
Sayang, Aku Minta Maaf
Bab 3
Ternyata itu Yoga!
Aku mengamati gambar di layar dengan cermat, ingin melihat siapa wanita itu.
Namun, kameranya benar-benar berguncang dengan sangat hebat, apalagi wanita itu hanya menampakkan sebagian kecil wajahnya, yang sebagian besar tertutupi oleh rambut, sehingga hanya bisa dipastikan bahwa dia bukan sahabatku.
Tepat ketika aku makin merasa wajah itu tidak asing, bahkan berpikir bahwa wanita itu agak mirip denganku, video itu selesai.
"Kalau saja kamu bisa selalu sepatuh ini, betapa bagusnya ...."
Yoga mengambil sebuah botol kecil berwarna cokelat dari laci, lalu mematikan komputernya.
Karena takut ketahuan olehnya, aku segera kembali ke kamar tidur, mengganti celana dalam, lalu duduk di atas tempat tidur sambil melamun.
Siapa sebenarnya wanita di video yang tidak menampakkan seluruh wajahnya itu?
Membayangkan dirinya dijepit oleh Yoga, dibuat tidak sadar diri, dan dengan putus asa mendorong pinggulnya, rasa malu yang belum pernah terjadi sebelumnya melanda seluruh tubuhku.
Bahkan pelacur tidak akan begitu bebas saat melayani, aku mau tak mau berpikir sendiri.
"Kak, kamu sudah bangun?" Suara Yoga terdengar dari luar pintu.
"Sudah … sudah bangun!" Aku buru-buru keluar dari kamar tidur, menundukkan kepala, tidak berani melihat pria tinggi di depanku yang hanya mengenakan celana pendek.
Aku tidak berani mengakui bahwa barusan, hanya dengan membayangkan diriku dipaksa oleh Yoga, telah memicu gelombang kenikmatan yang luar biasa di dalam tubuhku.
"Kulihat kamu tidur seharian, aku kira kamu sakit."
"Ng … nggak, kamu lapar? Aku bisa buat mi untukmu."
"Aku sudah makan." Yoga menyerahkan segelas susu padaku. "Kelihatannya kamu belum cukup istirahat, habiskan ini lalu tidurlah lagi."
Aku mengangguk, meminum susu itu sampai habis.
Mungkin karena terlalu banyak menerima rangsangan, begitu aku berbaring di tempat tidur yang hangat dan wangi, rasa kantuk dengan cepat menyerang, kelopak mataku makin berat.
Tepat saat aku hampir tertidur dalam keadaan setengah sadar, aku merasakan gelombang panas samar-samar muncul dari dalam tubuhku, terpusat di area perut bagian bawah.
"Klik," terdengar suara pintu kamar tidur dibuka, kemudian kasur terasa tenggelam. Seseorang naik ke atas tempat tidur.
Tubuhku langsung menegang. Apakah itu Yoga?!
Saat itulah aku baru sadar dan teringat akan botol kecil berwarna cokelat yang dia keluarkan dari laci, apakah dia menaruh obat di dalam susu itu?
Dia ingin menggagahiku!
Aku membenamkan wajahku di bantal. Seluruh tubuhku selembut adonan, dan tubuhku yang berkeringat menjadi lebih sensitif dari sebelumnya. Setiap inci kulitku terasa panas, perih, dan gatal. Satu-satunya hal yang dapat kudengar adalah detak jantungku yang intens, dan sebuah pertanyaan terus muncul di benakku, "Apa aku harus pura-pura tidur?"
Namun segera, aku tidak merasa berada dalam situasi yang sulit lagi, karena pria di belakangku telah melepaskan celana tidurku.
Anda Mungkin Juga Suka





