APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Sembilan Nyawa yang Kuhabiskan untukmu

Sembilan Nyawa yang Kuhabiskan untukmu

Tiara memiliki kemampuan fantasi unik berupa sembilan nyawa, di mana enam di antaranya telah melayang demi menyelamatkan Rico Sarihan. Dari tertimbun salju hingga ditusuk puluhan kali, pengorbanannya justru membuat sang miliarder abai dan tega mencelakainya demi wanita lain. Saat sisa hidupnya menipis menuju ajal kesembilan yang permanen, Rico baru menyadari kehilangan besarnya. Kisah romantis berbalut misteri dan horor ini menyajikan penyesalan terdalam seorang pria di hadapan jasad yang takkan pernah bangkit lagi.
Bab
Bagikan

Bab 1

Aku punya sembilan nyawa, dan enam nyawa sudah kuhabiskan untuk Rico.

Kali pertama, aku tertimbun dalam longsoran salju saat mencoba menyelamatkannya. Air dari lelehan salju memenuhi mulut dan hidungku.

Kali kedua, aku diburu oleh musuhnya dan ditusuk 24 kali hingga tubuhku hancur lebur.

Awalnya, dia gemetar dan berjanji tidak akan menyakitiku lagi.

Pada kali ketujuh, dia sudah terbiasa dan sengaja menabrakkan mobilnya padaku hanya untuk menyenangkan seorang wanita.

"Nyawanya nggak ada harganya. Asal kamu bahagia, dengan senang hati aku suruh dia mati 99 kali."

"Kamu mau lihat kematian macam apa lagi? Aku akan mengaturnya sesuai keinginanmu."

Aku terhempas sepuluh meter jauhnya seperti baju bekas yang terkoyak. Darah segar mengucur dari mulut dan hidungku. Namun, aku tersenyum dan menghitung dengan jariku.

"Dua kali lagi, utang budiku akan terbayar lunas."

Rico Sarihan tidak tahu aku hanya punya sembilan nyawa.

Setelah aku mati untuk kesembilan kalinya, aku tidak akan kembali lagi.

Ironisnya, saat aku benar-benar mati, dia memeluk erat mayatku yang hangus dan berbau busuk itu, tidak mau lepas. Air matanya bercucuran tak terkendali.

"Tiara, kumohon bangunlah. Jangan tega begini sama aku. Kelak aku nggak akan biarkan siapa pun menyakitimu lagi."

Sayangnya, tidak akan ada lagi seseorang yang menghapus air matanya dengan tangan gemetar berlumuran darah.

Aku tergeletak di tengah jalan berlumuran darah. Darah juga keluar dari mulutku saat aku terbatuk-batuk.

Ada serpihan-serpihan yang bercampur di sana. Semua organ dalam tubuhku terkoyak dan sakit.

Rico Sarihan melemparkan pandangan dingin dari dalam mobil. Lalu dengan tangan lembut menyibakkan rambut Jessa Tamari.

"Nggak usah merasa terbebani. Nyawanya terlalu murah, nggak akan mati."

"Lagi pula, bisa membuatmu senang sebelum kematiannya adalah keberuntungan baginya.”

Tubuhku perlahan mendingin, dan aku tahu kematianku yang ketujuh semakin mendekat.

Darah terus mengucur dari mulut dan hidungku. Rasa sakitnya membuat kepalaku pusing, tapi aku mengulurkan jari-jariku dan menghitung dengan susah payah.

"Dua kali lagi, utang budiku akan terbayar lunas."

Lalu aku tidak perlu lagi menanggung kematian berulang kali.

Rico melaju melewatiku tanpa melirikku sedikit pun.

Saat aku terbangun lagi, ternyata aku hanya dibuang begitu saja di taman bunga pinggir jalan. Untungnya, hari sudah larut malam. Tidak ada yang memperhatikan bahwa tubuhku yang telah tak bernyawa tiba-tiba terduduk.

Ponselku menampilkan pesan dari Rico setengah jam lalu. Hanya berisi beberapa kata singkat.

[Kalau sudah bangun, cepat pulang.]

Aku menyeret tubuh penuh lukaku ke pinggir jalan, mengambil sepeda listrikku, dan bergegas pulang.

Sebelum aku sempat menyalakan lampu, Rico menyeretku ke dalam bak mandi. Wajahnya berkerut jijik.

"Kamu penuh darah. Menjijikkan."

Air dingin yang membekukan di bak mandi membasahi lukaku yang belum sembuh. Rasa sakitnya membuat gigiku bergemeletuk tak terkendali.

Tapi dia tidak merasa kasihan sama sekali dan menarikku keluar, mengimpitku ke dinding untuk melampiaskan nafsunya.

Napasnya yang terengah-engah dan bisikan setannya memenuhi telingaku.

"Mati itu biasa bagimu, kamu nggak rugi apa-apa. Asal Jessa bahagia, imbalan apa pun yang kamu mau, akan kuturuti."

Gesekan yang kasar antara tubuh kami membuatku meringis dan mengerutkan kening. Aku hampir tidak sanggup, tapi hanya bisa memendam sakitnya dengan menggigit bibirku.

Tidak mendapat respons dariku, Rico semakin mempercepat gerakannya.

Tepat ketika aku akhirnya tidak tahan dan berteriak kesakitan, bel pintu tiba-tiba berbunyi di tengah liarnya suasana.

Rico awalnya tidak mau peduli, tapi suara tangisan Jessa datang dari kamera pengintai di pintu.

"Kak Rico, aku takut. Aku mimpi tentang orang tuaku lagi."

Orang tua Jessa dibunuh secara kejam oleh musuh mereka. Seluruh keluarga terbunuh, hanya menyisakan Jessa.

Selama bertahun-tahun, dia selalu memanfaatkan alasan ini untuk menemui Rico. Dan Rico selalu memakan umpannya.

Seperti dugaanku, pria di atasku membeku dan segera menarik tubuhnya. Dia melilitkan handuk di pinggang dan berjalan menuju pintu.

Seolah teringat sesuatu, dia berbalik dan mendorongku ke dalam lemari sambil memberiku ancaman.

"Dia nggak suka lihat kamu. Jangan bersuara."

"Kalau nggak, kamu tahu konsekuensinya."

Tubuhku meringkuk dalam ruang sempit itu. Lukaku tertekan, membuatku meringis kesakitan.

Dari luar lemari, terdengar suara gemeresik pakaian yang dilepas. Jessa menangis dan melemparkan dirinya ke pelukan Rico.

"Kak Rico, kamu bercinta sama dia? Apa pun yang bisa dia berikan padamu, aku juga bisa!"

Rico melirik sekilas ke arah lemari sebelum menutupi tubuh wanita di depannya dengan bajunya.

Jessa menyeka air mata dan memasang wajah pura-pura kuat.

"Kalau kamu nggak mau aku, biar kucari orang lain yang mau mencintaiku!"

Mata Rico berubah kelam, lalu dia memeluk Jessa dan menciumnya dengan paksa.

Dalam sekejap, orang yang baru saja seranjang denganku malah tidur dengan wanita lain.

Perutku terasa diaduk-aduk dan ingin muntah. Aku sudah berusaha memasukkan jariku ke tenggorokan, tapi yang keluar hanya cairan pahit.

Rico yang telah selesai bersandar di kepala tempat tidur sambil menghisap sebatang rokok.

Sementara Jessa menggambar lingkaran-lingkaran kecil dengan sentuhan lembut di dada pria itu.

"Kak Rico, aku sangat ingin menang kompetisi ini. Kamu bisa bantu?"

Tatapan Rico terhenti ke arah lemari, tenggelam dalam pikiran. Dia hanya mengeluarkan suara bergumam dengan nada bertanya.

"Hm?"

Melihat titik celah, Jessa buru-buru meyakinkan, "Jurinya sudah lama suka Kak Tiara. Bisa tolong minta Kak Tiara ketemuan sama dia?"

"Asal bisa membuatnya senang, aku pasti menang."

Jantungku berdebar kencang. Mataku memandang Rico melalui celah pintu lemari.

Begitu tegangnya sampai lupa bernapas. Pikiranku memanjatkan doa-doa putus asa.

Dia pasti akan menolak. Rico tidak akan mengorbankanku.

Pria itu membeku sesaat, lalu berdiskusi dengan suara agak tercekat, "Aku bisa memberinya uang."

Jessa tidak menyangka Rico akan berdiri di pihakku. Senyumnya jadi sedikit dipaksakan.

"Ikut kompetisi ini adalah keinginan terbesar orang tuaku dulu. Aku cuma ingin membuat mereka bahagia."

Mataku terpejam. Ketika satu-satunya harapan terakhirku sirna, hatiku pun jatuh tenggelam.

Orang tua Jessa pernah membantu Rico, sehingga mereka menjadi titik lemahnya.

Rokoknya sudah terbakar sampai ke ujung. Bara apinya membakar ujung jari Rico.

Pikirannya tersadar kembali dan dia mematikan rokoknya.

"Oke."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Fatal Attraction: Jatuh Cinta dengan Target
9.6
Sebelum genap 26 tahun, aku hidup sebagai penipu ulung tanpa belas kasih yang memanfaatkan pria demi materi. Namun, Dylan Hewitt mengubah segalanya saat pesonaku gagal menjeratnya, hingga merusak reputasiku. Di tengah keputusasaan, Dylan justru mengungkap rahasia dan perasaan aslinya. Terjebak dalam situasi tak terduga ini, aku kehilangan kendali atas taktikku sendiri. Kehadiran Dylan benar-benar membalikkan takdir dan meluluhkan hatiku.
Sampul Novel Janda Cantik Dan Psycopat Dingin
8.2
Enggan tenggelam dalam kepedihan setelah mendapati suaminya berselingkuh, seorang wanita memilih bangkit. Ia merancang pembalasan keji untuk menyiksa balik orang-orang yang mengkhianatinya. Di tengah rencana tersebut, hidupnya terusik oleh kehadiran pria misterius yang tidak diduga. Lelaki itu rupanya seorang psikopat berdarah dingin yang sangat terobsesi dan mencintainya. Akankah pertemuan ini memperlancar aksi balas dendamnya, atau justru membawa kehancuran?
Sampul Novel Semangkuk Kelapa Parut Untuk Lauk Nasi
8.5
Sepuluh tahun membina rumah tangga, Suci tetap setia mendampingi suaminya yang bekerja keras sebagai mekanik lepasan. Meski hidup serbakekurangan bersama tiga anak mereka, badai sesungguhnya baru datang saat cibiran orang lain dan kehadiran orang ketiga mulai mengusik keharmonisan pernikahan ini. Di tengah impitan ekonomi dan ujian kesetiaan yang berat, sanggupkah kekuatan cinta, rasa syukur, serta kesabaran mereka menyelamatkan bahtera rumah tangga ini dari kehancuran?
Sampul Novel TERJERAT OBSESI PEWARIS TUNGGAL
8.9
Bagi Anaya Trixie, menjadi target Nolan Eriko Zermain adalah petaka. Pewaris tunggal Zermain Group itu memakai cara kotor untuk menjebaknya, mulai dari memanfaatkan penyakit ibunya hingga memaksa Anaya hamil, padahal Nolan telah bertunangan dengan anak konglomerat. Di kala wanita lain merasa iri, Anaya justru berjuang meloloskan diri karena sangsi akan ketulusan Nolan. Apakah tindakan Nolan didasari oleh cinta sejati atau hanya obsesi gelap yang sarat nafsu?
Sampul Novel The Love Triangle
9.3
Clara, seorang staf kontrak berparas menawan, sekian lama mencintai bosnya yang keras kepala dan perfeksionis, Rio. Sayangnya, perasaan itu tak pernah direspons. Segalanya berubah saat Brian, sahabat karib Rio, pulang ke tanah air. Kedekatan Clara dengan Brian menumbuhkan cinta baru yang membuat Clara melupakan Rio. Menyaksikan romansa mereka, Rio didera cemburu buta. Akankah ia terlambat menyadari hatinya, ataukah hubungan persahabatan dengan Brian yang akan hancur?
Sampul Novel Yang Terbuang, Yang Tak Terbendung
7.8
Dekade berlalu di panti asuhan, kepulanganku justru berujung eksploitasi demi Kirana, kembaran yang dipuja. Puncaknya, orang tua kandungku bersekongkol agar Bima, kekasihku, melamar Kirana di hadapanku. Tak cukup di situ, aku difitnah mencelakai Kirana hingga dihajar ayah, didepak ke jalanan, dan dilaporkan ke polisi. Mereka mengira aku telah hancur total, namun kebencian membara ini justru menyalakan genderang perang yang mustahil bisa mereka hentikan.