APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel RAHASIA DI BALIK CINTA

RAHASIA DI BALIK CINTA

Di mata publik, hubungan mereka tampak begitu sempurna tanpa cela. Namun di balik pintu tertutup, sepasang kekasih ini saling menyembunyikan pengkhianatan yang kelam. Ketika satu demi satu dusta mulai terbongkar, mereka harus menghadapi kenyataan pedih bahwa rasa cinta yang dulu ada kini telah lenyap. Di tengah runtuhnya rasa percaya dan kebenaran yang kian terungkap, masa depan komitmen mereka kini berada di ujung tanduk.
Bab
Bagikan

Bab 1

Pagi itu, sinar matahari menerobos jendela besar ruang tamu rumah Adrian dan Maya, menerangi ruangan yang tertata rapi. Di meja makan, Adrian duduk dengan tenang sambil membaca koran, sesekali menyesap kopi hitam favoritnya. Di depannya, Maya tengah sibuk menyiapkan sarapan. Keduanya tampak seperti pasangan sempurna-harmonis, penuh kasih, dan sukses. Di mata semua orang, mereka adalah contoh keluarga ideal.

"Kamu mau sarapan apa hari ini, Sayang?" tanya Maya sambil tersenyum hangat, suaranya lembut dan penuh perhatian.

Adrian menurunkan korannya dan melihat ke arah istrinya. "Apa saja yang kamu buat selalu enak," jawabnya, tersenyum balas. "Mungkin roti panggang dan telur rebus?"

Maya mengangguk dan melanjutkan kegiatannya di dapur. Mereka berbicara tentang rencana hari itu-Adrian yang akan pergi ke kantor lebih awal untuk rapat penting, dan Maya yang akan menghadiri pertemuan dengan teman-temannya di sebuah kafe. Kehidupan mereka tampak teratur, penuh rutinitas yang nyaman.

Tetapi di balik percakapan ringan itu, ada perasaan tak terungkap yang mengendap di hati keduanya. Maya mencuri pandang ke arah Adrian dari balik bahunya, matanya menyiratkan sesuatu yang tak terucapkan. Sementara Adrian, meski senyumnya terlihat tulus, ada kehampaan yang menghantui tatapannya.

Ketika mereka duduk bersama untuk sarapan, percakapan mulai mengendur, seolah-olah ada dinding tak terlihat yang membatasi keintiman di antara mereka. Maya, yang dulu selalu menikmati obrolan pagi dengan suaminya, kini lebih sering tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia berpikir, kapan pernikahan ini berubah menjadi rutinitas kosong seperti ini?

Adrian, di sisi lain, sudah terbiasa dengan kesunyian ini. Di luar, ia adalah sosok yang dikagumi-seorang eksekutif sukses dengan keluarga yang bahagia. Namun, di dalam dirinya, ada sesuatu yang hilang. Rasa cinta yang dulu berkobar di antara mereka kini terasa dingin, meski ia jarang membicarakannya dengan Maya.

Saat sarapan selesai, Adrian beranjak dan mengecup kening Maya. "Aku berangkat dulu," ucapnya sambil mengambil tas kerjanya.

Maya tersenyum tipis, mengangguk, dan membalas, "Hati-hati, ya." Namun, saat pintu menutup, senyumnya perlahan memudar.

Kesunyian kembali mengisi ruangan, dan Maya termenung sejenak di depan piring-piring kosong di meja makan. Hatinya berdesir, merasakan kekosongan yang tak bisa ia definisikan. Dulu, setiap perpisahan pagi adalah momen yang penuh cinta dan harapan. Tapi kini, ada jarak yang tak terelakkan di antara mereka.

Di luar, tetangga mereka, *Bu Yanti*, melambai pada Adrian yang hendak pergi. "Pagi, Pak Adrian! Selalu semangat ya pergi kerja!"

Adrian tersenyum ramah dan membalas lambaian itu. Semua orang di lingkungan ini memandang mereka sebagai pasangan panutan-sempurna, tak bercela. Tak ada yang tahu, di balik senyuman ramah itu, Adrian merasa seolah hidupnya hanya berjalan di atas panggung. Semua yang ia lakukan hanyalah demi mempertahankan penampilan sempurna yang diharapkan semua orang.

Saat mobil Adrian melaju menjauh, Maya duduk di kursi makan, memegang cangkir kopinya yang sudah dingin. Mata kosongnya memandang ke arah luar jendela. "Kapan semuanya berubah?" pikirnya dalam hati. Tapi ia tak punya jawabannya, hanya perasaan hampa yang terus mengganggu pikirannya.

Maya akhirnya beranjak dari meja makan dan mulai membersihkan piring-piring dengan gerakan mekanis. Tangannya sibuk, tetapi pikirannya melayang-layang ke masa lalu. Dulu, saat mereka baru menikah, setiap pagi seperti ini penuh canda dan tawa. Adrian selalu punya cara membuatnya tertawa, bahkan di tengah kesibukan pekerjaan yang menumpuk. Tapi sekarang, semuanya terasa hambar, seperti rutinitas yang tidak bisa dihindari.

Selesai dengan piring, Maya berjalan ke ruang tamu. Foto-foto pernikahan mereka terpajang di dinding-gambar-gambar penuh senyum dan kebahagiaan. Maya berhenti di depan salah satu foto besar di sudut ruangan, saat mereka berdua tertawa bahagia di hari pernikahan mereka, memotong kue pernikahan bersama. Gambar itu terasa seperti kenangan dari kehidupan yang berbeda. Saat ini, senyuman itu terlihat asing baginya, seolah-olah itu adalah orang lain, bukan mereka.

Telepon Maya bergetar di meja, memecah kesunyian. Dia melihat layar dan nama *Raka* terpampang di sana. Jantungnya berdebar tak beraturan, dan rasa bersalah menyelinap ke dalam hatinya. Dengan tangan gemetar, dia meraih teleponnya dan menjawab dengan suara pelan.

"Halo?" Maya berbicara hampir berbisik.

"Selamat pagi, cantik," suara Raka terdengar hangat di telinganya, selalu memicu perasaan yang berbeda dalam hatinya. Bukan rasa nyaman seperti yang pernah dia rasakan dengan Adrian, tetapi lebih seperti getaran petualangan yang tak terduga.

"Raka, kenapa kamu telepon pagi-pagi begini?" Maya mencoba terdengar tegas, tetapi ada kelembutan dalam nada suaranya yang tidak bisa dia sembunyikan.

"Aku hanya ingin mendengar suaramu. Aku rindu," jawab Raka tanpa ragu. Perkataannya membuat Maya tersenyum tipis, meskipun perasaan bersalah menghantamnya dengan keras. Mereka memang jarang bertemu, hanya beberapa kali sepulang kerja, tapi hubungan ini sudah terlalu dalam. Dan meskipun Maya tahu hubungan ini salah, dia tidak bisa menghentikan perasaannya.

"Raka, kita tidak bisa terus seperti ini," kata Maya dengan nada hati-hati. "Aku masih punya Adrian."

"Aku tahu," suara Raka terdengar lebih serius sekarang. "Tapi apa kamu benar-benar masih mencintai dia? Setiap kali kamu bersamaku, kamu terlihat lebih hidup, Maya."

Kata-kata itu membuat hati Maya berguncang. Apa dia masih mencintai Adrian? Sejak kapan perasaan itu memudar? Setiap kali bersama Raka, dia merasa terlepas dari beban pernikahannya yang monoton. Tapi apa itu cukup untuk meninggalkan semuanya?

"Aku harus pergi," Maya akhirnya berkata, suaranya terdengar gemetar. "Kita bicarakan nanti."

"Baiklah," jawab Raka lembut. "Aku di sini kalau kamu butuh aku, Maya."

Maya menutup telepon dan menghela napas panjang. Perasaan bersalah mengalir deras dalam dirinya. Dia tahu bahwa apapun yang sedang dia jalani dengan Raka tidak benar, tetapi dia tidak bisa mengabaikan bahwa dalam hubungan itu, dia merasa dilihat dan diinginkan dengan cara yang sudah lama tidak dia rasakan dari Adrian.

Namun, di balik rasa bersalah itu, Maya masih belum siap untuk menghadapi kenyataan yang lebih besar-bahwa mungkin pernikahannya dengan Adrian sudah lama berada di ambang kehancuran. Dia menoleh ke arah jam dinding. Waktu terus berjalan, dan dia harus bersiap untuk pertemuan dengan teman-temannya. Dengan cepat, dia mengumpulkan barang-barangnya dan meninggalkan rumah, mencoba melarikan diri dari pikiran-pikiran yang terus menghantuinya.

Di tempat lain, Adrian sedang melaju di jalan tol menuju kantor. Musik dari radio mengisi kabin mobilnya, tetapi pikirannya teralih ke hal-hal lain. Dia memikirkan Siska, wanita yang akhir-akhir ini menjadi pusat pikirannya. Hubungan mereka dimulai secara tidak sengaja-sebuah godaan kecil saat mereka bekerja sama dalam sebuah proyek. Tetapi semakin lama, keakraban itu berkembang menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar hubungan kerja.

Dia tahu bahwa ini salah. Sama seperti Maya, Adrian dibanjiri rasa bersalah setiap kali dia bersama Siska. Namun, ada sesuatu tentang hubungan ini yang membuatnya merasa diinginkan, sesuatu yang telah hilang dari pernikahannya dengan Maya sejak lama. Maya dulu adalah segalanya baginya, tapi sekarang, dia merasa seperti mereka berdua hidup di dunia yang berbeda. Senyuman Maya yang dulu selalu membuatnya jatuh cinta kini terasa datar, tidak lagi menyentuh hatinya seperti dulu.

Adrian menyadari, seharusnya dia berusaha lebih keras untuk memperbaiki pernikahannya. Namun, semakin lama, semakin sulit baginya untuk menemukan alasan. Dia dan Maya adalah pasangan sempurna di mata semua orang, tapi di balik itu, mereka sudah menjadi dua orang asing yang menjalani kehidupan yang terpisah.

Adrian memarkir mobilnya di tempat biasa di kantor. Sebelum keluar dari mobil, dia melihat refleksi dirinya di kaca spion. "Sampai kapan kita bisa terus berpura-pura?" pikirnya dalam hati. Satu pertanyaan yang terus menggelayut di pikirannya, meskipun ia tahu jawabannya mungkin tak lama lagi akan terungkap.

Bersambung...

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel JIKA CINTA INI SALAH
8.8
Aku merelakan hidup mewah demi cinta, tetapi ketulusanku justru dikhianati. Sekarang, aku menghadapi pilihan sulit: tetap bertahan dalam rumah tangga yang retak demi masa depan anak-anak remaja kami, atau memilih pergi. Di tengah rasa bimbang dan ketergantungan ini, sebuah perasaan baru mulai tumbuh. Layakkah seorang ibu dengan dua anak sepertiku kembali membuka hati untuk cinta lain yang kini datang membawa harapan baru?
Sampul Novel Kali Ini, Aku Pilih Pergi
9.5
Unggahan viral mengungkap pengkhianatan Bondan yang merayakan ulang tahun cinta sejatinya bersama putra mereka di hari jadi pernikahannya dengan Sofia Jayadi. Saat membereskan dekorasi yang sia-sia, Sofia menerima telepon suaminya yang mencoba mencari alasan. Namun, mendengar tawa sang anak yang ingin menginap di rumah wanita itu membuat Sofia tersadar. Tanpa kemarahan, Sofia memilih merelakan segalanya. Kali ini, dia memutuskan pergi dan meninggalkan suami serta anaknya.
Sampul Novel Kumpulan Cerita Dewasa Untuk 21+++
9.3
Buku ini menghadirkan rangkaian kisah cinta modern yang dikurasi khusus untuk pembaca dewasa. Menyajikan narasi berani dan eksplisit, antologi ini berfokus pada eksplorasi hubungan intim serta momen penuh gairah yang sangat intens. Karena kontennya yang sensual, karya ini sangat tidak dianjurkan bagi mereka yang masih di bawah umur. Pastikan usia Anda telah memenuhi syarat sebelum mulai membaca kumpulan cerita yang ditujukan khusus bagi audiens berusia 21 tahun ke atas ini.
Sampul Novel Marriage Life 2
8.9
Vante Adinan diberi kesempatan kedua oleh Andara Jeo untuk menyelamatkan pernikahan mereka yang retak. Namun, kini ia harus menghadapi perubahan drastis pada sikap Andara, termasuk keinginan mengidamnya yang tidak biasa. Masalah makin pelik saat Jaren Adiyaksa menuduh Vante membawa perempuan hamil lain. Meski membantah tuduhan selingkuh tersebut, Vante harus berjuang melewati segala cobaan kesetiaan dan keanehan sikap pasangannya demi mempertahankan rumah tangga.
Sampul Novel Mencintai ayah angkat ku
8.6
Adam memendam obsesi kelam pada Hana, anak angkat yang dirawatnya sejak kecil. Ketika Hana berniat menyudahi hubungan tabu ini agar Adam bisa bahagia bersama perempuan lain, kemarahan Adam memuncak hingga berujung kekerasan. Ia berjanji tak akan membiarkan lelaki lain memiliki Hana. Di tengah konflik batin dan penolakan moral, Adam tetap memaksakan perasaan egoisnya. Sanggupkah ikatan penuh derita ini bertahan dari tentangan dunia?
Sampul Novel Mermaid For The CEO
9.6
Di puncak popularitasnya, Cassiopeia Moore dihadapkan pada pilihan sulit antara karier dan cinta dari dua pria berpengaruh. Namun, hidup Cassie hancur seketika saat rahasia besarnya terbongkar, hingga ia terlempar ke pelelangan ilegal. Dikhianati hingga terluka dalam, Cassie menerima sebuah tawaran nekat untuk membalas dendam. Akankah ia berhasil bangkit menuntut keadilan dan menemukan cinta sejatinya, atau justru ada rahasia lain yang akan terungkap ke publik?