APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ratu Kerajaan Niskala

Ratu Kerajaan Niskala

Candra Utari, pewaris takhta Niskala, harus menghadapi ancaman dari saudara tirinya: Sekar Buana, Lintang Alit, dan Pupus Cantika. Setelah mendalami ilmu kanuragan dari Ratu Arum di Perguruan Langit Ageng, ia berhasil mendirikan Kerajaan Wulan Katigo yang sejahtera. Ketika Niskala terancam runtuh akibat pemberontakan, Candra menyamar sebagai Pangeran Layang Jembar demi menolong ayahnya. Namun di medan perang, muncul pasukan bertopeng misterius yang menjadi teka-teki baru baginya.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Bagaimana keadaan Ibu?" tanya Putri Candra Utari pada Ki Bimo, tabib istana yang menangani Dewi Arum.

Lelaki tua berjenggot panjang warna putih itu hanya menggelengkan kepala. Wajahnya terlihat muram. Tangannya sibuk memilah beberapa helai daun bermacam bentuk yang ada di atas meja kecil di hadapannya.

Sesekali Ki Bimo menoleh ke arah Dewi Arum yang tengah terbaring di atas tempat tidurnya. Sekilas nampak seperti seseorang yang tertidur pulas. Tarikan nafanya teratur, terlihat dari gerak naik turun di dadanya.

"Dedaunan dan akar-akar tanaman yang saya butuhkan masih sangat kurang, Kanjeng Putri. Harapan saya satu-satunya pada ramuan yang tadi saya berikan pada panjenengan. Di mana ramuan itu?" tanya Ki Bimo.

Putri Candra Utari menundukkan kepala dalam-dalam. Ada sesal dan kecewa yang membuncah dalam dadanya. Mengapa dia tadi tidak bersikap waspada saat membawa ramuan obat itu ke dapur puri istana, hingga Putri Lintang Alit dapat menumpahkan isinya?

"Saat saya kembali dari dapur puri istana, menambahkan air perasan kunyit seperti yang panjenengan perintahkan, bokor yang saya bawa terjatuh, Ki," ujar Putri Candra Utari dengan suara perlahan dan lirih.

"Hah?! Bagaimana hal itu bisa terjadi, Kanjeng Putri?" Ki Bimo menepuk keningnya. "Akar tanaman sebagai bahan dasar ramuan itu sangat sulit didapatkan. Dan hanya itu obat untuk Kanjeng Ratu."

Air mata Putri Candra Utari menitik. Rasa bersalah yang begitu besar tak mampu dia tepiskan dari hatinya. Tak mampu pula dia angkat wajahnya untuk membalas tatapan sendu Ki Bimo yang seperti sudah kehilangan harapan.

"Ijinkan saya untuk mencari akar tanaman itu, Ki. Saya akan lakukan apapun demi keaembuhan ibu saya." Suara Putri Candra Utari terdengar parau.

Ki Bimo menggeleng lagi. "Tidak bisa, Kanjeng Putri. Hanya saya sendiri yang bisa mendapatkan akar tanaman itu. Karena membutuhkan do'a dan ritual tertentu."

Ki Bimo lantas berdiri. Mengambil sebilah pedang pendek yang dia letakkan di atas meja besar di sudut kamar. Mengemasi beberapa barang yang ada di atas meja ke dalam kantong kain, dan kembali bersimpuh di hadapan Putri Candra Utari.

"Saya berangkat dulu, Kanjeng Putri. Hendak mencari akar tanaman itu. Saya hanya minta tolong, setiap pagi dan sore, tempelkan tumbukan dedaunan ini di kening Kanjeng Ratu. Sekitar tiga hari lagi, saya pasti sudah tiba." Ki Bimo menghaturkan sembahnya pada Putri Candra Utari

Tanpa menunggu jawaban dari Sang Putri, Ki Bimo bergegas pergi dari hadapan Putri Candra Utari. Berjalan cepat menuju ke halaman depan keputren. Suara siulnya nyaring terdengar ketika memanggil kuda hitam kesayangannya, Rikmo Ireng

Ki Bimo telah pergi menjauh dari istana Kerajaan Niskala. Memperjuangkan pengobatan buat wanita utama dalam pemerintahan Kerajaan Niskala. Sang Ratu Dewi Arum. Yang tengah menderita sakit mendadak. Sekujur tubuhnya lemas dan Sang Ratu sering hilang kesadaran.

Suara langkah memasuki kamar Dewi Arum, membuat Putri Candra Utari segera menghapus air matanya. Mendongakkan kepala dan mengangkat wajah hingga lurus ke depan.

Putri Candra Utari hafal itu suara langkah siapa. Langkah yang berat dan berjalan dalam tempo yang teratur. Langkah kaki yang mampu menggetarkan hati setiap penghuni istana.

"Bagaimana keadaan Kanjeng Ratu Dewi Arum, Cah Ayu?" tanya Raden Eka Kencono kepada Putri Candra Utari yang tengah bersimpuh di samping tempat tidur Dewi Arum.

"Hatur sembah dalem, Kanjeng Romo. Ramuan obat yang seharusnya diminumkan pada Kanjeng Ibu, telah tertumpah tadi. Sekarang Ki Bimo sedang mencari akar tanaman yang menjadi bahan dasar ramuan tersebut." Putri Candra Utari menghentikan kalimatnya sesaat. Menelan ludah yang tetiba terasa sangat pahit. "Jadi keadaan Kanjeng Ibu sekarang masih belum ada kemajuan, Kanjeng Romo."

Raden Eka Kencono menghampiri Dewi Arum yang tengah terbaring di temoat tidurnya itu. Dia duduk di tepi pembaringan Sang Ratu dan mencium lembut kening Dewi Arum. Dielusnya rambut sinom yang tertata cantik di batas kening Sang Ratu.

"Aku sangat mencintai Dewi Arum. Tak akan ada satu wanita pun yang mampu menggantikan singgasana katresnan Dewi Arum di hatiku. Jika dia mangkat, tak tahu lagi bagaimana aku harus menjalani sisa hidupku." Baru kali ini Raden Eka Kencono berkata dengan suara lirih. Bahkan Ki Bagas dan Ki Dirgo, pengawal khusus Raden Eka Kencono sontak menundukkan kepala. Tak tega mendengarkan suara sendu Sang Raja.

"Kanjeng Ibu pasti sembuh," tukas Putri Candra Utari dengan suara parau. Lirih, hampir tak terdengar. Berusaha menimbulkan harapan baik dalam hatinya, meskipun akal menunjukkan sebuah ketidakmungkinan.

Burung gagak hitam besar berputar-putar di atas puri istana. Pertanda alam.

"Semoga Ki Bimo mampu mengejar waktu," gumam Putri Candra Utari penuh harap.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Kisah Cinta Di Negeri Gaib
7.9
Rencana Andrian melamar Afifa di Pulau Sempu bersama sahabat mereka berakhir tragis. Afifa, gadis indigo yang dapat menyentuh makhluk halus, terjebak di dimensi astral setelah memikat hati sosok gaib bernama Aqeel. Di tengah misteri dunia lain, Afifa berjuang keras untuk meloloskan diri. Di alam nyata, Andrian yang setia terus menanti kepulangan kekasihnya yang hilang secara misterius, serta dengan tegas menolak untuk menikahi wanita lain.
Sampul Novel MERMAID AS ALPHA'S DESTINY
9.5
Demi menyelamatkan kaum werewolf dari kepunahan, Billy sang calon raja harus mencari Catalina, reinkarnasi putri duyung Althaia. Takdir menyatukan mereka di dunia modern, namun cinta mereka terhalang rintangan mematikan. Billy membutuhkan Catalina untuk mendapatkan kekuatan, tetapi hubungan fisik dapat merenggut nyawa Catalina jika ia terlambat kembali ke air. Di bawah ancaman vampir dan monster, keduanya harus berjuang bersatu demi klan tanpa saling mengorbankan.
Sampul Novel Pelangi Di Atas Singasari
8.6
Mahesa, anak dari Arjuna dan Ken Rukmini, terseret dalam konspirasi Kerajaan Pedang Wangi di tengah ancaman Joyorono serta militer Mong. Bersama Niken Wulandari, ia memilih bermitra dengan Mong untuk melibas lawan, tetapi justru berujung dikhianati. Demi melindungi tanah airnya, Mahesa wajib membongkar misteri masa lalu dan menghidupkan daya magis pusaka Wesi Wangi. Di sela intrik takhta, ia pun menyadari bahwa pemimpin sejati harus meredam ego demi keselamatan rakyat.
Sampul Novel Penerus Para Dewa
8.7
Xiao Long tewas setelah menyelamatkan seorang anak dari penculik. Namun, di ambang kematiannya, sesosok makhluk bercahaya memberikan kesempatan hidup kedua. Terlahir kembali di dunia baru, ia dibekali ingatan dan ilmu dari para dewa. Kini, Xiao Long memulai petualangan besar demi menjadi sosok abadi yang tangguh. Ia bertekad untuk menaklukkan para dewa sekaligus menundukkan kaum demon yang menghalangi jalannya.
Sampul Novel Perempuan dan Kuasanya
8.2
Setelah suaminya menyebarkan video persalinannya ke situs terlarang, hidup wanita ini hancur akibat perundungan siber. Upaya hukum orang tuanya justru berakhir tragis dengan kematian mereka akibat ditabrak oleh pihak tergugat. Di tengah kondisi fisik yang lemah, ia diusir mertua dan suaminya pada tengah malam, lalu disiksa hingga tewas oleh sekelompok orang kejam. Jasadnya dikubur diam-diam di gunung terpencil oleh sang suami. Namun, maut bukanlah akhir. Ia tiba-tiba terbangun kembali di hari pertama ia melahirkan anaknya.
Sampul Novel Suamiku Menukar Nyawa Anakku Dengan Kekasih Gelapnya
8.8
Demi menyelamatkan putrinya yang sekarat akibat kanker pankreas, seorang ibu nekat menukar sisa umurnya dengan sistem misterius untuk mendapatkan obat penawar ajaib. Naas, sang suami justru menganggapnya gila. Pria itu dengan tega merebut obat mukjizat tersebut dan menyerahkannya kepada cinta pertamanya, hanya untuk memulihkan bekas luka kecil di wajah selingkuhannya tanpa memedulikan nyawa anaknya sendiri.