APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Revenge (Cinta dalam Dendam)

Revenge (Cinta dalam Dendam)

Pernikahan tak diinginkan dengan Dirga membawa Gendis ke jurang penderitaan kelam sebagai pemuas nafsu. Di tengah kehancuran hidup tersebut, ia dipertemukan dengan Steve, pria tampan berhati dingin yang perlahan mulai menyentuh lubuk hatinya. Kini, keduanya harus berjuang keras melewati jurang perbedaan demi mempertahankan perasaan mereka. Akankah cinta baru ini mampu bertahan dan selamat dari ancaman dendam serta bayang-bayang masa lalu yang begitu menyakitkan?
Bab
Bagikan

Bab 3

Gendis melepas kebaya koyaknya dan mengganti dengan pakaian yang tadi diberikan oleh Dirga.

Setidaknya, dia tidak terlihat seperti gembel dengan baju compang campingnya, walau sebenarnya gembel mungkin lebih berharga dan terhormat daripada dirinya, yang telah ternoda dan dijual.

Sekitar sepuluh menit kemudian, suara pintu terdengar dibuka oleh seseorang.

"Kita pulang sekarang," ucap Dirga yang sudah berdiri di depannya dengan memasukkan kedua tangan ke dalam kantong celana.

"Aku ingin pulang ke rumah orang tuaku."

"Apa kamu bilang? Pulang ke rumah orang tuamu? Kamu lupa, ya, kamu itu sekarang sudah menjadi istriku. Jadi kamu harus pulang ke rumahku."

Lalu, Dirga menarik tangan Gendis dengan paksa keluar dari rumah tersebut.

"Lepas ... lepaskan aku." Gendis meronta, berusaha melepaskan tangan Dirga yang mencengkeram kuat tangannya.

"Jalan, dan masuk ke dalam mobil kalau kamu masih ingin melihat orang tuamu hidup!" ancam Dirga sambil mendorong tubuh Gendis masuk ke dalam mobil.

Sepanjang perjalanan, Gendis tak henti menangis.

Apalagi mengingat apa yang telah terjadi di ruangan itu, membuat Gendis benar-benar merasa benci dengan Dirga, laki-laki yang belum lama menjadi suaminya.

****

"Turunlah, kita sudah sampai," Perintah Dirga begitu mobil sudah berada di halaman sebuah rumah yang cukup luas.

"Aku tidak mau!" tolak Gendis.

"Kamu mau turun sendiri, atau aku akan menyuruh anak buahku menyeretmu keluar dari dalam mobil?!" Hardik Dirga.

Gendis menatap wajah Dirga penuh kebencian. Dia memang tidak takut dengan laki-laki itu, tapi , untuk melawannya pun juga tidak mungkin.

Dengan terpaksa, Gendis menuruti perintah Dirga untuk keluar dari dalam mobil.

Begitu berada di luar mobil, Dirga mendorong tubuh Gendis untuk berjalan hingga membuat nya hampir jatuh tersungkur.

Dengan sedikit terseok, sakit di pangkal pahanya membuat Gendis meringis menahan sakit.

"Jalan cepat, jangan membuatku hilang kesabaran," bentak Dirga dari belakang.

"Aku ... aku sakit sekali," rintih Gendis.

Namun Dirga tidak menghiraukan rintihannya.

"Kamu lihat apa yang ada di sana?" tanya Dirga sambil menunjuk ke arah dua ekor anjing yang terikat rantai.

Gendis bergidik melihat dua ekor anjing penjaga yang terlihat begitu garang.

"A--apa maksumu?" tanya Gendis dengan mata terbelalak.

"Kalau kamu tidak bisa berjalan lebih cepat, maka aku akan melepaskan salah satu untuk membuatmu berlari."

Mendengar itu, dengan sekuat tenaga Gendis berusaha mempercepat langkahnya.

Dia merasakan pangkal pahanya begitu sakit dan cairan hangat merembes keluar.

Air mata meleleh di pipi Gendis, karena dia harus menahan rasa sakit hati sekaligus sakit di tubuhnya.

"Tania, bawa dia ke kamar lantai atas," perintah Dirga pada seorang wanita berpakaian seksi yang dia panggil dengan nama Tania, begitu mereka berada di dalam rumah besar itu.

Wanita seksi bernama Tania itu, memapah tubuh Gendis dan membantunya berjalan menuju sebuah kamar yang berada di lantai atas.

Begitu berada di dalam kamar, Tania berkata pada Gendis, "Kamu pasti istri baru Dirga."

"Da--darimana kamu tahu itu?" Gendis menjawab dengan rasa penasaran.

"Karena, Dirga selalu membawa istri barunya ke rumah ini."

"Apa maksudmu?" Gendis membelalakkan matanya.

"Asal kamu tahu, kamu bukanlah satu-satunya perempuan yang dibawa ke sini oleh Dirga."

"Maksudnya apa?" tanya Gendis lagi.

"Kamu akan tahu nanti." Tania menjawab singkat dan bersiap meninggalkan Gendis, namun berhenti ketika Gendis memanggilnya.

"Tunggu, jangan pergi dulu. Katakan padaku, siapa kamu?"

Tania membalikkan tubuhnya, lalu menjawab,

"Aku adalah istri pertama Dirga."

Setelah menjawab pertanyaan Gendis, Tania meninggalkannya sendiri di kamar.

Gendis terduduk lemas di atas tempat tidur, sambil menahan rasa sakit, sementara dari pangkal pahanya, cairan berwarna merah pekat merembes hingga ke kakinya.

Disibaknya gaun hitam yang dia kenakan, dan begitu melihat, dia menjerit.

Haaaa.....

Gendis panik melihat darah di kakinya, dan teriakan paniknya ternyata terdengar oleh Dirga, dan membuatnya bergegas naik ke lantai atas menuju kamar Gendis.

Ceklek....

Daun pintu kamar dibuka dari luar, lalu Dirga masuk dan melihat Gendis terisak di sudut tempat tidur.

Dirga melihat kaki Gendis yang ada bercak darahnya, lalu dia berdecak.

"Jangan seperti anak kecil, itu hanya luka biasa dan akan sembuh setelah minum ini. Kamu tahu, karena itulah, kamu dihargai cukup mahal oleh pelangganku."

Dirga melemparkan sebuah botol kecil berisi obat ke arah Gendis.

"Kamu jahat Dirga, benar-benar jahat!" maki Gendis. Sementara Dirga hanya menyeringai melihat Gendis menangis.

Seolah, tangisan Gendis adalah sebuah hiburan tersendiri baginya.

"Aku memang jahat, dan kamu akan tahu bahwa aku sebenarnya lebih dari jahat dari yang kamu bayangkan."

Gendis mengepalkan kedua tangannya menahan marah, sementara Dirga berdiri di depannya bak monster lapar.

"Apa sebenarnya tujuanmu menikah denganku?" tanya Gendis.

Mendengar pertanyaan Gendis, Dirga tertawa terbahak-bahak.

Ha ha ha ha ....

"Tidak kah kau lihat gadis-gadis yang ada di bawah tadi?"

Dirga mendekatkan wajahnya ke wajah Gendis.

"Mereka, gadis-gadis yang kamu lihat di bawah tadi, sebagian adalah istriku."

"Apa maksudmu?" tanya Gendis tidak mengerti.

"Sebaiknya kamu tidak perlu tahu."

Lalu, Dirga keluar kamar meninggalkan Gendis. Namun sebelum dia membuka pintu, Dirga menoleh dan berkata, "Minumlah obat itu, karena sebentar lagi kamu harus bekerja untukku."

Dipandanginya punggung Dirga yang kemudian menghilang dibalik pintu.

Gendis melempar banta ke pintu melempiaskan kekesalannya.

****

Tok tok tok ....

Sebuah ketukan di kamar.

To tok tok ....

Ketukan itu kembali terdengar, setelah beberapa saat, pintu perlahan terbuka.

Seorang gadis sebaya dengan Gendis masuk membawa sebuah nampan berisi makanan.

Gendis memperhatikan gadis itu, dan dia tersenyum ke arah Gendis. Dalam hati, Gendis berpikir bahwa gadis itu adalah gadis baik.

"Apakah kamu juga istri Dirga?" tanya Gendis ragu.

Gadis itu menatap Gendis, kemudian dia menggeleng.

"Apakah kamu anak buah Dirga, dan bekerja untuknya?" Gendis bertanya lagi.

Gadis itu menatap Gendis lama, lalu dengan pelan dia berkata, "Namaku Suli." Gadis itu memperkenalkan diri.

"Suli, kenapa kamu ada di sini?" tanya Gendis lagi.

"Aku-- aku ... dijual oleh bapak tiriku."

"Apa?" Gendis hampir saja memekik begitu mendengar jawaban Suli, namun buru-buru menutup mulutnya.

"Maaf, aku harus pergi."

"Tunggu, jangan pergi dulu." Gendis memegang tangan Suli dan memintanya untuk tidak buru-buru pergi.

"Aku takut, ada anak buah Dirga di luar," ucap Suli lirih.

"Kamu harus berhati-hati dan jaga dirimu, jangan sampai membuat Dirga marah. Atau kamu akan dihajarnya."

"Dirga menghajarmu?" tanya Gendis sambil menatap Suli.

Kemudian suli memperlihatkan lengan kirinya, di sana terlihat banyak sekali memar bekas pukulan.

Gendis terbeliak melihat luka di tangan Suli.

"Dirga adalah orang jahat, dia akan menyiksa siapa saja jika ada yang berani melawan atau menolak melayani tamu yang datang. Maaf, aku harus pergi."

Suli kemudian meninggalkan Gendis yang masih syok dengan apa yang dia lihat dan dengar.

Gendis baru menyadari, rupanya saat ini, dirinya berada di dalam kandang srigala, yang kapan saja siap menerkam dirinya.

Gendis bingung sekaligus takut, hingga membuatnya mondar-mandir di dalam kamar, sambil sesekali membuka gorden, melihat keluar jendela, mencari cara untuk bisa lepas dari jeratan para durjana yang ada di rumah itu.

Akan tetapi, setiap kali melihat para penjaga dengan tubuh kekar, membuat nyali Gendis menciut, terlebih ketika dua ekor anjing besar yang tadi dilihatnya, menggonggong keras.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Istri Di Atas Kertas Sang CEO
8.1
Shania, gadis 19 tahun, terpaksa menyetujui pernikahan kontrak dengan Steven demi biaya pengobatan ibunya. Steven adalah CEO perusahaan limbah kimia yang dingin dan enggan berurusan dengan wanita. Namun, demi memenuhi tuntutan adiknya, ia menawarkan satu miliar rupiah kepada Shania. Imbalannya, Shania harus bersedia diperbudak lewat kesepakatan tertulis. Kini, Shania harus bertahan menghadapi berbagai taktik kejam Steven dalam ikatan formalitas tersebut.
Sampul Novel Kau Hancurkan Lipstikku
8.2
Demi lipstik baru, Luna mengabaikan peringatan Rama untuk berhemat saat belanja. Luna nekat membelinya diam-diam, memicu amarah Rama. Sebagai hukuman, Rama mencoret wajah Luna dengan lipstik itu, berharap sang kekasih jera dan menyesali perbuatannya. Namun, perkiraan Rama meleset total. Bukannya takut, Luna justru kembali menemuinya sambil membawa sepuluh lipstik baru lainnya.
Sampul Novel Ketika Dokter Menentang Perwira
7.8
Dokter ortopedi gila kerja, Nayra Adeline, tewas kelelahan setelah operasi 48 jam. Ia mendadak terbangun di Bandung tahun 1975 dalam tubuh Ratri Larasati, perempuan malas bertubuh tambun yang dibenci di asrama militer. Nayra pun harus menghadapi sikap dingin suaminya, Kapten Ardan Wicaksana, yang enggan menyentuhnya akibat reputasi buruk Ratri. Di tengah segala keterbatasan masa lalu, ia berjuang keras demi memperbaiki kehidupan barunya.
Sampul Novel Membawa Kabur Benih Presdir
8.8
Kebahagiaan Aurora Winters sirna seketika saat mengetahui dirinya hamil. Sang suami, Julian Ryder, sejak awal telah menegaskan keengganannya memiliki anak dalam pernikahan mereka. Berada di posisi sulit antara naluri keibuan dan penolakan keras sang suami, Aurora bertekad bulat untuk tidak menggugurkan kandungannya. Demi menyelamatkan sang buah hati, ia pun mulai menyusun sebuah rencana rahasia untuk pergi dan menyembunyikan kehamilannya dari Julian.
Sampul Novel My Mysterious Husband
9.7
Dua kali gagal menikah membuat Elsa Anindita menutup rapat hatinya. Saat putus asa, ia menerima tawaran kawin kontrak dari Alvaro, pria difabel yang sebenarnya adalah CEO sukses yang sedang menyamar. Elsa bersedia menikah demi mahar 500 juta rupiah. Namun, pernikahan ini menyimpan rahasia besar. Alvaro ternyata adalah Dika, pria dari masa lalu yang dulu meninggalkannya di pelaminan. Akankah cinta mereka bersemi kembali di tengah rahasia ini?
Sampul Novel Pembuktian Cinta
7.9
Bram bertekad membuktikan rasa cintanya pada teman masa kecil yang menyelamatkannya saat tragedi pembantaian keluarganya terjadi. Bertahun-tahun terpisah demi bertahan hidup, takdir mempertemukan mereka kembali. Demi melindungi sang kekasih dari tuduhan keji, Bram bahkan rela dipenjara. Sayang, pengorbanan itu berbalas kepedihan karena sang wanita tak pernah datang menjenguknya. Usai bebas, akankah Bram menemukan kebahagiaan atau justru melihatnya bersama pria lain?