APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Sang Pemuas Nafsu

Sang Pemuas Nafsu

Kehidupan seorang mahasiswa beasiswa yang cerdas namun sederhana seketika berbalik arah. Kehilangan sahabat terbaik menjadi titik balik yang mengubah pemuda biasa ini menjadi sosok magnetis bagi para wanita di kampusnya. Di tengah keterbatasan ekonomi, ia justru terjerat dalam pusaran daya tarik baru yang tak terduga. Hubungan romansa dewasa yang penuh gairah pun mulai menyelimuti hari-harinya, membawanya masuk ke dalam konflik asmara yang kompleks dan mendalam.
Bab
Bagikan

Bab 3

Tingg!

"Copy paste kok bangga ?" komen dari mba Ria, dia salah satu teman kostku juga, tapi sudah bekerja di salah satu  perusahaan swasta. Orangnya juga cantik, humoris, dan dia juga sang motivatorku untuk tetap bersemangat melewati hariku. Kami sering curhat bareng, namun aku tidak pernah tau untuk memberikan solusi tentang curhatannya. Lah aku sendiri belum pernah pacaran, bagaimana mau tau jawabannya.

"Hehehe, tau aja Mba !" balasku.

Namun ketika melihat Mba Fina sudah selesai, aku langsung memasukkan ponselku di saku celanaku, lalu bergegas untuk mengangkat barang - barang belanjaannya. Toko distributor ini sebenarnya memiliki karyawan yang khusus angkut barang, tapi saking banyaknya pelanggannya, kadang kita harus menunggu agar barang yang kami beli bisa di angkut. Berhubung sang pebisnis memiliki panutan bahwa waktu adalah uang, maka tak jarang mereka tidak mau membuang waktu hanya untuk menunggu.

Menurutku bisnis itu lebih menguntungkan dari pada harus kerja sebagai pegawai atau karyawan. Meskipun resikonya di tanggung seorang diri, tapi setidaknya seorang pebisnis bisa merasakan keleluasaan dan kebebasan. Berbeda dengan karyawan yang merasakan gaji bulanan, tapi disiplin dan memiliki jam kerja khusus.

Mungkin sekitar tiga puluh menitan aku lalu lalang dan mondar mandir mengangkut beberapa sak beras, serta barang sembako lainnya, sampai semuanya sudah terangkut di bak mobil pick up.

"Minum dulu Din !" ucap Mba Fina sambil menyerahkan sebotol minuman segar.

"Huh, makasih mba !" jawabku sambil menerimanya.

"Kamu makin gagah aja kalau lagi keringat Din ?" ucapnya dan seketika dia mengelap keningku menggunakan punggung tangannya.

"Mba pasti lagi ngegombal, supaya aku nantinya semangat untuk nurunin barang - barangnya kan ?" timpalku menyelidik.

"Sepertinya kamu terlalu negatif thinking dengan dirimu sendiri Din, harusnya kamu tetap percaya diri dengan dirimu sendiri, di sisi lain setiap orang memiliki karakteristik yang berbeda, jadi jangan mengambil kesimpulan bahwa semua pujian itu adalah sebuah gombalan !" ujarnya panjang lebar.

"Sebenarnya aku percaya diri kok Mba, dan butuh penyesuaian saja. Tentu ada beberapa kondisi yang membuatku over high dalam berpikir. Menurutku kebanyakan orang melihat dari segi fisik dan materi, sementara keduanya tidak aku miliki !" timpalku.

"Sifat itu harus kamu hilangkan, jadilah diri sendiri, jangan kau pungkiri kekuranganmu, dan tetap jalan di jalanmu. Kamu tidak perlu menoleh untuk mendengarkan cemoohan dan hinaan, karena di depan kamu adalah sebuah masa depanmu!" ujarnya.

"Hehehe, iya mba makasih motivasinya, mba makin cantik aja !" timpalku tersenyum kearahnya.

"Iya, makasih kalau menurut kamu Mba masih cantik, padahal mba udah kepala tiga loh !" jawabnya.

"Hahha, merendah untuk meningi, sepertinya Mba sedang mengujiku juga !" timpalku.

"Sok tau !" ucapnya.

Setelah itu, kami langsung memutuskan untuk segera pulang, berhubung jam sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Sesampainya di rumahnya, aku kembali menurunkan barang - barangnya, dan setelah semuanya sudah selesai, aku mendapatkan upah sebesar lima puluh ribu, dan beberapa bungkus mie instan.

"Makasih Mba !" ucapku.

"Sama - sama Din, itu cukup ngga ?" tanyanya.

"Heheh, ini lebih dari cukup mba !" jawabku.

Upah yang dia berikan tidak menentu, kadang hanya dua puluh ribu dan paling banyak seratus ribu. Mba Fina hanya menyesuaikan banyak dan sedikitnya barang yang dia beli, dan menurutku itu adil dalam hal jerih payah yang aku keluarkan. Tapi pada dasarnya aku tetap menerima berapapun yang dia kasih, karena sebenarnya aku juga mendapat uang saku lima ratus ribu tiap bulannya dari beasiswaku, dan uang yang aku dapatkan dari jerih payahku, aku tabung. Tabungan ini tentu belum ada pikiranku untuk apa nantinya, entah untuk modal habis lulus kuliah atau uang darurat. Dalam artian persiapan mental di kemudian hari.

Aku kemudian kembali berjalan kaki menuju kostku, dan langsung menyegarkan badan dengan mandi. Berhubung jiwa mudaku masih sangat bersemangat, aku tidak menyempatkan diri untuk istirahat, melainkan aku memilih untuk ke rumah Syamsul. Setelah sampai di rumahnya, aku melihat mobil yang akan kami bawah sudah siap untuk berangkat.

"Haaaaa, kita minum kopi dulu Din, habis itu baru kita berangkat!" ucap Syamsul. Saat ini kami duduk di teras rumahnya.

"Bawa baju ganti ngga ?" tanya Syamsul.

"Bawa kok, emangnya sampai jam berapa di sana ?" tanyaku.

"Kita nginap di sana aja !"

"Nginap di mana ?"

"Di penginapan atau hotel mungkin !"

"Tumben banget Sul, biasanya langsung balik aja ?"

"Hehehehehh !" Syamsul kembali menimpalinya dengan terkekeh licik.

Tepat pukul 23.00, kami akhirnya sudah menurunkan muatan di salah satu pengrajin kayu. Kami tidak langsung meninggalkan kediamannya, karena dia menyuguhi kami penyemangat lambung. Yah memang aku sering minum alkohol juga, tapi aku tidak merokok. Bagiku minuman itu sekedar olahraga jantung, dan penambah kekuatan fisik. Tentu saja candu minum alkohol bukan bawaan lahir, melainkan di ajarkan oleh Syamsul. Kami sering minum ketika kami selesai menurunkan muatan. Tapi biasanya kami minum di dalam mobil, dan sementara kami membawa mobil.

Malam ini bukan hanya kami saja, melainkan sang pengrajin dan dua karyawan lainnya.

"Habis ini kalian mau kemana ?" tanya Saprianto sang pengrajin atau pemilik usaha.

"Mau nginap di penginapan om !" jawab Syamsul.

"Ohh, memangnya kalian udah pernah nginap ?" tanyanya lagi.

"Udah sekali Om !" jawab Syamsul.

"Hehehe, jangan - jangan kamu ketagihan!" sahut Ramli sang karyawan.

Aku pun semakin bingung dengan obrolan mereka, apalagi saat ini aku mulai merasa kalau kepalaku tidak mampu lagi untuk konsentrasi berpikir, hanya ada beberapa masalah yang seolah ingin aku lontarkan tapi sepertinya mereka tidak mungkin bisa memberikan solusi, dan hanya wanitalah yang mampu memberikan solusinya.

"Hehehe, tau aja om !" timpal Syamsul.

"Kalau mau murah, ke jalan baku paku saja, habis itu terserah mau di mobil, atau bawa ke penginapan!" ujar Saprianto lagi.

"Nanti saya coba lewat sana om, kalau cantik gaskan, " ucap Syamsul.

Tepat pukul 23.30, kami berpamitan, tapi kali ini aku tidak tau Syamsul mau kemana. Di perjalanan dia terus menerus bersiul, beberapa kali dia tancap gas dan beberapa kali dia mengerem mendadak.

"Wwwoooee, kalau mabuk siniii biar aku yang bawaaaaa!" ucapku menawarkan.

"Lebih parah lagi kalau kamu yang bawa Din, bisa - bisa kita langsung on the way kuburan !"

"Makanyaaaa, pelaaaannn !"

Syamsul tidak menggubrisku, namun ketika kami melewati jalan yang gelap, dan cukup sepi, seketika dia memelankan mobilnya sambil bersiul - siul.

Sejenak aku memicingkan mataku sejauh sorotan cahaya lampu mobil, dan samar - samar aku melihat beberapa orang sedang berdiri berjejer.

"Sullll, setaaannn, Sull, kenapa malah lewattt siniiii ?" tanyaku dengan nada berat, namun aku mulai mengucek mataku.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel ALASKA
8.4
Bhalendra Alaska Arlic meyakini bahwa perubahan sejati harus muncul dari kesadaran pribadi. Meski terus didera kepedihan hingga batinnya hancur, Alaska tetap berusaha tegar. Masa lalunya bersama Yesaya justru menorehkan trauma hebat dibanding memori indah. Di sisi lain, Azka memandang cinta tak lebih dari sekadar bualan belaka. Terperangkap dalam bayang-bayang kepedihan lama, sanggupkah kehadiran orang baru meruntuhkan benteng pertahanan Alaska dan memulihkan luka di hatinya?
Sampul Novel Gadis Terbuang vs Raja Bisnis
8.7
Sambil memegang map lamaran, Olivia menelusuri jalan dengan letih demi mencari pekerjaan. Ketika ia berbicara dengan seorang satpam, perhatiannya teralihkan oleh kehadiran Alexander Drake. Pengusaha sukses nan karismatik itu baru saja turun dari mobil mewahnya. Pandangan mereka pun bertemu, memicu ketegangan instan di antara keduanya. Walau Olivia merasa tidak percaya diri dan Alexander bergeming dingin, benih ketertarikan mulai tumbuh. Pertemuan di depan kantor ini akan mengubah takdir Olivia.
Sampul Novel Gara-Gara Taruhan
7.9
Tekanan besar melanda delapan pria lajang rupawan saat orang tua mereka menuntut pernikahan segera. Tanpa kekasih dan dikejar tenggat waktu kawin paksa yang sepihak, mereka harus bergerak cepat. Sebagian mulai berjuang memburu cinta sejati dalam waktu singkat, sementara yang lain menyusun taktik cerdik demi lolos dari perjodohan. Saksikan keseruan perjuangan unik kedelapan pria ini dalam menghadapi kemelut drama kehidupan mereka.
Sampul Novel Pembalasan Istri yang Direndahkan: Penyesalan Suami Pengkhianat
8.2
Setelah dikhianati dan dicampakkan oleh Deon saat hamil tua, Elara memilih pergi dan membangun hidup baru. Lima tahun berlalu, ia bertransformasi menjadi miliarder sukses yang memikat dan mandiri. Namun, saat Elara berniat meresmikan perceraian mereka yang ternyata belum diurus Deon, mantan suaminya itu justru muncul kembali. Deon yang posesif mulai menyingkirkan setiap pria yang mendekati Elara. Ketika Elara mengumumkan pertunangan dengan pria lain, Deon yang didera penyesalan nekat mengonfrontasinya.
Sampul Novel Istri Kontrak Kembali Bersinar
9.3
Pasca kecelakaan tragis, Amalia sadar cintanya pada Rayan telah sirna karena pria itu lebih memilih menyelamatkan Eliza. Selama delapan tahun, ia bertahan dalam pernikahan kontrak demi biaya medis ibunya walau kerap dihina. Begitu masa kontrak berakhir, Amalia langsung bercerai dan merintis karier baru sebagai peneliti bioteknologi di Norwegia. Saat Rayan menyusulnya ke tengah badai salju untuk meminta maaf, Amalia mengabaikan mantan suaminya yang tidak setia itu dengan dingin.
Sampul Novel Istri Kontraknya Ingin Bercerai
8.2
Akibat satu malam tak terduga, Emalee terikat pernikahan kontrak dengan Jonny. Namun, ia harus menerima kenyataan pahit bahwa suaminya masih mencintai wanita dari masa lalunya. Begitu perempuan itu kembali, Emalee memilih mundur dan meminta cerai untuk mengakhiri luka hatinya. Di luar dugaan, Jonny menolak keras tuntutan tersebut. Dengan sikap dingin, ia menegaskan bahwa Emalee adalah miliknya selamanya, sebab di keluarga mereka, perceraian dilarang dan hanya kematian yang bisa memisahkan.