APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Sahabat Bad Boy VS Dosen Moody

Sahabat Bad Boy VS Dosen Moody

Kehidupan Susan, mahasiswi 20 tahun di pinggiran Jakarta, mendadak berubah setelah menjadi korban jebakan keji yang menyisakan trauma mendalam. Di tengah luka batin tersebut, ia harus bangkit demi masa depannya. Namun, perjalanan menemukan cinta sejati membawanya pada dilema rumit. Susan kini dihadapkan pada tiga pilihan sulit untuk sosok pendamping hidupnya: sang sahabat setia, mantan kekasih masa lalu, atau dosennya yang dikenal sangat emosional.
Bab
Bagikan

Bab 2

Keesokan paginya. Suatu kejutan pertanda buruk ditemui Susan, matanya tiba-tiba membulat dan fokus pada benda asing di beranda kamarnya.

Terdapat sebuah vas keramik berwarna putih yang hancur berserakan. Disertai serpihan tanah dan beberapa tangkai bunga mawar yang kondisinya patah, serta kelopaknya yang tercecer sebagian hancur dengan mengenaskan. 

Susan ternganga siapa yang melakukan ini semua, dia terduduk memandangi kondisi bunga hancur itu di telapak tangannya. Tidak tahu dari mana asalnya. Dia pun segera merapikan serpihan-serpihan itu, lalu masuk menaruh bunga dan kepingan vas itu di atas nakas. Dirinya tidak berani mengira-ngira meski ada rasa penasaran meliputi pikirannya.

Seakan baru saja semalam dia merasakan ciuman pertamanya dengan sang pria idaman, tapi tidak menyangka pagi ini pikirannya diganggu oleh kejadian yang tidak mengenakkan.

 Tidak ingin terlarut suasana hati yang kian memburuk, Susan bergegas berangkat ke kampus tanpa memikirkan kejadian tadi. Karena sudah beberapa hari kemarin dia membolos dengan berbagai alasan. 

 Susan memasuki ruang kelas memberi kesan tidak ada masalah apapun, dia berjalan mendekati sekumpulan teman-teman dekatnya yang tengah mengobrol sebelum jam perkuliahan. 

"Woy, baru dateng. Inget hari ini Kuis. Belajar juga enggak paling," ujar salah satu temannya. 

"Kuis? " Susan mengangkat dagunya sambil mengingat-ingat. "Filsafat?! Mati gue!" 

Susan membuang napas kasar, tanpa basa-basi membuka tas dan mengambil buku mata kuliahnya. Dia cepat menarik kursi lalu duduk membuka-buka lembaran kertas sambil membaca mode cepat. Otaknya belum beristirahat dipenuhi pikiran, tambahan kewajiban makin menguras otak lagi.

"Nih, San. Kuesioner, disuruh isi!" Salah seorang teman menyodorkan dua helai kertas berupa form yang wajib diisi. 

"Kuesioner apa?" tanya Susan melirik sekilas.

"Biasa. Kayanya konseling kepribadian gitu, sih. Bantu dosen penelitian katanya," jelas salah satu teman lainnya.

Susan dengan cepat melihat-lihat tiga lembaran kertas berisi lampiran mengisi biodata dan sederetan pertanyaan, tertera dua nama yang tertanda di lembar bagian akhir. Salah satunya, sebuah nama dari pria yang tampaknya bukan orang Indonesia.

Susan mengangkat bahunya setengah peduli, sekadar mengiyakan dan mengikuti prosedur. Mungkin bisa menambah nilai setelah bolos kemarin atau berobat jalan, pikirnya. 

Sore itu jam perkuliahan usai. Susan lagi-lagi memperhatikan sebuah DJ Console di foto profil di nomor kontak sang pacar, sesaat menerima pesan masuk darinya. Dia tidak ingin mendebatkan apa-apa, bergegas menemui sang pria yang telah menunggu di parkiran kampus.

Saat terburu-buru meninggalkan kelas sambil berlari kecil melewati koridor kampus yang tengah sepi. Tiba-tiba Susan menabrak pria setinggi 187cm yang sedang repot membawa tumpukan kertas keluar dari ruang sekretariat jurusan, hingga kertas itu jatuh dan bertebaran di lantai.

"Uh! Pak, Pak, maaf, Pak. Maaf!" ucap Susan bernada panik. Lalu cepat-cepat berjongkok memunguti kertas yang jatuh bertebaran di lantai koridor.

Pria berdarah asing itu membulatkan mata. "Kalo jalan hati-hati kamu. Matanya ke mana?!" ucap pria itu bernada ketus.

Susan mengumpat dalam hati. Baginya, tubuh sebesar itu lebih cocok di Afrika bersama kawanan gajah. "Oh iya, maaf, Pak," 

Saat meraih satu persatu kertas itu, terlihat sekilas bahwa itu adalah kuesioner yang tadi diisinya di dalam kelas. Namun, Susan mengabaikan pikirannya lebih lanjut, dia segera menyodorkan kembali tumpukan kertas itu.

Dalam hati pria itu, benci sekali jika masih dipanggil bapak padahal dia saja masih lajang. "Ya, ya, sana!" Brian bernada ketus.

"Iya, Kak. Eh, Pak. Maaf sekali lagi." Susan berulang-ulang menganggukkan kepalanya meminta ijin pergi.

"Maaf! Tiga kali bilang maaf, maaf terus," gerutu Brian sambil masih berdiri memperhatikan mahasiswi bertubuh kecil itu berjalan menjauh, terburu-buru untuk menemui kekasihnya.

Dia sadar sepenuhnya bukan kesalahan si mahasiswi ceroboh itu. Akan tetapi, gengsinya cukup tinggi mengakui kesalahan karena keluar ruangan secara mendadak. Brian pun berjalan kembali menuju ruang dosen. 

Baru saja melangkah masuk ke ruangan. Seorang dosen wanita usia 40-an menghampiri dengan tergesa-gesa memberi kabar, bahwa data mahasiswa yang diikut sertakan dalam penelitian tidak mencukupi. Ini cukup membuat Brian frustasi untuk penelitian akhirnya.

"Oke. Akan saya pikirkan. Sampel ini akan diacak berdasarkan tingkat usia pada satu angkatan. Saya kesulitan sample-nya terlalu sedikit, harus kualitatif. Satu kali sesi mereka tidak hadir, maka hasilnya tidak akan valid, itu akan menghambat penelitian dan rentan gagal. Ibu paham ini mendesak?" Brian memijat pelan dahinya dengan raut wajah kecewa.

"Saya sudah usahakan, mohon kebijaksanaannya." Bu Ike mengakhiri kalimatnya dengan pasrah.

"Ok, saya hargai bantuan Ibu. Jangan khawatir, saya tidak akan merepotkan setelah ini. Terima kasih." Brian terpaksa memasang senyum, untuk menenangkan Bu Ike yang mulai terlihat pucat.

Brian melempar pelan tumpukan kertas ke atas meja kerjanya, selepas Bu Ike keluar ruangan. Pria berdarah inggris itu berpikir keras, memangku kepala dengan kedua tangan di meja.

“Ck! Sample hanya sedikit! Mereka harus ada perjanjian hitam di atas putih, agar tidak pernah lolos satu sesi pun dalam konseling nanti. Ya, tidak satu sesi pun.” Terpikirkan rencana itu, Brian tersenyum menyeringai.

***

Hari yang dijadwalkan tiba. Sejumlah mahasiswa yang terpilih menjadi subjek penelitian dikumpulkan di ruangan rapat antar mahasiswa jurusan. Sejajaran kursi diatur sedemikian rupa membentuk satu lingkaran. Para mahasiswa yang terpilih menjadi subjek mengambil posisi masing-masing pada kursi tersebut.

Bu Ike terlihat membagikan lembar berisikan kode etik sesi konseling. Tanda tangan persetujuan peserta disematkan masing-masing di sudut bawah lembar paling akhir.

Para mahasiswa saling menyambut sapa dan memperkenalkan diri. Sampai kemudian Bu Ike memperkenalkan Brian–sang konselor, yang sedang melakukan penelitian.

"Baik. Sebelum sesi dimulai, saya perkenalkan seseorang yang akan memberi pengarahan hingga sesi empat minggu ini selesai. Kita sambut Bapak ..., Pak? Pak Brian?"

"Ya??" Brian melongok dari balik layar laptopnya, kemudian bangkit dari duduk merapikan lengan kemejanya. 

Susan sontak terkejut mengenali wajah si pria. "Ya, Tuhan! si Gajah Afrika!!” batin Susan.

Brian mengumpat dalam hati, "Pak, Pak, lagi-lagi Bapak."  Dia berjalan maju ke tengah lingkaran kursi yang diduduki para mahasiswa. Brian dalam hati.

Sekilas Brian melirik malas ke arah Bu Ike, kemudian kembali tersenyum memandangi beberapa mahasiswi yang salah tingkah menatap konselor tampan bertubuh tinggi bermata abu-abu itu. 

Susan sama sekali tidak tertarik pesona sang dosen bule, dia bahkan merosot di kursinya untuk menutupi diri dengan hoodie. "Kenapa harus si Gajah. Aduh," batin Susan.

Aksi Susan terhenti di saat Bu Ike menegur sikap duduknya. "Mbak? Mbak jaket biru, boleh jaketnya dibuka saja, Mbak?" 

"Eh, i-iya. Baik, Bu!" Susan membuka penutup kepalanya kemudian melepas jaketnya. Setelah melihat ke Bu Ike, gadis itu lalu menggeser pandangannya ke arah Brian yang masih menatapnya. 

"Si tukang minta maaf?!Haha. Kena kamu!" Brian bergumam dalam hati.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Arimbi
8.7
Akibat insiden di perkemahan desa, Hanna terpaksa menikah dengan Sultan. Namun setelah pindah ke kota, sikap Sultan yang semula lembut berubah drastis. Hanna justru dikurung dalam rumah dan dikekang aturan ketat tanpa diakui sebagai istri sah. Sultan rupanya sangat terobsesi menjadikan Hanna sebagai pengganti sosok Arimbi, cinta pertamanya yang mengalami gangguan jiwa. Di bawah bayang-bayang masa lalu sang suami, Hanna kini harus menghadapi tekanan mental berat yang menghancurkan masa depannya.
Sampul Novel Dicerai suami karena mandul
9.1
Safina berniat memberikan kejutan istimewa untuk Reza pada hari pernikahan mereka. Namun, momen spesial itu berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki sang suami berselingkuh di rumah sendiri. Alih-alih menyesal, Reza justru memutuskan untuk menceraikan Safina. Dengan kejam, ia menjadikan kondisi Safina yang mandul sebagai alasan perpisahan. Kini, Safina harus berjuang menghadapi kenyataan pahit akibat pengkhianatan suaminya.
Sampul Novel Jodoh Pilihan Oma
8.5
Kehidupan Dion berbalik arah setelah menolong Kayla dari ancaman bahaya bersama Nenek Melati. Kagum akan ketegaran Kayla, sang nenek bertekad menjodohkan mereka. Rencana ini ditentang keras oleh Bu Ratna yang lebih memilih Amara, sosok ambisius pengejar status, untuk Dion. Demi menyingkirkan Kayla, Amara merancang intrik licik untuk membongkar masa lalu kelam sang rival. Kini, Dion harus berjuang menghadapi tekanan keluarga dan konspirasi jahat demi melindungi cintanya.
Sampul Novel Pernikahan yang Tak Pernah Tuntas
8.1
Menjelang hari bahagia mereka, musibah menimpa Nando Soman yang menjadi korban pemukulan hingga kehilangan ingatannya. Rani yang panik segera mendedikasikan seluruh waktunya untuk membantu sang tunangan pulih dengan mengunjungi tempat-tempat bersejarah mereka. Namun, perjuangan tulus Rani hancur seketika saat ia tidak sengaja mendengar obrolan rahasia Nando dengan temannya di rumah sakit. Berbekal hasil pemeriksaan medis yang menyatakan kondisi Nando sebenarnya normal, Rani akhirnya menyadari bahwa amnesia tersebut hanyalah sandiwara licik untuk menunda pernikahan demi kebebasan Nando.
Sampul Novel PUSTAKA CERITA DEWASA 21+
7.9
Buku ini merangkum deretan kisah cinta penuh gairah dari berbagai karakter unik, khusus untuk pembaca dewasa. Setiap bab menyajikan fantasi romantis yang berani dan menggoda, dirancang khusus menjadi teman membaca yang intens di malam hari. Rasakan dinamika hubungan yang mendalam lewat narasi yang memicu imajinasi di setiap lembarnya. Segera temukan dan nikmati kepuasan cerita yang menghibur ini.
Sampul Novel Sang Luna yang Ditolak Alpha: Mengandung Anak Musuhnya
9.6
Demi Lyra, Alpha Kaelan tega mengkhianatiku. Aku dipaksa mengaku ternoda dan merawat anak haramnya. Tragisnya, saat aku hamil, Kaelan menyuruhku menggugurkan kandungan demi perasaan Lyra. Penderitaanku kian lengkap ketika ibunya menyekapku hingga aku kehilangan bayi kami. Di tengah kehancuran ini, rasa cintaku sepenuhnya mati. Melalui lolongan suci, kupanggil keluarga kerajaan dari Klan Taring Putih untuk menjemput putri mereka kembali.