APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Roh Jiwa Putri yang Teraniaya

Roh Jiwa Putri yang Teraniaya

Dua bulan pasca kematiannya, sebuah keluarga baru menyadari bahwa mereka meninggalkan putri mereka di tengah hutan saat wisata. Mengira sang putri hanya merajuk karena dihukum berjalan kaki, sang adik justru mengirimkan pesan ejekan agar dia mati demi menguasai warisan nenek mereka. Ibu yang bersikap dingin bahkan mengancamnya agar hadir di pesta ulang tahun keluarga. Mereka tidak pernah menduga bahwa korban tidak pernah bisa keluar dari sana. Pencarian intensif di pegunungan akhirnya mengungkap kenyataan mengerikan saat sisa-sisa tulang belulangnya ditemukan terkubur.
Bab
Bagikan

Bab 1

Dua bulan setelah kematianku, akhirnya Ayah dan Ibu menyadari bahwa mereka lupa membawaku pulang dari perjalanan wisata. Ayah mengerutkan kening dengan jengkel, "Bukankah kita hanya menyuruhnya berjalan kaki pulang? Apa harus sampai berlarut-larut begini?"

Adikku membuka percakapan lama kami dan mengirimkan sebuah stiker penuh ejekan, disertai pesan. [ Lebih baik kamu mati di luar sana, jadi seluruh harta Nenek jatuh ke tangan aku dan Kak Sierra. ]

Namun, tak ada balasan dariku.

Dengan ekspresi dingin, Ibu berkata, "Katakan padanya, kalau dia datang tepat waktu ke pesta ulang tahun neneknya, aku nggak akan permasalahkan soal dia sengaja mendorong Sierra ke air."

Mereka tidak pernah mengira bahwa aku tak pernah berhasil keluar dari hutan itu.

Akhirnya setelah melalui pencarian yang intens, mereka menggali setiap jengkal tanah hingga di tengah hutan pegunungan dan menemukan sisa-sisa tulang belulangku.

Lantaran tidak bisa menghubungiku dan didesak oleh nenek, keluargaku akhirnya mendatangi rumah kontrakan yang bobrok di desa dengan perasaan enggan.

Ferdy menutup hidungnya. "Kenapa si pembawa sial itu tinggal di tempat begini? Ayah, Ibu, aku nggak mau masuk!"

"Oke, kalian berdua pulang saja dulu, biar Ayah dan Ibu saja yang masuk."

Sierra memeluk tangan ibunya dengan manja, lalu berkata dengan wajah yang penuh perhatian, "Adikku ini benar-benar nggak tahu sopan santun. Telepon nggak diangkat, pesan nggak dibalas, sampai kalian berdua harus datang ke sini."

"Kalau ketemu nanti pasti kuberi pelajaran!" Mata Ibu menyiratkan kebencian. Kemudian, dia menggandeng Ayah untuk masuk ke dalam.

Setelah menaiki empat lantai tangga, mereka terengah-engah berdiri di depan pintu kamar 401. Begitu mengetuk pintu, seorang pria paruh baya bertelanjang dada membuka pintu. "Cari siapa?" tanyanya.

Melihatnya, Ayah langsung marah besar, "Apa hubunganmu sama putriku? Kenapa kamu tinggal di sini?"

Sambil marah-marah, Ibu menerobos masuk ke dalam dan berteriak kesal, "Shelly, keluar kamu! Berani-beraninya kamu menghindari orang tua dan tinggal sama orang lain?"

Tak lama kemudian, seorang wanita berperut besar keluar. "Kalian salah alamat, ya? Kami sekeluarga baru pindah ke sini dua bulan lalu."

Ibu menyergah dengan kesal, "Putriku yang ngasih alamat ini, mana mungkin salah?"

Melihat bahwa Ibu begitu keras kepala, pria paruh baya itu mengusir mereka keluar, "Keluar, keluar! Kalian bahkan nggak tahu putri kalian sendiri di mana, apa kalian pantas jadi orang tua?"

Seolah-olah teringat akan sesuatu, wanita hamil itu buru-buru menambahkan, "Shelly itu penyewa sebelumnya ya? Pemilik rumah bilang dia menunggak sewa sebulan dan nggak bisa dihubungi, jadi rumahnya kami kontrak."

Mendengar hal itu, Ibu marah besar, "Sudah pindah malah nggak bilang-bilang! Sia-sia saja kami ke sini, dasar anak durhaka!"

Saat mereka berdua hendak pergi, pemilik rumah kebetulan datang. Begitu mengetahui identitas Ayah dan Ibu, dia langsung meminta uang sewa. "Cepat bayar uang sewanya dan bawa pergi barang-barang yang ditinggalkannya. Jangan kotori tempatku!"

Ayah dan Ibu tidak percaya. Mereka kemudian dibawa oleh pemilik rumah ke gudang tempat barang-barangku disimpan. Barang-barang itu sudah tidak terurus dan berdebu setelah dua bulan tidak ada yang membersihkan.

Ayah mengenali beberapa pakaian yang sering kupakai, "Ini memang bajunya."

Ibu mendengarnya dan mengerutkan kening dengan dingin, "Anak durhaka itu sengaja ya? Setelah pindah rumah, dia ninggalin tumpukan sampah ini supaya kita datang untuk beresin?"

Pemilik rumah itu tidak tahan lagi mendengarnya. Dia pun berbaik hati mengingatkan, "Ini bukan sampah, semuanya barang yang sering dia pakai. Ada album foto dan juga beberapa dokumen. Gadis ini orang baik, jadi aku bantu dia nyimpan semuanya."

Ibu tidak peduli. Gudang itu berbau lembap. Dia menutup hidung dan keluar, lalu langsung meneleponku. Karena tidak ada jawaban, dia pun meninggalkan pesan.

[ Shelly, kamu sudah cukup belum dengan tingkahmu? Aku dan ayahmu sekarang ada di rumah kontrakanmu, cepat pulang! ]

Nada angkuhnya tak berubah dan kebencian di matanya tidak bisa disembunyikan. Ibu tidak merasa heran jika aku tidak membalas pesan Ferdy. Bagaimanapun, kami berdua telah menjadi musuh setelah diadu domba oleh Sierra.

Namun, Ibu tidak bisa menerima jika aku tidak membalas pesannya. Ibu semakin tidak sabar. Dia berkata pada Ayah dengan nada dingin, "Biarkan saja dia, ayo kita pulang. Tempat ini bukan tempat yang layak untuk manusia!"

Mendengar kata-katanya, pemilik rumah memandang mereka dengan marah, "Eh, apa-apaan cara bicara Anda ini? Barang-barang anak Anda ini, mau diambil atau nggak? Kalau nggak, saya buang saja."

Menyadari tidak bisa mengharapkan mereka membayar sewa, pemilik rumah akhirnya menyerah. Namun, Ibu tetap pergi tanpa menoleh sedikit pun.

Pemilik rumah yang marah besar, akhirnya berteriak, "Kalian ini nggak punya hati ya? Anak kalian sudah dua bulan nggak bisa dihubungi, kalian nggak khawatir terjadi sesuatu padanya?"

Ibu tertawa sinis, "Anak pembawa sial itu hidupnya keras, mana mungkin akan terjadi sesuatu padanya!"

Setelah pulang, Ibu menelepon Nenek.

"Bu, untuk apa Ibu masih terus merindukan Shelly si anak durhaka itu? Warisan Ibu nanti kasih ke Ferdy dan Sierra saja. Untuk apa peduli sama dia lagi?"

Rohku melayang di samping mereka sambil tersenyum getir.

Ibu, aku adalah satu-satunya putri kandungmu, kenapa kamu begitu membenciku ....

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Mauku Menjomlo
9.4
Di usianya yang melewati kepala tiga, Hasmi Azzahra kerap menjadi sasaran gunjingan tetangga karena masih melajang. Berprofesi sebagai perawat desa, ia tak ambil pusing dengan cap tidak laku yang disematkan padanya. Bagi Hasmi, pernikahan bukanlah hal yang bisa terburu-buru demi status sosial belaka, melainkan komitmen seumur hidup yang sakral. Walau mendambakan kehadiran pendamping hidup, ia memilih sabar menanti sosok yang tepat di tengah derasnya tekanan lingkungan sekitar.
Sampul Novel (Bukan) Pernikahan Impian
9.8
Dara menghadapi tekanan besar dari keluarga yang menuntutnya segera menikah demi menghindari perjodohan paksa. Di tengah situasi pelik itu, ia bertemu Alfan, seorang duda yang kesulitan mengasuh putri kecilnya sendirian sejak kepergian istrinya. Demi menghadirkan sosok ibu bagi sang anak, Alfan menawarkan sebuah solusi praktis kepada Dara. Keduanya pun sepakat memulai pernikahan yang didasari oleh kebutuhan mendesak satu sama lain.
Sampul Novel Galau Cinta Untuk Siapa
8.7
Demi nama baik keluarga, Kaila terpaksa menggantikan Dwina yang kabur sesaat sebelum akad nikah dengan Boyke Dhamara. Setelah setahun menjalani pernikahan dini tanpa cinta, Dwina tiba-tiba kembali dan mendesak Kaila untuk bercerai agar ia bisa bersatu lagi dengan Boyke. Kaila kini didera dilema besar. Bagaimana sikap Boyke menghadapi kembalinya sang mantan kekasih? Akankah pernikahan Kaila sebagai istri pengganti harus berakhir?
Sampul Novel Terjebak Pesona Anak Teman Mama
8.1
Nadia Anindita, siswi pemberontak yang menggemaskan, selalu berselisih dengan ketua OSIS populer nan kaku, Raka Bratama. Di balik kebencian dan perdebatan sengit mereka, tersimpan masa lalu keluarga yang rumit. Takdir tak terduga pun datang saat keluarga menjodohkan mereka secara paksa. Kini, keduanya terjebak dalam ikatan pernikahan yang konyol. Akankah ego mereka memicu perceraian, atau justru menumbuhkan benih cinta sejati?
Sampul Novel The Passion of an Actor
9.0
Kehidupan mewah Raditya Pratama sebagai aktor papan atas tidak menghalanginya untuk terpikat pada Dayu. Perempuan sederhana ini bahkan sama sekali tidak mengetahui ketenaran yang dimiliki Raditya. Perbedaan latar belakang yang mencolok tidak menyurutkan niat sang selebritas untuk mendekatinya. Namun, jalinan asmara mereka harus menghadapi rintangan berat yang menguji ketulusan perasaan masing-masing. Akankah cinta mereka bertahan melewati perbedaan kelas sosial ini?
Sampul Novel Transmigrasi Badgirl
9.8
Aqila Zara Maureen tak pernah menduga akan mengalami fenomena mistis pertukaran jiwa. Tiba-tiba saja, ia terbangun di dalam tubuh seorang gadis feminin yang dikenal sebagai perundung kejam di sekolahnya. Terperangkap dalam raga baru yang reputasinya sangat bertolak belakang dengan sifat aslinya, Aqila kini harus menanggung sanksi sosial yang berat. Sembari bertahan hidup, ia juga harus mengungkap misteri besar di balik transmigrasi aneh ini.