APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Satu Malam Bersama Bos

Satu Malam Bersama Bos

Dunia Kirana runtuh akibat pengkhianatan kekasihnya. Di masa sulit itu, ia melewati satu malam tak terduga dengan Adrian, sosok asing yang kini menjadi bos barunya. Kirana pun terjebak dalam konflik batin antara menjaga profesionalisme kerja dan menghadapi perasaan yang kian tumbuh. Di tengah luka masa lalu yang belum pulih dan rahasia besar mereka, mampukah cinta keduanya bertahan menghadapi kerasnya persaingan bisnis?
Bab
Bagikan

Bab 2

Ruangan meeting terasa lebih dingin dari seharusnya. Atau mungkin hanya perasaan Kirana yang membeku begitu melihat pria yang baru saja melangkah masuk.

Adrian.

Pria yang semalam bersamanya.

Pria yang seharusnya tidak akan ia temui lagi.

Kini berdiri di depan ruangan, mengenakan kemeja putih rapi yang dilapisi jas abu-abu. Sorot matanya tajam, penuh wibawa. Tidak ada jejak dari pria yang semalam duduk santai di bar, mengajaknya bicara dengan nada hangat.

Kirana menelan ludah, berusaha menenangkan diri. Ini pasti mimpi buruk.

Sementara itu, Adrian berdiri tegak, memasukkan satu tangannya ke saku celana, sementara tangan lainnya bertumpu di meja panjang.

"Selamat pagi," suaranya tenang, dalam, dan tegas. "Saya Adrian Rahardian, direktur utama di sini."

Telinga Kirana berdenging. Direktur utama?

"Ada beberapa wajah baru di ruangan ini. Sebelum kita mulai, saya ingin mengenal kalian lebih dulu," lanjut Adrian dengan nada profesional. "Mulai dari... Anda."

Kirana terlonjak sedikit ketika sadar bahwa jari Adrian mengarah padanya.

Sial.

Ia berdiri dengan sedikit kaku, merasakan tatapan semua orang tertuju padanya. Jantungnya berdegup kencang, bukan hanya karena perkenalan ini, tapi karena pria di depannya yang seharusnya asing, tapi justru terasa terlalu dekat.

Kirana berdeham, mencoba mengontrol suaranya. "Kirana Putri, saya baru bergabung sebagai analis bisnis di tim strategi."

Adrian mengangguk kecil. "Punya pengalaman di bidang ini sebelumnya?"

"Ya, saya pernah bekerja di perusahaan konsultan selama dua tahun."

Adrian menatapnya sejenak, lalu tersenyum tipis, senyuman profesional yang membuat Kirana tidak bisa menebak isi pikirannya. "Bagus. Selamat bergabung, Kirana."

Ia segera duduk kembali, berusaha menjaga ekspresinya tetap netral. Tapi yang terjadi di dalam dirinya? Kacau.

Adrian kembali memperkenalkan dirinya secara umum, menjelaskan visi dan harapan bagi timnya. Sepanjang waktu, Kirana berusaha tidak menatapnya terlalu lama, meskipun ia merasa tatapan pria itu sesekali mengarah padanya.

Apakah ini kebetulan? Atau... sesuatu yang lebih dari itu?

----

Rapat selesai setelah satu jam. Kirana buru-buru membereskan catatannya, berharap bisa segera keluar dari ruangan tanpa insiden apa pun.

Namun, saat ia hampir mencapai pintu, suara bariton itu menahannya.

"Kirana."

Ia berhenti di tempat.

Perlahan, ia berbalik. Adrian berdiri di belakangnya, tangan terselip di saku, ekspresinya tetap tenang.

"Bisa ke ruangan saya sebentar?"

Beberapa rekan kerja yang masih di ruangan saling bertukar pandang. Kirana bisa merasakan mereka mulai berspekulasi.

Dengan hati-hati, ia mengangguk. "Tentu, Pak."

Adrian tidak berkata apa-apa lagi dan langsung berjalan keluar. Kirana menghela napas, lalu mengikuti langkahnya.

---

Begitu masuk ke dalam ruangan Adrian, Kirana langsung merasa tertekan oleh atmosfer di dalamnya. Ruangan itu luas, dengan jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota.

Adrian berdiri di depan mejanya, menyilangkan tangan di dada.

Kirana berdiri kaku di dekat pintu. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?"

Adrian mengangkat alis, lalu menghela napas kecil. "Jangan terlalu kaku, Kirana."

Kirana meneguk ludah. "Saya hanya mencoba profesional."

Adrian menatapnya lama, seolah menilai sesuatu. "Begitu juga saya."

Hening.

Kirana tidak tahu harus berkata apa. Bagaimana seharusnya ia bersikap? Semalam, mereka adalah dua orang asing yang berbagi satu malam yang seharusnya tidak memiliki konsekuensi. Tapi sekarang, pria itu adalah bosnya.

"Jadi..." Adrian akhirnya bicara lagi. "Bagaimana menurutmu tentang hari pertamamu?"

Kirana berusaha fokus. "Sejauh ini baik, Pak. Timnya sangat suportif."

Adrian mengangguk, lalu menyandarkan diri pada meja. "Bagus. Saya ingin kita tetap profesional."

Kirana menegang. "Tentu."

Adrian menatapnya lagi, tatapan yang sulit diartikan. "Apa yang terjadi semalam... tidak akan memengaruhi pekerjaanmu di sini."

Jantung Kirana berdebar lebih cepat.

Ia tahu maksud Adrian. Laki-laki itu ingin memastikan bahwa mereka bisa bekerja tanpa ada perasaan canggung atau masalah pribadi.

Tapi... bisakah Kirana benar-benar mengabaikan fakta bahwa mereka pernah berbagi sesuatu yang seharusnya hanya menjadi rahasia malam itu?

Ia mengangguk pelan. "Saya mengerti, Pak."

Adrian tersenyum tipis, tetapi ada sesuatu dalam sorot matanya yang membuat Kirana tahu, pria ini sedang mengujinya.

"Baik," ujar Adrian akhirnya. "Kalau begitu, kembali bekerja."

Kirana segera berbalik, tetapi sebelum ia mencapai pintu, suara Adrian kembali terdengar.

"Oh, dan satu lagi, Kirana."

Ia berhenti.

Adrian menatapnya dari balik meja, matanya penuh arti. "Jangan terlalu gugup setiap kali menatap saya. Orang lain bisa salah paham."

Darah Kirana berdesir.

Ia buru-buru keluar, menutup pintu di belakangnya, dan bersandar di sana dengan napas tertahan.

Astaga.

Hari pertama kerja, dan ia sudah hampir kehilangan kendali.

Kirana berjalan cepat di koridor setelah keluar dari ruangan Adrian, mencoba menenangkan diri. Nafasnya masih belum stabil, dan kepalanya penuh dengan suara Adrian yang terdengar terlalu santai dan menyebalkan.

"Jangan terlalu gugup setiap kali menatap saya. Orang lain bisa salah paham."

Astaga. Kirana ingin sekali berbalik dan mengatakan sesuatu yang tajam, tapi ia masih sadar diri. Ini bukan tempatnya untuk bersikap impulsif.

Ia menutup matanya sejenak dan menarik napas panjang. "Tenang, Kirana. Jangan sampai dia tahu kalau kamu kesal."

Baru saja ia melangkah menuju meja kerjanya, seorang rekan kerja, Dinda, mendekatinya dengan tatapan penasaran.

"Kirana, kok bisa-bisanya baru hari pertama udah dipanggil bos ke ruangan?" tanyanya dengan nada menggoda.

Kirana memaksakan senyum. "Kayaknya cuma prosedur biasa. Perkenalan gitu."

Dinda mengangguk, meski masih terlihat curiga. "Hmm, biasanya kalau perkenalan mah di depan banyak orang, bukan privat di ruangannya. Bos Adrian itu tipe yang nggak terlalu dekat sama karyawan baru, lho."

Kirana menelan ludah. Oh, jadi dia memang jarang melakukan ini? Lalu kenapa justru aku yang dipanggil?

Ia hanya mengangkat bahu. "Mungkin aku spesial." Ia terkekeh, mencoba mengalihkan perhatian Dinda, lalu buru-buru duduk di mejanya.

Tapi fokusnya sudah berantakan. Setiap kali ia menunduk menatap layar komputer, bayangan Adrian muncul di kepalanya. Tatapan dinginnya. Cara bicaranya yang datar tapi menusuk.

Dan yang paling membuatnya kesal?

Laki-laki itu tahu dia gugup.

Kirana mendengus pelan, mengetik cepat di laptopnya untuk mengalihkan pikiran. Tapi baru beberapa detik, notifikasi email muncul di layarnya.

"[Kirana, siapkan laporan singkat tentang proyek baru sebelum meeting jam satu siang. Saya ingin melihat sejauh mana pemahamanmu. Jangan buat saya kecewa.]"

Kirana mengerjapkan mata.

Apa-apaan ini? Dia baru mulai kerja beberapa jam, dan sudah diberi tugas seperti ini?

Tapi yang lebih mengesalkan adalah kalimat terakhirnya.

'Jangan buat saya kecewa.'

Ugh! Kirana nyaris mengumpat. Pria itu benar-benar suka menguji kesabarannya.

Ia mengetik balasan cepat dengan nada sesopan mungkin, meskipun tangannya gatal ingin menambahkan komentar sarkastik.

"[Baik, Pak. Saya akan menyiapkannya.]"

Setelah mengirim email, Kirana bersandar di kursinya, menghela napas panjang.

"Hari pertama kerja, dan aku sudah ingin membanting laptop," gumamnya.

Tapi satu hal yang pasti, ia tidak akan membiarkan Adrian menang. Jika pria itu mengujinya, maka ia akan membuktikan bahwa ia bisa bersikap profesional.

Walaupun dalam hati... ia ingin sekali berteriak karena gemas.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Asmara Panas JANDA MUDA
8.6
Saat berlibur di desa sang nenek, Bayu justru terpikat oleh pesona Lina, seorang janda muda yang sangat memikat. Kehadiran Lina membangkitkan gairah besar dalam diri Bayu, meskipun ia sebenarnya sudah mempunyai pacar yang menunggu di kota. Pertemuan ini memicu gejolak batin yang hebat pada diri Bayu. Haruskah ia mempertahankan kesetiaannya, atau justru menyerah pada godaan cinta terlarang yang begitu membara? Ikuti dinamika hubungan mereka yang penuh emosi.
Sampul Novel Balas Dendam Seorang Ibu
7.9
Kehidupan Alana hancur setelah mendapati Kenzo, sang suami, mengkhianatinya bersama Risa, adik tirinya sendiri. Walau didera amarah hebat, Alana memilih bersabar demi menjaga masa depan dua anaknya, Arya dan Luna. Enggan terpuruk dalam kesedihan, ia mulai merancang pembalasan yang matang dan tak terduga. Alana bertekad menuntut keadilan serta membuat mereka membayar semua rasa sakit ini. Saksikan keteguhan seorang ibu dalam merebut kembali martabatnya.
Sampul Novel Kematian Berujung Perceraian
9.3
Setelah memohon 99 kali, Rizald Pratama akhirnya setuju membawa putri mereka berkemah di gunung saat hari ulang tahunnya. Namun esok harinya, sang ibu justru menemukan putrinya tewas di kaki gunung sambil memeluk foto keluarga. Di tengah kedukaan, Rizald malah mengunggah foto mesra bersama teman masa kecilnya dan seorang anak lain di media sosial. Ironisnya, potret menyakitkan yang memperlihatkan tangan kecil korban tersebut diambil oleh mendiang putrinya sendiri sebelum meninggal.
Sampul Novel Menjadi Madu Sahabatku
8.3
Silla terperangah ketika Elsa, sahabat karibnya, memohon agar ia bersedia menjadi istri kedua Nathan. Karena divonis mandul, Elsa mendesak Silla demi mendapatkan keturunan. Walau awalnya menolak, desakan itu akhirnya membuat Silla menyerah dan setuju. Keadaan kian pelik lantaran Silla rupanya masih menyimpan rasa cinta rahasia pada Nathan. Sanggupkah ia mundur setelah melahirkan nanti, atau justru terjerat selamanya dalam pernikahan itu?
Sampul Novel Pelabuhan cinta Daffin
9.7
Zalfa memilih pergi ke Jakarta untuk menyembuhkan luka akibat cintanya yang tak berbalas pada Hamid. Di kota besar ini, takdir justru menyeret gadis desa yang anggun itu ke dalam pernikahan tak terduga dengan Daffin Al-Aziz, anak majikannya yang sombong dan temperamental. Konflik pun kerap terjadi di antara mereka. Di sisi lain, Daffin menjalin hubungan dengan model papan atas bernama Alisa, tanpa tahu kekasihnya itu ternyata menjadi simpanan pria berduit demi gaya hidup.
Sampul Novel RAHIM GADIS SEWAAN
7.8
Zevanya menghadapi kesulitan finansial yang sangat berat. Demi membayar utang yang menumpuk dan membiayai operasi jantung sang ayah, ia terpaksa mengambil jalan pintas dengan menyewakan rahimnya. Harapan untuk merasakan pernikahan yang bahagia pun lenyap seketika karena ia harus mengandung anak dari pasangan suami istri lain. Kini, Zevanya harus berjuang menjalani hidup sebagai ibu pengganti. Mampukah ia bertahan melahirkan bayi yang tak bisa ia miliki demi menyelamatkan keluarganya?