APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Random Wife

Random Wife

Fabian Gabrilio, seorang bos sukses yang terkenal sangat pelit, mulai merasa bosan hidup melajang. Ia pun menuntut sekretaris pribadinya untuk segera mencarikannya seorang istri. Fabian bahkan memberikan ancaman yang tidak main-main: jika sang sekretaris gagal menemukan calon pasangan untuknya, maka ia sendiri yang akan dijadikan istri. Kini, sekretarisnya berada dalam situasi sulit demi memenuhi perintah ekstrem dari atasannya tersebut.
Bab
Bagikan

Bab 3

-Tampan dan mapan sudah biasa, yang dermawan baru luar biasa-

"Saya enggak pelit, kok, kalau sama keluarga, apalagi istri sendiri. Lah, saya kerja keras kan buat anak dan istri saya kelak," elak Fabian dengan raut wajah serius.

"Masak? Saya enggak percaya. Saya ini udah empat tahun jadi sekertaris Bapak. Selama ini, enggak ada tanda-tanda Bapak, enggak pelit sama keluarga," Indira masih ingat betul kalau Fabian dengan saudara perempuannya saja perhitungan. Buktinya acapkali, saudara kembar lelaki itu yang mengeluarkan uang untuk mentraktir makan siang atau apa.

"Kapan saya pelit sama keluarga saya?" Fabian mengerutkan dahinya, lalu melipat kedua tangannya di depan dada.

"Bapak aja sering pelit sama kembaran sendiri. Buktinya, kalau saudara Bapak ke sini, mau ngajak makan siang, pasti yang bayar tagihan saudara Bapak," ungkap Indira dengan senyum menyibir.

"Itu kan karena adik saya yang maksa, jadi dia yang bayar. Kalau dia enggak maksa, pasti saya yang bayar," sangkal Fabian.

Indira menggeleng. Ia tahu itu hanya alasan Fabian karena faktanya memang lelaki itu sangat pelit.

"Pak, adik Bapak maksa yang bayar karena dia tahu, Bapak itu pelit. Pasti enggak mau, kalau diajak makan di restoran mewah. Kalau misalnya Bapak mau diajak keluar makan, pasti ngajaknya ke angkringan di pinggir jalan," Indira hafal betul kalau Fabian itu tidak mau mengeluarkan uang banyak untuk membahagiakan seseorang. Karena didahinya sudah tersirat kata "pelit".

"Itu mah salahin adik saya aja yang gengsian makan di angkringan. Kan saya orangnya merakyat, Dir. Justru, harusnya saya dipuji," bangganya dengan senyum tanpa dosa.

Indira menggelengkan kepalanya. Kalau bos lain makan di angkringan, mungkin benar memang merakyat, kalau Fabian sudah dipastikan hemat duit.

"Ngapain dipuji, orang jelas Bapak itu pelit. Beli parfum aja masih nawar, padahal udah jelas harga pas. Bapak itu malu-maluin saya," keluh Indira yang ingat benar saat mereka ke luar kota dan mampir di toko parfum, Fabian mencoba menawar dengan sang pramuaniaga yang berujung mereka hampir diusir satpam.

"Saya ini orangnya sederhana enggak aneh-aneh, makanya patut dipuji," kekeh Fabian yang merasa dirinya baik menerima pujian, "itu kan saya tawar karena mahal amat. Masa parfum kayak gitu 3 juta. Saya biasanya beli parfum paling mahal 500 ribu, kadang saya pakai punya ayah saya yang parfumnya mahal, kalau ada acara penting."

"Suruh siapa Bapak aneh-aneh, biasanya aja pakai parfum yang seratus ribu tiga. Sok mau beli parfum yang harganya jutaan."

"Enak aja, saya pakai parfum paling enggak harganya RP 198.000 itu saja diskon cuma 1 % dari Rp 200.000. Pelit kan ya yang jualan. Masak diskon kok cuma dua ribu rupiah," kesalnya.

"Masih mending itu diskon dua ribu rupiah, Bapak jualan belum tentu diskon. Kan kepelitan yang hakiki ada di dalam diri Bapak."

"Saya ini dari kecil udah diajari untuk hidup hemat, meski anak orang kaya, bukan berarti bisa hambur-hamburin uang. Makanya, saya bisa menghemat kebutuhan saya sampai sekarang. Saya enggak pelit, cuma hemat," tekannya sekali lagi.

Indira dalam hati merapalkan unek-uneknya, yang tak mungkin ia sampaikan secara frontal langsung di hadapan Fabian.

"Maaf ya, Pak. Kalau Bapak enggak pelit, empat tahun saya kerja sama Bapak, tapi Bapak kok jarang kasih bonus. Kerjaan saya banyak loh."

"Ngapain kasih bonus, kalau kerjaan kamu suka enggak bener. Kamu aja sering telat ke kantor, malah kadang saya lihat kamu tidur. Lagian gaji kamu banyak, udah di atas UMR."

"Bapak, saya enggak fokus kerja atau sering telat itu kan saya kecapekan. Saya kecapekan karena bukan jadi sekretaris Bapak doang. Tapi, merangkap menjadi kacung dan babysistter. Masa urusan rumah saya juga yang nangani, urusan pasangan juga, masa saya yang harus cariin. Bapak kok semena-mena sama saya," celetuk Indira gemas.

"Saya kan percayanya sama kamu. Makanya, saya suruh kamu ini-itu, bukan mau nyiksa kamu, tapi saya itu enggak mudah percaya sama orang. Soalnya, udah banyak yang sering manfaatin saya. Cuma kamu yang tulus sama saya, meski suka ngeyel, berisik, tapi akhirnya kamu juga nurut. Pokoknya, kamu itu pegawai terbaik yang saya punya," aku Fabian tulus. Ia memang sangat mempercayai Indira. Makanya, hampir semua sifat buruk yang ada dalam dirinya, Indira tahu karena Fabian tidak pernah menutupinya, walau dia yakin seratus persen kalau dirinya orang baik dan patut mendapatkan pujian.

"Itu mah enak di Bapak. Enggak enak di saya. Bapak suka semena-mena sama saya. Gara-gara Bapak saya jomblo sampai sekarang," gerutu Indira yang mengingat setiap ia mencoba kencan, pasti gagal. Itu semua gara-gara Fabian yang selalu merocokinya dengan menghubunginya terus. Kalau tidak lelaki itu malah menyusul, merusak kencannya. Acapkali Fabian menjelek-jelekkan dirinya di hadapan teman kencannya. Mengatakan kalau Indira pemalas, suka terlambat ke kantor, jarang mandi, suka pakai pakaian yang berantakan karena bangun kesiangan, bawel, dan tukang kentut sembarangan. Padahal yang terakhir itu tidak benar. Fabian suka melebih-lebihkan.

"Ya udah, saya tanggung jawab deh. Ayo, nikah sama saya."

"Kalau saya nikah sama Bapak, pasti saya ini kerja rodi. Kerjanya jadi berlipat-lipat. Bapak itu kan bossy. Saya enggak mau jadi kacung seumur hidup."

"Ya enggaklah, kamu pasti saya perlakuin dengan baik. Saya sayangi sepenuh hati," janjinya yang entah janji palsu atau apa.

"Saya tanya dulu! Menurut Bapak saya cantik enggak?" Indira menatap Fabian lekat, penasaran dengan jawaban bosnya itu.

"Jujur, ya. Enggak sama sekali. Bentukan kamu aja kayak gini," Fabian menatap Indira dari bawah sampai atas. Benar-benar bukan seleranya. Penampilan perempuan itu terlalu old fashion, rambutnya selalu digelung, celana kedodoran yang selalu menutupi kaki jenjangnya, kacamata burung hantu juga menghiasi wajahnya. Belum lagi, kalau Indira terlambat bajunya kusut seperti tidak di setrika, wajah tanpa make up. Dan, jangan lupakan perempuan itu sering menganti hak tingginya dengan sepatu kalau terburu-buru atau merasa kakinya kesakitan, padahal Fabian selalu mengomelinya kalau menggunakan sepatu kets.

Indira ingin mengumpat begitu mendengar jawaban sang bos. Apalagi, cara Fabian yang memandangnya dengan rendah.

"Lalu, Bapak cinta enggak sama saya?"

Fabian menggeleng.

"Mohon maaf, saya benar-benar tidak bisa menerima Bapak. Soalnya yang saling mencintai saja bisa selingkuh. Apalagi, kalau Bapak enggak cinta sama saya dan di mata Bapak saya enggak menarik sama sekali. Bisa-bisa Bapak mencari wanita lain lagi. Toh Bapak tampan dan mapan," Indira beralasan selogis mungkin agar Fabian tidak memaksanya. Tanpa mencari alasan seperti itu saja, dia sudah tidak suka dengan lelaki itu karena sifat dan sikapnya.

"Saya enggak suka main gelap kayak gitu. Lagian, saya enggak selera cewek murahan yang mau dijadikan selingkuhan. Saya ini orang berkelas. Cuma orang bodoh yang memilih istri terus disakiti." Fabian mana sempat mencari selingkuhan, ia terlalu sibuk dengan kedudukannya. Makanya, ia mau cari istri yang seprofesi--yang tahu dunia bisnis itu seperti apa agar mengerti dirinya.

"Lagian ya, kalau masalah cantik itu mah gampang. Semua perempuan cantik kok pada dasarnya, cuma bisa ngerawat atau enggak. Kamu dipoles dikit nanti juga cantik, kalau kurang nanti perawatan mahal atau operasi plastik juga enggak pa-pa. Saya rela keluar uang banyak kok kalau buat bahagiain istri."

"Yakin, Pak? Bapak bakal ngeluarin uang banyak buat perawatan istri Bapak?"

"Iya," jawabnya mantap, "lagi pula, kalau punya simpanan atau selingkuhan itu juga keluar banyak uang. Biasanya yang enggak sah itu malah ngerepotin dan banyak nuntutnya. Mending ngerawat istri sendiri yang siap nemenin dan ngerawat suami dua puluh empat jam."

Indira tahu kalau lelaki seperti Fabian tidak mungkin punya selingkuhan. Dirinya hanya mencari alasan saja agar tak terjerat oleh bujukan bosnya itu.

"Sekali pelit, ya pelit. Saya tahu Bapak enggak suka main perempuan, karena  sayang uang. Bapak lebih cinta takhta dan harta daripada wanita. Ckckck...."

"Bukan gitu juga. Saya ini memang pria baik-baik dan berkelas. Main perempuan itu juga banyak buruknya. Nanti pasti ada yang terluka, orang tua saya jadi kecewa, belum lagi nanti kena penyakit mengerikan, terus buang-buang uang lagi."

Indira hanya tersenyum masam.

"Dir, apa salahnya sih suka uang?" Fabian menatap lesu Indira. Ia menunggu jawaban tapi tak kunjung dijawab. "Uang memang bukan segala-galanya, tapi segala-galanya butuh uang. Semua orang juga suka dan butuh uang. Dir, kamu aja minta kenaikan gaji, kalau enggak suka uang, enggak mungkin, kan?"

Tbc...

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Lokasi Pembantu Dan Majikan
8.9
Untuk menyambung hidup, tokoh utama memutuskan bekerja sebagai asisten rumah tangga di kediaman sebuah keluarga kaya. Kinerjanya yang baik membuat sang majikan merasa sangat puas. Namun, situasi berubah menegangkan sekaligus tak terduga. Sesaat setelah ia berhasil menidurkan anak majikannya, sepasang tangan besar misterius tiba-tiba meraba pinggangnya dari belakang, memicu konflik baru dalam hidupnya.
Sampul Novel CLARITTA, KAMU MILIKKU
9.1
Model terkenal Claritta Indriana terjebak pernikahan pelik bersama Aslan Teryeka, sang pewaris Andromeda Group. Walau menyatakan cinta, Aslan justru bersikap posesif, bertindak semena-mena, bahkan mengkhianatinya dengan sang sekretaris. Di bawah bayang-bayang kebencian dan pengkhianatan suaminya, Claritta menghadapi pilihan sulit. Haruskah ia tetap bertahan sebagai boneka tak berdaya dalam rumah tangga yang hancur, atau melarikan diri selamanya demi kebebasan?
Sampul Novel Devil Beside You
8.1
Sergio Blanco, pembunuh bayaran berdarah dingin, kehilangan arah saat ditugaskan menghabisi nyawa putri seorang miliarder. Hazel Afford, sang target dengan mata indah, berhasil meluluhkan hatinya. Namun, begitu Hazel menyadari jati diri Sergio yang sebenarnya, rasa cinta itu berubah menjadi muak. Hazel bertekad melarikan diri, tetapi ia malah terjerat dalam lingkaran gairah yang penuh risiko. Akankah Sergio menyelesaikan misinya atau memilih tunduk pada cinta?
Sampul Novel Gadis Perawan Untuk CEO
8.6
Devanka nyaris kehilangan kesucian akibat ulah tetangga, ancaman kutukan karma bagi keluarganya. Di tengah situasi pelik ini, ia bertemu seorang CEO arogan yang butuh istri perawan demi memenuhi wasiat kakeknya yang berumur 80 tahun. Bagi keluarga besar Hamzah yang sangat berkuasa, kehormatan mutlak terletak pada kesucian sang menantu. Kini, takdir hidup Devanka sepenuhnya terikat pada ambisi besar keluarga konglomerat tersebut.
Sampul Novel Pembalasan Istri yang Direndahkan: Penyesalan Suami Pengkhianat
8.2
Setelah dikhianati dan dicampakkan oleh Deon saat hamil tua, Elara memilih pergi dan membangun hidup baru. Lima tahun berlalu, ia bertransformasi menjadi miliarder sukses yang memikat dan mandiri. Namun, saat Elara berniat meresmikan perceraian mereka yang ternyata belum diurus Deon, mantan suaminya itu justru muncul kembali. Deon yang posesif mulai menyingkirkan setiap pria yang mendekati Elara. Ketika Elara mengumumkan pertunangan dengan pria lain, Deon yang didera penyesalan nekat mengonfrontasinya.
Sampul Novel Kelahiran yang Menghancurkan
9.2
Dalam novel modern bernuansa mafia ini, Alexander Santoso tega menyekap istrinya yang hamil tua, Alana, di ruang bawah tanah steril. Demi mengamankan warisan Teluk Barat Jaya untuk anak mendiang kakaknya, Alexander menyuntikkan obat penunda kontraksi pada Alana agar anak Elisa lahir lebih dulu. Meski Alana memohon demi keselamatan bayinya dan membantah tuduhan mementingkan harta, Alexander tetap mengabaikannya. Penyesalan mendalam baru datang setelah Alexander mendapati Alana dan anak mereka telah tiada akibat keputusannya yang kejam.