
Semua Orang Bisa Mendengar Gosip di Pikiranku
Bab 2
Cheryl menyadari suasana tegang di lantai bawah, lalu tersenyum dan hendak memelukku.
“Ini Lara, ‘kan? Selamat pulang ke rumah!” kata Cheryl sambil hendak melemparkan diri ke arahku.
Aku buru-buru menghindar. ‘Sial! Untung aku kaburnya cepat! Kalau nggak, aku pasti kena tusuk jarum yang dipegangnya, lalu mendorongnya secara refleks. Orang rumah ini kira aku sengaja cari masalah sama Cheryl karena latar belakang keluargaku. Hal ini pun jadi salah satu alasan aku diusir dari rumah kelak. Dasar wanita licik! Kamu itu reinkarnasi nenek sihir, ya!’
Berhubung aku tiba-tiba menghindar, Cheryl tidak sempat menghentikan gerakannya dan jatuh menabrak meja. Makanan yang terjatuh dari meja pun membasahi sekujur tubuhnya. Kemudian, dia menatapku dengan tampang kasihan dan lanjut bersandiwara.
“Lara, kamu membenciku? Aku tahu aku sudah tempati posisimu. Wajar saja kamu membenciku. Tapi, aku benar-benar nggak rela pisah dari Ayah, Ibu, dan kakak-kakak sekalian. Huhuhu ....”
Awalnya, semua orang terpaku di tempat. Alhasil, ada orang bodoh yang termakan omongannya. Leon segera memapah Cheryl berdiri, lalu berseru marah padaku, “Lara! Buat apa kamu menghindar! Cheryl cuma mau menyapamu!”
‘Cuma orang bodoh yang nggak menghindar. Seharusnya matamu yang ketusuk jarum nenek sihir ini. Biar kamu bisa tersadar dari kebodohanmu!’ umpatku dalam hati. Namun, aku hanya mengedipkan mataku dengan tampang tak berdosa dan menjawab, “Aku cuma bereaksi secara refleks.”
Cheryl yang tampangnya menyedihkan ingin menjelaskan sesuatu, “Ayah, Ibu, aku benar-benar nggak ....”
Namun, Kak Leon langsung memotong ucapannya dan berkata tanpa ragu, “Lara itu orang lama di industri hiburan. Entah seberapa jahat hatinya. Memangnya omongannya bisa dipercaya?”
Cheryl yang berada dalam pelukannya diam-diam tersenyum menantang sambil menatapku.
Aku benar-benar emosi.
‘Dasar bajingan! Memangnya aku salah karena terjun di industri hiburan? Selain Kak Levi yang adalah presdir, Kak Liam dan Cheryl itu bintang film, sedangkan kamu sendiri itu penyanyi. Bukannya kalian juga terjun ke industri hiburan!’
‘Aku salah karena aku miskin? Kalau bukan karena aku nggak sengaja terjun ke industri hiburan, aku bahkan nggak punya uang untuk makan atau sekolah! Iya, iya! Kalian yang mulia, kalian yang suci!’
‘Aku kerja begitu keras, tapi masih belum tenar sampai sekarang karena aku tolak untuk korbankan prinsipku! Kalian nggak tahu adik kesayangan kalian itu pakai statusnya sebagai putri keluarga kaya, lalu tidur dengan lebih dari 2 pria untuk rebut sumber daya orang lain, ‘kan? Cuma kalian saja yang anggap dia masih suci!’
“Sembarangan!” Dibandingkan dengan Kak Leon yang memiliki temperamen buruk, ada seseorang yang terlebih dahulu bersuara. Cheryl yang wajahnya sudah semerah tomat menunjukku dengan tangan gemetar dan menekankan kata-katanya sekali lagi, “Jangan asal bicara!”
“Hah?” Aku pun bertanya dengan bingung, “Memangnya aku ada bicara?”
Tuhan bisa jadi saksiku. Mulutku sama sekali tidak bergerak. Aku paling-paling hanya mengumpat dalam hati.
“Kamu bilang tit ... tit ... tit ...,” seru Cheryl.
Aku menatapnya dengan bingung dan bertanya, “Apa sistem bahasamu bermasalah?”
Kak Leon lanjut berkata, “Tadi, kamu bilang tit ... tit ... tit ... tit ....”
‘Gawat! Apa mungkin anggota Keluarga Setiawan mengidap penyakit menular? Apa sebaiknya aku kabur secepat mungkin? Kalau sekarang aku pura-pura marah, lalu tampar Cheryl, apa anggota Keluarga Setiawan akan langsung usir aku?’
“Leon! Bawa Cheryl kembali ke kamar untuk istirahat!” seru Ayah yang dari tadi menonton pertunjukan ini dalam diam.
Aku mau tak mau harus mengurungkan niatku tadi. Sementara itu, Cheryl memelototiku dengan galak, seolah-olah ingin membunuhku. Namun, pada detik selanjutnya, dia tiba-tiba terisak dan menatapku dengan berlinang air mata. Napasnya juga terengah-engah, seolah-olah akan segera pingsan. Kemudian, dia menatapku dengan ketakutan.
‘Buat apa kamu lihat aku? Apa kemampuanku untuk membuat kesal orang sudah capai tingkat di mana orang bisa langsung mati kesal tanpa aku buka mulut?’
“Ekhem. Leon, cepat pergi!” desak ibuku.
Kak Leon dan Cheryl pun berjalan pergi dengan ekspresi kesal.
Sementara itu, aku duduk kembali dan menatap makanan yang berantakan di hadapanku dengan tampang sedih. ‘Lapar .... Makananku ....’
“Lara, tunggu bentar, ya. Pembantu sudah siapkan makanan baru,” hibu Ibu dengan lembut.
Aku pun mengangguk dengan patuh.
Untuk memecah suasana yang canggung ini, Ayah mencoba mengalihkan pembicaraan selama menunggu. Dia pun berkata pada Kak Levi, “Pak Jimmy sudah pulang. Kami berniat untuk makan bareng dalam minggu ini, sekalian bahas masalah pernikahanmu sama Yossie.”
‘Yossie ... kok nama ini familier banget?’
Gerakan orang lainnya mendadak terhenti sejenak. Sementara itu, aku berusaha mencari informasi orang bernama Yossie itu dalam sistem pengamat drama di otakku.
Ayah tersenyum sambil melirik semua anak-anaknya, lalu tatapannya berhenti padaku. Dia bertanya, “Sayang, gimana pendapatmu kalau putri Keluarga Cendana itu jadi kakak ipar kalian?”
Kak Levi menatapku lekat-lekat.
Aku sudah menemukan informasinya dan mengangguk dengan serius sambil menjawab, “Lumayan bagus.”
Semua orang terlihat jelas merasa lega. Namun, sebelum sempat bergembira lebih lanjut, aku tiba-tiba menambahkan dalam hati, ‘Pria bodoh dan wanita licik mana mungkin nggak serasi! Ini kombinasi terbaik! Sempurna!”
Anda Mungkin Juga Suka





