APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Sang Pewaris Pesantren

Sang Pewaris Pesantren

Gus Iqbal sempat menutup rapat hatinya akibat dikhianati oleh Mafayzah, wanita yang dahulu sangat ia cintai. Kehancuran hubungan tersebut meninggalkan kepedihan mendalam bagi sang pewaris pesantren. Namun, situasi mulai berubah sejak kehadiran Neng Lia. Perempuan yang taat dan tulus ini perlahan mampu membawa kedamaian baru. Lewat kelembutan sikapnya, Neng Lia sukses meluluhkan kembali kekakuan hati Gus Iqbal yang sempat membeku.
Bab
Bagikan

Bab 1

POV; Neng Lia

Kami mendengar suara kencang yang berada di utara parkiran, namun suara itu terdengar samar.

"Tolong!!!!!!!!!"

Keadaan disekitar kami yang begitu hening, semakin menguak jeritan itu.

Kami berdua mulai mengambil langkah untuk mendekat.

Semakin mendekat suara itu, terdengar seperti terbungkam oleh sesusatu.

Apa yang terjadi?

Syahna mengambil langkah mundur.

Namun yang terjadi pada diriku justru berbanding seratus oersen dengan yang dilakukan Syahna.

Aku malah semakin melangkah maju, maju dan terus maju.

Aku lihat, gerbang utama yang disana mulai tertutup. Hanya tertinggal gerbang didekatku ini yang terbuka.

Suara teriakan gadis, namun suara itu mengarah ke arah gudang tua yang sudah dikosongkan Madrasah saat aku lulus dibeberapa tahun lalu.

Merinding menerkamku, selimut keberanianku semakin menipis.

Mataku terbelalak ingin mengetahui apa yang sedang terjadi.

Badanku gemetaran yang mana tidak mampu disembunyikan lagi.

Haruskah aku membuka pintu yang berada didepanku ini yang tertutup namun masih ada cela yang terbuka?

"Syahna ... Ayo!!!!!!!!"

Aku membisik dari kejauhan.

Syahna malahan mengambil langkah semakin ke belakang.

Sementara aku mulai memegang daun pintu yang tertutup itu.

Ribuan dzikir kulantunkan, lalu terbukalah pintu itu.

"Astaghfirullah ...." aku bergumam lirih.

Ke dua mataku seketika terbelalak, melihat gadis yang pakaiannya hampir hancur keseluruhan.

Hijab pasmina yang acak-acakkan.

Mulut kecilnya terbungkam dengan solasi hitam yang besar. Badannya bagai lemah tanpa daya dan matanya memerah sembab sementara wajahnya memucat.

Gadis itu terbaring dengan lemah. Bersandar didekat kursi kayu yang kotor.

Aku mulai mendekat padanya, disini cukup gelap tanpa pelita lampu.

Hanya ada sinar mentari pagi yang masuk melalui celah-celah atap, yang terlapisi genteng kaca putih.

Ya allah, gadis itu menujukan benar-benar ketakutan, apa dia sedang disekap seseorang. Namun siapa? Siapa juga yang tega melakukan ini?

Aku mendekat dan semakin mendekat.

Ku lihat pintu dibelakangku masih terbuka lebar sehabis aku buka keseluruhan.

Disini tidak ada suara, melainkan suara nafas gadis ini yang semakin kencang saat aku mulai mendekati dan melepaskan ikatan tangannya.

"Ada apa denganmu, Dik?"

Aku memanggilnya adik. Meski Ia bukan adikku yang sesungguhnya.

Dia hanya gadis biasa pada umumnya.

Solasi hitam yang menutupi mulut kecilnya itu aku tarik, setelah beberapa raungan ketakutan yang keluar begitu saja dari mulutnya.

Aku tidak tahu apa yang dia katakan sebelum aku melepas solasi hitam itu.

"Mbak ... belakang, Mbak!!!!"

Aku menatap arah belakangku. Padahal aku belum seleseai melepas ikatan kakinya.

"Ya allah ...."

Aku bergeser cepat ke arah kiriku.

Ya tuhan, siapa pria in? Aku tercengang melihatnya.

Wajahnya seperti orang yang benar-benar tidak mengenal ajaran islam.

Tubuhnya bagai menujukan bahwa dia bukan pria baik-baik. Namun, kenapa bisa dimadrasah ini?

Aku binging harus mengarah mana, aku terus bergeser saat pria itu mencoba memegang tanganku.

Tangannya memang kosong, tidak membawa benda tajam, tidak membawa juga benda yang menakutkan.

"Allahu akbar ...."

Aku melempar segala apa yang ada disamping kananku.

Buku-buku tebal itu aku lempar, namun pria itu sering menangkis.

Ya tuhan, aku kenapa bisa berada diruangan ini? Kalau aku sebelumnya tau, ini ruangan yang tidak baik. Maka aku mungkin tidak akan pernah memasukinya.

Sandal pemberian papi kulempar ke arah wajahnya.

Namun pria itu malah makin mendekat dan ingin memegangku dengan tangan kotornya.

Namun aku tidak akan putus asa untuk slalu menangkisnya.

"Mbak ... cepat lari!!!!!!"

Gadis itu melempar empat buku tebal ke atas kepala pria itu, sehingga pria itu mengalami pusing tujuh kali lipat dari sebelumnya.

Aku terbangun,

Kulirik sejenak gadis dibelakangku dengan mataku yang mulai berkaca-kaca.

Serasa dihati aku tidak ingin meninggalkan gadis itu, namun bagaimana lagi? Kalau aku tetap disini habislah aku!

Lalu aku berlari dan terus berlari.

Pintu gudang aku tutup spontan, hingga keluarlah suara keras.

Semoga adik yang tadi ada dalam lindunganmu

"Tolong-tolong-tolong ... tolong-tolong!!!!!"

Sempat ku lirik Syahna, dia begitu sibuk ikut membantu berteriak keras ke arah ruangan yang ada didepannya.

Aku mulai mendengar suara dobrakan keras pintu gudang yang sempat aku tutup sebelum aku keluar.

Pria itu keluar, dan kulihat selisih lima belas langkah dariku.

Jauh dari sana, sekitar lima hingga tujuh karyawan guru berlari mengejar lelaki itu.

Ya tuhan selamatkan aku!

***

POV: Syahna

"Kamu anak mana nak?"

Ada seorang guru yang menghampiriku, sementara aku masih dirundung kecemasan.

Apakah marwah baik-baik saja?

Kalau saja Marwah tidak pergi ke gudang itu, mungkin tidak akan terjadi seperti ini.

"Saya anak MAN, Bu ...."

"Temanmu tadi ceritanya bagaimana? Kok sampai ke gudang gitu?"

Ibu guru berkacamata ini, menayaiku setelah menyuruhku duduk disampingnya.

"Tadi itu Marwah sama saya mendengar teriakan dari arah gudang, jadi Marwah ingin tahu suara itu, hingga masuk ke gudang!"

"Kamu tadi tidak ikut nemenin, waktu Marwahnya nglihat gudang?"

"Tidak berani, Bu ... jadi saya memilih diam di tempat, saat itu Marwah sudah masuk ke gudang, Bu!"

"Terus tadi waktu Marwah teriak minta tolong itu waktu sudah masuk apa habis keluar dari gudang?"

"Ya habis keluar dari gudang bu, terus saya juga iku teriak minta tolong di depan kantor ibu tadi!"

"Kok bisa ada kejadian seperti ini, kami guru karyawan madrasah sudah lama nggak ngatur gudang, semenjak gudang itu kami jadikan tempat penempatan buku perpustakaan yang sudah tidak muat ditaruh di laboratorium kimia"

"Oh gitu bu?"

***

POV; Neng Lia

Kakiku bagai tidak kuat lagi, namun lariku bertambah semakin kencang.

Aku tidak tahu arah tujuanku berlari, hingga aku melihat suatu gang.

Akupun masuk kedalam gang itu, meski aku tidak tau, itu gang mengarah kemana?

Aku kali ini hanya tahu, Jalanan ini begitu asing, tidak pernah aku kenal sebelumnya. Tidak pernah pula aku lewati, tidak pernah pula aku menginjak gang ini sebelumnya.

Jalanan ini kenapa begitu sepi? Tidak ada rumah-rumah yang bersinggah.

Namun agak jauh dari sana, kulihat pesisir laut merah yang luas. Dengan ombak yang menggulung legam.

"Tolong ... tolong!!!!!!"

Kecemasanku merajalela. Kekhawatiranku bertahta lebih tinggi dari sebelumnya.

Pria itu kenapa terus mengejarku? Apa salahku?

Aku berlari tanpa berhenti memperhatikan belakang. Hingga aku lupa memerhatikan depan.

"Brak, tiiiiiiiiiiin!"

Aku menabrak sesuatu yang keras, dan sesuatu itu barusan saja berhenti sedetik yang lalu. Dan mengeluarkan deruh suara yang keras merambat ketelingaku.

Aku berhenti.

Aku terengah-engah, menatap pemilik motor itu dengan kegagapan yang berkuasa disanding tanganku yang tidaklah sengaja hinggap dipunggung tangan kananya yang lekas mengerim motornya.

"Tolonglah aku!"

***

POV; Gus iqbal

"Ya allah ....

Klakson motorku tadinya tidak sengaja kepencet, hingga memunculkan suara yang keras digang ini.

Aku tidak tahu apa yang dilakukan gadis ini, tapi dari wajahnya sepertinya sempat kaget.

Gadis ini siapa? hampir saja aku tabrak.

Kulihat wajahnya begitu pucat pasi, penuh dalam ambang kecemasan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel A-PD170
8.1
Saat keluarganya bangkrut, Winnie dicampakkan oleh Jako yang membatalkan pertunangan mereka secara sepihak di depan publik. Dalam situasi terjepit, Winnie nekat mengeklaim dirinya sedang mengandung anak dari Dion, paman Jako yang sangat berkuasa. Di luar dugaan, Dion menyetujui kebohongan itu dan mengajaknya bersekutu. Hubungan mereka pun berlanjut ke pernikahan kontrak yang sarat intrik, siasat, dan kesalahpahaman yang perlahan menjerat hati keduanya.
Sampul Novel Antara Sahabat dan Cinta
9.5
Lima tahun bersahabat sejak SMP, hubungan erat Rania, Ray, dan Gia kini menghadapi ujian berat di kelas tiga SMK. Di tengah kepungan tawa dan air mata khas remaja, perasaan cinta yang lama terpendam mulai mengusik kebersamaan mereka. Mitos bahwa persahabatan lawan jenis tak pernah murni tanpa rasa asmara seolah menjadi nyata. Kini, mereka dihadapkan pada pilihan sulit: menyatakan cinta dengan risiko merusak geng, atau tetap diam selamanya.
Sampul Novel Cinta Romantis Bagaikan Buih
8.5
Keputusan Chinta Luna sudah bulat untuk menanggalkan nama lamanya. Meski petugas administrasi telah memperingatkan rumitnya mengurus perubahan dokumen penting seperti ijazah, paspor, dan kartu identitas, ia tetap teguh menandatangani formulir pengajuan. Mulai saat itu, ia resmi melepaskan masa lalu dan memilih nama baru, Cahya Arjuna, sebuah nama yang membawa harapan baru sebagai lentera penerang dalam perjalanan panjang hidupnya.
Sampul Novel GADIS MALANG
8.2
Demi menempuh pendidikan, Rinda rela merantau ke luar daerah. Sayangnya, kehidupan di tanah rantau justru memberi luka batin yang begitu hebat. Komitmen cinta yang ia jaga dengan tulus malah dibalas dengan pengkhianatan hingga membuatnya depresi berat. Sembari menangis pilu, Rinda menumpahkan segala kepedihan kepada orang yang telah mematahkan hatinya. Kini, ia berada di persimpangan jalan, bimbang untuk terus berjuang atau menyerah pada nasib buruk yang menimpanya.
Sampul Novel KETIKA ISTRI GENDUT JADI LC
8.4
Dulu dihina dan dianggap menjijikkan oleh suaminya karena berbadan tambun, Maemunah kini bertransformasi menjadi Maya. Ia bekerja sebagai pemandu lagu karaoke demi membiayai pengobatan sang anak sekaligus memulihkan harga dirinya yang hancur. Namun, dunia malam yang gemerlap ini penuh jebakan. Di balik cahaya lampu, bayang-bayang masa lalu siap membongkar kembali luka lama yang belum sembuh.
Sampul Novel Pengkhianatanmu Adalah Kesalahan Terbesarmu
9.4
Sebagai anak angkat di keluarga Haris, hidup Alya hancur setelah dikhianati Revan hingga berbadan dua. Demi nama baik keluarga, ia diusir dan dipaksa menggugurkan bayinya. Alya menolak, lalu memilih pergi demi membesarkan putranya, Rayan, seorang diri. Saat telah sukses, takdir justru mempertemukannya kembali dengan Revan yang kini datang memohon ampun. Meski pria itu mencoba menebus kesalahannya, kepedihan Alya terlanjur mendalam. Akankah ada kesempatan kedua?