APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Senandung Rasa

Senandung Rasa

Ryuka, remaja pemberontak yang gemar fotografi, terpaksa mengikuti les privat demi mendongkrak nilainya atas desakan sang kakak. Faiz, pemuda yatim piatu berumur dua puluh tahun, hadir sebagai tutor pribadinya. Interaksi intens perlahan menumbuhkan rasa cinta di hati Ryuka pada sosok Faiz. Namun, hubungan mereka diuji saat Faiz mengungkap rahasia pilu tentang kondisi fisik Ryuka. Akankah asmara mereka bertahan melewati rintangan menyakitkan ini?
Bab
Bagikan

Bab 1

"Mana itu anak!" omelan Jevan begitu kencang saat ia baru saja tiba di rumah, sontak membuat istrinya yang sedang hamil tujuh bulan dan penghuni lainnya terkejut. 

"Mana kembaran kamu Reyo!" Jevan menatap Reyo yang hanya mengangkat kedua bahunya tanpa menjawab lagi, ia asik memakan buah apel sambil mengerjakan tugas sekolah. 

"Aduh Jevan, kamu tenang dulu kek, pulang ke rumah marah-marah, kenapa cari Ryu?" tegur Lara, istri Jevan yang selalu menjadi air disaat suaminya penuh kobaran api hanya karena satu nama, Ryuka, adik kembarnya yang begitu susah diatur dan seenaknya sendiri. Ryuka kembar dengan Reyo, keduanya berusia enam belas tahun, sedangkan Jevan, kakak tertua mereka, berumur dua puluh satu, Jevan menikah muda dengan Lara. 

"Udah lah, Bang, nanti Ryu juga pulang, kayak nggak tau dia aja," celetuk Reyo. Ia tetap menatap ke buku pelajaran dan begitu serius dengan tugasnya. 

Jevan berjalan menghampiri, meletakkan amplop putih di hadapan Reyo. "Kamu tau, kembaran kamu itu bolos tiga hari berturut-turut!" sambil berkacak pinggang, Jevan masih begitu emosi jika mengingat ada yang mengantarkan surat dari sekolah Ryukake kantornya. Surat panggilan wali murid karena perilaku tidak disiplin. Reyo menggelengkan kepala, ia membuka amplop dan membaca isi surat tersebut. Kedua matanya terbelalak. Ia menatap takut-takut ke Jevan yang masih berdiri dengan posisi yang sama. 

"Kamu nggak bisa ngawasin kembaran kamu, Hah! Reyo, tugas kamu juga jagain Ryuka. Itu anak perlu diapain, sih, biar kapok ..., Abang udah pusing!" omelnya.  Usapan lembut di lengan Jevan membuat perlahan emosinya mereda, ia menoleh ke istrinya yang tersenyum. "Sabar, Jevan," Lara memberikan segelas air putih ke suaminya yang kandas diminum. 

Brak!

Dengan kasar Jevan meletakkan gelas, kemudian terdengar suara motor masuk ke garasi rumah, semua mata saling berpandangan. Alarm tanda bahaya segera berbunyi di kepala masing-masing. Reyo beranjak cepat dan berlari ke arah garasi, Lara menahan Jevan yang siap berjalan menghampiri Ryuka yang baru saja pulang entah dari mana. 

"Nggak gini, Jevan, dibahas sambil duduk ya." Lara berusaha menenangkan suaminya. Jevan menatap sendu. Ia menunduk, "Aku capek dan bingung urus Ryuka, Ra, kamu paham 'kan? Tanggung jawab aku urus ke empat adik-adik aku itu berat, Mama sama Papa masih di luar kota jenguk Om dan Tante yang sakit. Ryuka kenapa susah banget dikasih taunya sih!" Jevan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Lara terkekeh, ia merangkul lengan suaminya dan mengajaknya duduk. 

"Itulah kerjaan kita Jevan, sebagai Kakak tertua yang harus mengayomi adik-adik, Kamu juga dipercaya Papa urus kerjaan Papa 'kan, nggak gampang emang, kita masih umur dua satu tapi berat tanggung jawabnya. Pelan-pelan pasti biasa kok," Lara perempuan luar biasa bagi Jevan, gadis yatim piatu yang menarik hati Jevan begitu luar biasa. Menjadi seorang motivator karena pengalaman perundungan saat SMA yang ia terima, Jevan begitu mencintai Lara yang begitu pemaaf dan menerima ujian hidupnya diusia remaja. 

"Bang, Ryuka pul—" nyali Ryuka ciut saat Jevan beranjak dan langsung menghampiri adiknya itu. Ia menatap tajam seolah ingin memakan hidup-hidup Ryuka. 

"Dari mana!" tanya Jevan emosi. Ryuka menatap Jevan perlahan, lalu kembali tertunduk. Ia tak menjawab. "Mana sini, Abang sita semua peralatan fotografi kamu, kamera, dan teman-temannya. Siniin, buruan!" ketus Jevan. Ryuka sontak menggelengkan kepala dengan cepat. 

"Nggak Bang, nggak mau, apaan sih, Bang," Ryuka berjalan masuk. Namun tangannya ditarik Jevan, membuat Ryuka mundur dan berhadapan lagi dengan kakaknya. 

"Siniin, Abang bila siniin, Ryu-ka…!" nada bicara Jevan sudah penuh penekanan. Tandanya api naga siap keluar dari mulut Jevan jika tak dituruti. Sambil berdecak sebal, Ryuka memberikan tas ransel warna hitam ke Jevan. Ia menatap Lara yang hanya bisa mengangguk ke arahnya. 

"Sekarang, duduk!" pinta Jevan lagi. Ryuka duduk, masih dengan kebingungan. Reyo berdiri di dekat pintu, bersedekap menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Jevan kembali ke ruang keluarga setelah meletakkan tas kamera dan mengambil amlop putih dari sekolah di atas meja makan. 

"Ini apa? Kenapa bisa tiga hari berturut-turut bolos sekolah? Kamu kemana! Ryuka!" omelan dimulai. Reyo menatap serius ke kembarannya itu. Lara menatap suaminya yang menahan kesal. Ryuka membaca isi surat, kedua matanya terbelalak, ia menatap Jevan takut. "Ini ... Ryu nggak ke— mana-mana kok, Bang, sumpah," Ryuka menjawab pelan dan terbata. Jevan mengusap wajahnya kasar, ia beranjak dan menghampiri Ryuka, menjewer kuping adiknya itu yang sontak membuat heboh seisi rumah.

"Aduh ... duh ... duh ... Abang! Sakit …" keluh Ryuka, biar pun adiknya itu merengek, Jevan tak peduli. Sambil menjewer, ia juga mengomel.

"Mau sampai kapan kamu begini, Ryu! Sebentar lagi kelas tiga, kamu mau nggak naik kelas! Abang malu Ryuuu ...." keluh Jevan. Lalu melepaskan jewerannya. Lara menghampiri Ryuka dan mengusap telinga yang merah. Reyo menenangkan Jevan dengan membantu kakaknya kembali duduk. 

"Kamu tau 'kan, Abang diminta Papa sama Mama jaga kalian selama orang tua kita masih di luar kota? Tolong jangan seenaknya sendiri Ryu!" Jevan sudah tak tau lagi harus memarahi Ryuka seperti apa. 

"Kamu kemana bolos tiga hari? Dari rumah berangkat sekolah, bolosnya gimana? Kamu berangkat bareng Reyo juga, 'kan?" Jevan terus mencecar Ryuka hingga jujur menjawab. Tapi adiknya terus diam dan menunduk. 

"Lo kemana sih? Gue kena sasaran omelan Bang Jevan juga jadinya," Reyo kali ini bersuara. Ryuka malah komat kamit tak jelas sambil menatap Reyo. Kembarannya itu tak ambil pusing, ia berjalan ke arah meja makan dan mengambil buku-bukunya, meninggalkan suasana tak kondusif bagi otaknya yang harus melanjutkan mengerjakan tugas sekolah.  Ryuka menganga, tak habis pikir dengan sikap kembarannya yang cuek tak berada di sampingnya. 

"Besok Abang nggak bisa ke sekolah kamu, ada kerjaan pagi-pagi. Kamu harus berubah Ryuka, jangan seenaknya gini," Jevan menyandarkan tubuhnya di sofa, tenaganya seakan terkuras karena terus mengomeli Ryuka. 

"Aku aja yang ke sekolah Ryuka," Lara bersuara, Jevan tampak terkejut. Ryuka mengangguk, iya lebih senang jika Lara yang ke sekolah, karena akan bersikap tenang dan damai. Tidak seperti Jevan yang akan bawel mengomeli Ryuka karena, ini sudah panggilan ke tiga selama enam bulan. 

"Kak Lara aja, udah paling bener, Abang kerja aja ya, Bang," Gadis berambut lurus sebahu itu mulai menunjukan senyumannya. Jevan melirik sinis, ia beranjak. 

"Terserah kamu lah, Ra, aku mau mandi, terus jemput Nasya sama Akira di rumah Tante Diska, urus deh, tuh Ryuka." Jevan menjadi bersikap dingin dan cuek. Ia melangkahkan kaki menuju ke kamarnya, lalu berhenti mendadak dan menoleh ke arah Ryuka dan Lara. 

"Kalau kamu masih susah dikasih tau, siap-siap Abang nikahin kamu. Nggak usah sekolah!" ketus Jevan. 

"Nggak! Apaan sih, Bang!" Ryuka marah. Jevan masa bodoh. Ia menutup pintu kamar sedikit membanting sehingga menimbulkan suara dentuman keras. Ryuka begitu kesal, ia menatap Lara yang tak bisa menjawab apa pun. Sebenarnya ia paham maksud suaminya, pasti ada rencana lain yang sedang ia pikirkan untuk Ryuka. 

***

Ryuka duduk di depan meja belajarnya, mencoba mengerjakan tugas sekolah yang membuat otaknya buntu.  Ia bahkan menjambak kepalanya, "Kenapa gue kok bego banget sih, nggak secerdas Reyo, Ma…, Pa, Ryu kok bego." Ryuka kesal sendiri. Ia menghentak-hentakkan kaki Begitu merasa kesal dengan diri sendiri. 

Ia sadar, fotografi membuatnya merasa hidup dan ada hal yang ia sukai untuk dijalankan, tapi hal itu justru membuatnya merasa bodoh dipelajaran. Ia tinggalkan pelajaran sekolah yang membuatnya tak bebas. Padahal, itu kewajiban utamanya. Ia mendengkus, kameranya disita Jevan entah sampai kapan, ia ragu jika ia bisa menjalankan hari-harinya belajar di sekolah layaknya murid normal lainnya. Membayangkan hal itu saja sudah membuatnya lemah, ia begitu stres dengan belajar dan sekolah. 

Bersambung,

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bertemu Kamu Saat Sudah Terikat
9.3
Pernikahan Rania dengan Yoga berada di ambang kehancuran. Di tengah perjuangan keras menyelamatkan rumah tangga bersama sang suami yang tidak pernah tulus mencintainya, sosok dari masa lalu kembali hadir. Rendy, pria penyayang itu, membawa kenyamanan baru bagi hati Rania yang terluka. Kini, konflik batin melanda dirinya. Rania terjebak dilema besar: bertahan dalam pernikahan dinginnya atau membuka lembaran baru bersama Rendy di saat ia telah terikat.
Sampul Novel Cinta 10 Tahun, Dibalas Dusta
8.6
Dalam novel modern Cinta 10 Tahun, Dibalas Dusta, sebuah gladi resik pernikahan mewah berubah menjadi kekacauan total saat Quincy, rekan kerja tunangan sang protagonis, datang merusak dekorasi dan mengklaim Jared sebagai miliknya. Dengan penuh percaya diri, wanita itu bahkan merobek gaun pengantin bernilai puluhan miliar karena memaksakan tubuhnya yang tidak muat. Quincy merasa di atas angin, yakin bahwa Jared sangat mencintainya dan akan mengganti gaun tersebut. Namun, saat hari pernikahan tiba, kebenaran mengejutkan terungkap. Pengantin pria yang datang bukanlah Jared, melainkan bos besar mereka. Sejak awal, pernikahan ini ternyata bukanlah milik orang yang Quincy duga.
Sampul Novel GEJOLAK GAIRAH DILAN
9.1
Hanya dalam tiga kali berjumpa, Dilan dan Nessa langsung saling terpikat. Sayangnya, pertemuan ketiga justru menyisakan kepedihan mendalam bagi Dilan. Di bawah pengaruh obat perangsang, Nessa mengalami insiden tak terduga yang memaksa Dilan melanggar janjinya untuk melindungi kehormatan wanita idamannya tersebut. Kini, nasib hubungan mereka berada di ujung tanduk. Sanggupkah Nessa mengampuni tindakan Dilan, dan dapatkah benang kusut kesalahpahaman di antara mereka terurai?
Sampul Novel Hadiah Menginjak Usia Dewasa
9.4
Dalam novel romantis modern remaja berjudul Hadiah Menginjak Usia Dewasa, kehidupan Chika yang baru menginjak usia sembilan belas tahun berubah drastis saat merayakan hari kedewasaannya. Alih-alih perayaan biasa, sang ayah tiri justru memberikan sebuah kejutan yang sangat mengejutkan dan intim. Dengan tindakan agresif, ia merobek gaun Chika secara kasar sambil mengklaim bahwa tindakan tersebut hanyalah sebuah hadiah kejutan ulang tahun yang telah dipersiapkan khusus untuk putri tirinya.
Sampul Novel Suami Dan Mertua Tak Tahu Aku Banyak Uang
9.2
Amira selalu diremehkan sang mertua yang terus membandingkannya dengan Rista. Tanpa ada yang tahu, ia sebenarnya wanita mandiri yang tengah merintis kesuksesan finansial. Sementara itu, Heri yang bosan hidup susah memilih berselingkuh dengan Tania, mantan pacarnya. Pengkhianatan ini menghancurkan hati Amira yang selama ini berjuang berdagang demi menghidupi keluarga. Saat berniat melayangkan gugatan cerai, ia justru mendapati dirinya hamil. Haruskah Amira bertahan atau pergi?
Sampul Novel Tanpa Penyesalan di Musim Cinta yang Gugur
8.7
Enam tahun membina rumah tangga, pernikahan dengan Fabian ternyata diwarnai kehadiran wanita simpanan yang cantik dan tampak rapuh. Meski Fabian selalu sabar menghadapi sikap kekasih gelapnya yang penakut itu, situasi memanas ketika wanita tersebut berani mengusik sang istri sah. Kemarahan Fabian meledak hingga ia memberi hukuman berat. Namun, keesokan harinya, sebuah pesan provokatif berisi foto tanda merah di leher dikirimkan kepada sang istri, menunjukkan sisi gelap hubungan mereka.