
Romansa di Sekolah
Bab 2
Jari-jariku melayang ke bahu Ivan, merasakan otot-ototnya yang kuat dan tubuhnya yang kencang.
"Pak Ivan, aku nggak bisa nulis kalau nggak ada pulpen. Apa Pak Ivan nggak mau pulpen?"
Aku sengaja mengucapkan kata "pulpen" dengan begitu pelan dan nada yang aneh. Aku memang sengaja membuatnya berpikir yang tidak-tidak.
Tepat di saat aku berpikir Ivan itu benar-benar kolot dan membosankan, tiba-tiba saja Ivan menekanku ke kursi. Tangannya yang besar menepuk bagian bawah tubuhku dan buru-buru menutup pintu kamar.
"Tunggu, aku akan mengajarimu dengan baik."
Setelah berkata seperti itu, Ivan buru-buru melepas dasinya.
Ivan melepas dasinya dan mengikat tanganku erat-erat.
Membuatku terbelenggu kuat-kuat dan tidak bisa bergerak sedikit pun.
Saat mataku terbelalak menantikan sesuatu yang menggairahkan, yang akan terjadi selanjutnya, Ivan duduk mengangkang. Otot dadanya yang kencang menempel erat di bahuku. Lalu, suara penuh nafsu terdengar di telingaku.
"Selesaikan dulu kumpulan soal ini. Kalau nggak selesai, kamu akan terus diikat."
Aku merasa malu dan marah seperti tomat yang sudah terlalu matang. Aku merasa harga diriku sudah diinjak-injak oleh Ivan.
Dalam hati, aku bertekad jika aku pasti akan membuat pria yang tidak peka ini mengaku kalah.
Ketika seseorang sudah bertekad, Tuhan pun akan membantunya.
Di luar jendela, hujan lebat turun dengan disertai kilat dan guntur. Lalu, ibuku menelepon.
"Halo, Pak Ivan. Aku dan ayahnya Rania terjebak di tempat kerja karena hujan deras. Aku cuma bisa meminta tolong kepadamu untuk menginap semalam. Aku sangat khawatir kalau Rania di rumah sendirian."
Aku berdiri di depan pintu kamar tidur dan mendengar suara cemas ibuku di ujung telepon. Aku pun tidak bisa menahan diri untuk tidak merasa gembira.
"Rania, itu saja untuk pelajaran hari ini. Aku mau mandi. Aku akan menginap dan menemanimu malam ini."
Ivan menaikkan kacamata di pangkal hidungnya. Dengan tatapan tenang, Ivan memberitahuku bahwa dia akan menginap malam itu.
Aku tidak tahu apakah karena pikiranku yang terlalu berlebihan, Ivan mengucapkan kata-kata "akan menginap dan menemanimu" terdengar ambigu dan penuh harap.
Ivan pergi ke kamar mandi untuk mandi. Sementara itu, aku melepas sandal dan melangkahkan kaki di atas lantai dengan kaki telanjang.
Aku berjalan menuju pintu kamar mandi dan diam-diam membuka pintu.
Yang terlihat di mataku adalah otot punggung Ivan yang kencang serta bahunya yang kuat dan lebar.
"Berbalik, ayo berbalik."
Diam-diam, aku berharap di dalam hati.
Ivan sepertinya mendengar suara hatiku. Lalu, dia pun perlahan berbalik.
Delapan otot perut tersusun rapi di bagian perut. Tetesan air mengalir di sepanjang otot-otot itu menuju garis V dan akhirnya menghilang di balik hutan hitam.
Aku tersipu malu dan terus memandanginya. Rasa aneh di tubuhku membuatku tidak bisa menahan diri hingga mengeluarkan suara pelan.
"Hmm …."
"Heh, apa sudah cukup melihatnya? Ayo masuk dan mandi bareng."
Tawa kecil Ivan tiba-tiba terdengar di atas kepalaku. Segera setelah itu, aku merasakan tarikan yang kuat di lenganku.
Tiba-tiba saja, tubuhku jatuh ke dalam pelukan yang panas dan basah.
"Pak Ivan, ah!"
Aku merasakan dadaku diremas dengan begitu kuat. Kemudian, tubuhku ditekan ke wastafel yang dingin.
Tubuhku yang panas gemetar karena rangsangan dari ubin yang dingin.
Sementara, tubuh Ivan menempel sangat dekat denganku.
Dalam sekejap, aroma hormon langsung menyelimutiku. Suara Ivan yang serak mengetuk hatiku.
"Nggak fokus belajar, tiap hari cuma memikirkan hal-hal seperti ini, ya? Oke, hari ini aku akan mengabulkan keinginanmu."
Ivan mencengkeram daguku kuat-kuat dengan satu tangan dan memaksaku mengangkat kepala untuk melihat penampilanku di cermin.
Di dalam cermin, ekspresiku tidak bisa dilihat dengan jelas. Pipiku memerah. Pakaianku yang basah menempel di tubuhku.
Dadaku yang montok dan padat berubah bentuk karena ditekan. Lalu, baju tidurku tergulung ke atas seluruhnya.
Seluruh tubuhku terengah-engah bagaikan ikan yang kehabisan air.
Bagian bawah tubuhku yang tanpa pelindung itu dipandang Ivan dengan mata yang menyala-nyala. Dia terkekeh melihat kelakuanku yang berani dan melampaui batas itu.
Kemudian, aku merasakan Ivan perlahan-lahan berjongkok. Lalu, aliran udara panas menyembur di area di antara kedua kakiku.
Anda Mungkin Juga Suka





