
Saat Cerai Bukan Lagi Sekadar Kata
Bab 5
Setelah berkata begitu, aku berbalik dan pergi.
Yohan tertegun. Dia hendak mengejarku, tapi Chika langsung menahan tangannya.
Dia menggenggam tangan Yohan dengan wajah pura-pura polos.
"Hari ini 'kan ulang tahunnya Leon, kok Sania tiba-tiba pergi?"
"Apa dia lupa? Atau memang dari awal nggak niat rayain ulang tahun Leon?"
"Sebagai seorang ibu, kayak gitu nggak bertanggung jawab banget."
Mendengar itu, Leon segera berdiri di depan Yohan dan berteriak ke arah punggungku, "Ayah, jangan pedulikan dia! Ibu bahkan lupa ulang tahunku!"
Meski marah, matanya sudah memerah.
Seolah sedang menahan rasa sakit yang dalam.
Yohan menatap anak kami. Dia tampak ragu sejenak, lalu akhirnya mengangkat Leon ke dalam pelukannya.
"Jangan marah lagi, ya. Ayah sama Tante Chika bakal nemenin kamu rayain ulang tahun."
Setelah itu, mereka duduk bersama di salah satu meja.
Suasana restoran sangat nyaman, kue ulang tahunnya juga terlihat lezat.
Tapi, dalam benak Yohan, bayangan saat aku pergi terus muncul. Hal ini membuat pikirannya melayang jauh.
Leon pun tidak banyak bicara. Dia jadi lebih tenang dari biasanya.
Meski Chika berusaha menghibur, matanya tetap merah dan wajahnya muram.
Sementara itu aku sama sekali tidak tahu apa pun. Aku langsung pulang ke rumah.
Awalnya aku masih berniat menunggu sampai 30 hari masa perceraian selesai baru pergi.
Tapi, begitu teringat ciuman yang belum sempat diselesaikan malam ini oleh Yohan dan Chika...
Aku tiba-tiba merasa semuanya tidak ada artinya lagi.
Kutitipkan surat cerai yang sudah kutandatangani di dalam tas, lalu membawa koper yang sudah terisi dan keluar dari rumah.
Di jalan, aku berpapasan dengan anak tetangga. Aku spontan menyerahkan mainan edisi terbatas kepadanya.
Awalnya, mainan itu adalah hadiah ulang tahun yang kupersiapkan untuk Leon.
Demi mendapatkannya, aku sudah keliling seluruh Kabupaten Bahari. Aku bahkan menemui langsung sang komikus untuk minta tanda tangannya di mainan itu.
Sekarang, aku rasa kepergianku justru hadiah terbaik untuknya.
...
Di sisi lain, pesta ulang tahun suram itu akhirnya selesai. Yohan segera membawa Leon yang gelisah pulang ke rumah.
Begitu memasuki kompleks perumahan, kami bertemu secara tidak sengaja.
Wajah Yohan seketika memucat saat melihat koper di tanganku.
Leon justru lebih dulu bersuara dengan semangat, a"Perempuan jahat, kamu tahu aku marah, makanya kamu mau ngajak aku jalan-jalan, 'kan?"
"Mana koperku? Kenapa kamu nggak bawain? Aku mau yang koper Ultraman itu!"
"Terus kamu harus minta maaf sama aku sekarang juga. Janji nggak akan lupa ulang tahunku lagi! Terus kamu juga nggak boleh cemburu sama Tante Chika dan Ayah. Kalau kamu bisa lakuin itu, aku bakal mau ikut kamu jalan-jalan. Dengar, nggak?"
Karena aku tetap diam, Leon mengernyit dan mendecak kesal.
"Sudahlah, aku nggak butuh kamu minta maaf."
"Kamu cuma perlu janji nggak bakal lupa ulang tahunku lagi. Nanti kalau Ayah ngajak aku dan Tante Chika jalan-jalan, aku juga bakal ajak kamu."
"Tapi cuma boleh seminggu sekali ya, kalau lebih dari itu Tante Chika bisa marah."
Setelah berkata begitu, dia mengulurkan tangannya berniat menggandengku.
Di luar dugaan, aku malah mundur selangkah.
Di depan tatapan Yohan dan Leon yang kaget sekaligus panik, aku mengeluarkan semua surat cerai yang sudah kukumpulkan selama ini dari dalam tas.
"99 lembar, nggak kurang satu pun. Semuanya ada di sini."
"Yang terakhir, sudah kutandatangani."
"Yohan, aku nggak mau ribut lagi. Ayo langsung cerai."
Anda Mungkin Juga Suka





