APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Rahasia Tersembunyi Dalam Pernikahan

Rahasia Tersembunyi Dalam Pernikahan

Pertemuan pertama yang sunyi langsung menyulut hasrat membara bagai pedang tajam yang melukai mereka. Sebagai pria yang akrab dengan risiko maut dan kenikmatan duniawi, ia tak pernah menyangka ada wanita yang sanggup meruntuhkan pertahanannya hingga ia lengah. Di balik ikatan pernikahan mereka, tersimpan sebuah rahasia besar yang kini menguji batas kekuatan serta perasaan terdalam keduanya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Rose berdiri tegap, matanya menatap tajam ke arah Rina dengan tekad yang tak tergoyahkan seperti seorang istri yang memergoki wanita simpanan dan suaminya.

Dia berkata, "Nona Rina, sebagai bawahan Yosan, kamu jelas tahu tentang hubunganku dengannya. Tapi kamu masih saja melewati batas dan terus menerus memprovokasiku. Apakah kamu benar-benar bodoh, atau kamu melakukan ini dengan motif tersembunyi?"

"Maaf, Nona Rose. Oh, maksudku Bu Rose," ucap Rina, buru-buru mengoreksi ucapannya sendiri, mengerutkan kening sambil menutupi bibirnya. "Aku yang salah. Aku minta maaf padamu. Tolong jangan dimasukkan ke dalam hati."

Dia memasang ekspresi polos yang rapuh, tampak sangat menyedihkan.

Rose tidak tertipu. Dia tahu persis apa yang dilakukan Rina—sengaja berpura-pura menyedihkan untuk mendapatkan simpati Yosan. "Aku tidak pantas menerima permintaan maafmu," ucapnya dengan nada sarkastis. "Jelas kamulah yang seharusnya mendapatkan simpati di sini—kasihan kamu, selalu menjadi korban."

"Yosan, Bu Rose masih menolak untuk memaafkanku ... dia pasti masih memikirkan apa yang terjadi di klub tadi malam," ucap Rina kepada Yosan. "Bisakah kamu membantuku menjelaskan semuanya padanya?"

Nada bicaranya yang manis menggelitik telinga Rose.

Rose merinding di sekujur tubuhnya dan sekilas melihat Yosan dari sudut matanya.

Yosan mengisap rokoknya perlahan, sorot matanya tanpa kehangatan. "Itu hanya fakta. Apa yang perlu dijelaskan?" ucapnya.

"Aku hanya khawatir dia akan mengira bahwa aku adalah pihak ketiga yang menghancurkan pernikahan kalian," ucap Rina, maksudnya jelas.

Tanpa ragu sedikit pun, Yosan menusuk jantung Rose lebih dalam dengan kata-katanya, "Rina, ambilkan obatku. Jangan buang-buang waktumu berbicara dengan orang yang tidak penting."

Ternyata di matanya, dibandingkan dengan Rina, Rose hanyalah orang yang tidak penting.

Rose menahan rasa jijik di dadanya dan berjalan keluar dari apotek tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Setelah menutup pintu mobil, tubuhnya terus bergetar sedikit saat memegang kemudi. Butuh dua kali percobaan yang gagal sebelum mesin akhirnya menyala.

Dia berulang kali mengatakan pada dirinya sendiri untuk tidak marah.

Tiga bulan lalu, pemeriksaan rutin mengungkapkan tumor kecil berukuran dua milimeter di payudara kirinya. Dia sudah menjadwalkan dengan dokter untuk menjalani janji pemeriksaan lanjutan besok pagi.

Penasaran dan sedikit cemas, dia bertanya kepada Putri, yang juga dokter kandungannya, kenapa seseorang yang berusia muda seperti dirinya bisa mengalami hal seperti itu.

Putri menjawab dengan pasti bahwa kebanyakan penyakit berasal dari stres dan kemarahan. Dan dalam kasus tumor Rose, dia yakin bahwa selalu dibuat marah oleh Yosan adalah penyebab penyakitnya.

Rose sempat menepisnya, dan menyebutnya omong kosong, tetapi jauh di lubuk hatinya, dia percaya.

Karena dialah satu-satunya yang tahu betapa besar penderitaan yang telah dia tanggung selama tiga tahun menikah dengan Yosan. Dia sudah dibuat marah oleh Yosan berkali-kali.

Jika perasaannya terhadap Yosan tetap jauh seperti tiga tahun lalu, dia tidak akan merasa sakit hati saat pria itu jajan di luar ke sana kemari. Dia hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri karena tiba-tiba, dia mulai peduli padanya.

Saat langit bertambah gelap, dia mendapati dirinya mengemudi tanpa tujuan dalam pikirannya, hanya membiarkan jalanan membawanya.

Pada saat inilah dia baru tersadar—selain Villa Nexus, dia tidak punya tempat tujuan di seluruh Kota Jingga.

Villa Nexus, yang disebut-sebut sebagai rumahnya bersama Yosan, sepenuhnya milik Yosan. Sebelum pernikahan, dia membuatnya menandatangani perjanjian pranikah, yang hanya memberinya hak sementara untuk tinggal di sana. Yosan bersikap dingin dan menjaga jarak terhadapnya, setiap kali dia memasuki Villa Nexus, dia merasa seperti tinggal di bawah atap orang lain.

Bahkan jika dia kembali, dia hanya akan sendirian di kamar yang sunyi dan kosong. Yosan jarang ada di sana, menghabiskan sebagian besar malamnya di acara-acara sosial dan tidak kembali sampai dini hari.

Agar dapat terhindar dari rasa sepi karena sendirian, Rose menjadikan kerja lembur sebagai rutinitas hariannya.

Dia menyibukkan dirinya dengan pekerjaan setiap malam hanya untuk menghindari kekosongan di rumah. Kalau saja hari ini dia tidak perlu minum pil kontrasepsi darurat, mungkin dia masih duduk di kantornya sekarang.

Akhirnya, dia kembali ke Villa Nexus. Namun begitu dia membuka pintu, bau asap rokok yang menyengat tercium di hidungnya secara tak terduga.

Yosan berdiri di dekat jendela panorama di ruang tamu, berbicara di telepon.

Dengan memunggunginya, dia berdiri tegak dan tenang. Suaranya, meskipun rendah, membawa kehangatan lembut yang belum pernah dia dengar sebelumnya.

"Dr. Harjato mengatakan tidak akan ada bekas luka di dahimu. Tapi jika kamu masih khawatir, aku bisa membawamu pergi ke Kota Kuno lusa untuk menemui seorang ahli. Sekalipun bekas luka itu tetap ada, aku tidak akan mempermasalahkannya ...."

Di apotek, Rose melihat dahi Rina ditutupi lapisan kain kasa. Tidak diragukan lagi bahwa Yosan sedang berbicara di telepon dengan Rina.

Kelegaan kecil yang dirasakannya saat melihatnya pulang menguap. Dia diam-diam menaruh tas tangan dan mantelnya, lalu langsung berjalan ke kamar mandi.

Setelah mencuci wajahnya, saat dia mengoleskan pelembab, dia melihat Yosan muncul di pintu.

"Besok jam delapan, teman ibuku akan tiba di Kota Jingga. Aku ingin kamu menjemputnya di bandara," ucap Yosan dengan nada datar.

Rose menghela napas dalam hati. Setiap kali Yosan mengambil inisiatif untuk mencarinya, pasti tidak ada hal yang baik.

"Orang itu adalah teman baik ibuku dan juga salah satu mitra perusahaannya. Ambil cuti beberapa hari dan ajak dia berkeliling kota. Berapa pun uang yang kamu belanjakan, aku akan menggantinya." Tanpa menunggu jawaban, Yosan berbalik dan langsung berjalan menuju ruang kerja, dengan asumsi dia telah setuju.

Dada Rose terasa sesak. Air mata menggenang di matanya, dan dia melemparkan tisu sekali pakai yang dia gunakan untuk membersihkan wajahnya ke tempat sampah. "Minta orang lain untuk melakukan itu. Aku punya hal lain yang harus kulakukan besok."

Yosan bahkan tidak memandangnya. "Aku sudah mengatur semuanya. Budi akan mengurus urusan mengemudi dan makan. Kamu hanya perlu menemaninya dan mengobrol."

Matanya tidak pernah lepas dari layar komputer. Dia sama sekali tidak menganggap serius kata-kata sebelumnya.

Sambil menatapnya, Rose merasakan kemarahan membuncah dalam dadanya. "Aku ada janji dengan dokter untuk pemeriksaan lanjutan besok pagi."

"Pemeriksaan lanjutan apa?" tanya Yosan.

"Aku sudah pernah memberitahumu. Mereka menemukan tumor di payudara kiriku saat pemeriksaan terakhir. Besok waktunya untuk pemeriksaan lanjutan."

"Itu hanya tumor kecil. Menunggu dua hari lagi untuk pemeriksaan lanjutan tidak akan mengubah apa pun," jawab Yosan, masih menatap layarnya.

Rose mengatupkan rahang. "Tidak mudah bagiku untuk mendapatkan janji temu dengan spesialis ini. Aku tidak akan menjadwal ulang."

Yosan bahkan tidak mengedipkan mata. "Hubungan antara kamu dan ibuku selalu tegang. Jika kamu bisa menghibur temannya dengan baik, mungkin hubungan kalian berdua akan membaik."

Nada bicaranya tidak memberi ruang untuk negosiasi. "Sudah diputuskan."

Rose membuka mulutnya untuk protes, tetapi tatapan tegas di mata Yosan membuatnya terdiam. Setelah lebih dari sepuluh detik terdiam, dia berkata "Baiklah" dengan suara serak.

Setelah kembali ke kamar utama, dia menyentuh pipi dan menyadari pipinya sudah basah oleh air mata.

Pada saat ini, ponselnya berdering. Dia melirik layar, mengenali nomornya, dan menolak panggilan itu tanpa ragu-ragu.

Sesaat kemudian, nomor lain dari Kota Lina muncul di layar. Tanpa mengedipkan mata, dia memblokir nomor itu.

Malam ini, Yosan tetap berada di ruang kerja. Dia tidak sekali pun melangkah ke kamar tidur utama.

Ketika Rose bangun keesokan paginya, dia mendapati Yosan sudah mengenakan setelan jas, siap berangkat kerja.

Yosan tampak agak lelah, dengan lingkaran hitam di bawah matanya yang menunjukkan pria itu mungkin tidak tidur nyenyak tadi malam.

Namun, rasa lelah itu tidak mengurangi ketampanan di wajahnya atau keanggunan seorang pria dewasa yang terlihat dari setiap gerakannya.

"Budi akan menunggumu di garasi dalam tiga puluh menit," ucapnya sambil memeriksa arlojinya sebelum melirik sebentar ke arahnya.

Itu adalah pandangan sekilas, hampir tak terasa oleh Rose sebelum dialihkan.

Saat Yosan meraih gagang pintu, Rose tidak dapat menahan diri untuk berkata, "Rina lebih pandai melayani orang daripada aku. Mungkin kamu sebaiknya membiarkan dia melakukan ini."

Yosan berhenti melangkah tetapi tidak menoleh untuk melihatnya. "Kamu tetap istriku. Jika Rina dikirim untuk melayani teman ibuku dan kabar itu tersebar, dia akan dicap sebagai wanita simpanan di luar sana."

Ternyata begitu. Dia memanfaatkannya untuk melindungi reputasi Rina.

Dia pasti tahu bahwa orang-orang yang mengetahui status perkawinannya telah bergosip tentang kejadian di Zero Club tadi malam, di mana dia telah memukuli seseorang demi Rina.

Saat pria itu menutup pintu di belakangnya, embusan angin dingin bertiup, membuat Rose menggigil dan segera tersadar.

Dalam perjalanan ke bandara, dia bertanya kepada Budi Wijaya, asisten Yosan, bagaimana Yosan akan menghadapi rumor yang berkembang tentangnya dan Rina di dunia maya.

Namun, Budi adalah orang yang cerdas. Dia hanya tersenyum sambil berpura-pura bodoh.

Tak peduli seberapa keras dia mendesak, Budi tetap tutup mulut mengenai masalah itu.

Di bandara, dia dan Budi menunggu sampai pukul sembilan. Lalu, Budi mendapat panggilan telepon, dan setelah percakapan singkat, dia mengerutkan kening. "Perubahan rencana," ucapnya kepada Rose. "Dia telah menunda perjalanannya. Dia akan datang ke Kota Jingga minggu depan."

Gelombang kemarahan melanda Rose, tetapi dia segera menutupinya. Dia tidak ingin kehilangan ketenangannya di hadapan Budi, ​​jadi dia pura-pura tidak peduli.

Budi kemudian mengantarnya ke rumah sakit. Setelah memeriksa, dia melihat antrean panjang, sedikitnya ada belasan pasien di depannya.

Karena tidak punya pilihan lain, dia menunggu.

Setelah menerima hasil USG payudara, dia tidak dapat memahami gambarnya, tetapi teksnya jelas—tumor di payudara kirinya telah tumbuh hingga 2, 5 milimeter.

Kepanikan pun melanda. Tiga bulan yang lalu, ukurannya hanya 2, 0 milimeter.

Setengah milimeter tambahan itu sudah pasti bukan hal yang baik!

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Beauty and The Mafia
8.4
Rosetta Alighieri diculik oleh Marco Botticelli, seorang mafia kejam, setelah difitnah oleh kembarannya sendiri, Caritta, mencuri kalung pusaka pria itu. Di tengah sekapan bahaya, perasaan cinta yang tak terduga justru bersemi di antara korban dan sang penculik. Saat Marco menawarkan hubungan serius, Rosetta pun didera dilema besar. Haruskah ia menerima cinta sang kriminal dan terjun ke dunia gelap penuh risiko demi perasaan yang kian tumbuh?
Sampul Novel Dosa Berbalut Cinta
8.6
Saschya terjebak dalam neraka pernikahan penuh kekerasan bersama Adnan, sosok suami yang tega menyiksanya demi membalas dendam kepada mertua. Di tengah penderitaan fisik dan batin yang tiada henti, orang dari masa lalu Saschya mendadak hadir kembali. Apakah kedatangan sosok tersebut akan menjadi penyelamat yang membebaskannya dari jeratan kejam Adnan, atau justru memicu prahara baru dalam kehidupannya yang telah hancur?
Sampul Novel Cinta, Pengkhianatan dan Dendam: Godaan Mantan Istri yang Tak Tertahankan
8.0
Dikhianati hingga dituduh membunuh membuat Maria menceraikan James lalu pergi membawa dendam membara. Enam tahun berlalu, ia kembali membawa identitas baru yang tangguh bersama rival mantan suaminya. Meski bekerja sama dengan James demi membalas sakit hati, Maria tak menyadari dirinya justru masuk jebakan pria itu. Di tengah pergolakan gairah dan niat balas dendam, mereka kini terjebak permainan perasaan yang sangat berbahaya.
Sampul Novel Harga Diri Seorang Wanita
8.1
Jenna Ren hampir mengakhiri hidupnya di atap rumah sakit dengan luka fisik dan batin. Namun, kehadiran sang suami bersama selingkuhannya menyadarkan Jenna. Kematiannya hanya akan menguntungkan mereka. Setelah kehilangan calon bayinya akibat penderitaan itu, ia memilih bangkit untuk membalas dendam. Jenna mengurungkan niatnya lalu bersujud di hadapan Tuan Besar Kim, memohon kekuatan besar untuk menghancurkan semua orang yang telah mengkhianati dirinya.
Sampul Novel IPRIT
7.9
Di Kampung Keris yang kental akan dunia persilatan dan mistis, Wisaka bertekad mengungkap misteri kematian tragis para pengantin baru. Para suami tewas setelah malam pertama, sedangkan para istri diperkosa hingga bungkam. Demi mencari kebenaran, Wisaka pun mempelajari ilmu kanuragan. Namun, ia harus menghadapi hadangan bandit, makhluk halus, hingga siluman yang menyamar sebagai manusia. Mampukah ia menang, atau justru gugur di tangan iblis?
Sampul Novel Menghadapi Kematian di Depan Mata
8.3
Saat kurir pria mabuk mendatangi rumahnya, sang protagonis memilih melapor polisi dibanding menghubungi kedua kakaknya. Di kehidupan lalu, panggilan darurat itu membuat kakak-kakaknya mengabaikan pertunjukan adik angkat mereka, Hilda, yang berujung insiden tragis. Akibatnya, sang protagonis disiksa sebagai pelampiasan amarah. Kini, setelah terlahir kembali di hari yang sama, ia membiarkan kakak-kakaknya fokus mendukung Hilda. Namun, keputusan itu justru mendatangkan penyesalan mendalam bagi mereka.