
Sayangnya Tak Ada Kata Andaikan
Bab 8
Silvano dulu pernah sebegitu khawatir pada Juvena, sekarang justru sebegitu menyesalinya.
Saat ini kucing di pelukannya seolah berbobot ribuan kilo, Silvano buru-buru meletakkannya lalu mencari-cari obat untuk Juvena.
Setelah menghirup obat semprot, wajah Juvena baru sedikit membaik.
Silvano dengan hati-hati membantunya beristirahat di atas ranjang.
"Maaf, Juvena, barusan aku salah paham padamu."
"Kucing itu milik Marisha, dia panik karena tak menemukannya di mana-mana, jadi tadi aku agak terburu-buru."
Juvena tetap diam, menatap Silvano tanpa ekspresi.
Di bawah tatapannya yang tenang, Silvano makin merasa bersalah.
Dengan dalih ingin menelepon, pria itu cepat-cepat meninggalkan kamar.
Tak lama kemudian, Juvena samar-samar mendengar suara di luar kamar.
"Jangan banyak bicara lagi, cepat bawa pergi kucingmu."
Hari-hari berikutnya, Silvano merawat Juvena dengan sangat teliti.
Sekali saja dia batuk, Silvano segera menunjukkan kekhawatiran yang berlebihan.
Dia bahkan mengusulkan untuk menunda pernikahan, menunggu Juvena benar-benar pulih baru menggelar pesta besar.
Juvena dengan tegas menolak.
"Aku nggak apa-apa, pernikahan tetap dilaksanakan sesuai rencana."
Melihat Juvena begitu mementingkan pernikahan ini, hati Silvano terasa hangat.
Dua hari kemudian, Marisha datang membawa sekeranjang buah untuk meminta maaf.
"Maaf, Kak Juvena, salahku nggak menjaga kucing dengan baik, sampai membuatmu kambuh."
Dia tampak sangat menyesal, matanya masih terlihat bengkak bekas menangis.
Namun Silvano tidak melunak.
Nada bicaranya sedingin es ....
"Marisha, apa kamu tahu kalau karena kelalaianmu ini, nyawa Juvena hampir melayang?"
Marisha berkata dengan terisak, "Maaf, aku benar-benar nggak menyangka bisa sampai begini, aku ...."
"Sudah, nggak perlu banyak bicara. Kamu hanya perlu ingat, Juvena adalah batas terakhirku, keselamatannya lebih penting dari apa pun!"
Tubuh Marisha menegang, terpaku menatap Silvano, bahkan lupa membela diri.
Dalam sekejap, air matanya bercucuran.
Dirinya gemetar, lalu berbalik dan berlari keluar sambil menangis.
"Kamu!"
Silvano berdiri, ikut terkejut dengan reaksi Marisha barusan.
Tanpa ragu dia segera mengejarnya.
Semua itu terjadi dalam sekejap mata.
Juvena justru merasa seolah pernah menyaksikan jutaan kali adegan serupa.
Dia termenung sejenak, lalu diam-diam mengikuti mereka.
Dari taman belakang vila terdengar isak tangis Marisha, juga suara rendah Silvano yang membujuk.
Juvena melihat sendiri Silvano dengan lembut menghapus air mata Marisha.
Detik berikutnya, dia merangkul pinggang Marisha dan menciumnya dengan paksa.
...
Setengah jam kemudian, Silvano kembali ke kamar.
Juvena duduk bersandar di ranjang, dengan tenang menulis sesuatu di buku catatan.
"Juvena, sedang menulis apa?"
Entah perasaannya saja atau bukan, Silvano seakan melihat kata-kata seperti visa keluar negeri.
"Bukan apa-apa."
Juvena menutup bukunya, lama kemudian baru menengadah menatapnya.
Silvano tersenyum seraya bertanya, "Lusa adalah pernikahan kita, kamu gugup nggak?"
Juvena hanya menggeleng, lalu tiba-tiba teringat sesuatu. "Besok makan malam bersama, ya."
Makan malam terakhir itu, juga untuk benar-benar mengakhiri hubungan ini.
Silvano tidak menyadari kedalaman di balik sorot mata Juvena saat itu.
Tanpa banyak berpikir dia segera mengiakan.
"Baik!"
Anda Mungkin Juga Suka





