APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Rahasia di Koper Suamiku

Rahasia di Koper Suamiku

Kehidupan pernikahan Dewi yang semula harmonis seketika hancur setelah ia menemukan barang milik wanita lain di koper suaminya. Kejadian itu menyingkap berbagai rahasia kelam serta tabiat buruk sang suami yang selama ini tertutup rapat. Dirundung rasa sakit hati yang luar biasa, Dewi kini dihadapkan pada pilihan hidup yang sangat sulit. Apakah ia akan memilih bertahan dalam kepedihan, atau justru mengumpulkan kekuatan untuk membalas pengkhianatan menyakitkan tersebut?
Bab
Bagikan

Bab 3

Bab 3

Astaghfirullahalazim. Wanita tua itu mantan pembantuku dulu. Ternyata dia Ibu dari wanita selingkuhannya Mas Hakam.

Benar-benar manis sekali permaninan mereka. Orang yang kuanggap baik ternyata menusukku dari belakang. Mantan pembantuku itu namanya Bu Karti. Dia sudah lama bekerja denganku. Sejak aku masih gadis. Tak kusangka ia berhenti bekerja dan malah terlibat dalam semua ini. Aku sudah sering menolongnya dengan materi. Malah ia balas dengan sembilu. Baik lah, akan kubuat kalian menyesal sampe ke ubun-ubun.

Ingin sekali rasanya menghampiri mereka bertiga. Memberi tamparan keras pada wajah mereka satu persatu. Tahan! Plis tahan!

Kukepalkan kedua tanganku. Gigi ini bergemelatuk erat. Apa aku labrak saja mereka sekarang. Ah, jangan! Urus dulu semua aset yang sudah atas nama Mas Hakam balik menjadi atas namamu termasuk mobil itu. Beli obat tidur, suruh lelaki brengs*k itu tanda tangan. Setelahnya meminta cerai. Setia itu mahal Mas! Tak pantas jika diberikan kepada lelaki tak tahu diri sepertimu. Kau fikir kau bisa apa tanpa aku? Bahkan jabatan sebagai pimpinan perusahaan pun itu miliku. Kau hanya sebagai pegawai! Bukan pemiliknya!

Aku masih terperangah di sini. Melihat kebersamaan mereka. Teganya pembantu tak tahu diri itu bersekongkol dengan Mas Hakam. Orang yang kukira baik ternyata malah seperti ular. Jadi, selama ini aku telah memelihara dua ular sekaligus dalam rumahku. Dan itu sudah bertahun-tahun lamannya. Benar-benar cantik sekali permainan mereka. Akan aku tujukan, jika permainanku tak kalah cantik.

"Nak Hakam. Dewi nggak tahu 'kan kalau kamu ke sini?" wanita tua bernama Karti itu menanyakan tentangku. Semakin jijik aku mendengarnya.

"Tidak, Bu. Dia sedang di rumah. Oh, Ya, hari ini kan ulang tahun pernikahanku dengan Intan. Jadi aku mau ajak Intan sama Albert jalan-jalan." jelas Mas Hakam lalu mengangkat bocah laki-laki itu dan menggendongnya.

"Asyik ... jalan-jalan lagi sama Ayah," rengek anak kecil yang tadi namanya disebut Albert.

"Nggak usah, Mas. Kita kan baru saja liburan ke Bali." tolak wanita selingkuhan Mas Hakam. Tangannya mengelus lembut pundak suamiku.

Ternyata Mas Hakam bukan kerja di luar kota? Melainkan liburan dengan Intan. Semakin muntab aku dibuatnya.

"Nggak pa-pa sayang, mumpung weekend." balas Mas Hakam tersenyum manis.

"Udah lah, In. Jalan saja, mumpung Nak Hakam libur. Dia kan sibuk ngurus perusahaan yang nanti akan diwariskan pada Albert. Iya 'kan Kam?" tukas Bu Karti sembari tertawa renyah.

Apa? Perusahan mau diwariskan pada Albert! Jangan mimpi! Enak saja mengharap harta yang bukan haknya. Semua itu milikku. Alhmarhum papaku yang sudah mengelola perusahaan itu susah payah. Sedang Mas Hakam. Ia hanya tinggal meneruskan manisnya saja. Dasar lelaki rakus dan tak tahu diri! Kurang apa kamu Mas? Hidup bersamaku, semua keinginanmu terpenuhi. Termasuk menjadi orang yang paling dihormati di kantor. Kau tak perlu susah payah merangkak semua dari nol. Tinggal duduk manis dan menjadi bos. Itu pun malah kau sia-siakan.

Mereka pun masuk ke dalam rumah. Sekarang aku tak tahu apa yang dilakukan mereka di dalam sana.

Aku harus pulang atau ... menunggu di sini?

Dua pilihan yang membingungkan. Oke, kuputuskan menunggu di mobilku.

Tadi 'kan. Mas Hakam bilang, ia ingin pergi jalan-jalan. Semoga mantan pembantu itu tidak ikut. Akan kuberi dia pelajaran setelah mereka pergi.

*

Beberapa saat menunggu. Mobil Mas Hakam terlihat keluar dari halaman itu. Entah Bu Karti ikut atau tidak.

Saking dekatnya dulu aku dengan Bu Karti. Aku menganggapnya seperti Ibu sendiri. Bahkan aku kerap memanggilnya 'Bu' bukan Bibik. Seperti sebutan pembantu pada umumnya. Tapi sekarang aku tahu semuanya.

Terimakasih Tuhan, kau sudah menunjukkan semua ini. Meski sakit, tapi ini lebih baik dari pada terlambat.

Mobil Mas Hakam melaju ke arah Kiri. Itu artinya dia tidak akan melintas di jalan yang tengah ada mobilku.

Apa aku harus mengikutinya? Atau aku harus mengecek Bu Karti di rumah atau tidak.

Arrrgghh! Nafas ini menghunus di udara dengan berat. Kupukul setir mobil dengan keras. Frustasi dengan semua ini.

Ayo Dewi, berpikirlah yang jernih. Kau tak lemah! Kau bodoh! Kau wanita kuat dan cerdas.

Mempertimbangkan langkahku selanjutnya. Semua masih terasa mengambang di angan-angan. Sulit sekali meredakan emosi yang mendominasi.

Fix, aku putuskan untuk pulang. Aku tak mengikuti Mas Hakam dan intan pergi. Tak mau hati ini semakin terbakar api cemburu.

Dan untuk Bu Karti. Nanti akan ada kejutan yang manis untukmu. Atau bisa jadi, Kejutan ini bisa membuat jantungmu copot! Geram rasanya mengingat kebusukan mereka. Kuatkan aku ya Rabb.

Kuputar arah mobilku dan melesakannya untuk pulang.

Sesampainya di rumah. Kuhempaskan bobot ini di ranjang. Tubuhku terasa lemas. Jangan tanya bagaimana keadaan hatiku sekarang. Tentu hancur tak berbentuk.

Lelah rasanya mata ini. Hingga tak sadar aku menyelam ke alam mimpi.

*

"Bangun, Wi. Udah mau maghrib." sayup-sayup suara terdengar memenuhi telinga. diiringi guncangan di bahu kananku.

Aku mengerjab beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke rentina mataku.

Mas Hakam tersenyum dengan posisi duduk di tepi ranjang.

Hampir setengah hari aku tidur. Ini membuat kepalaku pening sekali.

"Udah pulang, Mas?" tanyaku datar. Lalu merubah posisi menjadi duduk dan bersandar di kepala ranjang.

"Aku udah pulang dari tadi, Wi." balas Mas Hakam singkat.

"Gimana Mas, urusannya? Lancar?" Mulutku mencelos begitu saja mengucap pertanyaan itu.

"Iya, Wi." cetus lelaki ini singkat. Tapi wajahnya biasa saja. Tak merasa bersalah sama sekali. Dia fikir aku tidak tahu semuanya.

Nikmati lah detik-detik terakhirmu di rumah ini Mas. Sebentar lagi kau akan enyah dari sini.

Hatiku tersenyum devils menatap lelaki yang tengah duduk seranjang denganku.

"Mas, aku boleh minta tolong nggak?"

"Minta tolong apa, Wi?"

"Tolong beliin aku, sate dong!"

"Siap. Tunggu ya,"

Tanpa basa-basi. Mas Hakam pergi menjalankan perintahku.

Bagus!

Sekarang tinggal ambil BPKB milik Mas Hakam. Surat pindah kuasa rumah dan pimpinan kantor. Memang semua masih ada embel-embel namaku. Kecuali mobil. Tapi aku tak mau jika lelaki ini pergi membawa secuil harta pun dari keluargaku.

Baiklah Dewi, jalankan dengan rapi. Setelahnya pergi ke meja hijau untuk mengakhiri semuanya.

****

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Mantan Istri Biasa
9.2
Tiga tahun menjadi istri penurut tak membuat Laura dicintai Nikolas Riyadi. Diabaikan demi wanita lain, Laura akhirnya memilih bercerai. Keputusan sang pewaris kaya kembali melajang langsung mengguncang publik. Kini, para CEO tampan saling bersaing memperebutkan hatinya. Saat Nikolas memohon kesempatan kedua di depan umum, akankah Laura luluh atau memilih melangkah pergi meninggalkan masa lalu?
Sampul Novel Gairah Sang Pemuas
9.1
Demi mengatasi krisis keuangan, Gusti, pemuda desa yang lugu, mengubah dirinya menjadi sosok pemikat urban demi melakoni pekerjaan sebagai pemuas. Meski ketampanannya berhasil menjerat hati banyak perempuan, ia justru terseret kian jauh ke dalam gelapnya dunia malam Jakarta. Di tengah kepalsuan hidup itu, kecemasan melanda Gusti ketika sahabat kecilnya mendadak hadir kembali. Kini, ia terhimpit di antara kerasnya realitas hidup dan masa lalu yang terus membayangi langkahnya.
Sampul Novel Hadiah Madu Untuk Suamiku
9.6
Demi mengejar mimpi kuliah di luar negeri, Indana Zulfa Hewatun memilih poligami sebagai jalan keluar. Ia bahkan berencana menjodohkan suaminya, Jidan, dengan santriwati pilihan dari pesantren sang ayah. Namun, niat ini terancam berantakan ketika Jidan mencurigai adanya hubungan antara Inda dan mantan kekasihnya. Di tengah krisis kepercayaan yang melanda, akankah rencana perjodohan ini tetap berjalan? Kisah perjuangan menggapai cita-cita tanpa mengorbankan rumah tangga.
Sampul Novel Harta Tahta Obsesi Gila
8.8
Paras menawan tidak menjamin kebahagiaan Arleta. Demi menghindari obsesi keji sang paman, Joshua, ia terpaksa hidup dalam kepedihan dan membangun benteng pertahanan diri yang kokoh. Trauma masa lalu membuatnya yakin bahwa cinta hanya kelemahan yang sia-sia. Kini, seorang fotografer bernama Arkana Sadewa harus berjuang ekstra keras demi meruntuhkan tembok perlindungan tersebut dan menyembuhkan luka di hati Arleta.
Sampul Novel KETIKA CINTA BERTASBIH
9.3
Walau usaha terbaik telah dilakukan, takdir akhir sebuah hubungan tetap berada di tangan Tuhan. Cerita ini mengulas dilema asmara beda agama dari dua insan yang tidak mungkin menyatu dalam ibadah. Sebagai hamba-Nya, mustahil baginya memilih seseorang yang berbeda keyakinan menjadi imam hidupnya. Namun, rasa cinta yang telanjur mendalam membuatnya sangat sulit merelakan. Akankah cinta ini berakhir di pelaminan, atau ia harus mengikhlaskan perpisahan demi prinsip teguhnya?
Sampul Novel Kubiarkan Kau Bersama Selingkuhanmu
9.1
Hatiku hancur saat tahu Arza, suamiku, berselingkuh dengan Zorah. Padahal, aku selalu membiayai hidup janda dari mendiang kakakku itu. Sungguh kejam balasan yang Zorah berikan atas kebaikanku. Namun, aku menolak terpuruk meratapi pengkhianatan ini. Aku telah merancang serangkaian kejutan menyakitkan untuk menghancurkan hidup mereka berdua. Kini, giliran para pengkhianat itu merasakan pembalasanku yang tak terduga.