APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Rahasia Aneh Para Suami

Rahasia Aneh Para Suami

Pernikahanku dengan suami mapan yang penyayang awalnya begitu indah. Namun, kehangatan malam kami tiba-tiba padam, menyisakan tanya dan gairah yang terpendam. Di tengah kehampaan itu, aku mencoba mencari pelarian. Alih-alih kepuasan, aku justru mengungkap rahasia kelam yang menyelimuti dirinya. Kini aku dihadapkan pada pilihan sulit: tetap setia dalam kepalsuan atau melangkah ke jurang pengkhianatan demi sebuah kebenaran.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Aku harus berhenti sekolah, Rin..." suaranya serak, setiap kata terdorong keluar bersama sesengguk yang menyakitkan telinga dan hati.

"Bapakku sudah mutusin, aku mau nggak mau dijodohin sama lelaki itu."

Aku membeku. Lelaki itu. Seorang yang usianya lebih dua kali lipat dari kami, duda dengan tiga anak yang sulung bahkan hampir seumuran dengan Fitri. hatiku langsung menolak, tapi mulutku kelu.

Malam itu udara lembap dan berat, seperti ikut memendam semua yang tidak sanggup kami ucapkan. Di kamar kecil dengan dinding papan tembok sudah mengelupas catnya, aku duduk bersila di lantai, merangkul Fitri erat-erat. Badannya menggigil di pelukanku, bukan karena dingin, tapi tangis yang terus pecah dari dadanya.

Fitri mengusap wajahnya dengan punggung tangan, matanya bengkak, merah, basah. "Bapakku bilang, ini kesempatan. Katanya, makin lama makin susah dapat jodoh. Aku nggak pinter, Rin. Aku cuma bikin malu kalau terus di sekolah. Kata Bapak, perempuan itu harusnya nurut."

Hatiku diremas. Bukan cuma karena ia sahabatku, tapi karena sebagai sesama perempuan, aku bisa merasakan betapa rapuhnya posisi kami di mata orang yang bahkan harusnya jadi pelindung. Kami bukan didengar, tapi ditentukan. Bukan ditanya mau apa, tapi diarahkan harus kemana, seolah hidup kami cuma bab tambahan dari cerita orang lain.

Aku menarik napas panjang, mencoba menyembunyikan amarah. "Fit, dengar aku. Kamu bukan beban. Kamu sahabatku, kamu perempuan yang punya hak untuk bermimpi. Dunia ini kejam, tapi bukan berarti kamu harus berhenti di sini."

Fitri menunduk, lalu bersandar di bahuku, tubuhnya berat, seperti semua mimpi yang ia pikul sudah patah.

"Rin, aku takut. Aku takut besok bukan aku lagi yang ada di dalam diriku. Aku takut jadi istri orang yang bahkan aku nggak terlalu kenal. Tapi aku nggak mau bikin orang tuaku malu..."

Aku mengeratkan pelukanku, seperti ingin menahan setiap serpihan Fitri agar tidak tercerai berai.

"Kalau aku bisa. Aku mau sembunyiin kamu dari semuanya, Fit. Biar kamu aman, biar kamu bisa tetap sekolah, tetap jadi dirimu yang ceria. Tapi aku cuma perempuan juga. Aku nggak punya kuasa, Fit."

Tangisnya makin pecah, membasahi bahuku. Malam itu kami, duduk berdekatan memeluk satu sama lain, bukan sekadar karena sedih, tapi di dalam pelukan itu ada bahasa yang hanya bisa dimengerti sesama perempuan: rasa takut, marah, pasrah, dan cinta dalam bentuk paling sederhana, kepedulian.

Kami diam lama. Hanya suara jangkrik dan detak jantung kami yang terdengar di ruang sempit itu. Aku ingin bicara, ingin memberi janji, tapi di kampung kami, kata-kata sering tak punya daya melawan keputusan yang sudah diucap para orang tua.

"Andri kabur ke kota, Rin," bisik Fitri.

"Bukan kabur, cari kerja kali, syukurlah," hiburku.

"Mudah-mudahan aja," doa Fitri.

"Fit... apa pun yang terjadi besok, jangan lupa kamu pernah punya mimpi, ya. Jangan biarin siapa pun bunuh itu semua. Simpan aja. Siapa tahu suatu hari, kamu bisa ambil lagi satu per satu."

Fitri mengangguk kecil, masih bersandar di bahuku. "Terima kasih, Rin... kalau bukan karena kamu, aku mungkin udah gila sekarang."

Malam itu aku tahu, bukan cuma Fitri yang kehilangan arah. Aku pun ikut merasakan satu bagian dari masa muda kami direbut, dan yang tertinggal hanya dua perempuan muda yang saling berpegangan di tengah dunia yang tak mau mendengar suara mereka.

Hari berikutnya, aku berdiri di antara kerumunan kecil di halaman rumah Fitri. Matahari pagi memantul di kain tenda seadanya, tapi rasanya bukan panas yang membuat keringat di leherku mengalir, melainkan amarah dan pilu yang berdesakan di dada.

Di depanku, Fitri duduk bersimpuh, mengenakan kebaya sederhana warna hijau pucat. Wajahnya dipoles seadanya, senyum tipis dipaksa hadir di bibir yang sudah lelah menangis semalaman. Tangannya gemetar saat harus menadah, mendengarkan ijab kabul yang keluar dari mulut lelaki yang layakn menjadi ayahnya.

Haji Atma. Lelaki paruh baya, berpeci putih, berbaju koko putih, suaranya berat tapi tenang, seolah yang terjadi hanya sebuah urusan biasa, bukan perampasan masa depan seorang gadis.

Di sisi lain, tiga anak Haji Atma duduk berjajar. Alvi si sulung diam saja, menunduk. Si tengah yang tak kuketahui namanya terlihat bosan. Si bungsu yang cantik malah sempat menguap lebar, tidak paham betapa di depan mereka, seorang gadis sedang mengucapkan janji suci yang seharusnya lahir dari cinta, bukan paksaan.

Orang-orang di sekitar menunduk, sebagian menangis haru, mengusap mata, mengucap syukur. "Alhamdulillah, sah. Sudah resmi," begitu kata mereka.

Namun tangis itu bukan tangis yang aku rasakan di tubuh Fitri. Air matanya bukan air mata bahagia, tapi luka yang diteteskan pelan-pelan, menyakitkan, dan tak seorang pun selain aku yang mendengarnya.

Aku berdiri kaku. Suara penghulu terus mengalun, doa-doa dipanjatkan. Semua orang menatap mereka dengan senyum, seolah ini adalah akhir yang baik dari sebuah kisah hidup sederhana. Padahal bagiku, ini adalah awal dari kehilangan besar.

Bagaimana mungkin kami yang baru minggu lalu menerima kabar naik ke kelas tiga SMA, tiba-tiba harus berpisah di tikungan paling tajam dalam hidup kami? Seharusnya kami membicarakan masa depan pendidikan, merancang rencana setelah lulus nanti, bukan malah melihat salah satu dari kami memutus tali mimpinya, lalu melompat ke dalam kehidupan yang bahkan belum siap ia mengerti.

Aku mencoba bertahan, berusaha kuat, tapi saat ijab kabul diucap dan serentak orang-orang mengucap "sah," aku mundur perlahan. Kakiku gemetar, napasku sesak. Aku tidak sanggup mengikutinya sampai tuntas. Aku melangkah keluar dari kerumunan, menuju pojok halaman, di mana suara ucapan selamat dan tawa orang-orang tidak terdengar begitu jelas.

Aku menatap ke langit, berharap ada sesuatu yang memberi tanda, sekadar memberi tahu bahwa ini bukan akhir bagi Fitri. Tapi langit diam. Dunia tetap berjalan, seolah pernikahan itu bukan tragedi kecil yang baru saja merenggut separuh masa mudaku melalui sahabatku sendiri.

Di balik kebahagiaan palsu yang disajikan pagi ini, aku tahu satu hal: Fitri tidak sedang memulai babak baru dalam hidupnya, ia sedang dipaksa menutup halaman paling indah dari hidup yang bahkan belum sempat ia tulis.

Haji Atma bukan CEO, bukan juragan empang, juga bukan tuan tanah. Dia hanya pemilik usaha penyewaan tenda dan perlatan pesta yang lumayan besar untuk ukuran kota kecamatan. Posturnya gagah, tinggi tegap, perangainya sopan, bahkan suka menyalami tetangga kalau lewat di gang. Katanya, ia pernah meminjamkan uang entah berapa banyak pada orang tua Fitri, dan sampai sekarang tidak sanggup melunasinya.

Aku kira pinjamannya juga tidak seberapa besar, sebab orang tua Fitri bukan pengusaha atau pemain proyek, mereka hanya petani biasa seperti ayah dan ibuku. Tapi entah mengapa, di kampung kami, anak perempuan, bisa tiba-tiba berubah fungsi - dari seorang anak menjadi barang, dari darah dan daging menjadi semacam jaminan hidup, bahkan bisa dipakai bayar utang.

Aku duduk di bangku panjang kayu di depan rumah, menatap kosong ke arah jalan yang masih ramai orang pulang dan pergi ke resepsi dadakan. Di kepalaku, pertanyaan-pertanyaan berputar seperti gasing.

Bagaimana mungkin seorang anak dijadikan alat bayar hutang?

Apakah begitu rendah harga diri seorang perempuan di mata keluarganya sendiri?

Atau memang orang tua Fitri sudah menyerah, bukan hanya pada hutang, tapi pada hidup yang terlalu berat untuk ditanggung bersama seorang gadis yang katanya "sudah cukup umur" untuk dijodohkan?

Semua terdengar klise. Terlalu klise malah, seperti kisah-kisah murahan tentang gadis-gadis miskin di negeri ini, yang selalu jadi korban dari dua hal: kemiskinan dan diamnya masyarakat.

Tapi saat klise itu menjelma di depan mata, saat korban itu punya nama, punya tawa, punya impian yang pernah kamu bagi di bawah pohon dekat sekolah, barulah kamu sadar: klise itu bukan cerita - itu kenyataan. Dan kenyataan itu jauh lebih menyakitkan daripada semua drama yang pernah kutonton di layar kaca.

Aku menggigit bibir, berusaha menahan amarah yang sudah tak tahu harus disalurkan ke mana.

Haji Atma? Dia hanya membeli kesempatan.

Orang tua Fitri? Mereka menjual masa depan anak sendiri.

Pada siapa pun di kampung ini? Mereka semua diam, menyebutnya takdir, menyebutnya jalan hidup. Padahal jelas-jelas itu perampasan.

Dan aku, yang seharusnya sahabat, tak bisa melakukan apa-apa selain jadi saks dari sebuah pernikahan yang sebenarnya bukan pernikahan, melainkan penyerahan paksa dari orang tua kepada lelaki yang membawa uang.

Malam itu aku pulang dengan langkah berat. Jalan-jalan kampung yang biasanya penuh tawa kini terasa seperti lorong sunyi yang menelanku bulat-bulat.

Aku masih bisa mendengar suara Fitri tertawa di ingatan, tentang cita-citanya ingin punya toko kue, tentang rencananya menyusul kakak sepupunya ke kota. Sekarang semua itu lenyap, ditelan akad dan selembar buku nikah.

^*^

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BACK TOGETHER
8.1
Pernikahan paksa Gio dan Belinda diawali kepedihan. Demi berpisah, Gio tega menyiksa batin Belinda, yang tetap bertahan demi bayi di kandungannya. Namun, persalinan sang anak justru menyingkap tabir rahasia Belinda. Kini, saat musuh dari luar mulai mengancam dan berniat menghancurkan mereka, pasangan ini dipaksa bersatu dan saling menguatkan demi mempertahankan keutuhan rumah tangga mereka yang rapuh.
Sampul Novel Cinta Buta Pembawa Petaka
9.6
Sebuah panggilan misterius dari pengembang properti mengusik ketenangan hidupku. Mereka mengeluhkan kegaduhan malam pernikahan yang dituduhkan terjadi di rumahku, meski aku sebenarnya tidak memiliki pasangan. Demi membuktikan keluhan tetangga, mereka mengirimkan rekaman pengawas. Kejanggalan mengerikan pun terungkap; video itu memperlihatkan prosesi iringan pengantin yang meriah di lorong rumah. Sosok mempelai pria di sana sangat kukenal, ia adalah mantan kekasihku yang sudah berpisah sejak dua setengah tahun lalu.
Sampul Novel Di Balik Kilau Giok, Ada Cinta yang Mati
9.7
Empat tahun menikah, sang istri selalu dihadiahi gelang batu giok setiap kali suaminya berselingkuh. Setelah mengalah dan memaafkan hingga 99 kali, batas kesabarannya habis. Kepulangan sang suami dari dinas luar kota selama tiga hari dengan membawa gelang giok hijau kekaisaran senilai puluhan miliaran rupiah tidak lagi meluluhkan hatinya. Alih-alih menerima hadiah mewah tersebut, ia justru memantapkan tekad untuk segera melayangkan gugatan cerai demi mengakhiri pernikahan mereka.
Sampul Novel Dia Menolak untuk Kembali
8.0
Tiga tahun lamanya Belen bertahan dalam hubungan tanpa kepastian demi mendapatkan hati Lanny. Namun, impiannya pupus seketika saat Lanny memamerkan pacar barunya dan mengusir Belen dari hidupnya. Belen pun memilih pergi dan lenyap tanpa kabar. Kehilangan tersebut justru menyadarkan Lanny akan kesalahannya. Diliputi penyesalan besar, ia mencari Belen ke berbagai penjuru dunia hingga akhirnya bersujud memohon agar wanita itu mau kembali bersamanya.
Sampul Novel Menikahi Ceo
8.7
Arga, seorang CEO yang dingin soal asmara, mendapati hidupnya berubah setelah bertemu Raisya, siswi SMA tegar yang tinggal bersama sang kakak. Pertemuan tak sengaja di depan rumah memicu aksi usil Raisya yang perlahan meluluhkan hati Arga. Sayang, kisah unik ini kandas ketika Raisya kuliah ke luar negeri dan melupakan Arga. Saat kembali, Raisya mendapati Arga telah bertunangan. Akankah cinta lama mereka membara lagi, atau Arga memilih setia pada tunangannya?
Sampul Novel Obsesi dan Cinta
8.8
Hubungan harmonis Lifah Putri Sanjaya, sang putri konglomerat yang sempat menyembunyikan identitasnya, bersama sang tunangan, Bara Wicaksono, kini diuji. Ketenangan hidupnya terusik sejak mulai bekerja di kantor baru. Di sana, ia justru dipertemukan kembali dengan Anggara Prampayoga, sosok masa lalu yang ingin dilupakannya. Terjebak dalam satu tim kerja, Lifah kini bimbang antara kenangan lama atau kesetiaan pada cinta barunya.