
Saat Lilin Menyala, Cinta Padam
Bab 4
Melihat tampangku yang seperti ini, Felix tersenyum, lalu memelukku dan hendak mencium pipiku. Namun, aku malah menghindar. Meskipun sudah membulatkan tekad untuk berpisah dengannya, aku tidak ingin bertengkar dengannya di hadapan semua orang.
Kami sudah sama-sama dewasa. Sudah seharusnya kami menjaga harga diri masing-masing. Oleh karena itu, aku pun mencari sebuah alasan.
“Ada pasien yang mencariku di rumah sakit. Aku harus pergi ke sana.”
Felix mengerutkan keningnya dan menunjukkan ekspresi yang agak sedih.
“Tapi, ini hari ulang tahunmu. Memangnya kamu nggak bisa istirahat sehari?”
Aku mengelus keningnya seperti dulu, lalu menghibur dengan suara pelan, “Nggak apa-apa. Lagian, aku baru teringat hadiah yang kusiapkan untukmu ketinggalan dalam laci kantorku di rumah sakit.”
Kami meresmikan hubungan kami di hari ulang tahunku. Oleh karena itu, aku dan Felix sepakat untuk saling bertukar hadiah di hari ulang tahunku. Setiap tahun, aku akan secara khusus membuatkan setelan jas untuknya. Tahun ini juga tidak terkecuali.
Sebelum mengetahui Felix berselingkuh, aku sudah menyelesaikan desainnya. Dalam waktu tiga bulan ini, aku juga telah selesai menjahit setelan itu.
Melihat aku bersikeras mau pergi, Felix hanya menghela napas, lalu menunjukkan ekspresi penuh kasih sayang. “Aku nggak bisa menang dari kamu. Kalau begitu, tiup dulu lilinnya sebelum pergi. Aku sengaja buatkan kue es krim buatmu kali ini. Kalau ditunggu lagi, kuenya akan meleleh.”
Aku pun mengangguk.
Felix menggenggam tanganku dan membawaku ke depan kue sambil tersenyum. Kemudian, dia menyalakan lilinnya dan berkata dengan suara keras, “Aku mau bersama Rere selamanya! Aku mau temani dia seumur hidupku!”
Setelah mendengar ucapannya, semua orang di sekitar pun bersorak.
“Felix, cukup! Jangan pamer kemesraan di hadapan begitu banyak orang!”
“Kak Felix, ini sudah tahun ke-10 kamu bersama Kak Rhea, ‘kan? Kenapa kalian masih begitu mesra? Aku benar-benar iri!”
Mendengar sorakan-sorakan itu, aku pun termenung. Yang benar adalah 11 tahun. Tahun ini, aku dan Felix sudah bersama 11 tahun. Namun, perasaannya sudah berubah.
Aku mengesampingkan pikiranku, lalu menatap Felix dengan ekspresi datar dan menarik tanganku dari genggamannya.
“Kalau begitu, aku pergi ambil barangnya dulu. Kalau sudah kemalaman, aku nggak akan balik kemari lagi. Kamu temani saja teman-teman lain dan bersenang-senanglah.”
Aku pun berbalik dan pergi. Setelah menangani pasien, aku pergi mengambil jas untuk Felix dan kembali ke klub.
Ini adalah tahun ke-11 kami bersama dan juga akhir kebersamaan kami. Aku ingin akhir kami juga sempurna. Namun, baru saja aku naik, aku melihat Sallie berjalan keluar dari ruang privat.
Aku memegang kantong berisi jas itu dengan perasaan campur aduk. Apa Felix begitu tidak sabar? Hanya dalam waktu sesingkat ini, dia sudah memanggil Sallie untuk datang menemaninya.
Rasa sakit di hatiku begitu kuat hingga membuatku kesulitan bernapas. Aku bersandar pada dinding dengan berlinang air mata. Pada akhirnya, aku menelepon sahabatku.
“Jessy, aku mau bergabung dalam penelitian yang kamu bilang itu.”
Akhir-akhir ini, rumah sakit di mana aku bekerja memiliki proyek rahasia untuk pergi ke Sibura. Mereka membutuhkan dokter dengan kemampuan unggul untuk ikut serta dalam penelitian. Proyek ini berkaitan dengan tumor otak.
Dulu, ayahku meninggal karena tumor otak, sedangkan ibuku yang tidak dapat menerima hal ini terkena depresi sebelum akhirnya meninggal. Jadi, setelah aku belajar ilmu kedokteran, impianku adalah menaklukkan tumor otak.
Hanya saja, setelah bergabung dalam proyek rahasia ini, aku tidak dapat meninggalkan institut penelitian dengan semudah itu. Waktu yang dibutuhkan paling tidak beberapa tahun sampai belasan tahun. Berhubung harus berpisah begitu lama dengan Felix, aku pun merasa ragu.
Jessy adalah rekan kerjaku, juga salah satu orang yang merencanakan proyek ini. Setelah mengetahui alasan penolakanku, dia langsung memakiku bucin. Sekarang, aku tiba-tiba setuju. Dia pun merasa aneh.
“Kamu serius? Bukannya kamu nggak bisa tinggalkan suamimu?”
Aku menggigit bibir. “Pikiranku sudah terbuka. Bukankah orang seharusnya hidup untuk dirinya sendiri?”
Aku tidak ingin memberi tahu Jessy mengenai Felix yang mengkhianatiku. Dengan sifatnya yang meledak-ledak, mungkin saja dia akan melakukan sesuatu.
Setelah memutuskan sambungan telepon, aku pun bersandar pada dinding untuk menenangkan diri.
Anda Mungkin Juga Suka





