APKDock Logo
Sampul Novel Harta Tahta Kesayangan Duda

Harta Tahta Kesayangan Duda

8.9 / 10.0
Hidupku yang unik mendadak berubah saat seorang duda tenang mulai mengejarku. Ingin rasanya aku menghindar, tetapi pesona anaknya yang sangat menggemaskan terus membuatku ragu. Walau ada rasa takut terlihat cepat tua jika mendampinginya, gelimang hartanya tentu sulit diabaikan. Begitu dia datang melamar, aku pun menuntut syarat untuk mempunyai bayi yang lucu. Di luar dugaan, respons santainya kini membawa masa depan kami pada sebuah keputusan yang tak disangka-sangka.

Harta Tahta Kesayangan Duda Bab 1

Di tengah pasar, Era berdecak saat sayur yang dia beli tak kunjung dihitung. Dia melirik jam tangannya untuk memastikan sisa waktu yang ada. Era harus bergerak cepat atau kesialan akan dia dapat.

"Ah elah, Bang! Lama bener, saya mau berangkat sekolah ada upacara," ucap Era kesal.

"Sabar, Neng. Tangan Abang cuma dua."

"Ya iyalah, kalo 8 namanya laba-laba," gumamnya cemberut.

"Nih, belanjaannya, Neng. Total 60 ribu."

Era mengeluarkan gulungan uang lecek dari sakunya dan memberikannya pada penjual sayur. "Pas ya, Bang. Ini saya ambil kangkung lagi dua iket."

"Eh, 5000 itu, Neng."

Era berdecak, "Cuma 5000, Bang. Anggap aja sedekah sama anak yatim."

Era dengan cepat bergegas untuk keluar pasar. Di sana sudah ada tukang parkir yang duduk di atas motornya.

"Eh, Neng Era. Udah selesai belanjanya?"

"Udah, Bang. Sana minggir dulu, udah telat sekolah nih."

Melihat Era yang tergesa, tukang parkir segera beranjak untuk berdiri. Tanpa membayar, Era segera melajukan motornya untuk kembali ke panti. Dari kejauhan, tukang parkir hanya bisa menggeleng pelan.

Jarak antara pasar dan panti sebenarnya tidak terlalu jauh. Hanya 5 menit menggunakan motor, tapi tetap saja dia akan terlambat sekarang. Salahkan tukang sayur keliling yang mendadak tidak lewat. Mungkin takut akan ibu-ibu yang akan kembali berhutang. Mau tidak mau, Era harus ke pasar untuk membeli bahan makanan. Ini sudah kewajibannya untuk mengurus adik-adik kecilnya.

"Ibuk! Sayurnya aku taruh di teras. Aku berangkat dulu!" teriak Era meraih tas sekolahnya dan memasang helm. Dia akan berangkat sekolah sekarang.

Jika tidak upacara, tentu dia tidak akan sepanik ini. Setiap hari senin, jam masuk sekolah memang dibuat lebih pagi untuk tidak mengubah jadwal pelajaran yang sudah ada.

Di lampu merah, Era kembali melirik jam tangannya. Tinggal lima menit lagi pagar sekolah akan ditutup dan dia masih terjebak di kemacetan lampu merah.

"Ini kan senin, Ra. Ya pantes rame banget jalanan. Udah kaya mau demo."

Setelah banyak mengumpat selama perjalanan, akhirnya Era sampai di sekolah. Namun nasib tidak berpihak padanya kali ini. Pagar sekolah sudah ditutup dan banyak siswa yang juga telat sepertinya berdiri di depan gerbang.

"Nyet! Telat juga lo?" Aldo, teman sekelas Era tertawa melihat kedatanyannya.

"Diem lo, landak!" Era berdecak sambil menjambak rambut Aldo yang tajam-tajam seperti landak.

Era memarkirkan motornya dan ikut berdiri di depan pagar. Meskipun telat, bukan berarti dia tidak bisa mengikuti upacara. Dua satpam telah siap siaga untuk memantau para siswa yang telat agar mengikuti upacara dari balik gerbang.

Eravina Arruna, seorang gadis berusia 18 tahun yang menginjak tahun terakhir di bangku SMA. Sikapnya yang ceria dan urakan membuatnya dikenal oleh banyak orang di sekolah. Namun siapa sangka jika di balik keanehan Era, dia adalah salah satu siswa penerima beasiswa di sekolahnya. Era bersyukur jika bakat melukisnya bisa membawanya sekolah di sekolah swasta ternama dengan jalur prestasi.

Era bersyukur jika bakatnya bisa sedikit meringankan beban ibu Asih, pengurus yayasan panti asuhan yang dia tinggali sejak kecil. Ya, Era merupakan salah satu dari sekian anak yang kurang beruntung itu. Sejak kecil dia sudah berada di panti asuhan. Menyedihakan memang, tapi Era tidak menyesalinya. Setidaknya masih ada Ibu Asih yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri selama ini.

***

Di atas podium, terlihat seorang pria dengan pakaian formalnya tengah memberikan beberapa kalimat motivasi untuk para siswa. Ini pertama kalinya Aksa datang ke sekolah di bawah kepengurusan perusahananya untuk menggantikan ayahnya. Sejak ayahnya meninggal satu minggu yang lalu, mau tidak mau Aksa yang menggantikan semuanya.

"Setiap orang memiliki sesuatu yang membanggakan pada dirinya sendiri, tidak selalu akademik. Saya yakin pemilik bakat non akademik juga bisa bersaing di luar sana. Oleh karena itu, sekolah ini memberikan banyak fasilitas, baik akademik maupun non akademik untuk membantu mengembangkan minat dan bakat para siswa. Saya harap fasilitas yang diberikan dapat dimanfaatkan dengan baik. Asah keunggulan kalian dengan serius. Saya yakin usaha dan kerja keras kalian nanti akan akan sangat bermanfaat."

Suara tepuk tangan dari para siswa membuat Aksa tersenyum. Dia mengucapkan terima kasih dan kembali ke tempanya. Upacara kembali berlanjut dengan Aksa yang masih berdiri di barisan para guru. Meskipun pemilik sekolah, tapi dia tidak ingin terlihat arogan dengan meninggalkan lapangan sebelum upacara selesai. Jika dia mau, Aksa bisa saja melakukannya mengingat dia juga harus bekerja di kantor. Jadwalnya cukup padat akhir-akhir ini tapi dia harus bisa menjalaninya dengan baik. Dia sudah ditunjuk menjadi penerus ayahnya untuk memimpin kantor pusat.

***

Aksa berjalan menuju parkiran setelah selesai berbincang dengan kepala sekolah. Matanya menyipit saat melihat ada beberapa siswa yang tampak berpanas-panasan di lapangan. Dengan penasaran, Aksa berjalan mendekat membuat para siswa itu menatapnya bingung.

"Kalian kenapa di sini? Kenapa nggak masuk kelas?"

"Lagi dihukum, Pak." Aldo menyahut dengan mata yang menyipit, mencoba menghalau sinar matahari yang menyilaukan matanya.

"Kenapa dihukum?" tanya Aksa lagi.

Belum sempat menjawab, salah satu guru konseling datang dengan tergesa. Dia tersenyum pada Aksa.

"Anak-anak ini telat, Pak. Makanya saya hukum."

Aksa mengangguk paham, "Kalau dihukum seperti ini nggak bakal jera, Pak. Sekali-kali suruh mereka buat karya tulis ilmiah."

"Loh, Bapak siapa? Kok ngatur?" Kali ini Era yang bertanya khawatir. Bagaimana tidak khawatir jika dia selama ini menjadi langganan telat paling rutin.

Pak Herman, guru konseling berdesis mendengar celetukan Era. Tentu mereka belum mengenal Aksa karena tidak sempat melihat pria itu saat upacara tadi.

"Yang sopan kamu. Dia itu Pak Aksa, pengganti pak Wijaya."

Era menutup mulutnya rapat mendengar itu. Dia melirik pria di hadapannya dengan takut. Jika benar dia pengganti pak Wijaya berarti dia juga yang akan mengurus yayasan panti yang dia tinggali.

"Baik, Pak. Mungkin saran Pak Aksa bisa kita masukkan ke pembahasan rapat nanti."

"Kapan rapat diadakan?" tanya Aksa.

"Kita setiap seminggu sekali ada rapat umum, Pak."

Aksa mengangguk dan tersenyum, "Ajak saya setiap rapat. Saya mau lihat berkembangan sekolah setiap minggunya."

"Kalian denger? Pak Aksa mau ikut turun langsung, jadi kalian jangan macem-macem," ucap Pak Herman pada para siswa di hadapannya. "Lagian kenapa sih kalian hobi banget telat?" Lanjutnya.

"Tahun terakhir, Pak. Sayang kalo nggak dibikin asik." Mendengar ucapan Era, Pak Herman kembali menggeram kesal.

Era sudah menjadi langganan konseling selama hampir 3 tahun. Meskipun begitu, banyak guru yang tidak terlalu menganggap serius tingkah Era. Gadis itu pintar di bidang non akademik. Dia juga berhasil menyumbangkan beberapa piala untuk sekolah saat menjuarai kompetisi lukis tingkat remaja.

Aksa menatap gadis di depannya dengan lekat. Meskipun terlihat takut padanya, tapi gadis itu tidak takut pada gurunya. Aksa semakin bertanya-tanya, kenapa murid jaman sekarang mulai berani untuk membantah?

"Siapa nama kamu?" tanya Aksa mendekat.

"Era, Pak."

"Oke, Era." Aksa mengangguk dan tersenyum manis, "Saya mau kamu buat karya tulis ilmiah ya, tema bebas. Waktu kamu cuma seminggu. Kamu bisa kumpulin tugas kamu waktu saya datang minggu depan untuk rapat mingguan."

Era menatap Aksa tidak percaya. "Saya, Pak? Cuma saya aja?"

"Iya cuma kamu. Tadi kamu bilang mau menikmati tahun terkahir di SMA kan? Kalau begitu silahkan menikmati." Aksa menepuk pelan kepala Era dan beralih pada Pak Herman. "Kalau begitu saya permisi, Pak. Mohon bimbing Era untuk menyelesaikan tugasnya."

"Siap, Pak!" Pak Herman tertawa mendengar hukuman yang diberikan Aksa. Jika seperti ini, dia yakin tidak akan ada lagi murid yang suka melanggar peraturan.

Era berdecak dan menatap kepergian Aksa dengan tangan yang terkepal. Bisa-bisanya Pak Wijaya menjadikan Aksa sebagai penggantinya. Era berani melanggar aturan seperti ini juga bukan tanpa alasan. Dia sudah mengenal Pak Wijaya sejak kecil. Pria itu tahu kenapa Era sering telat saat berangkat sekolah. Hal itu tak lain krena dia harus membantu Bu Asih untuk mengurus adik-adiknya.

"Mampus lo! Sok jago sih." Aldo tertawa.

"Ketawa terus aja lo! Dasar dajjal," gumam Era dan berlalu pergi.

"Heh, mau ke mana lo? Hukuman belum beres!"

"Minum, Nyet! Dehidrasi gue!" teriak Era berjalan menuju kantin.

Dia membutuhkan air es sekarang. Selain untuk meredakan tenggorokannya, Era juga harus meredakan emosinya. Dia tidak menyangka jika Aksa akan menjadi musuhnya di hari pertama bertatap muka.

***

TBC

Lanjut Membaca

Daftar Isi Harta Tahta Kesayangan Duda

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel CINTA DI MUSIM SEMI
8.0
Kisah romansa modern ini mengikuti perjalanan emosional David dan Arina dalam menemukan kebahagiaan sejati. Di tengah keindahan bunga musim semi yang bermekaran, keduanya belajar saling memahami dan mengisi kekosongan hati masing-masing. Hubungan mereka pun tumbuh dengan indah seiring waktu, membuktikan bahwa satu musim yang singkat mampu menyatukan dua jiwa dalam sebuah ikatan cinta yang tulus serta sangat mendalam bagi mereka berdua.
Sampul Novel Dinodai keluarga suami
9.6
Kehidupan baru Anisa Rahma dimulai setelah ia dinikahi Seno Bagaskara, seorang konglomerat yang membawanya ke rumah besar keluarganya. Namun, tinggal bersama saudara ipar lain memicu konflik rumit. Di balik kemegahan rumah itu, Anisa tidak menyadari bahwa adik kandung Seno serta suami dari iparnya memendam gairah terlarang pada dirinya. Kini, ia terperangkap dalam bahaya nafsu terselubung di kediaman tersebut. Mampukah Anisa bertahan menghadapi ancaman ini?
Sampul Novel Gairah Berbahaya Si Gadis Lugu
9.2
Niat tulus Rheina menyelamatkan sahabatnya dari tuan tanah malah berujung pelik. Sang ayah justru menikahi sahabatnya itu sebagai istri keempat, menyeret Rheina ke dalam lingkaran konflik keluarga yang kelam dan merusak hidupnya. Di tengah kerasnya tekanan hidup yang dipenuhi kata kasar dan adegan dewasa, gadis lugu ini terjebak dalam cinta segitiga yang rumit. Saksikan perjuangan emosional Rheina menghadapi takdirnya yang sarat liku.
Sampul Novel Hari Bahagianya, Hari Kematian Aku
8.4
Di hari pernikahannya, seorang wanita dikhianati oleh keluarganya sendiri. Orang tua dan tunangannya, James, mendesak agar posisi pengantin digantikan oleh sang kakak yang sekarat demi memenuhi keinginan terakhirnya. Karena menolak, ia diikat paksa di rumah dengan janji akan dibebaskan setelah upacara selesai. Malangnya, saat ditinggal sendirian, seorang penjahat menyusup dan menghabisi nyawanya dengan kejam. Ketika keluarganya akhirnya kembali, mereka hanya mendapati jasadnya yang telah membusuk.
Sampul Novel Jangan bermain-main dengan saya
8.9
Nasib malang menimpa seorang gadis setelah dikhianati dan dijual oleh ayah kandungnya sendiri. Begitu beranjak dewasa, ia dipaksa menghadapi kenyataan pahit demi menjalani takdir kelam yang tak terhindarkan. Tanpa ada pilihan lain, ia harus bersedia menjadi istri dari seorang gembong narkoba yang sangat ditakuti. Kini, kehidupannya sepenuhnya terperangkap dalam pusaran dunia hitam mafia yang sarat akan intrik berbahaya serta ancaman maut yang terus mengintai.
Sampul Novel Kekasihku Meninggalkanku di Hari Pernikahan
8.0
Hari pernikahan Cherish hancur seketika saat Diego pergi begitu saja setelah menerima sebuah telepon. Kejadian itu membuat nenek Cherish murka hingga muntah darah dan akhirnya meninggal di rumah sakit tanpa ada yang membantu. Di tengah kedukaan di kamar mayat, Diego justru menghubungi Cherish untuk meminta donor darah bagi Zoey yang terluka. Dengan tegas, Cherish mengakhiri hubungan mereka dan pergi. Kini, Diego bersujud di bawah guyuran hujan, memohon kesempatan kedua dan rela memberikan segalanya demi Cherish kembali.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan