APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Semangkuk Kelapa Parut Untuk Lauk Nasi

Semangkuk Kelapa Parut Untuk Lauk Nasi

Sepuluh tahun membina rumah tangga, Suci tetap setia mendampingi suaminya yang bekerja keras sebagai mekanik lepasan. Meski hidup serbakekurangan bersama tiga anak mereka, badai sesungguhnya baru datang saat cibiran orang lain dan kehadiran orang ketiga mulai mengusik keharmonisan pernikahan ini. Di tengah impitan ekonomi dan ujian kesetiaan yang berat, sanggupkah kekuatan cinta, rasa syukur, serta kesabaran mereka menyelamatkan bahtera rumah tangga ini dari kehancuran?
Bab
Bagikan

Bab 3

Semangkuk Kelapa Parut Untuk Lauk Nasi

Part 3 Dikasih Uang Tante Cantik

Penulis : Lusia Sudarti

***

Suamiku terdiam, lalu menghela Napas.

"Ya udah, sabar aja. Papa yakin Allah itu tidak tidur, semoga hari esok lebih baik dari hari ini," tuturnya.

"Aamiiin," jawabku.

Namaku Suci, usia 37 tahun dan suami bernama Imam, usia 41 tahun. Kami dikaruniai tiga orang anak. Satu laki-laki dan dua perempuan.

Si sulung bernama Maharani dipanggil Rani, yang ke dua Mahendra dipanggil Indra dan yang bungsu, Nayla Sukma. Kami dari keluarga kurang mampu, meskipun memiliki pekerjaan, tetapi kurang mencukupi.

Suamiku bekerja sebagai mekanik freelance yang masih belajar. Dan kadang aku yang jadi helpernya karena tak mampu untuk menggaji orang.

Di sela-sela waktu, aku bekerja sambil mengasuh Anak, hingga suatu hari aku memutuskan untuk mencoba belajar menulis novel. Karena masih baru pertama kali terjun kebidang penulisan masih banyak yang acak-acakan. Sebut saja aku penulis receh.

Aku juga bukan Anak sekolahan.

Aku selalu belajar, dengan membaca novel-novel, aku mempelajari sedikit demi sedikit mencari tema, judul dan merangkai kata demi kata menjadi sebuah kalimat atau pun mencari inspirasi agar sedikit menarik untuk pembaca.

Bahkan pekerjaan yang umumnya dilakukan oleh seorang lelaki, aku pun rela melakukannya.

Terkadang, aku hampir lupa jika aku ini perempuan. Keadaan yang membuatku kuat menghadapi semua ini.

Pagi ini aku bersiap untuk berangkat bersama Suami dan Anak yang bungsu. Kami berjalan kaki ketempat kerja.

"Ma, Adek mau jajan, Ma," rengeknya saat melewati warung. Hatiku sedih sekali mendengarnya.

"Iya sayang, nanti kalau punya uang ya?" bujukku sembari kupeluk lalu aku gendong.

Kedua bola matanya berkaca-kaca sembari melihat kearah warung yang menyediakan berbagai makanan dan minuman.

'Ya Allah, bahkan untuk jajan seribu rupiah pun aku tak punya," rintihku dalam hati.

"Iya Sayang, nanti kita cari uang dulu ya," sambung suamiku.

Dan dibalas anggukan si bungsu yang malang.

Kudekap erat dalam gendongan, kucium pucuk kepalanya. Hatiku menjerit pilu.

Dalam perjalanan pun fikiranku melayang kemana-mana, hatiku gundah, hatiku resah. Wajar saja karena beban hidup yang harus kujalani bersama keluargaku begitu berat, usaha apa pun yang kujalani ini tetap tak mampu membantu mengatasi kesulitan ekonomi dalam keluarga.

Pernah aku berjualan makanan dengan untung yang hanya cukup untuk satu hari, penghasilan yang kuperoleh berkisar antara enam puluh ribu perhari, dari sisa belanja aku investasikan untuk arisan emas perhari dua puluh lima ribu, ketika waktunya penarikan, ternyata bandarnya berkelit, emas 10 gram tak dibayar, uang sebesar satu juta tujuh ratus pun raib.

Saat itu aku mendatanginya untuk meminta hakku, ia malah marah-marah dan memperkarakan aku, tetapi aku tak takut, aku mendatangi ketua dusun setempat.

Tetapi si pelaku memang seorang yang pengecut, ia tak berani datang memenuhi panggilan

Aku berubah haluan dengan berjualan online, alhamdulillah penjualanku laris manis.

Tetapi itu pun tak berlangsung lama, karena suatu hal, ponselku yang menjadi benda penghasil uang harus rusak. Alhasil aku berhenti berjualan online, dan pelangganku banyak yang tak mau bayar, mereka ada yang kabur, ada yang janji karet.

Huffftt!

Aku melamun disepanjang jalan, dan menghempaskan nafasku, aku tak menyadari kehadiran seseorang yang kini telah berdiri dihadapan kami.

"Mau kemana, Adek?" sapa tetangga.

"Mau ikut kelja, Tante," jawabnya dengan senyum.

"Oh iya, Adek mau ikut kerja ya, ya udah jangan nakal ya," katanya lagi.

"Iya, Tante makasih ya, Tante mau kepasar ya?" tanyaku.

"Iya Mbak, nih buat Adek jajan," sahutnya seraya menyodorkan uang pecahan 20.000.

"Udah, Te, gak usah repot-repot, adek udah makan kok," tolakku tak enak hati.

"Sudah, nggak apa-apa, Mbak!" potongnya.

Lalu si bungsu menerima pemberian Tante Mirna.

"Makasih Tante cantik, semoga Tante banyak lejeki, amiin. Makasih Ya Allah," ucap si bungsu dan di amini Mirna.

"Amiiin, makasih, Adek cantik," balasnya sambil diusap pipinya yang bikin gemes.

Aku dan suami pun tersenyum. Ada kebanggaan dalam hatiku.

Selalu ada rizqi untuk anakku, raut wajah Nayla terlihat begitu ceria. Tak dapat kupungkiri, hatiku pun begitu bahagia melihatnya yang tersenyum bahagia.

Lalu Mirna pamit melanjutkan perjalanannya yang tertunda.

Dengan langkah tegap dan pasti kami melangkahkan kaki melanjutkan perjalanan.

"Alhamdulillah Ya Allah, ternyata Engkau maha besar," syukurku lagi.

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

"Ma, nasi tinggal sedikit. Tapi Rani sama Indra sudah makan," ujar Rani disaat kami baru pulang.

"Mbak, Mas, Adek punya jajan nih. Ini untuk Mbak dan ini untuk Mas," kata Nayla sambil memberikan jajan buat Kakak-kakaknya.

"Makasih ya, Dek," jawab mereka.

"Mama mandi dulu ya, Pap!" pamitku sambil menggendong Nayla untuk mandi.

"Iya ma," sahutnya.

***

"Pap, gimana ya, besok beras tinggal 3 kaleng, susu juga habis, kita nggak punya apa-apa untuk sayur," keluhku.

"Coba Mam, wa kewarung dulu. Siapa tau boleh ngutang," saran Suami.

Aku mengangguk dan mengambil ponselku dalam tas.

[Buk, maaf saya mau bon dulu beras 2 kg, gula, kopi, sabun sama mie instant.] Aku mengirimkan wa lalu terkirim dan centang biru.

Ting!

Notifikasi wa masuk. [Iya Te, datang aja ke warung bawa catatan.] balas nya.

[Iya Bu, makasih banyak ya Bu.] balasku.

Si Ibu warung membalas emoticon jempol.

"Alhamdulillah," ucapku, bersyukur.

Aku pun segera mengambil secarik kertas dan pulpen untuk mencatat daftar belanja.

"Gimana Mam, bisa ngutang dulu?" tanya Suami.

"Iya Pap, boleh."

"Alhamdulillah," sahutnya.

"Rani sama Indra kewarung dulu. Ini catatannya!" titahku.

"Mana duitnya, Ma?" tanya Rani.

"Ngutang dulu Nak, mama udah wa tadi," jawabku. Lalu mereka berangkat.

"Adek ikut ya Ma," rengek Nayla.

"Nggak usah Sayang, jauh ntar capek," cegahku.

"Tapi beli pelmen ya Ma."

"Iya nanti beli permen."

"Hoolleee!" teriaknya girang.

Aku pun tersenyum melihat tingkahnya yang menggemaskan.

"Eh itu si Rani mau kemana Mbak? Pasti mau cari utangan ke warung kan?" tanya Dewi, janda tetangga ujung yang julid seraya memandang sinis kearah Rani yang berjalan menjauh.

"Emang kenapa Mbak, kalo aku ngutang? Toh aku nggak kan minta bayarin situ!" jawabku ketus.

"Emang sih nggak minta bayarin aku. Tapi Aku tuh kasihan sama Suaminya Mbak!" sahutnya sambil melirik genit kepada suamiku.

"Ciihh! kenapa juga pake kasihan sama Suamiku, hah!" bentakku, ia seolah menunjukkan simpatinya untuk suamiku dan seolah sengaja membuatku cemburu.

Suamiku pun begitu terkejut mendengar ucapan Dewi. Lalu dengan wajah tak peduli, ia masuk mengambil wudhu untuk melakukan sholat ashar.

"Sudah pulang sana. Enggak usah cari-cari perhatian suamiku segala. Urus aja urusanmu sendiri!" usirku kepada Dewi, ia membalas tatapanku dengan tajam dan sinis kepadaku, kemudian melangkah menjauh dariku.

"Awas saja kamu Suci!" ancamnya, ia melangkah semakin jauh, tetapi aku masih jelas mendengar ancamannya.

"Heii, aku tak takut akan ancaman kamu, sampai dimanapun akan kulayani kamu, sampai aku mati, aku tak akan mundur selangkah pun! Mengerti kamu!" hardikku seraya berdiri hendak mengejarnya, tetapi ia keburu lari mendengar teriakanku dan akan mengejarnya.

Gelap sekali penglihatanku dalam menahan semua amarahku.

Aku pun kesal sekali sama kelakuannya. Kuhirup nafas dalam-dalam untuk menghalau emosi.

Nafasku tersengal, aku duduk untuk menetralkan nafas dan emosiku.

'Astagfirrullohal 'adzim ada-ada aja," lirihku dalam hati.

Bersambung

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel  Birahi Janda Binal
9.3
Widya Ayu Ningrum menjadi janda muda di usia 24 tahun setelah suaminya, Harjo, wafat akibat kecelakaan tragis sepulang merantau tiga tahun lalu. Sejak musibah itu, Widya harus berjuang sendirian sebagai orang tua tunggal. Kini, fokus utamanya adalah membesarkan putra semata wayangnya, Evan Dwi Harjono. Kisah ini menyoroti perjuangan hidup Widya yang penuh lika-liku dalam mengasuh sang anak tanpa kehadiran sosok pendamping hidup.
Sampul Novel Brondong Bucin
8.3
Kehilangan suami membuat dunia Aira hancur. Sebagai ibu tunggal, ia sempat tenggelam dalam kesedihan hingga mengabaikan ketiga anaknya. Sadar harus bertahan hidup, Aira berjuang bangkit demi masa depan buah hatinya. Di tengah badai kehidupan tersebut, takdir mempertemukannya dengan seorang pemuda yang mencintainya dengan sangat ugal-ugalan. Namun, sanggupkah hubungan mereka bertahan ketika rintangan baru kembali datang menguji keteguhan hati Aira?
Sampul Novel Derita Istri Penurut
9.7
Arini selalu patuh pada Bagas, suaminya, walau kerap mendapat perlakuan kasar. Demi melindungi orang tua, ia memendam penderitaan itu rapat-rapat. Namun, batas kesabaran Arini akhirnya habis, mendorongnya melayangkan gugatan cerai ke pengadilan agama. Di tengah kemarahan Bagas yang meluap, mampukah ia meluluhkan hati sang istri? Ataukah kepedihan batin yang terlanjur mengendap lama membuat tekad Arini untuk berpisah tidak bisa digoyahkan lagi?
Sampul Novel Jebakan Ibu Susu Bayiku
8.6
Elara terdesak menjadi ibu susu anak Viktor Laxmere, miliarder misterius, demi membiayai pengobatan sang ibu. Namun, pekerjaan ini justru membawanya masuk ke dalam lingkaran manipulasi dan intrik gelap. Di bawah kendali kekuasaan Viktor yang mutlak, Elara menghadapi dilema antara rasa benci dan benih cinta yang mulai tumbuh. Ia kini harus membongkar rahasia di balik tawaran tersebut sebelum sepenuhnya hancur sebagai pion dalam permainan berbahaya sang miliarder.
Sampul Novel Kisah Cinta Naomi
9.0
Naomi Clara mengalami kemalangan besar setelah Adrian, sang suami, menjual dirinya demi bisnis hingga ia terperangkap dalam jaringan perdagangan manusia di Hongkong. Di sana, takdir mempertemukannya dengan Zhou Tian, seorang pemimpin mafia berdarah dingin. Hidup Naomi semakin rumit ketika seorang playboy ternama juga mulai menaruh hati padanya. Kini, ia terjebak dalam cinta segitiga berbahaya yang mengancam perasaan serta masa depannya.
Sampul Novel Suamiku yang Lumpuh Adalah Taipan Misterius
7.9
Lana, gadis desa yang tumbuh bersama neneknya, mendadak dibawa pulang oleh keluarga Rahayu. Bukannya disambut hangat, ia malah dipaksa menjadi pengantin pengganti bagi Saras untuk menikahi Jehan, pria lumpuh dari keluarga Sahid yang di ambang kehancuran. Demi sang nenek, Lana menerima pernikahan ini. Di malam pertama, ia dan Jehan sepakat berpisah dalam dua tahun. Namun, mampukah Lana menjaga rahasia identitasnya dari sang suami? Di saat pria lain mengejarnya, siapakah yang akan memenangkan hatinya?