APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Rebirth Second Chance: Back to 80's

Rebirth Second Chance: Back to 80's

Penyesalan mendalam membayangi kematian Ming Yue di masa lalu, di mana hanya Ding Xi, sang kakak ipar, yang tulus meratapi kepergiannya. Sementara itu, Ming Yue baru menyadari pengkhianatan kejam dari suami dan sepupunya sendiri. Kini, takdir ajaib membawa mereka kembali ke masa lalu. Di kehidupan kedua ini, mereka dihadapkan pada pilihan: membalas dendam atau fokus merajut kebahagiaan berdua. Ming Yue dan Ding Xi pun bertekad melindungi cinta tulus mereka kali ini.
Bab
Bagikan

Bab 2

Setelah menunggu lama, ayah menghampiriku. Sepertinya ayah berhasil menjual biri-biri itu dengan harga yang bagus. Mukanya terlihat berseri-seri.

"Ming yue ayo kita berbelanja, ayah akan membelikan apa saja yang kau mau." Ayah tersenyum lebar sambil menggandeng tanganku.

"Benarkah ayah? Kalau begitu ayo beli anak ayam, bebek dan bibit ikan mas. Aku ingin memeliharanya ayah." Aku menatap ayah dengan mata berbinar-binar.

Aku harus membuat ayah membeli hewan-hewan ternak itu untuk mendukung keluarga kami. Dengan beternak itu akan lebih banyak menghasilkan uang. Setidaknya bisa memenuhi kebutuhan protein untuk keluarga kami.

"Baiklah baiklah, ayah akan membelikannya untukmu. Tapi kau harus berjanji untuk merawatnya dengan sungguh-sungguh."

Aku menganggukkan kepalaku dengan kuat menyatakan keteguhanku. Ayah mengajakku ke pedagang ayam dan bebek. Kami membeli lima ekor anak ayam dan bebek.

Setelah itu kami melanjutkan membeli bibit ikan mas dan gurami. Ayah agak ragu untuk membelinya karena kami tidak memiliki kolam ikan.

"Ayah, nanti aku akan meminta Paman pertama dan sepupu untuk membuatkanku kolam ikan." Aku menatap polos ayahku. Dan akhirnya ayah membeli bibit-bibit ikan itu untukku.

Aku berencana untuk memelihara ayam, bebek dan ikan selain biri-biri. Dengan begitu pemasukan kami tidak hanya tergantung dari pekerjaan ayah di proyek dan ternak biri-biri.

Setelah membeli hewan ternak, ayah mengajakku membeli baozi dan susu kedelai. Kami juga membeli beberapa untuk Paman Wang. 

Ayah memberikan baozi itu pada Paman Wang dan kami melanjutkan berbelanja. Kami harus membeli beras, tepung terigu, tepung gandum, minyak, telur dan masih banyak lagi. 

"Ayah kita belikan Nenek sekalian ah." Aku menarik ujung kemeja ayah saat di toko sembako. Ayah menoleh dan mengerutkan keningnya. Biasanya dia hanya memberi uang pada ibunya. Ibunya sangat mencintai perak dibandingkan apa pun. 

"Kalau ayah hanya memberi uang, pasti akhirnya uang itu dihabiskan Sepupuku. Dan Nenek akan meminta lagi pada Ayah atau Paman pertama untuk membeli bahan makanan."

Aku berkata dengan nada sebal dan memasang wajah cemberut pada ayah. Yang aku katakan pada ayahku memang benar. 

Hal seperti itu terjadi berulangkali. Sudah sering ayah ataupun paman menegur tapi nenek akan selalu membuat keributan. Akhirnya ayah dan paman mengabaikannya. 

Namun itu sangat merugikan ayah dan paman pertama dan menguntungkan paman ketiga. Aku tidak ingin nenek dan paman mengambil keuntungan dari ayahku lagi. 

"Baiklah kita akan membelikan nenekmu bahan makanan yang cukup untuk satu bulan," ayah akhirnya memutuskan setelah berpikir beberapa saat. Ayah pasti tahu maksudku. 

Ayah sudah berusaha untuk meminimalkan dukungannya untuk nenek tapi nenek selalu menuntut lebih. Nenek selalu beralasan itu karena ibuku tidak melahirkan seorang putra. Jadi ayahku harus mendukung keponakan laki-lakinya. 

Ayahku berkali-kali menolak. Dia tidak keberatan mendukung orangtuanya namun dia tidak mampu jika harus mendukung keluarga kakaknya. Dan setiap kali beradu argumen nenek pasti akan berakting menangis, berguling-guling dan akhirnya pingsan. Dengan begitu ayah selalu kalah. 

Setelah membeli bahan makanan, ayah mengajakku membeli bahan pakaian dan keperluan mandi. Ayah juga membelikan hal-hal itu untuk nenek. 

Sepertinya ayah bertekat untuk memotong subsidi uang untuk nenek, aku tersenyum. Ayahku bukan orang bodoh namun terlalu mengalah pada ibunya. 

"Ayah lihat toko bangunan itu, sepertinya mereka mencari pegawai. Apakah ayah tidak ingin mencobanya?"

Lowongan pekerjaan

Saat melewati toko bangunan aku melihat pamflet yang tertempel di tembok. Aku menunjukkannya pada ayah. 

Ayah membaca pamflet itu dan menatapku seakan meminta persetujuanku. Aku menganggukkan kepalaku. 

Ayah memintaku menunggu di depan toko itu. Sementara dia masuk ke dalam toko untuk menemui pemilik toko. 

Aku punya alasan tersendiri untuk menggiring ayah bekerja di toko itu. Pemilik toko itu sangat terkesan dengan pekerjaan ayah saat tahun lalu ada proyek pengaspalan jalan. Dia ingin mempekerjakan ayah di tokonya, sayang ayah menolaknya. 

Pada waktu itu aku tak tahu alasan ayah menolak tawaran pekerjaan itu. Namun akhirnya aku mengetahuinya dari sepupuku yang cantik dan baik hati itu. 

Nenek yang meminta ayah menolak agar paman ketiga bisa bekerja di toko itu. Dan kehidupan keluarga paman ketiga membaik sejak saat itu. 

Dan yang paling terpenting aku harus menghindarkan ayah dari kecelakaan yang menimpanya di proyek pembangunan pabrik . Karena kecelakaan itu kesehatan ayah semakin menurun dan akhirnya meninggal dunia satu tahun setelah kecelakaan itu. 

Kali ini aku akan memastikan ayah mendapatkan pekerjaan di toko itu. Mungkin itu tidak bisa merubah kematian ayah, namun setidaknya bisa merubah keadaan keluarga kami. 

Setelah lama menunggu ayah keluar dari toko itu. Dia terlihat sangat bersemangat. Aku tersenyum menyambutnya. 

"Ayah bagaimana? Bisakah kau bekerja di toko itu?" 

Ayah hanya tersenyum dan mengembangkan lengannya untuk memelukku. Kemudian ayah berjongkok di depanku dan menggenggam tanganku. 

"Ming yue, mulai hari ini ayah berjanji untuk melindungimu, adikmu dan juga ibumu. Kau tak perlu khawatir, ayah tidak akan membiarkan siapa pun menggertak kalian."

Dari kata-kata-kata ayah aku tahu ayah berhasil mendapatkan pekerjaan itu. Dan karena itu ayah bertekat untuk tidak mengalah pada siapa pun meski itu nenek. Aku tersenyum senang. 

"En … aku percaya ayah pasti bisa. Aku akan membantu ayah sebisaku." Aku menganggukkan kepalaku dengan kuat. 

"Mari kita pulang." Ayah menggandeng tanganku dan mengajak pulang. 

Penyebab biasnya nenek

Kali ini kami bertiga menaiki gerobak paman Wang. Sepedaku diangkut di dalam gerobak bersama dengan barang-barang belanjaan kami. 

Sepanjang perjalanan pulang ayah mengajakku mengobrol. Sementara paman Wang hanya mendengarkan dan tersenyum lembut. 

"Ming yue, apa sepupumu sering seperti itu?" Ayah bertanya tentang perilaku Tang zhiyin. 

"Iya ayah, setiap kali aku mendapat nilai lebih tinggi darinya dia pasti akan memarahiku. Kadang dia akan menuduhku mencontek."

Ayah menepuk-nepuk kepalaku dengan lembut. Ayah tahu nilaiku selalu lebih bagus daripada nilai sepupuku itu. 

"Nenekmu terlalu memandang tinggi putra putri paman ketigamu, namun kau tak perlu berkecil hati."

Aku menganggukkan kepalaku. 

"Ayah kenapa nenek sangat pilih kasih terhadap kita? Dan selalu melebih-lebihkan sepupu Zhiyin? Apa pun yang kulakukan selalu salah di mata nenek. Dan aku juga tidak boleh mengunggulinya? Apa salahku ayah?"

Aku menatap ayah dengan polos. Sebenarnya pertanyaan ini selalu ingin kutanyakan sedari dahulu. Dalam kehidupanku yang dulu aku tak mendapatkan jawaban yang pasti atas pertanyaan ini. 

Ayah tertegun mendengar pertanyaan-pertanyaanku yang bertubi-tubi. Ayah menghela napas pelan sebelum menjawab pertanyaanku. 

"Ming yue, sebenarnya ayah juga tidak tahu pasti penyebab biasnya nenekmu terhadap kita. Mungkin itu karena dulu nenek sangat berharap pada paman ketigamu. Nenek bersikap sama seperti ini sewaktu ayah dan pamanmu masih kecil."

Aku mendengarkan cerita ayah dengan serius. Baru kali ini, baik dalam kehidupan lalu dan sekarang, ayah bercerita tentang masa kecilnya juga hubungannya dengan nenek dan saudara-saudaranya. 

"Nenek sangat menyayangi paman ketiga karena dia pandai berbicara dan pandai mengambil hati nenekmu. Paman ketigamu sebenarnya cukup pandai, namun dia tidak pernah mau berusaha lebih keras. Waktu itu ayah dan paman ketigamu mendaftar di militer, namun pamanmu gagal. Semenjak itulah nenek sangat tidak menyukai ayah."

Haih aku baru menyadari ternyata itu pangkal masalahnya. Pantas nenek sering mengataiku dan ayah sebagai bintang pembawa sial untuk paman ketiga dan sepupuku. 

"Tapi ayah, bukankah kegagalan paman tidak ada hubungannya dengan ayah?" Aku bertanya pada ayah dengan heran. 

"Itu benar. Namun nenekmu menganggap seharusnya pamanmu yang diterima. Itu sama dengan sikapnya terhadapmu dan sepupumu. Nenekmu tidak pernah mau mengakui kenyataan. Sudahlah jangan terlalu kau pikirkan."

Ayah kembali menepuk-nepuk kepalaku dengan sayang. Aku menyandarkan kepalaku di bahu ayah. 

Sekarang aku mengerti, nenek adalah tipe orang kuno yang keras kepala. Dia tidak memahami dan tidak mau mengerti kenyataan hidup. 

Nenek hanya mendengarkan dan mempercayai kata-kata paman, bibi dan sepupu-sepupuku tanpa pernah berusaha mengecek kebenarannya. 

Harus memisahkan keluarga

Haaih kalau sudah begini tidak ada gunanya berbicara pada nenek. Satu-satunya cara adalah menjauhinya juga memotong jalurnya untuk menekan keluarga kami. 

Dengan kata lain, aku harus membujuk ayah untuk melakukan pemisahan keluarga. Dengan begitu nenek tidak akan bisa ikut campur atau pun menekan keluargaku. Namun cukup sulit untuk meyakinkan ayah agar mau memisahkan keluarga. 

Tapi dengan kejadian terlukanya kepalaku akibat didorong sepupuku, mungkin dapat meyakinkan ayah untuk mulai berpikir memisahkan keluarga kami dari keluarga inti. 

Aku tahu ayah sangat kecewa, saat mendengar Tang zhiyin menuduhku iri dan membingkainya. 

Saat itu Tang zhiyin menangis sedih di depan nenek dan ibunya. Mereka berdua memarahiku habis-habisan seakan-akan Tang zhiyinlah yang terluka. 

Meski pada kenyataannya akulah yang terluka karena saat didorong Tang zhiyin, kepalaku terantuk batu. Namun tak seorang pun mempercayaiku apa lagi berusaha menolongku. Sampai ayahku datang.

Ayah melihat dan mendengar sendiri apa yang dikatakan dan diperbuat oleh mereka bertiga. 

Di mata keluargaku juga masyarakat desa, Tang zhiyin seperti bidadari. Dia cantik dan pintar. Dia juga pandai mengambil hati semua orang. 

Dia secantik dan semurni lotus putih. Mungkin hanya aku yang tahu warna aslinya. Dia hanya seorang gadis yang manja, angkuh dan selalu ingin menang sendiri. 

Di sekolah Tang zhiyin bukanlah murid terpandai. Namun dia selalu bersikap seakan-akan dialah murid teladan dan favorit di sekolah. 

Apa lagi bibiku, ibu Tang zhiyin, gemar membanggakan putrinya itu. Jadi di mata penduduk desaku, Tang zhiyin adalah bunga yang indah sedangkan aku hanya setumpuk lumpur kotor. 

Memang tak banyak anak-anak di desaku yang sekolah menengah di kota. Karena selain jauh juga lebih mahal. Aku bersekolah di kota karena mendapatkan beasiswa. 

Namun tak seorang penduduk desa pun yang tahu. Karena nenek mengancam kami untuk tidak mengatakan hal ini pada mereka. Dia merasa seharusnya beasiswa itu untuk Tang zhiyin. Dia marah padaku dan orangtuaku. 

Saat itu ayah dan ibu berdiam diri karena tidak ingin ada keributan. Tapi mereka tidak menyangka nenek justru akan semakin menekan keluargaku.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anak Kembar Sang Mafia
9.3
Satu malam bersama Wilson Zavierson, bos mafia Dragon, mengubah hidup Viyone Florencia hingga ia hamil. Namun, Viyone justru menikah dengan Jeff. Nasib malang menimpa putra mereka, Chris, yang kerap disiksa Jeff sampai nyaris tewas. Di tengah kehancuran Viyone akibat dikhianati Jeff, Wilson hadir menyelamatkannya dari jeruji besi. Viyone pun syok saat tahu siapa penolongnya. Mampukah Wilson melindungi mereka dan menyatukan kembali putra kembar mereka yang terpisah?
Sampul Novel Di Mana Sayap Tumbuh
8.9
Dalam sekuel The Maid and the Young Heir ini, Amelia menyimpan rahasia kelam sebagai seorang ibu. Sementara Luciano berupaya melindungi keluarganya, bayang-bayang masa lalu kembali datang mengancam. Gabriel, sang putra sulung, mulai dilingkupi keraguan, sedangkan Isabelita menghadapi bahaya di tanah rantau. Di tengah ancaman balas dendam dari musuh lama, Amelia dihadapkan pada pilihan sulit demi keselamatan orang-orang tercinta. Kisah penuh cinta tentang keberanian melepaskan.
Sampul Novel Kisah Cinta sang Kurir
8.0
Menjadi kurir pesan antar membawa protagonis pada situasi tidak terduga saat ia mengirimkan pesanan dari toko mainan dewasa. Di lokasi pengantaran, ia mendapati seorang wanita cantik tanpa busana tengah berlutut di ranjang dengan pakaian dalam minim. Keadaan kian mengejutkan ketika sebuah pesan masuk di aplikasi pengirimannya. Sang pemesan menawarkan bonus sebesar 200 juta rupiah jika ia bersedia mengeluarkan mainan elektrik tersebut untuk membuat wanita itu merasa nyaman.
Sampul Novel Never Move On
9.6
Hubungan Nico dan Nina kandas saat kuliah karena terhalang restu orang tua, hingga Nico pergi ke Amerika. Enam tahun kemudian, Nina yang sebatang kara dan kehilangan rumah harus bekerja menjaga apartemen kosong. Kejutan datang saat Nico kembali sebagai pemilik tempat tersebut. Karena Nina tidak memiliki tempat tinggal, Nico memperbolehkannya menetap. Tinggal bersama membuat mantan kekasih ini harus berbagi ruang lewat aturan ketat demi menjaga profesionalitas.
Sampul Novel Pacar baru untuk jutawan
9.1
Setelah dikhianati istrinya yang berselingkuh dengan pria lebih muda, David larut dalam rasa sakit yang tak berkesudahan. Ia memutuskan mengambil Hanna—perempuan yang 14 tahun lebih muda—untuk menjadi sugarbaby kontrak. Tugasnya sederhana: berpura-pura menjadi pacar David demi membuat mantan istrinya cemburu dan kembali bertobat dalam pelukannya. Hubungan mereka semata bisnis, terlarang, dan hanya di atas kertas. Namun seiring waktu, tembok itu runtuh. David justru jatuh cinta pada Hanna, dan rupanya perasaan itu berbalas. Romansa yang lazim pun tumbuh di tengah larangan. Tapi kebahagiaan mereka harus diuji oleh jurang perbedaan usia, ledakan kecemburuan, rentetan kebohongan, hingga kemarahan mantan istri yang bertekad merebut kembali semua yang hilang.
Sampul Novel Syahadat Cinta
9.5
Keraguan mendalam kini menyelimuti hati Adibah Rania Zahara. Melalui selembar surat, ia mengungkapkan rasa cintanya kepada sang Ustaz, sekaligus kegelisahan akan impian besarnya yang dirasa sulit terwujud jika terus bertahan di lingkungan pesantren. Menghadapi situasi tersebut, Adib Ahda Zahiri merespons dengan bijak. Walau statusnya telah mengkhitbah Adibah, ia memilih berlapang dada dan merelakan ikatan mereka demi masa depan bersama yang lebih baik.