
Saat Lilin Menyala, Cinta Padam
Bab 3
Pada sore hari, setelah aku sepenuhnya sadar, aku pergi mencari pengacara untuk membuat surat cerai. Untungnya, kami masih belum memiliki anak. Selain harta, kami bisa memutuskan hubungan dengan mudah.
Setelah aku membawa surat cerai itu pulang ke rumah, Felix meneleponku dan mengatakan dia perlu pergi dinas. Namun, pada malam hari, aku menerima pesan dari nomor tak dikenal. Orang itu mengirimkan sangat banyak foto berdua Sallie dengan Felix. Tanpa perlu dipikir, aku tahu itu Sallie.
Foto-foto itu menunjukkan Felix dan Sallie pergi ke pemandian air panas dan main ski bersama. Namun, aku tidak merasakan gejolak apa pun.
Semua hal ini pernah aku dan Felix lakukan bukan hanya sekali selama 10 tahun hubungan kami. Setiap tahun, kami akan sengaja mencari waktu untuk pergi liburan bersama, baik itu ke tempat dengan pemandangan indah, tempat yang romantis, atau pergi melihat aurora.
Felix berkata bahwa dia ingin aku selalu berada di sisinya setiap dia pergi melihat dunia. Sekarang, setelah Sallie muncul, dia juga akan membawa orang lain untuk pergi berlibur.
Sebenarnya, jika dipikir-pikir, aku dan Felix sudah bersama terlalu lama. Dari kami masih remaja sampai sekarang, 10 tahun telah berlalu. Bukankah wajar saja dia merasa bosan?
Aku berusaha menghibur diri, tetapi hatiku tetap terasa nyeri. Mana mungkin aku tidak sedih? Felix adalah orang yang kucintai dari awal sampai sekarang.
Felix pulang pada hari ketiga. Dia membawakan hadiah untukku. Sama seperti sebelumnya, itu adalah kalung berlian yang harganya sangatlah mahal.
Setiap kali Felix pergi dinas atau pergi mendiskusikan kerja sama bisnis dan tidak pulang ke rumah, dia akan selalu menyiapkan hadiah untukku. Itu adalah caranya menebus kesalahan.
Dia mengatakan bahwa dirinya tidak menemaniku dan tidak menjalankan kewajiban sebagai seorang suami. Jadi, dia harus menghiburku dengan baik.
Dulu, aku akan selalu menerima hadiah itu dengan hati berbunga-bunga. Sekarang, aku hanya memaksakan seulas senyum dan menjawab dengan acuh tak acuh, “Aku suka.”
Felix tidak menyadari perubahan suasana hatiku. Mungkin saja dia terlalu kelelahan karena menemani Sallie selama beberapa hari terakhir dan tidak memiliki energi berlebihan untuk peduli padaku.
“Baguslah kalau begitu. Aku mandi dulu.”
Felix pergi ke kamar mandi. Saat dia keluar, aku sudah berbaring di atas tempat tidur dan tidur dengan membelakanginya. Kami tidak mengatakan apa-apa terhadap satu sama lain. Dia tidur dengan memelukku. Kami berbagi ranjang, tetapi memiliki pemikiran yang berbeda.
Tidak lama kemudian, hari ulang tahunku tiba. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Felix menyiapkan pesta ulang tahun untukku dengan teliti. Semua kejutan dan kuenya sangat sempurna. Teman-teman kami juga tetap menyelamati kami sambil tersenyum.
Namun, ketika sedang makan kue, aku malah mendengar temannya bertanya pada Felix dengan bahasa asing, “Kamu sudah putus hubungan sama selingkuhanmu itu? Sebelumnya, kamu pergi cari dia setiap hari. Entah tubuhmu tahan atau nggak. Apa istrimu nggak keberatan kamu begini?”
Suamiku mengembuskan asap rokok, lalu menjawab dengan acuh tak acuh, “Aku sudah nggak sentuh dia selama beberapa bulan. Sallie punya teknik yang bagus. Aku masih belum bosan. Sayangnya, dia hamil. Istriku nggak suka anak. Jadi, aku akan kasih Sallie sejumlah uang dan suruh dia pergi lahirkan anaknya di luar negeri beberapa saat lagi.”
Aku mengepalkan tanganku dan diam-diam meneteskan air mata. Suamiku pun bertanya aku kenapa dengan gugup. Namun, aku hanya menggeleng.
“Kue buatanmu enak banget. Aku sangat terharu.”
Pada saat ini, aku merasa sangat kesal karena aku menguasai bahasa asing yang mereka gunakan.
Anda Mungkin Juga Suka





