APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Rindu Membuat Sang Triliuner Jatuh Sakit

Rindu Membuat Sang Triliuner Jatuh Sakit

Terlahir dengan gangguan pendengaran membuat Reina Andara diabaikan oleh ibunya sendiri. Kemalangan Reina berlanjut setelah menikah, di mana dia terus direndahkan oleh keluarga suaminya yang kaya raya. Situasi kian memburuk saat cinta pertama suaminya, Maxime Sunandar, kembali dan berambisi merebut posisinya. Sadar bahwa Maxime tidak pernah mencintainya, Reina akhirnya memilih menyerah dan meminta cerai demi membebaskan pria itu. Namun tak disangka, Maxime justru menolak keras keputusan Reina tersebut.
Bab
Bagikan

Bab 3

Suara Reina begitu tenang dan ringan.

Seolah perceraian ini hanya hal sepele.

Pupil mata Maxime menegang.

"Apa katamu?"

Selama pernikahan mereka, seketerlaluan apa pun perlakuan Maxime padanya, Reina tidak pernah menyebut kata 'cerai'.

Sebenarnya Maxime paham betul betapa Reina sangat mencintainya.

Tatapan Reina yang awalnya kosong saat ini berubah menjadi sangat tajam.

"Pak Maxime, selama ini aku sudah menjadi penghalangmu."

"Kita cerai saja."

Maxime meremas tinjunya kuat-kuat.

"Kamu dengar pembicaraanku barusan, 'kan? Keluarga Andara sudah berada di ujung jurang, apa bedanya menikah denganku atau menikah dengan orang lain?"

"Apa tujuanmu bercerai? Kamu mau anak atau mau uang? Atau mau mengancamku supaya aku nggak melakukan apa pun pada Keluarga Andara?" Maxime bertanya dengan dingin.

"Jangan lupa, aku sama sekali nggak mencintaimu, ancamanmu nggak berguna untukku!"

Sosok Maxime di mata Reina tiba-tiba menjadi kabur. Reina merasa tenggorokannya tercekat dan telinganya sakit. Bahkan dengan alat bantu dengar, dia tidak bisa mendengar dengan jelas perkataan Maxime selanjutnya.

Jadi, Reina hanya bisa menjawab pertanyaan Maxime, "Aku nggak mau apa-apa."

Takut Maxime menyadari ada yang janggal, Reina pun buru-buru meninggalkan ruang kerja.

Maxime menatap punggung Reina, entah kenapa dia belum pernah sekesal ini.

Dia tidak pernah mengendalikan emosinya demi orang lain, jadi dia langsung membalikkan meja di depannya.

Sup yang dimasak Reina pun tumpah ....

...

Reina kembali ke kamar dan menegak banyak obat.

Dia menyentuh telinganya dan mendapati jarinya terlumuri darah segar.

Mungkin karena efek obat, saat matahari baru saja terbit di ufuk timur, pendengaran Reina sudah pulih.

Reina melamun sambil memandangi sinar matahari yang menembus dari celah jendelanya.

"Hujan sudah berhenti."

Hari ini, Maxime tidak pergi ke mana-mana.

Sedari pagi dia hanya duduk di sofa dan menunggu Reina yang menyesal datang minta maaf padanya.

Selama tiga tahun pernikahan, ada kalanya amarah Reina meledak.

Namun, setiap kali setelah selesai marah dan meluapkannya dalam tangisan, tidak berapa lama Reina pasti akan datang minta maaf.

Maxime pikir kali ini pasti sama saja.

Maxime melihat Reina yang bersiap pergi setelah selesai mandi. Seperti biasa wanita itu mengenakan pakaian berwarna gelap, tetapi kali ini sambil menyeret koper dan ada sebuah dokumen di tangannya.

Ketika Reina menyerahkan dokumen itu pada Maxime, barulah dia menyadari kalau itu adalah dokumen persetujuan perceraian.

"Max, telepon aku kalau sudah ada waktu."

Reina mengucapkan kalimat ini dengan santai dan tanpa ekspresi apa pun, lalu keluar dari rumah sambil menyeret kopernya.

Setelah hujan berlalu, cuaca begitu cerah.

Seketika, Reina merasa seperti terlahir kembali.

Maxime hanya berdiri mematung sambil meremas dokumen perceraian itu.

Setelah beberapa lama, barulah Maxime tersadar dari lamunannya.

Hari ini adalah hari terakhir perayaan hari ziarah makam.

Di hari seperti ini tahun-tahun sebelumnya, Maxime biasanya membawa Reina pulang ke kediaman utama untuk berdoa untuk para leluhur.

Tentu semua kerabat Keluarga Sunandar memperlakukan Reina dengan berbeda.

Hari ini, Maxime sendirian.

Maxime sangat gembira.

Di kediaman utama.

Joanna Debrista, ibu Maxime, juga kerabat lain bingung saat melihat Maxime datang sendirian.

Biasanya di saat seperti ini, Reina sebagai cucu menantu tertua akan datang paling awal dan pulang paling terakhir untuk mengambil hati kerabat lainnya.

Apa hari ini dia tidak datang?

Joanna mengernyit dan bertanya pada putranya, "Max, mana Reina?"

Tatapan Maxime menjadi dingin saat mendengar pertanyaan ini.

"Dia minta cerai, lalu kabur dari rumah."

Semua orang tercengang dan suasana sontak menjadi sunyi. Tidak ada yang memercayainya.

Joanna juga sangat terkejut.

Di dunia ini, selain orang tuanya sendiri, tidak ada yang lebih mencintai Maxime selain Reina.

Tujuh tahun lalu, Maxime terluka parah dan Reina-lah yang menyelamatkannya.

Empat tahun lalu, keduanya sudah bertunangan. Suatu hari Maxime pergi ke Kota Debai untuk keperluan bisnis, malangnya terjadi sesuatu masalah.

Semua orang mengatakan Maxime sudah mati, hanya Reina yang tidak mau memercayainya. Tanpa mengucap sepatah kata pun, dia langsung pergi ke Kota Debai.

Di kota yang ada di negara asing itu dia berjuang sendirian mencari Maxime selama tiga hari penuh.

Begitu pula setelah menikah, Reina selalu sangat berhati-hati dalam mengurus urusan rumah tangga dan memperlakukan orang-orang di sekitar Maxime termasuk sekretarisnya dengan baik.

Bagaimana bisa Reina yang seolah tidak bisa hidup tanpa Maxime minta cerai?

Kenapa?

Joanna tidak paham, tetapi dia senang wanita itu sudah melepaskan putranya.

"Mau diusahakan seperti apa pun, wanita sepertinya nggak bisa naik kelas untuk sederajat dengan kita. Baguslah kalau cerai."

"Dia sama sekali nggak pantas untukmu."

Begitu ibu Maxime berkomentar, yang lain pun ikut menimpali.

"Ya, benar itu. Kak Max masih muda dan tampan, apalagi sekarang sedang berada di puncak kejayaan, sayang Reina sudah menjadi penghalang selama ini."

Acara yang harusnya diisi dengan mendoakan para leluhur berubah jadi gosip yang menghina Reina.

Mereka semua membuat sosok Reina seperti orang jahat.

Anehnya, Maxime harusnya ikut merasa senang, 'kan? Namun, kenapa ejekan orang-orang itu membuatnya kesal?

Maxime pun pulang lebih awal.

Langit mulai gelap saat dia sampai di Vila Magenta.

Maxime membuka pintu dan melangkah masuk, dirinya langsung diselimuti oleh kegelapan dan membuatnya sadar bahwa Reina sudah benar-benar pergi.

Maxime melepas sepatunya, lalu melemparkan mantelnya ke mesin cuci.

Entah mengapa hari ini rasanya dia begitu lelah.

Maxime berniat mengambil sebotol anggur dari tempat penyimpanan anggur untuk merayakan kepergian Reina.

Namun, dia baru sadar bahwa tempat itu terkunci dan dia tidak punya kuncinya.

Maxime tidak suka keberadaan ada orang luar, sehingga tidak ada pembantu di vila ini.

Selama ini, Reina-lah yang sudah mengurus semuanya.

Maxime akhirnya hanya bisa kembali ke kamar dan membuka ponselnya. Tidak ada notifikasi lain selain urusan pekerjaan, sudah sehari berlalu dan Reina masih belum menelepon atau mengiriminya pesan.

"Cih! Aku mau lihat sampai berapa lama kamu tahan?"

Maxime membuang asal ponselnya, lalu berjalan menuju dapur.

Dia langsung tercengang begitu membuka kulkas.

Karena ternyata selain makanan, banyak sekali berbagai macam obat tradisional.

Maxime mengambil salah satu bungkus itu dan membaca nama obatnya, "Sehari lima bungkus, ramuan khusus kesuburan."

Obat kesuburan ....

Maxime bisa mencium bau tidak sedap dari obat-obatan itu.

Ah, akhirnya dia tahu dari mana bau tidak sedap tubuh Reina yang tercium olehnya dulu.

Maxime mencibir, seberapa banyak pun Reina minum obat, dia tidak mungkin hamil karena mereka berdua tidak pernah berhubungan intim.

...

Di sisi lain, di sebuah motel kecil di jalan yang gelap.

Reina yang lemah membuka matanya perlahan, kepalanya terasa sangat sakit dan lingkungan di sekitarnya sangat sunyi.

Dia tahu kondisinya semakin buruk.

Biasanya, dia tetap bisa mendengar sedikit suara meski tanpa alat bantu dengar.

Reina berdiri dengan meraba-raba, mengambil obat dari meja di samping tempat tidur dan menjejalkannya ke dalam mulut dengan paksa. Rasa obat itu sangat pahit dan sepat.

Kemarin, Reina pergi dari Vila Magenta yang sudah ditinggalinya selama tiga tahun.

Dia pulang ke rumah orang tuanya.

Namun, baru saja sampai di depan pintu, dia mendengar ibu dan adiknya, Diego Andara sedang berdiskusi akan menikahkannya dengan kakek tua berusia 80-an tahun setelah Keluarga Sunandar mendepaknya ....

Reina memandang pintu dengan tatapan kosong, dia sadar sekarang dia sudah tidak punya rumah.

Meski belum makan apa pun selama dua hari, Reina tidak merasa lapar.

Hanya saja dunianya terasa begitu hening, begitu sunyi.

Sepertinya tahun ini Kota Simaliki lebih sering diguyur hujan dibanding tahun-tahun kemarin.

Reina memandangi para pejalan kaki yang bergegas mencari tempat berteduh di luar sana, kebanyakan mereka bersama orang lain, baik berdua atau bertiga, hanya Reina yang sendirian.

Reina yang sudah tidak tahan lagi pun membeli tiket ke luar kota, dia pergi ke sebuah desa untuk mendatangi orang yang sudah mengasuhnya dari kecil, Lyann Kintara.

Reina sampai di tempat tujuan sekitar jam sembilan malam.

Waktu Lyann melihat Reina, wajah ramahnya terlihat sangat terkejut.

"Nana ...."

Melihat dirinya disambut dengan senyum ramah Lyann, hidung Reina terasa masam. Dia mengulurkan tangan untuk memeluknya, "Bu Lyann ..."

Karena alasan kesehatan, Lyann tidak pernah menikah dan tentunya tidak punya anak kandung.

Bagi Reina, Lyann sudah seperti ibu kandungnya sendiri.

Malamnya. Reina bersandar di pelukan Lyann, seolah kembali ke masa kecilnya dulu.

Lyann memeluknya dan menyadari tubuh Reina sangat kurus, bahkan sudah seperti tulang yang terbungkus kulit.

Tangan Lyann yang ada di punggung kurus Reina tidak bisa berhenti gemetar. Dia berusaha menenangkan Reina. Dia bertanya dengan hati-hati, "Nana, apakah Max memperlakukanmu dengan baik?"

Reina tercekat waktu mendengar nama Maxime, awalnya dia ingin membohongi Lyann dan mengatakan semuanya baik-baik saja ....

Namun, dia tahu Lyann bukan wanita bodoh.

Kini setelah Reina memutuskan untuk pergi, dia tidak ingin lagi membohongi dirinya sendiri atau orang lain yang mencintainya.

"Wanita yang dia cintai sudah kembali. Aku akan melepaskannya dan menceraikannya."

Lyann tertegun tidak percaya.

Bukan hanya sekali Reina mengatakan padanya kalau dia ingin menghabisi hari tua bersama Maxime.

Lyann tidak tahu harus berkata apa. Akhirnya dia hanya menghibur Reina dengan mengatakan bahwa ada begitu banyak orang di dunia ini, pasti ada seseorang yang akan mencintainya dengan tulus.

Reina mengangguk dalam diam, dengungan di telinganya menutupi suara Lyann yang menenangkan.

Jarang sekali Reina bisa tidur nyenyak, tetapi malam itu dia terbangun dan sangat terkejut waktu melihat noda darah di seprai bermotif bunga kasurnya.

Reina menyentuh telinga kanannya dan merasa ada sesuatu yang lengket.

Reina membuka jarinya dan melihat ada noda darah ....

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Palsu, Luka Nyata
8.9
Sejak awal, aku menyadari kedekatan Karen dengan teman masa kecilnya yang telah terjalin belasan tahun, namun aku tetap memilih untuk mengejar cintanya. Keputusan ini berujung pahit di hari pertunangan kami. Saat menerima kabar sang teman pingsan, Karen tanpa ragu meninggalkanku di atas panggung. Tragedi memuncak ketika nenek yang berusaha mengejarnya justru tertabrak mobil hingga merenggut nyawanya. Kehilangan ini menyadarkanku bahwa memaksakan hubungan yang rapuh hanya akan mendatangkan luka.
Sampul Novel Dendam Istri Yang Dikhianati
8.7
Kehidupan Amora runtuh seketika saat memergoki suaminya, Aries, berselingkuh dengan Arin, adik tirinya, tepat di kamar mereka. Rasa sakit akibat pengkhianatan ini kian mendalam karena ulah Resti, ibu tirinya, yang menjadi dalang di balik konspirasi keji tersebut. Menyadari ketulusannya dibalas dengan kekejaman, Amora menolak pasrah. Dengan amarah yang kini berubah menjadi tekad membara, ia merancang pembalasan terencana untuk menghancurkan Aries, Arin, dan Resti.
Sampul Novel Dikhianati Suami, Diremehkan Mertua
9.1
Demi melindungi putranya, Alena bersembunyi selama tujuh tahun dari kejaran Keluarga Whitmore. Namun, kedamaiannya sirna ketika ia diculik dan disekap di sebuah kastil tua terpencil. Di tempat itu, sang mantan suami, Dorian Whitmore, menuduh Alena menyembunyikan anak laki-laki mereka yang lain. Alena menegaskan hanya Julian Ezra Callahan yang hidup, sementara kembarannya telah tiada. Kini ia harus menghadapi Dorian demi mengungkap misteri masa lalu.
Sampul Novel Hello Love Sign
8.7
Kebencian mendalam Sheina pada keluarga Levanchois tak menghalanginya bertahan demi sebuah misi rahasia di kantornya yang toksik. Namun, tepat saat ia berniat mundur dan menuntut balas, takdir mempertemukannya dengan Samuel Clark Levanchois. Pria terkuat di dinasti tersebut justru menyodorkan kontrak bisnis menggiurkan untuk melepaskan Sheina dari atasannya. Kini, terjebak dalam pusaran dominasi, sanggupkah ia menghindari jerat asmara dari pria yang paling ia benci?
Sampul Novel Perpisahan yang Kutandatangani
8.2
Setelah sebelas tahun bersama Petro, Yasmin mendapati suaminya berselingkuh selama tiga tahun dengan gadis yang lebih muda dan memiliki kemiripan wajah hingga enam puluh persen dengannya. Penderitaan Yasmin memuncak ketika putranya, Haris, menyodorkan surat pemutusan hubungan dan menuduhnya merusak kebahagiaan keluarga. Dengan hati yang hancur, Yasmin akhirnya menandatangani kesepakatan cerai dan memutuskan untuk memutus semua ikatan dengan suami serta anaknya.
Sampul Novel Wanita yang tidak diinginkan
9.1
Nadine Aulia terperangkap dalam pernikahan pahit bersama Arman Ridwan Putra, pria yang sama sekali tidak menginginkannya. Di usia muda, ia harus tegar menghadapi kekejaman sang suami sekaligus gangguan dari Clara, selingkuhan Arman. Kehamilan Nadine saat ini merupakan akibat dari tragedi malam kelam ketika Arman mabuk. Di tengah siksaan dan tudingan sebagai perusak hubungan mereka, sanggupkah Nadine bertahan demi bayinya atau justru memilih pergi dari lingkaran penderitaan ini?