
Saat Lilin Menyala, Cinta Padam
Bab 2
Tidak lama kemudian, Felix keluar dari kamar mandi. Dia berjalan ke sisiku sambil menyeka rambutnya. “Kenapa kamu melamun?”
Setelah tersadar dari lamunan, aku menoleh dan menatap Felix. Wajahnya yang tampan terlihat makin menawan setelah menginjak usia 30 tahun.
Selama enam tahun pernikahan kami, semua orang sangat iri pada hubungan kami.
Ada yang berkata, “Rhea, kamu beruntung banget bisa ketemu sama pria seperti Felix.”
Aku juga selalu merasa diriku sangat beruntung karena bisa bertemu dengan pria yang begitu mencintaiku. Sekarang, aku baru menyadari bahwa meskipun Felix selalu menempatkanku di posisi pertama, meskipun dia rela memberikan saham perusahaannya padaku tanpa ragu, itu juga tidak menghentikannya untuk berselingkuh.
“Nggak apa-apa. Tadi, ada yang meneleponmu. Aku menjawabnya, tapi dia nggak bicara dan langsung tutup teleponnya. Nomornya nomor lokal. Mungkin temanmu. Coba lihat.”
Aku sengaja menyerahkan ponsel itu kepada Felix dan mengamati reaksinya dengan saksama.
“Mungkin cuma panggilan salah sambung, nggak usah dipedulikan.”
Felix menerima ponselnya dengan alami. Namun, aku dengan jeli menemukan bahwa setelah Felix melihat jelas nomor penelepon itu, dia secara refleks menggosok jarinya sejenak.
Setelah berpacaran bertahun-tahun, aku tahu jelas bagaimana gerak-gerik Felix ketika berbohong.
“Sayang, kamu istirahat saja dulu. Aku baru teringat masih ada urusan di perusahaan yang belum kuselesaikan.”
“Sekarang?”
“Iya, urusan itu lumayan mendesak.”
Berhubung Felix sudah berkata begitu, aku hanya bisa mengangguk dan menyuruhnya berhati-hati di jalan.
Felix mengambil jaketnya dari sofa, lalu pergi dengan terburu-buru. Melihat sosoknya yang menjauh, aku pun duduk di sofa dengan sedih.
Urusan apa yang perlu ditangani seorang bos sepertinya? Dia bahkan tidak berpikir dengan baik dulu sebelum melontarkan alasan itu.
Aku pun tersenyum getir. Apa Felix merasa aku begitu mencintainya sehingga aku tidak akan menyadari hal ini?
Aku menggigit bibir, lalu menelepon seorang teman yang adalah penyelidik swasta dan menyuruhnya mengawasi Felix.
Malam ini, sesuai dugaan, Felix tidak pulang semalaman. Keesokan paginya, aku bangun dengan kepala yang sakit, lalu menemukan beberapa pesan yang dikirim temanku.
[ Rhea, kamu lihat saja sendiri. Kalau ini bukan salah paham, aku sarankan sebaiknya kamu simpan bukti-bukti ini. ]
Hatiku seketika terasa sakit. Di bawah pesan itu, terdapat sebuah video. Napasku pun mulai memburu. Video itu bagaikan kunci untuk membuka kotak pandora yang akan mendatangkan malapetaka bagiku.
Aku mengklik video itu dengan tangan gemetar. Dalam video, mobil Felix diparkir di pinggir jalan. Setelahnya, ada seorang gadis yang naik ke kursi depan. Gadis itu adalah Sallie.
Setelahnya, orang yang mengambil video berjalan mendekati mobil. Namun, kedua orang itu sama sekali tidak menyadarinya karena sedang sibuk “bergulat”. Terdengar suara ciuman dan napas terengah-engah dari dalam video.
Aku hanya merasa hatiku bagaikan disayat pisau. Entah sudah berapa lama waktu berlalu, kedua orang di dalam mobil baru berpisah dengan enggan.
Sallie menggenggam tangan Felix dan wajahnya yang cantik menunjukkan ekspresi manja dan penuh percaya diri. “Pak Felix, kamu masih ingat untuk datang mencariku? Memangnya kamu belum ‘makan’ di rumah? Kenapa kamu begitu nggak sabar?”
Suara Felix terdengar serak, sedangkan sepasang matanya dipenuhi dengan hasrat. “Aku nggak sentuh Rhea.”
Dia mencekik leher gadis itu dan berkata dengan kening berkerut, “Istriku mana bisa dibandingkan denganmu yang begitu genit.”
Sallie sama sekali tidak merasa terhina, malah dengan bangga menyodorkan tubuhnya ke arah Felix.
“Oke. Kalau begitu, kamu itu milikku.”
“Jangan nangis kamu malam ini.”
Setelahnya, kedua orang itu buru-buru berjalan masuk ke area kompleks dan menghilang. Video itu juga terhenti di sana.
Aku tidak tahu apa yang kurasakan, mungkin sedih dan pilu. Aku membuka rak alkohol dan meneguk sebotol miras tanpa henti. Namun, aku malah tersedak sampai air mataku mengalir.
Aku duduk di atas lantai, tidak mengerti kenapa Felix melakukan hal ini terhadapku. Namun, aku tahu bahwa pernikahan ini tidak perlu dilanjutkan lagi.
Anda Mungkin Juga Suka





