
Rencana Licik Kakak Ipar
Bab 2
Satu jam kemudian, dokter memberiku hasil USG kandunganku. Aku mengerutkan kening, ingin mengatakan sesuatu, tetapi mengurungkannya.
Jantungku berdegup kencang. Aku meraih lembar USG yang menunjukkan bahwa janin berhenti berkembang.
"Bu Ellia, janin Ibu sudah hampir seminggu nggak mengalami perkembangan. Usia janin baru lima bulan, jadi lebih baik dilakukan induksi sekarang ...."
Dokter itu masih mengatakan sesuatu, tetapi aku tidak mendengarkan apa pun. Yang terdengar di telingaku hanya dengungan.
Aku meraih pintu dan berlari keluar sampai ke trotoar. Aku berjongkok di sana, tidak bisa menghentikan air mataku yang terus menetes.
Janin berhenti berkembang sejak seminggu yang lalu?
Namun, jelas-jelas dua hari yang lalu di rumah sakit, Ivana mengatakan bahwa bayinya sehat!
Bagaimana ini bisa terjadi?
Bayiku, bagaimana bisa mengalami hal seperti ini?
Ivana, kenapa kamu melakukan ini padaku?
Tiba-tiba, aku teringat kata-kata Mama Laura berambut putih itu. Ya, ada Mama Laura! Mungkin dia punya solusinya!
Aku meraba-raba amplop merah yang diberikan oleh Mama Laura dan menghubungi nomornya dengan tangan gemetar. "Halo, Mama Laura, ini aku ...."
Belum selesai aku berbicara, dia menyela, "Gunakan bungkusan merah untuk membungkus uang 48.888 juta dan bawa ke gedung Merdeka nomor 21 di Jalan Pamekasan."
48.888? Mama Laura ini, seharusnya bukan penipu, bukan?
Namun, apa lagi yang bisa aku lakukan sekarang?
Demi anakku, aku harus mencoba!
Aku menyeka air mataku, berlari ke bank terdekat untuk mengambil uang tunai. Aku membungkuskan uang itu ke dalam kain merah, menghentikan taksi dan bergegas ke Jalan Pamekasan.
Sepanjang jalan, hatiku dihantui perasaan cemas, terus berdoa agar Mama Laura benar-benar memiliki cara untuk menyelamatkan anakku.
Sebelum taksi sampai di tempat itu, ponselku berdering. Ternyata Rigel yang menelepon. Dia bertanya, "Ellia, buat apa kamu ambil uang sebanyak itu?"
Tiba-tiba aku teringat bahwa aplikasi perbankan di ponsel Rigel terhubung dengan kartuku. Jadi, dia pasti tahu tentang uang tunai yang aku ambil.
Ivana adalah adik perempuannya. Apa aku harus memberitahunya tentang Ivana yang menukar janin di dalam kandunganku menggunakan parasit?
Namun, aku teringat kalau mereka berdua sudah tidak memiliki orang tua sejak kecil dan saling bergantung sejak kecil. Mereka memiliki hubungan yang sangat baik, jadi aku memutuskan untuk mencari tahu semuanya terlebih dahulu. Jadi, aku menjelaskan dengan tergagap, "Itu ... temanku tiba-tiba datang dan ingin pinjam uang. Kebetulan aku ada di dekat bank, jadi aku ambil tunai ...."
Rigel menarik napas panjang, lalu mengatakan, "Kamu di mana sekarang? Ke supermarket kenapa lama sekali? Ivana khawatir karena nggak melihatmu ketika sampai di rumah."
Ivana. Ketika mendengar nama ini, jari-jariku yang memegang ponsel sedikit gemetar. Aku hanya menjawab, "Aku ambil uang buat dipinjamkan ke temanku. Mungkin akan pulang sedikit lebih lama."
Aku tidak menunggu Rigel mengatakan sesuatu yang lain dan langsung menutup telepon. Aku takut dia akan mengajukan pertanyaan lebih lanjut dan membuat dia sadar akan sesuatu.
Setelah menutup telepon, setiap sepuluh menit, Rigel mengirimiku pesan yang menanyakan keberadaanku.
Perasaan ini terlalu aneh. Rigel tidak pernah sepeduli ini kepadaku sebelumnya.
Mengikuti alamat yang diberikan oleh Mama Laura, aku melangkah menuju sebuah bangunan kecil berlantai tiga.
Ketika masuk ke dalam rumah, aroma herbal yang begitu kuat langsung tercium. Melalui cahaya redup, aku bisa melihat bahwa rumah ini dipenuhi dengan berbagai macam botol dan stoples. Beberapa di antaranya terdapat kertas jimat kuning yang menempel di atasnya, yang terlihat menyeramkan untuk dilihat.
"Mama Laura, dokter mengatakan kalau bayiku sudah nggak berkembang sejak seminggu yang lalu ...." Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri dan memberi tahu Mama Laura tentang kepergianku ke rumah sakit sore tadi.
Setelah mendengar ini, Mama Laura mengambil bungkusan merah yang aku serahkan dan tidak membukanya untuk menghitungnya. "Uang ini harus diserahkan untuk menangkal serangan balik dari pembersihan parasit."
"Ada harga yang harus dibayar untuk pembersihan parasit di dalam kandunganmu."
Aku mengangguk dengan gugup, lalu bertanya dengan hati-hati, "Kalau begitu, apa anakku masih bisa diselamatkan?"
Mama Laura mengulurkan tangan dan menyentuh perutku, wajahnya menjadi muram. "Roh bayi janin mati ini telah diberi makan oleh parasit selama beberapa hari. Perkembangan parasit ini menjadi lebih baik dan sudah mulai menjadi parasit di dalam tubuhmu. Sulit untuk dibersihkan, tapi bukan nggak mungkin buat dihilangkan."
Sambil berkata demikian, dia mengeluarkan sebuah stoples keramik hitam dari bawah kotak dupa yang berisi tanah liat hitam.
Sebelum aku sempat bereaksi, ponselku tiba-tiba berdering. Itu adalah pesan dari Ivana. "Ellia, kamu di mana? Cepat pulang, aku sudah membuatkanmu sup ikan, nih."
"Kenapa nggak balas? Sup ikan baik buat wanita hamil, jadi kamu harus memakannya."
Aku tidak berani membalas pesannya. Beberapa menit kemudian, dia mengirim pesan lain yang membuatku merinding. "Ellia, kamu ada di Jalan Pamekasan, aku akan menjemputmu sekarang juga."
Aku mendongakkan kepala dan menatap mata Mama Laura.
Anda Mungkin Juga Suka





