
Rindu Tak Berujung
Bab 2
Collin menggunakan seluruh pendapatan dari proyek pertamanya untuk membeli dan memoles sendiri sebuah batu rubi sebagai cincin lamaranku. Dia mengatakan akan membiarkan aku melewati hidup yang baik semasa hidupku.
Namun, ketika semuanya berkembang ke arah yang baik, Collin malah terkena leukemia. Selain itu, hanya aku seorang di dunia ini yang sumsum tulangnya cocok dengannya.
Setelah proses pencocokan berhasil, aku tidak akan bisa hamil lagi. Sementara itu, Collin paling menyukai anak-anak. Jika dia mengetahui semua ini, dia pasti lebih rela mati.
Oleh karena itu, ketika dia berbaring di ranjang rumah sakit, aku menangis dan memohon padanya untuk melepaskanku. Aku mengatakan aku tidak ingin lagi hidup bersama dengan orang yang berumur pendek. Dengan tatapan penuh keputusasaan, dia pun menandatangani surat perceraian.
Aku membawa pergi surat perceraian itu, lalu menandatangani surat kesediaan donatur.
Sekarang, 10 tahun telah berlalu. Berhubung sumsum tulangku terinfeksi, aku sudah tidak mampu menunggu pendonor lagi. Yang menantiku hanyalah kematian.
Aku mentransferkan 600 juta ini kepada pengurus jenazah.
“Tolong bantu aku pilih sebuah makam. Aku mau tempat yang dipenuhi pohon delima.”
Baru saja aku hendak pulang ke rumah kontrakan, aku menerima sebuah pesan dari pengacara.
[ Bu Saskia, aku ini pengacaranya Pak Collin. Gelang yang kamu pecahkan bernilai enam miliar. Kalau kamu nggak bisa ganti rugi, kamu akan hadapi tuntutan pidana dan dijebloskan ke penjara. ]
Selanjutnya, aku juga menerima pesan dari Collin.
[ Kamu pilih saja mau jadi asistenku atau dipenjara. ]
Aku tidak memiliki pilihan. Namun, aku juga merasa senang karena dapat menyaksikan kebahagiaan Collin di masa-masa terakhir hidupku.
Pada hari pertama aku menerima vonis kematianku, aku bekerja menjadi asisten Collin. Begitu melihatku datang, mata Clarise langsung dipenuhi dengan permusuhan.
“Buat apa kamu datang kemari?”
Collin menarik tangan Clarise dan berkata, “Aku suruh dia datang untuk jadi asistenmu. Dengan begitu, kamu bisa lebih santai ke depannya.”
Clarise mencium Collin dan menjawab, “Sayang, memang kamu yang paling sayang sama aku. Kamu tahu aku nggak bisa kecapekan karena hamil. Kebetulan aku haus. Ambilkanlah kopi untukku.”
Aku membawakan kopi ke hadapan Clarise. Namun, dia malah menjatuhkan cangkirnya, seolah-olah memang sengaja. Kopi yang panas itu pun tumpah ke kulitku.
Collin segera memeluk Clarise dan menghibur dengan lembut, “Sayang, tanganmu nggak terbakar, ‘kan?”
Kemudian, Collin menatapku dengan penuh rasa jijik dan melempar segepok uang ke arahku. “Kamu mau pakai trik menyiksa diri? Kamu benar-benar terlalu matre sampai sudah gila!”
Aku menahan rasa sakit dan memungut selembar demi selembar uang itu, lalu berkata dengan pelan, “Terima kasih, Pak Collin.”
Setelah mereka pergi, aku baru berani masuk ke kamar mandi. Tanganku sudah melepuh, tetapi aku tidak berani memecahkan gelembungnya. Sebab, begitu dipecahkan, darahnya tidak akan berhenti mengalir.
Aku hanya bisa mengoles obat dengan menahan rasa sakit. Namun, aku malah mulai mimisan. Aku pun bersusah payah membersihkan bekas darah, sedangkan tanganku yang menggenggam uang tidak berhenti gemetar.
Clarise menyuruhku mengelap semua hadiah yang pernah diberikan Collin kepadanya.
“Hati-hati. Kalau ada yang rusak, kamu nggak akan bisa ganti rugi.”
“Di tahun pertama pacaran, dia kasih aku cincin ini yang cuma ada satu di dunia.”
“Di tahun kedua pacaran, dia kasih aku kalung yang harganya miliaran ini.”
“Ini sertifikat kepemilikan rumah yang diberikannya padaku di hari jadi tahun ketiga kami.”
“Habis kerjakan semua ini, antarkan secangkir kopi ke ruang istirahat presdir.”
Aku menahan ketidaknyamanan tubuhku dan mengelap semua barang itu. Kemudian, aku baru membawakan kopi ke kantor Collin. Namun, aku malah mendengar suara desahan dari dalam sebelum berjalan masuk.
Entah sudah berapa lama waktu yang berlalu, kakiku terasa pegal. Ketika Collin akhirnya berjalan keluar, aku melihat beberapa bekas cakaran yang tertinggal di lehernya.
Setelah menerima kopi yang kubawa, dia mencibir, “Demi uang, kamu benar-benar sanggup bertahan meski harus dengar mantan suamimu berhubungan intim dengan pasangannya sekarang.”
Aku menggertakkan gigi, lalu mengulurkan tangan sambil berujar, “Mana gajiku hari ini? Aku kekurangan uang dan perlu gaji harian.”
Mata Collin langsung mendingin. Dia mengambil uang dan melemparnya ke wajahku, lalu langsung pergi dengan marah.
Perusahaan Collin berjarak sekitar 3 jam perjalanan dari tempat tinggalku. Tidak lama setelah aku berbaring di ranjang, Collin malah meneleponku, “Clarise sakit maag. Pergi ke apotek dan belikan dia obat maag.”
“Bukannya ada kurir yang kerja 24 jam? Memangnya harus aku yang pergi?”
Anda Mungkin Juga Suka





