
Rahasia Seorang Istri
Bab 3
“Jangan pedulikan itu … ayo cepat ….”
Aku melingkarkan kakiku di pinggang suamiku, berusaha mencegahnya mengambil ponsel.
Namun, gagal.
Dia menjawab telepon dan setelah bicara beberapa kalimat, suamiku malah mengenakan celananya lagi.
“Sayang, ada klien penting yang tiba-tiba datang. Aku harus pergi menemui mereka. Kamu … cari timun dulu buat main sendiri, ya.”
Melihat sosoknya yang pergi terburu-buru, hatiku diliputi rasa kecewa yang sulit dijelaskan.
Pria ini bahkan sudah menggodaku dan membuatku penuh hasrat, bahkan belum sempat mencicipinya sedikit, sudah ditinggal begitu saja?
Percuma cantik dan menarik, kalau nggak dipakai.
Aku menghela napas panjang, mengenakan kembali daster dan membuka pintu lemari.
Dan dari sana, aku melihat Alfred sedang mendongak, wajahnya tertutup salah satu bra milikku dan harta karunnya dibungkus dengan celana dalam model thong yang sedang dipakai buat memuaskan dirinya sendiri.
Aku langsung malu sekaligus marah, segera merebut thong dari tangannya, “Apa yang kamu lakukan?”
Barulah Alfred seperti sadar dari lamunannya, buru-buru menarik bra dari wajahnya, celananya pun masih belum dipakai dengan benar. Dia keluar dari lemari dengan sangat berantakan.
“Kak, aku … aku ….”
“Cepat balik ke kamarmu!”
Aku melirik sekilas ke arah bagian tubuhnya yang bergerak-gerak, lalu buru-buru membalikkan badan sambil menghentakkan kaki. Wajahku langsung memerah, terasa panas seperti terbakar.
“Ah, iya ….”
Setelah Alfred keluar, aku langsung melompat ke ranjang seperti melarikan diri, membungkus diriku rapat-rapat dengan selimut.
“Lupakan … lupakan … lupakan semuanya ….”
Aku berteriak dalam hati, memaksa diri untuk tidak lagi memikirkan harta karun milik adik iparku itu.
Namun, aku benar-benar tak bisa mengendalikan pikiranku sendiri.
Begitu memejamkan mata, yang terlintas adalah itu.
Begitu membuka mata, yang terpikir tetap itu juga.
Perasaan ini membuatku malu, tapi juga anehnya terasa menantang.
Terlebih lagi, sebelum suamiku pulang, aku bahkan sempat mengukur ukurannya dengan tanganku sendiri.
Mengingat kembali ciri khas harta karunnya yang nyaris tidak seperti milik manusia, aku sambil mengenang sensasinya tadi, ikut mengukurnya di atas perutku.
“Ter … ternyata sampai sini ….”
“Kalau sampai masuk … apa nggak bakal rusak dibuatnya ….”
Aku tak bisa menahan diri untuk berfantasi, seluruh kulitku terasa panas, gatal dan sensitif, sampai-sampai aku spontan melepaskan daster dan menelanjangkan diriku.
“Wu ….”
Aku mencengkeram bantal dengan erat dan berguling di atas ranjang, satu tangan mengusap payudara dengan keras dan tangan yang lain meraih di antara kedua kakiku.
‘Sungguh ingin bercinta dengan adik ipar’ dan ‘benar-benar ingin bercinta dengan lelaki kuar seperti adik ipar’ dua pikiran itu terus terlintas di pikiranku bersamaan.
Sejak pertama kali aku kehilangan keperawanan, inilah pertama kalinya aku begitu menginginkan seorang pria.
Namun, aku sama sekali tidak menyangka. Saat aku hampir tidak bisa menahan diri karena hasrat yang membara, ingin segera keluar dari kamar dan langsung menyerbu Alfred dan langsung menyelaminya.
Ternyata dia seolah-olah mendengar suara hariku dan membuka pintu kamar tidur.
Barulah saat itu aku sadar, kalau aku lupa menutup pintu dan semua yang kulakukan tadi, semuanya dilihat dengan jelas dari ruang tamu.
Seketika, pikiranku kosong dan aku hanya bisa melihatnya dengan telanjang melangkah menuju ke arahku.
“Kamu … kamu mau apain?”
“Menghabiskanmu!”
Dia tampak seperti orang yang berbeda. Dia mencengkeram kedua kakiku dan menarikku ke bawah, menaruh bokongku di tepi ranjang. Dia berpose dengan pose memalukan dengan bokongnya menghadap ke atas, kemudian mengusap-usap kelembutanku dengan senjatanya.
“Aaa ….”
Tubuhku langsung gemetar. Ini adalah posisi yang sering aku dan suamiku lakukan dan bisa langsung membuatku terangsang.
Namun kali ini, yang mengendalikannya berganti dari suamiku menjadi adik iparku.
Dibandingkan dengan suamiku, Alferd lebih kuat dan lebih berkuasa, lebih ganas dan agresif dalam gerakannya, rasa penaklukannya juga lebih kuat.
“Habiskan aku ….”
Setelah beberapa kali pukulan, aku sudah tidak tahan lagi. Aku berinisiatif meraih tangan pria itu dan menaruhnya di payudaraku, meremasnya kuat-kuat, mengerang tanpa malu, memutar pinggang dan pinggul untuk mengejar sedikit kenikmatan itu ….
Anda Mungkin Juga Suka





