APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Sang Pewaris Pesantren

Sang Pewaris Pesantren

Gus Iqbal sempat menutup rapat hatinya akibat dikhianati oleh Mafayzah, wanita yang dahulu sangat ia cintai. Kehancuran hubungan tersebut meninggalkan kepedihan mendalam bagi sang pewaris pesantren. Namun, situasi mulai berubah sejak kehadiran Neng Lia. Perempuan yang taat dan tulus ini perlahan mampu membawa kedamaian baru. Lewat kelembutan sikapnya, Neng Lia sukses meluluhkan kembali kekakuan hati Gus Iqbal yang sempat membeku.
Bab
Bagikan

Bab 3

Aku mendirikan raganya secara pelan, rambut keritingnya yang panjang menyentuh jemariku yang akan melepas pinggangnya.

Saat Ia hampir tenggelam tadi, hijabnya terlepas dan terbawa arus yang cukup kuat.

Hingga menampakkan rambut keritingnya terurai panjang menutupi keseluruhan punggungnya, sepertinya Ikat rambutnyapun terlepas dan terbawa ombak sekaligus.

Aku harus kembali ke tepi pesisir, karena aku lihat di sana hijabnya terkapar d ipasir abu kekuningan. Dan beberapa kali terdorong oleh ombak laut.

Berkali-kali mata itu yang berkaca-kaca mencoba disembunyikan. Kepalanya tertunduk. Mulutnya bagai terkunci. Ke dua tangannya mencoba merapikan rambut panjangnya yang basah dan agak acak-acakkan.

Ku rasa, dia benar-benar tidaklah sanggup menatap penuh pandanganku.

"Baik ...."

Aku sempat melihatnya mengangguk pelan. Sambil menata anak rambutnya yang menutupi mata kirinya.

***

POV; Neng lia

Dari sini aku melihat seorang pria yang kemejanya dilepas itu.

Aku hanya mengetahui kalau dia adalah pria yang sama, pria yang hampir menabrakku dengan motor hitam nya.

Aku tidak memerhatikan hal lain, aku hanya menatap diam-diam wajahnya yang bersinar terkena sorot matahari.

Matanya sayup, warna tubuhnya kuning langsat.

Aku merasa begitu tidak enak saja bila pandanganku menatap tubuh bagian atasnya yang tidak terpakaikan kemeja.

Mataku memang ingin memerhatikan tubuhnya yang tidak terpakakaian kemeja itu, namun imanku mencegah.

Aku juga sadar, ini godaan terbesarku.

Aku melihat dirinya berlari menghampiriku. Wajahnya memang tidak tersenyum, namun ketampanannya memancar saat angin membelai rambut hitam legamnya.

"Ya allah tabahkan hatiku, kuatkan imanku."

Aku malu pada allah, karena aku sudah membuka aurat rambutku yang seharusnya aku tutup dengan hijab.

Aku tahu, hijab itu terhempas saat aku terseret ombak. Tapi tetap saja, kalau begini aku sangat sungkan bila dilihat seseorang.

Dia sekarang berada di depanku. Namun yang aku bisa hanya terdiam, mataku ingin terbelalak menatapnya.

Namun aku tidak berani sedikitkpun. Aku saja bingung memanggil dengan sebutan apakah dia?

"Hijabmu ...."

Dia tersenyum tipis. Menatapku pelan, kemudian berlalu.

"Terima kasih ...."

Aku memakai hijab, tanpa menggunakan jarum. Memakai seperti biasa, persis pemakaiannya seperti selendang pengantin pada umumnya.

Melihatnya, aku hampir lupa, kalau aku basah kuyub.

Rambutku saja terurai tanpa ikat rambut. Bagaimana aku bisa kembali ke pondok pesantren?

Aku membalik badan melihat pria itu kembali.

Dia sedang sibuk membelakangiku, untuk mengancing kemeja putihnya yang dilepas tadi.

"Kamu mondok di mana?"

Aku tercekat. Pria itu menghampiriku dengan motor hitamnya.

"Sa ... saya ... pondok As-sidqi!"

Aku hanya menunduk, dan samar-samar menatap wajahnya. Aku tahu, dia menyempatkan diri untuk menatap penuh.

Namun, tatapannya membuat jantungku berdebar kencang. Sehingga aku tidak mampu menatapnya lebih dalam.

"Ayo ... aku anterin!"

Ya allah, aku bingung. Harukah aku jawab ya? Atau aku jawab tidak saja? Aku nggak berani mengambil keputusan.

"Sudahlah, ayo ...."

Ia menarik tangan kananku. Dan membuat aku telah menaiki kendaraan bagian depannya. Bukan bagian belakang.

Ya tuhan, aku tidak tahu, ini salah atau benar. Aku tidak tahu, soal guru-guru lelaki tadi.

Ngomong-ngomong mereka semua dimana?

Apakah sibuk dengan lelaki gila tadi?

Jantungku berdebar semakin kencang. Hatiku tiada henti berkata dan bertanya. Tentang kebenaran apa ini yang aku hadapi?

Rasanya sulit menerima kenyataan ini.

Begitu cepat!

Hembusan nafasnya menggembung di ubun-ubunku.

Bagaiman tidak, aku duduk dikendaraan depannya. Aku bahkan hampir menutupi pandangannya dalam menyetir.

Namun, dia tidak marah atau bereaksi entah apa?

Kami mulai memasuki gerbang utama Pesantren As-Sidqi. Aku begitu gugup saat meleweati masjid yang mampu melihat kantor diniah yang ada disebelah selatan sana.

Takut, apa yang akan diperbincangkan, saat ada santri wati yang tau tentang ini.

"Tenanglah, aku akan menjelaskan pada umi podokmu."

Pondok ini begitu sepi, apakah ada acara atau bagaimana?

Atau ada dilantai aula semua?

Aku tidak tahu kemana santriwati semua pergi seakan mereka semua telah lenyap.

"Assalamu'alaikum, Umi."

Aku malah makin takut kalau aku harus menghadapi ini semua.

Pria yang tadi membocengku didepan ini, malah langsung mengajak ke tempat umi alias rumah pribadi umi. Sebut saja, ndalem pondok as- sidqi.

"Wa'alaikumsalam."

Umi keluar dari pintu depan. Pandangannya menatap heran diriku yang terpaku, di belakang pria yang sama sekali tidak aku kerahui namanya ini.

Apalagi, aku lagi mengenakan baju yang basah kuyup seperti ini, tidak ada bedanya dengan orang yang kehujanan.

"Umi, saya mau membicarakan sesuatu bersama Umi, "

Aku melihat pria yang lekas menolongku itu, tengah mengecup punggung tangan umi.

"Lho, Nak Alif! kamu ke sini membawa Marwah? Kok basah kuyup begitu, habis kenapa?"

"Namanya Marwah, Umi?"

"Namanya itu Marwah, Nak? kenapa bisa basah kuyub begitu?"

"Alif tidak bisa jelasin Umi, panjang ceritanya. Lain waktu Alif jelasin."

"Ya sudah, tidak apa. Ayo minum, Umi kasih minum teh hangat dulu!"

"Makasih Umi, tapi Alif lagi buru-buru pulang ini!"

"Buru-buru amat toh Lif, minum teh hangat dulu begitu. Baru pulang ...."

"Umi, ini tehnya!"

Disini ada mbak Fahim yang membawakan teh keluar.

"Lho itu sudah dibuatin teh, ayo diminum dulu!"

"Ya sudah, kulo minum pun Umi!"

"Iya diminum."

"lha kamu bisa ada di pondok sini, bukannya kamu mondok di pondoknya abah Syahir ya?"

Aku menatap pria itu yang tengah berbicara dengan mbak-mbak ndalemnya umi.

"Ya itu dulu, Gus, tapi karena aku ingin pindah pondok ya, maka terpilihlah pondok sini."

"Begitu ya? Oh iya, Fahim ... nanti tolong kamu pinjamin baju kamu untuk Marwah ya, dia sudah kedinginan. Sekalian aku minta tolong, nanti bersihkan lantai ini, yang aku kotori dengan air!"

"Iya, Gus, "

Aku masih mematung.

Memandang pria itu yang kembali mengecup punggung tangan umi. Ku rasa beliau adalah kerabat pondok sini. Namun, aku kenapa baru mengetahui?

"Umi, jaga kesehatan. Kulo insya'allah selalu mendoakan. Wassalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam."

"Terima kasih, Gus!"

Gumamku lirih. Seketika ku menunduk, sejenak dan hanya sempat menatapnya samar.

"Iya!"

***

POV; Neng Lia

"Mar, pakai bajuku ini dulu!"

Aku menunggu didepan kamar mandi ndalemnya Umi.

Kamar mandinya ternyata begitu beda jauh dengan kamar mandi selatannya kamarku.

Di sini interiornya didesain begitu indah, dengan cat dinding orenge perpaduan blewah.

Dari luar hamam, sudah tercium bau yang begitu wangi bahkan diberi lampu yang cukup terang. Ku perhatikan juga ada Sower tersedia di sini,

"Iya makasih mbak, ini dikembalikannya lusa ya?"

Mbak Fahim meminjamkan padaku baju bewarna putih dengan hijab segi empat bewarna kuning langsat.

Barusan saja kupegang, wangi parfumnya mbak fahim seketika terasa harum semerbak.

"Terserah kamu, Mar, aku juga jarang makai pakaian yang itu. Selonggar waktumu aja ngembaliinnya. "

Gus yang menyelamatkan aku tadi, sepertinya tahu kondisiku, aku begitu kedinginan dan aku juga perlu pakaian ganti.

Apalagi aku tidak ngebayangin, aku masuk gerbang lokal dengan pakaian yang basah kuyub bagai kehujanan ditengah jalan.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bisikan dari hutan: Pendeta wanita terakhir
8.4
Mira hanya ingin hidup tenang sebagai penyembuh, tetapi penculikan ibu angkatnya memaksanya kembali ke dunia sihir. Di sana, ia bertemu Eluin, Dewa bebas terakhir yang mengungkap bahwa Mira adalah pendeta wanita pamungkas. Kini, nasib hutan suci ada di tangannya. Mira harus menghadapi Temenis, sang Dewa Kematian yang mengancam dunia. Mampukah ia mengatasi keraguan demi menyelamatkan ibunya sekaligus mencegah kehancuran total?
Sampul Novel Budak di atas Ranjang - Season 2
8.8
Demi melunasi utang judi sang ayah dan menyelamatkannya dari sekapan, Izabelle terpaksa menyerahkan kesuciannya kepada Jordan Heron. Bos mafia yang kejam itu merebut kehormatannya dalam sebuah transaksi dingin demi mencegah keluarganya menjadi gelandangan. Terjebak bersama pria keji yang baru ia temui, Izabelle kini harus menjalani takdir kelam penuh penderitaan dan kehinaan. Bagaimanakah kelanjutan nasib malangnya di tangan sang bajingan?
Sampul Novel Gairah Liar Pria Introvert
9.0
Kisah modern ini menggabungkan romansa memikat dengan ketegangan misteri yang diselimuti unsur mistis. Diwarnai bumbu komedi segar, alurnya membawa pembaca ke dalam petualangan penuh emosi saat setiap rahasia mulai tersingkap. Sesuai judulnya, narasi intens ini menyoroti sisi lain seorang pria introvert yang menyimpan gairah luar biasa di balik sosoknya. Nikmati perpaduan unik ketegangan dan tawa yang tersaji secara mendalam.
Sampul Novel Gairah Nikmat Perselingkuhan
9.1
Di tengah keheningan, aku memberanikan diri mendekap Wiwik dengan lembut. Walau sempat mempertanyakan kehadiranku, ia perlahan luluh dan mulai menikmati kehangatan pelukan itu. Suasana kian membara ketika Wiwik membalas dekapanku dengan sangat erat. Kecupan hangat yang mendarat di pipi hingga bibirnya pun disambut penuh gairah. Desahan lirih yang lolos dari bibirnya menjadi bukti nyata bahwa ia telah sepenuhnya hanyut dalam kemesraan yang kami ciptakan.
Sampul Novel Malam Panas Bersama Mafia Dingin
9.6
Akibat pilih kasih ibunya, Amora Nouline selalu tersisih dari kakaknya, Alana. Ketika sang ayah jatuh sakit dan membutuhkan biaya pengobatan yang sangat besar, ibu dan Alana justru tega memaksa Amora menjual dirinya. Demi menyelamatkan sang ayah, ia terpaksa menerima keputusan pahit itu. Namun, takdir mempertemukannya dengan seorang bos mafia yang dingin dan berkuasa. Di balik ketampanan pria tersebut, aura kejamnya membuat Amora dilingkupi ketakutan luar biasa malam itu.
Sampul Novel Tak Lagi Berharap
9.6
Tragedi masa lalu saat berusia tujuh belas tahun merampas kemampuan wanita ini untuk memiliki keturunan akibat luka tusukan di rahimnya. Meski sang suami sempat berjanji untuk setia selamanya, janji itu runtuh di tahun kelima pernikahan mereka. Pria itu berkhianat dengan menjalin hubungan terlarang bersama wanita kejam yang dahulu menghancurkan fisik dan masa depannya. Kini, setelah memiliki anak dari perselingkuhan tersebut, sang suami justru menuntut perceraian demi memberikan status istri sah kepada selingkuhannya.