APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Rahasia Pria Tanpa Nama

Rahasia Pria Tanpa Nama

Demi menghindari perjodohan paksa dengan lelaki paruh baya seumur ayahnya, Amanda memutuskan melarikan diri ke pantai. Namun, niatnya mencari ketenangan berubah drastis saat ia menemukan sesosok pria misterius yang terluka parah dan terapung di air. Ketika Amanda berusaha memberikan pertolongan, pria asing itu tiba-tiba tersadar dan membisikkan sebuah pesan penting. Kini, di tengah pelariannya sendiri, Amanda dihadapkan pada pilihan sulit untuk menyelamatkan nyawa pria tak dikenal tersebut.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Cepat cari dan temukan dia!" Perintah seorang pria yang merupakan komando dari para pria yang tengah berlarian mencari seseorang.

Amanda sendiri dengan kesusahan membawa pria yang dibantunya untuk mencari tempat yang bisa digunakan oleh pria itu.

"Tubuhmu benar-benar berat. Apa begitu banyak dosa dalam dirimu sampai segitu beratnya?"

Pria itu hanya diam, dia tidak banyak bicara sejak ditemukan Amanda. Baginya saat ini hanya segera diobati pada luka yang ada ditubuhnya apalagi diluka tusukan diperut.

"Tunggu disini. Aku akan coba bicara dengan pemilik rumah kecil itu. Siapa tahu kamu bisa tinggal disana sampai sembuh."

Pria itu hanya menganggukkan kepalanya. Dia memilih membaringkan tubub di atas gerobak kayu yang dibawa Amanda. Setelah sepuluh menit, Amanda kembali.

"Kamu harus membayar uang ganti rugi setelah sembuh. Aku terpaksa mengeluarkan uang untuk menyewa rumah ini. Padahal uang itu mau aku gunakan untuk pergi kekota mencari pekerjaan yang lebih bagus." Amanda terus mengomel karena uangnya terkuras habis untuk membayar sewa rumah.

Amanda membantu pria itu turun dari gerobak dan membawanya masuk ke dalam rumah. Didalam rumah itu sendiri hanya ada kasur yang penuh debu dan juga kursi kayu yang bagian sandarannya sudah terlepas.

"Duduklah disini. Aku akan membersihkan kamar tidurmu. Jangan lihat bentuk rumahnya karena hanya ini yang bisa aku bantu."

"Aku berterima kasih kepadamu Nona. Kamu sungguh sangat baik."

"Jika kamu tidak terluka, aku tidak akan mau membantumu."

Amanda membersihkan kamar yang akan ditempati pria itu. Bahkan Amanda menyapu lantai kamar serta memukul kasur agar debunya hilang.

"Ayo berbaringlah didalam kamar. Setidaknya kamu bisa merebahkan diri."

Dengan merangkul bahu Amanda, pria itu mulai berjalan dengan menopang tubuhnya pada Amanda. Amanda berusaha kuat agar tidak terjatuh karena tubuh pria itu sangat berat.

"Aahhh! Tubuhmu benar-benar berat. Tidurlah sebentar disini, aku akan mencari pakaian dan beberapa obat untuk lukamu."

Amanda membalikkan badannya untuk pergi tapi pria itu langsung memegang tangannya. Amanda kembali melihat ke arah belakang dan kaget ketika tangannya disentuh oleh pria yang tidak dikenal.

"Terima kasih kamu sudah menyelamatkan aku. Tapi aku mohon jangan berita siapapun kalau aku ada disini."

"Baiklah!" Jawab Amanda yang merasa terhipnotis dengan wajah serta suaranya yang sedikit berat.

Pria itu melepaskan tangan Amanda. Amanda segera pergi dari rumah kayu itu dengan menutup pintu. Amanda kembali ke rumahnya untuk mengambil beberapa baju yang dikiranya pas dengan ukuran pria tadi.

"Amanda!" panggil Ayahnya yang tahu Amanda sudah pulang.

Amanda tampak cuek karena dia sedang tidak ingim berdebat dengan Ayahnya. Amanda memilih mengambil beberapa baju yang dikiranya muat tas.

"Amanda! Apa kamu tidak mendengar Ayah memanggilmu? Ayah cuma mau mengingatkanmu kalau pernikahanmu dengan Tuan Pedro akan dilakukan tiga hari lagi. Jadi kamu bersiaplah, Tuan Pedro sudah memberikan sejumlah uang untukmu belanja pakaian."

Amanda yang kesal membanting baju yang akan dimasukkannya ke dalam tas dan berjalan keluar kamar untuk mencari Ayahnya.

"Ayah kembali mengambil uang yang diberikan ole si tua bangka itu? Apa belum cukup bagi Ayah menjual anak ayah ini? Sekali lagi aku ingatkan kepadamu, jika kamu terus memaksaku menikah dengan tua bangka itu maka aku tidak akan menganggapmu sebagai Ayahku lagi."

Amanda masuk ke dalam kamar dan mengambil tas ransel yang sudan berisikan beberapa baju serta obat yang akan diberikannya kepada pria tadi.

"Mau kemana kamu Amanda?"

"Bukan urusan Ayah! Bukankah Ayaj hanya peduli dengan uang? Maka makanlah uang yang diberikan oleh pria itu hingga habis. Aku tidak akan menyentuh sepersenpun uang itu. Lebih baik aku bekerja siang dan malam untuk mendapatkan uang."

Amanda langsung meninggalkan kembali rumahnya. Dia tidak mau hatinya kembali terluka jika terus berada didalam rumah. Tapi kenyataannya dia akan tetap kembali kerumah itu jika emosinya mereda.

Amanda pergi menggunakam sepeda yang selalu digunakannya untuk pergi bekerja. Selama diperjalanan dia melihat banyak pria berpakaian rapi menggunakan jas. Amanda tidak tahu apa yang dilakukan oleh pria yang tampaknya seperti seorang bodyguard atau anak buah sebuah kelompok.

Amanda terus berjalan dan tidak mempedulikan pemandangan yang ada didepannya.

"Apakah kalian melihat seorang pria terapung dipantai?"

"Tidak Tuan. Kami tidak melihatnya."

Para pria dengan setelan hitam itu terus mencari dan bertanya kepada warga sekitar soal penemuan tubuh pria yang terapung di pantai. Tapi tidak ada satupun warga yang melihatnya sehingga mereka memilih pergi.

Amanda sampai kembali dirumah kayu kecil tempat dia menyembunyikan pria yang ditemukannya.

"Kamu sudah kembali?" tanya pria itu ketika dia melihat Amanda tiba.

"Ya! Aku tidak akan meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini. Sekarang bukah pakaianmu, Aku akan mengobati luka diperutmu itu."

Pria itu membuka kancing kemejanya dan melepaskan kemeja yang penuh dengan darah. Amanda yang mengambil obat didalam tas tidak melihat bentuk tubuhnya. Tapi ketika Amanda membalikkan badannya, Amanda terkejut melihat bentuk tubuh pria yang terbaring diatas ranjang.

"Hmm! Aku akan mengolesi obat ini, jadi kamu bisa menahan rasa sakitnya."

"Lakukan saja!"

Amanda duduk disamping pria itu dengan panjangan yang berusaha dijaganya. Dia melihat tubuh kekar pria itu dengan satu tato yang mencuri pandangan Amanda. Tato bergambar setangkai mawar yang ukurannya tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu kecil.

"Nona! Disini lukanya." ucao pria itu ketika dia menyadari Amanda memperhatikan tato yang ada didadanya.

"Iya aku tahu." Amanda mulai mengolesi obat pada lukanya. Pria itu merintih kesakitan karena terasa perih.

"Tahanlah! Ini memang perih tapi bisa membuatmu sembuh dengan cepat."

"Shit! Apa yang kamu berikan? Kenapa begitu perih saat mengenai lukaku?"

"Apa? Kamu memakiku? Aku sudah memberikanmu obat secara cuma-cuma tapi kamu mengatakam sesuatu yang buruk."

Pria itu kembali mengontrol emosinya. Dia tidak bisa bersikap seperti biasa yang penuh emosi dan amarah ketika dia merasa tidak nyaman. Pria itu menahan rasa sakitnya ketika Amanda kembali mengolesi obat dibagian luka tusukan dan baru menutupnya dengan perban.

"Sudah! Lukanya sudah aku tutup dengan perban. Bukannya berterima kasih malah memakiku."

"Maafkan aku! Aku tidak sengaja mengatakannya karena terlalu sakit. Tapu terima kasih kamu mau mengobati lukaku."

"Ya sudah! Tapi siapa namamu?"

Pria itu diam dan menatap lurus kedepan. "Kenapa kamu diam saja? Aku sedang bertanya kepadamu, siapa namamu?"

"Aku tidak ingat! Aku tidak ingat siapa namaku!"

Amanda meletakkan obat tadi disamping dan memilih duduk sambil menatap pria yang sedang bersandar pada tembok.

"Kamu tidak ingat siapa namamu?"

"Iya!"

"Kamu juga tidak ingat sedang berada dimana dan apa yang terjadi denganmu?"

Pria itu kembali menganggukkan kepalanya. Amanda mendekatkan wajahnya dan melihat ke area kepala pria itu untuk mencari luka yang membuatnya sampai lupa dengan semua kejadian bahkan namanya sendiri.

"Tidak ada yang terluka?" Ucapnya kepada pria itu setelah memeriksanya.

Saat Amanda mendekatinya tanpa Amanda ketahui posisi kepanya mendekati kulit leher Amanda sehingga dia bisa mencium aroma vanila pada tubuh Amanda.

"Kamu yakin tidak bisa mengingat semuanya bahkan namamu?" Pria itu kembali menganggukkan kepalanya.

"Aku benar-benar tidak mengingatnya kecuali saat aku membuka mata dan melihatmu ada didepanku."

Amanda berdiri dan berjalan mengambil pakaian yang akan diberikannya kepada pria itu. "Hanya ada ini dirumahku, semoga saja muat untuk kamu pakai."

"Terima kasih." ucapnya sambil mencium aroma vanila yang sama pada pakaian yang diberikan Amanda.

"Vanila! Apa kamu menggunakan parfum aroma Vanila?"

"Bagaimana kamu mengetahuinya? Apa kamu mencium aroma tubuhku?" tanya Amanda dengan kedua tangan dipinggang.

"Disini!" kata pria itu sambil mencium baju yang diberikan oleh Amanda.

"Pakailah! Aku akan pergi membeli makanan untukmu. Nanti malam aku tidak bisa kesini karena harus bekerja."

"Kamu bekerja?"

"Iya. Aku harus bekerja keras lagi. Uangku sudah terpakai untuk menyewa rumah ini dan sekarang akan membelikanmu makanan. Aku pergi, didalam tas ini ada beberapa pakaian untukmu."

Amanda berbalik badan dan pergi meninggalkan kamar pria itu. Saat di pintu rumah, Amanda teringat sesuatu, dia kembali ke dalam dan berdiri didepan pintu kamar.

"Jon! Aku memberi namamu Jon. Bagaimana?"

"Terserah padamu saja."

Amanda tersenyum karena dia melihat Jon memakai baju kaos milik Amanda dengan sangat ketat.

"Apa tampak lucu? Apakah tidak ada yang lebih besar? Ini terlalu sempit untuk aku gunakan."

"Pakai saja untuk malam ini. Jika aku mendapatkan tips yang banyak aku akan membelikanmu baju dengan ukuran lebih besar. Tapi kamu tampak seksi menggunakannya."

Amanda menertawakan Jon sebelum dia pergi. Jon memperhatikan senyuman Amanda yang membuatnya kembali terpesona dengan Amanda.

"Manis!" ucap Jon

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dangerous Girl
9.7
Pasca tragedi berdarah yang merenggut keluarganya demi harta, Aliya yang dahulunya lembut kini berubah menjadi sosok pembawa maut demi menuntut balas. Di tengah misteri sekolah yang pelik, ia bertekad menguak dalang kejahatan itu. Misi ini membawanya mencari Samudra, pemuda bermata biru yang kini asing padanya. Walau terus ditolak dan nyawanya terancam oleh badai rahasia besar, Aliya tak gentar. Baginya, utang darah atas keluarganya wajib dibayar tuntas.
Sampul Novel Kesempatan Kedua dengan Kekasih yang Dicemooh
9.1
Demi menyelamatkan keluarganya dari kehancuran finansial, Johanna terpaksa menjadi wanita simpanan Carson. Sempat dimanjakan, ia sangat terluka setelah menyadari dirinya cuma alat dalam rencana licik pria itu. Johanna akhirnya pergi untuk membangun kehidupan baru yang mandiri. Saat mereka kembali dipertemukan, Johanna telah menjelma menjadi sosok tangguh yang didekati banyak pria. Carson yang dirundung penyesalan memohon kesempatan kedua, tetapi Johanna menolaknya dengan dingin karena mengaku telah menikah.
Sampul Novel Kumpulan Kisah Hot Membara
8.0
Kumpulan Kisah Hot Membara menyajikan rangkaian cerita romantis dewasa yang sarat akan gairah. Setiap babak mengupas dinamika hubungan modern yang intens, mempertemukan gejolak emosi dan hasrat terdalam para tokoh dalam momen-momen intim mereka. Pembaca akan diajak menyelami beragam skenario percintaan yang berani dan menggoda, mengungkap dimensi lain dari jalinan asmara yang penuh dengan percikan cinta membara.
Sampul Novel Liang Hangat Sang Penari
8.7
Kehidupan Lisnawati, janda muda berumur 16 tahun, hancur setelah suaminya, Komar, tewas dibegal. Demi bertahan hidup, biduan dangdut keliling yang berparas menawan ini direkrut Tante Shinta ke dunia malam. Lisna pun menjadi primadona dan memikat Budi Hendrajit, pengusaha kaya raya. Hubungan benci tapi cinta pun terjalin di antara mereka. Meski Budi sangat terobsesi untuk menikahi Lisna, rencana tersebut terhalang oleh restu ibunya yang menolak keras latar belakang sang biduan.
Sampul Novel Pelit Bin Medit
8.5
Hesti menjalani kehidupan pernikahan yang menyesakkan bersama Pramono, sosok suami yang sangat kikir. Kebebasan finansialnya dirampas total, bahkan seluruh gaji Hesti dikuasai sepihak oleh suaminya. Tanpa uang pegangan maupun biaya perawatan diri, Hesti juga harus menghadapi kenyataan bahwa urusan dapur pun diatur sepenuhnya oleh Pramono. Di bawah tekanan nafkah yang tidak layak ini, sanggupkah Hesti bertahan menghadapi sikap suaminya? Ikuti pergulatan batinnya.
Sampul Novel Pewaris Yang Disingkirkan
8.5
Jack, pemuda 28 tahun, harus bertahan menghadapi kemiskinan dan cemoohan di sudut kota. Siapa sangka, ia sebenarnya adalah putra mahkota dari dinasti kaya raya yang sengaja dibuang. Demi merebut kembali hak serta warisannya yang telah dirampas, ia harus menempuh jalan berliku penuh perjuangan. Beruntung, pertemuan dengan Laura menjadi momen penting yang mengubah arah hidupnya. Mampukah Jack menegakkan keadilan dan mengklaim takdirnya?