APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Saat Ibu Mertua Berkunjung

Saat Ibu Mertua Berkunjung

Kunjungan ibu mertua yang semula diharapkan membawa kehangatan justru berubah menjadi badai. Niat terselubungnya mulai terungkap saat ia sengaja memicu pertikaian dan menyebarkan fitnah kejam untuk menyudutkanku. Enggan membiarkan pernikahan dan kebahagiaanku hancur, aku memilih tidak tinggal diam. Demi mempertahankan harga diri, aku memutuskan untuk melawan balik. Ikuti perjuangan penuh ketegangan menghadapi intrik mertua ini hanya di Bakisah.
Bab
Bagikan

Bab 1

Bab 1

Menjemput Ibu Mertua

"Lama banget sih kamu dateng

ngejemput, Ibu udah nunggu satu jam di sini!"

Itu adalah kata pertama yang keluar dari bibir ibu mertua, saat aku menjemputnya di terminal.

"Maafkan aku, Bu. Jalanan macet tadi," ujarku hendak menyalaminya. Namun bukannya berhasil, tanganku segera ditepis kasar olehnya.

"Nggak usah banyak alesan. Siang hari gini biasanya jalanan sedikit lengang, kamu pikir Ibu nggak tahu apa! Yang macet itu pagi dan sore hari, saat orang-orang pergi dan pulang kantor!!" ketusnya dengan pandangan tajam.

Sabar….

"Iya a, Bu. Ayo kita pulang," ajakku pada Ibu. Beliau berjalan lebih dahulu sambil menunjuk ke arah belakang. "Tuh, bawain barang-barang Ibu!"

Satu dus besar, satu tas besar ditambah tas lain yang entah apa isinya, segera kuangkat meskipun kesulitan membawanya, dikarenakan tubuhku yang mungil ini. Entah apa yang ibu bawa namun beliau tidak berinisiatif untuk meringankan pekerjaanku. Minimal bawa tas yang paling kecil, kek.

Ugh, aku malah ngarep.

"Di mana mobilnya? Katanya kalian udah beli mobil, ya?"

Sambil tersenyum paksa aku menyimpan barang-barang ibu di belakang mobil bak terbuka. Orang-orang biasa menyebutnya kol buntung.

"Iya Bu, ini mobilnya. Ayo kita pergi," ajakku. Namun bukannya senang, wanita itu malah melotot dan hampir saja melayangkan tangannya ke bahuku.

Aku meringis melihat kelakuan ibu mertua. Beliau memang tidak pernah bersikap baik padaku. Dua tahun pernikahan kami selalu diwarnai dengan omelan-omelan yang keluar dari bibir merahnya itu.

"Ya ampun Dina, beneran kamu beli mobil ini?" tanya ibu seperti tidak percaya. Aku mengangguk sambil membuka pintu agar ibu bisa masuk.

"Kok bisa-bisanya kamu beli mobil macam begini. Ibu kira semacam Avanza, Innova, Xpander, atau setidaknya paling butut itu ya, kijang. Tapi ini, malam-maluin aja kamu!!"

"Memangnya kenapa harus malu, Bu? Toh ini dibeli dengan lunas. Nggak nyicil. Lagi pula kami membeli mobil ini untuk usaha, bukan untuk pamer atau sebagainya." Mobil ini memang biasa dipakai untuk belanja sayur-sayuran kalau dini hari. Cukup meringan makan ongkos dan waktu. Namun sepertinya bukan itu yang ada dalam pikiran Ibu.

"Udah, nggak usah banyak bicara. Ayo pergi, Ibu nggak kuat terus-terusan berdiri di cuaca terik begini. Nanti kulit Ibu kebakar lagi."

Aku diam saja sambil menyalakan mobil dan melaju membelah jalanan.

Aku Sandrina, 22 tahun, menikah dengan Mas Akbar yang usianya sudah 28 tahun. Dulu kami tinggal di desa bersama dengan ibu, namun hanya kuat 3 bulan, sebelum akhirnya aku mengajak Mas Akbar untuk merantau ke kota besar.

Hidup di kontrakan dengan pekerjaan serabutan sudah kami lakoni. Kami bahkan tidak pernah berkeluh kesah atau putus asa. Kami tetap berjuang bersama agar dapur bisa ngebul. Maklum di kota yang notabene tak kenal siapa-siapa, membuat kami harus mandiri dan nggak gengsi.

Saat itulah kuputuskan untuk berdagang sayuran, mengingat Mas Akbar juga kerja menjadi kuli panggul di pasar, sambil memasukkan beberapa lamaran ke perusahaan besar. Kami hidup dari menjual sayuran yang ternyata untungnya berkali-kali lipat. Beruntung setelah kerja nggak jelas, Mas Akbar diterima kerja di perusahaan besar. Meskipun sampai sekarang masih menjadi karyawan biasa yang gajinya di bawah 5 juta, aku tetap bersyukur. Sekarang sudah 8 bulan dia bekerja.

Sayuran adalah alternatif pertama yang dicari oleh ibu-ibu yang pasti membutuhkannya untuk sehari-hari. Dari usaha itu juga akan mampu membeli rumah dan juga mobil ini meskipun bekas.

Dan setelah 2 tahun kami berumah tangga, Ibu baru kali ini datang ke rumahku.

Dulu pernah satu kali datang waktu kami masih tinggal di kontrakan, namun baru beberapa jam tinggal, ibu memutuskan untuk pergi lagi ke rumah anak pertamanya, yang masih satu kota denganku.

"Rumah jelek, sempit, mirip kandang ayam. Cuihhh!!" Aku masih ingat perkataan Ibu waktu itu. Ibu bahkan meludah dan kena ke kakiku.

Astaghfirullah … saat itu aku hanya bisa beristigfar menyaksikan hinaan ibu di depan mataku yang memanas karena sakit hati.

Wajar saja waktu itu ibu nggak betah. Ruangan tiga kali tujuh itu ditinggali olehku dan suami. Lalu datanglah ibu, makin nambah sesak.

"Nggak turun di kompleks besar gitu? Kok berhenti di sini? Bukannya kalian beli rumah jadi?!"

"Ayo turun, Bu. Di sini memang rumah kami." Kuabaikan perkataannya. Memangnya rumahku di kawasan pasar penduduk. Yang mungkin tak sebesar perkiraan ibu.

"Yang mana rumahmu? Ibu udah nggak kuat, panas. Ugh, kota besar, panasnya minta ampun."

Dia turun dari mobil sambil mencebik.

Ibu lalu berdiri di halaman rumah orang. Sementara aku mematikan mesin dan menurunkan barang-barang Ibu, lalu berjalan begitu saja meninggalkan wanita itu yang memasang wajah masam.

"Yang ini rumah kami, Bu. Selamat datang di rumah." Ya, meski nggak sebagus rumah orang atau rumahnya Mbak Mika, tapi di sinilah kami hidup tenang," ujarku sambil membuka pintu utama.

Wanita itu pun masuk dan memindai sekeliling.

"Rumah jelek, kecil, nggak sesuai ekspektasi. Akbar bilang kalian membeli rumah yang cukup nyaman untuk kalian tinggali berdua. Rupanya cuma rumah seperti ini. Rumah petak. Ini nggak seluas rumah ibu di desa!"

"Alhamdulillah aja, Bu." Kutinggalkan wanita itu dan pergi ke dapur. Makin lama perkataan ibu makin pedas saja seperti boncabe level 500. Sementara Ibu mondar-mandir ke setiap ruangan untuk memeriksa perabotan atau apalah, aku memilih menyiapkan air minum untuknya.

Dulu kami memang membeli rumah ini secara kontan. Itu pun dalam kondisi rumah yang sedikit memprihatinkan. Memang tidak bagus dan tidak juga besar. Hanya ada dua kamar, ruang tengah dan ruang tamu, dapur dan dua kamar mandi.

Tapi ada sisa tanah di halaman belakang dan samping. Yang bisa dibangun lagi jika ada rejekinya. Tapi setidaknya kami nyaman tinggal di rumah sendiri, daripada harus ngontrak rumah yang biaya perbulannya di atas tujuh ratus ribu. Toh di tempat ini juga usahaku berjalan. Di samping rumah aku membuat warung untuk menjual aneka sayuran. Biasanya aku berjualan pukul lima subuh sampai pukul sembilan pagi, sudah habis. Antusias warga dalam membutuhkan sayur-mayur yang segar, membuatku jarang membuka warung sampai siang atau sore.

"Minum dulu, Bu. Biar segar badannya. Nanti aku akan menyiapkan makan siang untuk ibu."

"Teh manis apa teh pahit?" tanya ibu dengan ketus.

"Teh agak manis, seperti biasa."

Dia mengambil gelas itu dan menyeruputnya sedikit. Beberapa detik kemudian, wanita itu menyemburkannya hingga membasahi meja dan bajunya.

"Ahhh, panas!!!"

"Bu, ibu nggak apa-apa?" tanyaku khawatir. Lekas kuambil tisu dan berniat untuk mengelap bajunya, namun lagi-lagi tanganku di tepisnya kasar.

"Itu hangat, Bu. Nggak panas," ujarku dengan perasaan bersalah. Aku takut lidah ibu terbekar. Namun aku merasa tidak berbuat kesalahan di sini. Mana mungkin aku berbuat zalim kepada mertuaku sendiri.

"Ya ampun, Dina!! Kamu mau membunuh ibu, ya? Udah mah teh manis panas, pahit lagi!! Dasar nggak becus melayani mertua!! Mantu nggak berguna!!" sentak Ibu sambil menghantamkan gelas itu di atas meja. Aku memejamkan mata sekilas. Sedangkan tangan mengusap keningku yang terasa berat.

"Bu, nggak usah ngomong gitu smnisa nggak, sih?!"

"Mau ngebela apalagi kamu, hah?! Dasar kurang aj*r kamu, ya!! Gobl*k!!" tunjuknya di depan hidungku.

"Biasanya Ibu suka teh manis panas, bukan?" Ya, aku tahu kebiasaan itu ketika kami masih tinggal satu rumah di desa. Ibu biasa menyeruputnya panas-panas.

Entahlah di sini dia hendak mencari gara-gara, atau bukan. Aku tidak tahu. Yang jelas baru beberapa menit saja bertamu, sudah berhasil membuatmu moodku rusak.

"Itu kan di desa. Beda! Di sana iklimnya itu dingin, makanya ibu harus minum air panas biar nggak masuk angin. Sedangkan di sini, cuaca panas panas begini masa' disuguhin air panas. Gimana sih? Apa nggak ada kulkas atau apa kek, buat dinginin minuman?!" Ibu melotot dengan suara tinggi. Aku yakin jika ada tetangga yang dengar, bisa berabe jadinya. Apalagi di lingkungan ini hampir semuanya tukang gosip.

"Itu hangat, Bu. Ya Allah …." Hatiku nyeri sekali dituduh yang macam-macam oleh ibu. Padahal kupikir beliau sudah berubah saat menghubungi ponsel Mas Akbar dan mengabarkan akan berkunjung.

Rupanya pikiranku yang salah. Sikap ibu sama saja.

"Diem kamu! Nggak usah ngeles diri terus!! Lagian ya, rumah kamu sama rumahnya si Diana itu beda. Di sana semuanya lengkap bahkan Ibu tidak usah ke repot-repot kepanasan dan berkeringat. Minum apa aja udah tersedia di kulkas. Mau dingin, biasa, nggak masalah. Lah kamu ….!"

Wanita itu mulai mengeluarkan kipas dari dalam tasnya, kemudian mengipasi wajahnya yang memerah, entah karena kepanasan atau karena memang karena marah padaku.

Sementara aku memilih kembali ke dapur sambil membawa gelas dengan perasaan dongkol.

Kuharap Ibu tidak lama-lama tinggal di sini jika hanya akan membuatku stress.

"Dina!! Dina!!" Suara Ibu mertua yang cempreng terdengar di telingaku. Aku yang tengah mengisi gelas ibu dengan air hangat segera berlari ke tengah rumah.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Belenggu Cinta Sang Billionaire
7.9
Krystal dihadapkan pada pilihan sulit demi menyelamatkan adiknya yang sedang sakit. Ia terpaksa berutang budi pada miliarder bernama Kaivan Bastian Mahendra demi biaya pengobatan. Namun, bantuan finansial itu menuntut imbalan yang sangat berat. Krystal harus rela dinikahi sebagai istri kedua Kaivan. Kini, ia terperangkap dalam mahligai pernikahan rumit yang penuh tekanan. Sanggupkah Krystal bertahan di tengah belenggu takdir dan cinta yang sarat pengorbanan ini?
Sampul Novel Bukan Salesman Biasa
9.0
Nasib Ardhan Aji Pradiptio berbalik arah setelah menyelamatkan seorang kakek misterius yang memberinya benda ajaib. Dari pria malang yang kariernya hancur, sering dihina atasan, dan gagal menikah, Ardhan kini bisa melihat kadar kebaikan serta kejahatan orang lain lewat matanya. Namun, kemunculan sosok pria bermata ganjil seketika memicu kebimbangan besar. Sanggupkah Ardhan membongkar jati diri sebenarnya dari sosok misterius tersebut?
Sampul Novel GAIRAH PAPA MERTUAKU
8.5
Dua tahun membina rumah tangga, Tessa Willson didera kesepian akibat Leonil, sang suami, yang terlalu sibuk bekerja. Rasa frustrasi karena kebutuhan batinnya terabaikan kian memuncak. Di situasi rapuh ini, Arnold Caldwell, ayah tiri suaminya, datang untuk urusan bisnis. Daya tarik Tessa menyulut perselingkuhan terlarang yang membakar gairahnya. Saat Tessa ingin menyudahi hubungan gelap tersebut, ia justru terjebak dalam muslihat licik Arnold. Mampukah ia menyelamatkan pernikahannya?
Sampul Novel Jangan Sentuh Hatiku, Jika Tak Bisa Memiliki
9.6
Nayara, staf administrasi rupawan yang bersahaja di perusahaan besar Jakarta, terlibat hubungan rumit dengan Leonardo Arvandre. Pria itu merupakan miliarder muda blasteran Prancis-Indonesia sekaligus ahli waris tunggal Arvandre Global Corporation. Sejak pertemuan pertama mereka tiga tahun silam, benih asmara mulai tumbuh. Namun kini, keduanya justru terjebak di antara gejolak cinta, harga diri, serta sebuah rahasia besar yang belum terungkap.
Sampul Novel Menjadi Ibu Bukanlah Hal Mudah
9.2
Kehadiran sistem misterius 'Kamu Hebat, Kamu Maju' menantang siapa saja untuk membuktikan diri lebih baik dari orang lain demi imbalan besar. Di bawah aturan ini, seorang ibu dikhianati oleh ibu kandung, suami, dan putranya sendiri. Mereka menyeretnya ke pengadilan sistem demi merebut posisinya dan mengincar bonus puluhan miliar. Jika kalah, ia akan musnah dan menjadi budak mereka selamanya. Namun, alih-alih hancur, sang protagonis justru berhasil membalikkan keadaan dan meraup keuntungan hingga 60 miliar.
Sampul Novel PRESDIR LUMPUH & GADIS MISKIN
9.2
Alex, seorang rektor sekaligus miliarder yang lumpuh akibat polio, memiliki sifat dingin karena enggan dikasihani. Hidupnya yang kaku berubah setelah mengenal Claire, mahasiswi miskin berlatar belakang kelam. Kehadiran Claire membawa kehangatan baru hingga Alex rela memberikan segalanya demi gadis itu. Namun, saat benih cinta tumbuh, Claire justru pergi demi mengejar impiannya dan membiarkan Alex menunggu dalam ketidakpastian. Akankah takdir menyatukan mereka kembali?