kedewasaan
9.1
Cerita pendek romantis modern khusus pembaca 18 tahun ke atas ini mengupas kedewasaan dalam hubungan pria dan wanita. Kisahnya menyoroti dinamika intim di balik pintu tertutup secara jujur dan berani. Berfokus pada proses pendewasaan serta hasrat mendalam, alurnya menyajikan interaksi penuh gairah bagi audiens dewasa yang mencari narasi sensual.
Sampul Novel REKENING SUAMIKU
9.4
Yasa, suamiku, kerap dihina oleh ayahku sendiri sebagai pengangguran tak berguna yang cuma modal tampang. Di balik kamera dan sikap santainya, ayah tidak pernah tahu bahwa suamiku tengah berjuang keras demi masa depan kami. Aku pun memilih bungkam walau batin ini lelah melihat sisa daganganku dibuang begitu saja saat ayah mengamuk. Aku sangat percaya, suatu hari nanti ayah pasti akan menyesal telah meremehkan kegigihan pria yang tulus mendampingiku ini.
Sampul Novel Sayang, Beri Aku Kesempatan Lagi!
9.0
Pernikahan Satya dan Tamara berakhir dengan perceraian setelah Satya terus memandang rendah istrinya. Begitu berpisah, penyesalan mendalam menghampiri Satya yang baru menyadari betapa berharganya Tamara. Ia pun memohon kesempatan kedua. Namun, Tamara yang terlanjur terluka akibat perlakuan buruk sang mantan suami kini telah bangkit menjadi sosok yang tangguh. Meski Satya berjanji terus berjuang, Tamara menutup rapat pintu hatinya dan tegas menolak.
Sampul Novel Suara Desahan Di Kamar Maduku
7.9
Laras dilingkupi kecurigaan mendalam setelah mendengar suara desahan dari kamar Maya, istri kedua suaminya. Laras tidak pernah memercayai madunya itu. Meski Maya selalu punya alasan untuk membela diri, Laras yakin ada rahasia gelap yang disembunyikan. Demi menjaga sang suami dari pengkhianatan dan kelicikan Maya, Laras bertekad menyelidiki dan membongkar kebenaran sendiri. Mampukah ia mengungkap perselingkuhan ini? Ikuti kisah cinta segitiga penuh misteri.