
Ratu Drama
Bab 2
Aku sama sekali tidak menyangka Rosa akan berani menamparku.
Aku yang kaget pun sampai terjatuh ke samping. Pipiku memerah dan jadi bengkak, membuatku terlihat menyedihkan.
"Kamu berani menamparku?"
"Kenapa nggak? Waktu sekolah kamu sudah pura-pura jadi diriku, bahkan mengaku sebagai putri konglomerat. Sekarang, kamu juga mau menyebarkan kebohongan bahwa vila ini bukan milik calon suamiku! Kamu memang cari mati!"
Wajah Rosa memerah karena marah, ekspresinya berubah menyeramkan saat dia mendekatiku dengan gigi terkatup rapat.
"Kamu nggak tahu siapa suamiku sebenarnya? Dia itu Pak Adam, CEO dari Grup SH! Siapa kamu, berani-beraninya meragukan status suamiku?"
Begitu kalimat barusan terlontar dari mulutnya, beberapa sahabatnya segera memandangku dengan tatapan merendahkan.
"Dengar, nggak? Suami Rosa itu Pak Adam dari Grup SH! Perusahaan itu bernilai triliunan. Hanya seorang putri konglomerat seperti Rosa yang pantas menikah dengan keluarga kaya seperti itu. Nggak seperti dirimu, Clarisa, si miskin yang hobi berbohong!"
"Dasar perempuan nggak tahu malu! Clarisa, dulu waktu masih SMA, kamu juga pura-pura jadi Rosa, 'kan? Sekarang kamu juga mau menjelek-jelekkan dia di acara pernikahannya sendiri. Cepat berlutut dan minta maaf pada Rosa. Akui saja kalau kamu ini memang iri! Kalau nggak, jangan salahkan kami kalau akan bertindak tegas!"
"Buat apa buang-buang waktu mengobrol dengan perempuan murahan sepertinya! Dia sudah berani menyinggung calon istri Pak Adam dari Grup SH! Langsung saja kita bantu Rosa memberinya pelajaran!"
Usai berkata demikian, mereka langsung menyerangku.
Salah satu dari mereka menjambakku dengan kasar, lalu menamparku keras. Bekas telapak tangannya sampai terpampang jelas di pipiku.
Aku tertegun, tidak percaya dengan apa yang sedang kualami.
Tapi sepertinya mereka belum puas. Mereka mendorongku hingga terjatuh ke lantai, dan masih terus mencaci makiku sambil menendangiku. Mereka bahkan mulai merobek baju dan menarik tasku.
Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhku, amarahku makin meluap hingga akhirnya berteriak keras.
"Hentikan! Vila ini memang milik keluargaku! Cepat pergi dari sini ...."
Mereka sempat kaget sejenak mendengar ucapanku, lalu tertawa terbahak-bahak. Kemudian mereka malah makin mengejekku.
"Ternyata penyakit suka bohong dan berpura-pura si Clarisa ini kambuh lagi. Kali ini bukan mengaku jadi putri konglomerat, malah mengaku sebagai pemilik vila ini!"
"Haha, konyol sekali! Bisa-bisanya ada orang yang nggak tahu malu begini! Dia terlalu sering bohong, makanya kata-kata barusan bisa terucap dengan mudah dari bibirnya!"
Rosa menatapku dengan tatapan merendahkan.
"Kamu memang pantas dapat pelajaran! Dulu waktu SMA, kamu juga pura-pura jadi diriku. Dulu aku masih baik hati dan nggak mau mempermasalahkannya, tapi sekarang kamu berani merusak pernikahanku? Karena sudah begini, jangan salahkan aku kalau aku nggak akan berbaik hati lagi!"
Usai mengatakan hal itu, Rosa langsung menyerangku. Dia mencakar wajah dan tubuhku dengan kuku-kuku panjangnya hingga kulitku berdarah.
Dia menarik perhiasan yang kupakai dan langsung melemparkannya ke tanah, menginjak-injaknya dengan kasar. Dia juga berani merobek pakaianku, membuatku hampir telanjang!
Aku marah hingga seluruh tubuhku gemetaran.
Aku segera mengeluarkan ponsel, hendak menelepon polisi. Tapi tiba-tiba Rosa menendang ponselku hingga terlempar jauh.
Aku menggertakkan gigi dan berkata dengan keras.
"Cukup! Vila ini memang milikku, kalau nggak percaya, kalian panggil saja penjaga vila untuk menunjukkan sertifikat vila ini!"
Mereka semua terdiam mendengar ucapanku ini.
Tiba-tiba, terdengar suara mobil dari luar, dan salah satu dari mereka berteriak.
"Rosa, penjaga vilanya datang!"
Raut wajah Rosa langsung berubah drastis, sementara aku menghela napas lega.
Akhirnya, ada seseorang yang bisa datang dan membuktikan identitasku!
Aku baru mau memanggil penjaga vila itu, tapi aku malah melihatnya langsung berjalan mendekati Rosa sambil tersenyum lebar, lalu menyerahkan kunci dengan hormat.
"Nona Rosa, hari ini Nona terlihat cantik sekali. Ini kunci dari Pak Adam."
Ekspresi wajah Rosa langsung semringah mendengarnya. Dia sengaja menunjuk ke arahku setelah menerima kunci tersebut.
"Penjaga, kamu datang tepat waktu. Ada orang gila yang bersikeras bilang kalau ini vila miliknya, coba jelaskan, sebenarnya vila ini milik siapa?"
"Omong kosong, vila ini jelas milik Pak Adam."
Penjaga itu tersenyum sopan dan seperti sedang menjilat pada Rosa.
Anda Mungkin Juga Suka





