APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Sandiwara Pernikahan

Sandiwara Pernikahan

Elvano kerap direndahkan oleh Tuan Dandi karena kondisi finansialnya yang serbapas-pasan saat meminang Nadine. Walau memiliki paras tampan, ketiadaan aset dan pekerjaan tetap membuatnya dianggap tidak pantas menjadi bagian dari keluarga Wijaya. Sang kakek pun menantangnya untuk mengakuisisi seluruh aset Hotel Chandra sebagai syarat pengakuan. Tanpa keraguan, Elvano menerima misi tersebut demi membuktikan kelayakannya serta memperjuangkan cinta dan harga dirinya.
Bab
Bagikan

Bab 1

Malam hari, di hotel bintang lima yang ada di Kota Jakarta, seorang pria tampan berdarah campuran Indonesia-Prancis baru saja masuk ke dalam kamar hotel di lantai tiga. Setelah masuk ke dalam kamar, pria itu membuka semua pakaiannya dan melemparnya ke lantai. Ia tidak sabar ingin segera berendam air hangat dan ingin membersihkan diri dari keringat yang sudah menempel di tubuhnya.

Setelah semua pakaiannya dilepas, handuk putih pun sudah terpasang sempurna di pinggang kecilnya, Elvano bergegas pergi menuju pintu kamar mandi.

Baru beberapa langkah Elvano berjalan, tiba-tiba terdengar suara ketukan yang cukup keras dari pintu kamar. Ketukan itu semakin lama semakin keras, juga terdengar tidak sabar membuat Elvano segera menghentikan langkah.

"Oh … shit!" umpatnya dengan kesal ketika suara ketukan itu kembali terdengar. "Siapa yang berani menggangguku?"

Elvano menggaruk kepalanya kasar sambil berbicara, "Apa di hotel ini tidak ada privasi untuk tamu?"

Tidak lama, ketukan pintu itu berubah menjadi sebuah gedoran yang semakin keras. Itu membuat Elvano tidak nyaman.

"Apa orang di negara ini tidak tahu sopan santun? Mengetuk pintu kamar orang semalam ini, untuk apa?"

Beberapa jam yang lalu, Elvano baru tiba di Indonesia, tidak mungkin ada orang yang mencarinya ke kamar hotel. Petugas hotel pun tidak mungkin, karena ia sama sekali tidak memanggil petugas hotel untuk datang kemari.

"Lalu siapa?"

Dengan sedikit kesal, Elvano berjalan menuju pintu keluar. Ketika pintu baru terbuka sedikit, tiba-tiba seorang wanita menerobos masuk ke dalam kamar tanpa menghiraukan dirinya yang berada di samping pintu.

Wanita itu terlihat panik, menatap kiri dan kanan seolah sedang mencari sesuatu.

Melihat ada tirai gorden yang tinggi dan lebar, wanita itu segera bersembunyi di balik tirai tersebut.

"Hey, apa yang kau lakukan? Apa kau sedang bermain petak umpet?" tanya Elvano sambil berjalan menghampiri wanita itu.

Ketika tirai dibuka, Elvano melihat seorang wanita cantik mengenakan mini dress berwarna hitam sedang bersembunyi di sana dengan tubuh yang membungkuk ke arah kaca. Wanita itu terlihat panik juga terkejut ketika melihat Elvano.

"Sedang apa kau di sini? Apa kau seorang pencuri?" tanya Elvano sambil menatap wanita itu dari ujung kaki hingga ujung kepala.

Walau wanita ini terlihat sangat cantik dan menawan, namun dia tidak tahu sopan santun. Masuk ke dalam kamar orang sembarangan. Itu membuat Elvano merasa muak.

Bulu mata wanita itu terlihat bergetar menatap Elvano yang tidak memakai pakaian. Hanya ada handuk putih melingkar di pinggang kecilnya yang menutupi bagian pinggul hingga ke lutut. Otot-otot di dada dan perut sangat terpampang jelas di hadapan wanita itu.

"Eh, kau ... menyingkirlah dari hadapanku! Biarkan aku bersembunyi di sini, sebentar!" sergah wanita itu sambil memalingkan muka ke samping kanan, tidak lagi menatap tubuh polos Elvano.

Elvano melihat kepanikan dari sorot mata wanita itu. Bukannya menyingkir, Elvano malah semakin mendekat. Tangannya terulur ke samping hingga menyentuh kaca jendela kamar. Menunduk, menatap wanita itu dengan senyum kecil di bibirnya.

"Hah ... menyingkir? Apa kau tidak salah bicara? Yang seharusnya menying ... emhhh—"

Ucapan Elvano seketika terhenti karena wanita itu segera merangkul lehernya dan membungkam mulut Elvano dengan satu tangan. Dia melarang Elvano untuk berbicara, juga menahannya untuk tidak bergerak.

"Ssttt!"

Wanita itu menajamkan telinga.

Terdengar suara derap langkah kaki dan suara ribut dari depan pintu kamar.

"Aish, sial! Tadi aku melihat Nadine berlari ke arah sini."

"Coba kalian cari lagi. Aku yakin, dia masih belum pergi jauh!"

"Apa mungkin Nadine masuk ke dalam kamar ini?"

Percakapan antara orang-orang itu sangat jelas terdengar. Tidak samar, tapi sangat jelas terdengar, seolah tidak ada tembok penghalang di antara mereka.

"Apa orang-orang itu sedang mencarimu?" tanya Elvano setelah dirinya menarik tangan wanita itu.

Bukannya menjawab pertanyaan Elvano, wanita itu malah balik bertanya dengan suara yang sangat pelan, "Apa kau tidak menutup pintu kamarmu?"

"Hem???"

Elvano hanya mengangkat sudut bibirnya tidak peduli. "Untuk apa aku menutup pintu kamarku ketika ada orang asing menerobos masuk?"

Belum sempat wanita itu berbicara lagi, terdengar suara ketukan pintu diiringi suara seseorang dari pintu kamar.

"Permisi! Maaf mengganggu! Apa ada orang di sini?"

"Diam!" cegah wanita itu—melarang Elvano untuk beranjak pergi.

"Maaf, kami lancang. Apa di sini ada orang?" tanya orang yang ada di depan pintu lagi sambil menatap sekeliling kamar yang nampak sepi.

Satu orang mendorong pintu, dan dua orang yang lain masuk ke dalam kamar.

Orang itu masih bertanya sambil berjalan masuk, "Permisi! Apa ada seseorang di sini?"

Ingin rasanya Elvano pergi menghampiri orang-orang yang sudah masuk ke dalam kamarnya tanpa permisi, juga ingin mengusir mereka pergi. Namun, wanita ini masih menahan Elvano dengan merangkul lehernya, membuat Elvano sulit untuk bergerak.

"Lepaskan!" ucap Elvano pada wanita itu dengan mengeratkan gigi dan menahan kekesalannya. Namun wanita itu sama sekali tidak mendengar.

Ketika suara mereka terdengar semakin dekat, wanita itu semakin panik dan juga salah tingkah. Dia menarik leher Elvano dan mendekatkan wajahnya hingga wajah mereka menempel satu sama lain.

"Itu di sana!" Terdengar suara teriakan diiringi suara tirai yang ditarik sangat kuat.

Seketika tirai terbuka. Terlihat sebuah adegan antara pria dan wanita yang amat sangat tidak enak untuk dilihat. Ketiga orang itu cukup terkejut saat melihatnya.

"Na-Nadine!" panggil salah satu pria itu.

Nadine segera melepaskan kedua tangannya dari leher Elvano, kakinya melangkah ke samping untuk menjaga jarak dengan sang pemilik kamar tersebut ketika pria-pria itu berhasil menemukannya.

"Faran!" balas Nadine sambil melihat ke arah pria yang tadi memanggilnya.

"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Faran yang masih terkejut dengan adegan mereka barusan.

"Apa dia menyakitimu?" Faran menunjuk Elvano dengan tatapan permusuhan. Ia semakin tidak suka ketika melihat pria di depannya ini tidak berpakaian, hanya memakai handuk di pinggang.

Pemandangan ini sungguh tidak nyaman.

"Ti-tidak!" jawab Nadine dengan segera.

Pasalnya, tadi, Nadine hanya ingin bersembunyi di balik tubuh besar Elvano. Ingin melakukan adegan mesra seperti di film-film agar orang-orang itu tidak mengenalinya dan mereka segera pergi.

Bukannya pergi, Faran malah menyadari itu dan memanggil nama Nadine.

'Sungguh sial!'

"Apa dramanya sudah selesai?" tanya Elvano yang dituduh menyakiti wanita itu.

"Sekarang, kalian semua boleh pergi dari kamar ini!" Elvano tidak mau kalah. Ia mengangkat tangan sambil menunjuk ke arah pintu keluar, mengusir mereka semua untuk pergi, termasuk Nadine.

"Cepat, pergilah!" sergah Elvano dengan keras.

Ia sudah muak dengan orang-orang yang tidak tahu sopan santun seperti mereka.

Mereka semua masuk ke dalam kamarnya dan membuat keributan di sini. Dan wanita itu … berani mempermalukan harga diri Elvano sebagai seorang pria dengan memeluknya dan membuat orang lain salah paham.

'Menjijikan!'

Jika tampang wanita itu tidak menyedihkan seperti sekarang ini, sudah dihajarnya hingga jera.

Faran tidak mendengar ucapan Elvano. Ia malah berkata pada rekannya, "Panggil polisi kemari. Katakan, ada pria asing yang menyembunyikan seorang wanita di kamar hotel. Cepat!"

"Baik, Tuan!"

"What the fuck?" umpat Elvano dengan kesal. "Siapa yang menyembunyikan wanita? Dia sendiri yang datang ke kamarku tanpa izin. Bahkan, dia sendiri yang berbuat tidak senonoh terhadapku! Sekarang, kau malah menuduhku menyembunyikan wanita di kamar? Ini sungguh gila!"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Menikah, Tapi Bukan Untuk Dicintai
9.6
Demi melunasi utang, Lana bersedia menjalankan misi dari Valerie untuk memikat ayahnya sendiri, Cedric Vellani. Rencana ini dibuat demi menggagalkan pernikahan pria kaya raya tersebut dengan wanita oportunis. Namun, menaklukkan Cedric yang berhati dingin tidaklah mudah. Lana justru terbuai oleh pesona sang target hingga kesepakatan rahasia mereka berubah menjadi cinta terlarang. Kini, di tengah rasa dikhianati yang dirasakan Valerie, Lana terjebak dilema antara uang atau cinta palsu.
Sampul Novel Dendam Membara CEO Mesum
8.5
Kehidupan mapan Jent sebagai CEO terusik oleh konflik pernikahan karena belum memiliki anak. Didorong rasa curiga, ia membuntuti istrinya diam-diam dan memergokinya tengah berselingkuh dengan pria lain. Dikhianati dengan kejam, Jent enggan memilih jalan cerai biasa. Ia menyusun rencana pembalasan yang matang dan sadis untuk menghukum sang istri beserta kekasih gelapnya. Pengalaman pahit ini mengubah karakter Jent menjadi sosok yang dingin demi menuntut keadilan.
Sampul Novel Dibuang Suami Diratukan Boss
8.6
Setelah delapan tahun membina rumah tangga, Alya dikhianati dan dibuang oleh suaminya dengan tuduhan mandul. Ia bahkan dijual kepada seorang penguasa kota yang sangat berpengaruh. Tak disangka, malam itu justru membuatnya hamil. Kini, Alya harus memilih antara bayang-bayang masa lalunya yang kelam atau melangkah maju bersama pria asing yang merupakan ayah dari anak di kandungannya. Sanggupkah Alya bangkit dan memperjuangkan keadilan atas segala rasa sakit yang telah ia lalui?
Sampul Novel Gadis Penghibur Tuan CEO
8.5
Nasib malang menimpa Ajeng Kirei Aswari yang dijual ayahnya ke dunia malam sejak usia delapan belas tahun. Satu dekade berlalu, hidupnya bergantung pada sosok CEO sukses, Reynold Bill Timur. Hubungan mereka terhalang restu keluarga Bill yang menuntut pernikahan setara. Meski terpaksa menikahi wanita pilihan keluarga, Bill enggan melepas Ajeng dan menyeretnya ke pusaran skandal. Kini, Ajeng terjebak dalam dilema moral antara bertahan atau menyakiti istri sah Bill.
Sampul Novel Istri Yang Dilupakan CEO
8.1
Noel menganggap pernikahannya dengan Bianca tak lebih dari sekadar alat pelancar bisnis perusahaan. Sejak awal, ia mengabaikan sang istri dan bersiap menceraikannya begitu ada kesempatan. Namun, saat momen perpisahan itu akhirnya tiba, perubahan besar terjadi pada sikap Noel. Ia secara mengejutkan menolak melepaskan Bianca. Di tengah dinginnya pernikahan mereka, Noel justru berkeras mempertahankan hubungan yang dahulu dianggapnya tidak berharga.
Sampul Novel Memilih Untuk Mencintai Diriku
9.5
Sepuluh tahun berpacaran, Kennedy akhirnya setuju menikah. Namun, ia menolak berciuman saat foto prewedding dengan alasan misofobia dan pergi begitu saja. Setibanya di rumah baru, sang wanita justru mendapati Kennedy bermesraan dengan cinta sejatinya, Winona, bahkan berjanji membatalkan pernikahan. Sadar pengabdiannya sia-sia, ia memilih kabur lebih dulu. Kini, putra bungsu Keluarga Harath itu justru keliling dunia demi memohon agar mantan tunangannya bersedia kembali.