APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Rahasia Aneh Para Suami

Rahasia Aneh Para Suami

Pernikahanku dengan suami mapan yang penyayang awalnya begitu indah. Namun, kehangatan malam kami tiba-tiba padam, menyisakan tanya dan gairah yang terpendam. Di tengah kehampaan itu, aku mencoba mencari pelarian. Alih-alih kepuasan, aku justru mengungkap rahasia kelam yang menyelimuti dirinya. Kini aku dihadapkan pada pilihan sulit: tetap setia dalam kepalsuan atau melangkah ke jurang pengkhianatan demi sebuah kebenaran.
Bab
Bagikan

Bab 3

Waktu terus berlalu, sekolahku pun telah masuk kembali. Aku telah menjadi siswa kelas tiga SMA.

Sudah sebulan ini aku menghindari Fitri. Berangkat sekolah pun selalu memilih jalan belakang, memutar lebih jauh, hanya supaya tidak harus melewati rumah Haji Atma, rumah yang kini jadi rumah Fitri juga. Aku belum siap melihat wajahnya.

Belum siap melihat sahabatku yang dulu selalu berangkat dan pulang sekolah bersamaku, sekarang mungkin sedang menyapu teras sambil menggendong anak orang lain yang kini harus ia panggil anak.

Setiap kali kudengar orang-orang menyebut namanya, dadaku seperti diremas. Tetangga, kerabat, teman-teman sekampung, semuanya satu suara: Fitri baik-baik saja. Fitri sudah belajar mencintai suaminya. Fitri sudah menerima keadaannya, bahkan katanya hidupnya kini tenang dan bahagia bersama Haji Atma dan ketiga anak tirinya.

Tapi aku tahu, itu semua dusta.

Itu bukan kabar bahagia, itu cuma cerita yang mereka karang supaya mereka sendiri tidak terlalu merasa bersalah. Cerita yang disulam dari rasa bersalah, ditutup rapi dengan kalimat-kalimat manis agar luka itu tampak seperti pilihan, bukan paksaan.

Atau mungkin, mereka hanya ingin meyakinkan diri sendiri bahwa cinta dan kerelaan bisa tumbuh dari paksaan. Bahwa waktu akan mengubah rasa takut menjadi sayang, menjadikan pernikahan yang dipaksakan terasa normal, bahkan seolah-olah diinginkan.

Seperti yang mungkin mereka alami jauh sebelum kami lahir, saat generasi mereka pun menyerah pada jalan hidup yang sudah digariskan tanpa bertanya, tanpa berteriak, tanpa sempat melawan.

Waktu terus berlalu, empat bulan sudah aku kehilangan Fitri.

Berjalan pulang sekolah sendirian, langkahku pelan, melewati gang belakang yang sepi. Bau masakan dari dapur rumah Fitri ikut terbawa angin, membuat dadaku makin sesak.

Aku bertanya dalam hati, apakah Fitri sedang memasak sambil menahan tangisnya?

Apakah ia kini tertawa, bukan karena bahagia, tapi karena sudah lelah menolak nasib?

Atau jangan-jangan benar, ia mulai terbiasa - dan aku yang terlalu keras memegang kenangan kami, sementara dia sudah menguburnya demi bertahan hidup?

Aku benci semua kemungkinan itu.

Bukan karena aku ingin Fitri terus menderita, tapi karena aku ingin dunia ini jujur: bahwa memaksa seseorang menikah bukan cinta, bukan takdir, bukan ibadah, tapi perampasan.

Dan tak ada senyum di atas luka yang benar-benar tulus. Senyum itu lahir dari kelelahan, dari kepasrahan, dari ajaran turun-temurun bahwa perempuan harus menerima, harus diam, harus bertahan.

Aku menunduk, langkahku makin berat. Dalam hati aku berdoa kecil, bukan untuk kebahagiaan Fitri, tapi untuk kekuatannya. Karena kalau bahagia sudah tak bisa ia pilih, semoga setidaknya ia masih punya tenaga untuk tetap hidup dengan sisa harga diri yang mereka biarkan.

"Rin, tolong beliin gula ke warung Fitri?" ucap ibuku dari dapur.

Aku langsung menoleh, keningku mengernyit. "Ke warung Mang Gono aja, Bu."

"Udah habis di sana. Ke warung Fitri aja, sekalian nyebrang, nggak jauh kok."

Aku membeku. 'Warung Fitri.' Dua kata itu terasa asing di telingaku. Bukan "Warung Haji Atma. Nama itu seperti stempel baru, merek yang ditempelkan ke hidup sahabatku - seperti menutupi kisah lama, seolah tragedi yang kemarin hanyalah pembuka dari sebuah bisnis kecil yang manis.

Dengan enggan aku melangkah juga. Jalan ke sana cukup jauh, harus melewati RT berbeda, nyebrang jembatan kayu yang sudah lama tak kupijak. Rasanya seperti berjalan ke masa lalu yang tak ingin kuhadapi. Ini mungkin pertemuan pertamaku dengan Fitri setelah sekian bulan ia resmi menyandang nama baru: Nyonya Atma, pemilik "Warung Fitri."

Jantungku berdegup kencang ketika aku tiba di depan warung itu. Dari jauh aku melihat sosoknya di balik etalase kaca, tersenyum ceria melayani pelanggan. Tubuhnya tampak lebih berisi, pipinya agak tembam, kulitnya bersih, pakaiannya rapi. Gamis kekinian yang bisa rasanya baru kali ini aku melihat dia berjilbab.

Fitri tampak cantik - cantik dengan cara yang lain, bukan remaja SMA yang pulang sekolah sambil lari-lari kecil di jalan kampung, tapi seorang istri yang terlihat mapan, seperti punya hidup yang teratur.

"Rin!" serunya begitu matanya menangkapku. Senyumnya melebar, tangannya melambai seperti dulu, seolah tak pernah ada jarak yang merenggangkan kami.

"Astaga, lama banget kita nggak ketemu! Sini, mampir ke rumahku sebentar, yuk!" ajaknya seraya merapikan jilbabnya, seolah belum yakin jika yang dikenakannya sudah sesuai aturan.

Aku berdiri kaku. Mataku menatapnya, matanya menatap balik dengan binar yang terlalu terang. Terlalu cerah. Terlalu rapi untuk jadi nyata. Aku kenal Fitri. Aku tumbuh bersamanya. Aku tahu ketika ia bahagia, dan aku tahu ketika ia berpura-pura.

Fitri menggamit lenganku, masih tertawa kecil. "Ayo, Rin, sekalian ketemu anak-anakku. Mereka lucu-lucu, lho. Kamu harus lihat."

Hatiku seperti diremas. Aku tahu sejak dulu Fitri punya mimpi jadi artis sinetron, pernah bilang ingin main peran di layar kaca, tertawa sambil bercanda bahwa ia bisa akting menangis kapan pun dibayar. Tapi yang kulihat sekarang bukan akting menangis - ini sandiwara yang terlalu sempurna, terlalu bersih dari retak, terlalu dibuat-buat supaya terlihat seperti hidup bahagia.

Aku menelan ludah, bibirku bergetar, dan sebelum sempat kuatur suaraku, kata-kata itu lolos, lirih, pahit, penuh perlawanan yang tidak sempat kupikirkan:

"Gak bisa, Fit..." aku menunduk, menatap lantai teras rumah yang dipel baru.

"Kamu jangan bilang bahagia, oke? Kita sejak orok sudah bareng. Aku tahu matamu, aku tahu hatimu. Aku tahu mana senyum yang kamu buat, dan mana senyum yang kamu tahan supaya nggak pecah."

Fitri terdiam. Senyumnya membeku di wajahnya, seperti sebuah topeng yang tiba-tiba kehilangan naskah. Matanya berkedip cepat, seolah menahan sesuatu yang ingin jatuh.

Di antara sendal dan sepatu anak yang berserakan di sudut lantai itu, dunia seperti berhenti sebentar. Dua gadis kecil yang dulu bergegas berangkat sekolah bersama, kini berdiri di dua sisi garis nasib, hanya bisa saling menatap, sama-sama tahu, tapi tak bisa mengubah apa pun.

"Alhamdulillah aku sangat bahagia, Rin," ucapnya kirih sambil tersenyum, matanya berbinar seperti sinar lampu toko yang baru diganti.

"Percayalah, aku bukan drama, kamu lihat sendiri keadaanku. Wajahku, pakaianku, semuanya nggak bisa dusta. Aku dikasih warung ini sama suamiku, dia fokus dengan usaha penyerwaan tendanya. Kami saling usaha, saling bantu. Hidupku sekarang... jauh lebih tenang, Rin."

Aku hanya diam. Kata-katanya rapi, lengkap, seperti kalimat hafalan yang sudah diulang berkali-kali supaya terdengar meyakinkan. Bukan kalimat orang yang ingin didengar, tapi kalimat orang yang ingin dipercaya.

Fitri masih tersenyum, matanya menatapku penuh arti, seolah memaksa supaya aku ikut menyetujui cerita yang ia ciptakan. Tapi di balik sorot matanya yang berbinar, aku menangkap sesuatu - seperti ruang kosong yang sengaja ditutup tirai. Bukan gelap, tapi hampa.

Terserah Fitri mau mengatakan apa. Mau mengulang kalimat bahagia itu seribu kali pun, aku tetap tahu. Kebahagiaan yang ia tunjukkan bukan untuk Haji Atma. Bukan karena pernikahannya mendadak romantis seperti drama yang selalu kami tonton diam-diam di kamar. Bukan.

Ya, mungkin benar Fitri bahagia - tapi bahagia yang lahir dari warung itu. Bahagia yang tumbuh dari sesuatu yang bisa ia genggam, yang ia atur sendiri, yang membuatnya merasa punya sedikit kuasa di hidup yang sudah lama diambil orang lain.

Aku memilih diam. Tidak ada gunanya berdebat, apalagi merusak senyum yang sudah susah payah ia bentuk.

"Aku bungkusin gulanya, ya Rin. Gratis deh buat kamu," katanya sambil menakar gula ke plastik bening, lalu menyelipkan beberapa bungkus cemilan kecil. Setekah kami kembali berada di warungnya.

"Ini, titip salam buat Ibu kamu, ya," tambahnya.

Aku mengangguk pelan, menerima bungkusan itu. Tidak ada lagi kata yang keluar dari mulutku. Aku hanya tersenyum tipis, mencoba membalas kebaikan kecilnya, walau dalam hati masih berat, masih getir.

Aku pulang tanpa berdebat. Langkahku pelan melewati jembatan yang sama, jembatan yang sekarang terasa seperti garis pemisah antara dua dunia. Dunia sebelum Fitri dijodohkan, dan dunia setelahnya, dunia yang sama sekali tak bisa kuperbaiki, hanya bisa kusaksikan dari jauh.

^*^

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BACK TOGETHER
8.1
Pernikahan paksa Gio dan Belinda diawali kepedihan. Demi berpisah, Gio tega menyiksa batin Belinda, yang tetap bertahan demi bayi di kandungannya. Namun, persalinan sang anak justru menyingkap tabir rahasia Belinda. Kini, saat musuh dari luar mulai mengancam dan berniat menghancurkan mereka, pasangan ini dipaksa bersatu dan saling menguatkan demi mempertahankan keutuhan rumah tangga mereka yang rapuh.
Sampul Novel Cinta Buta Pembawa Petaka
9.6
Sebuah panggilan misterius dari pengembang properti mengusik ketenangan hidupku. Mereka mengeluhkan kegaduhan malam pernikahan yang dituduhkan terjadi di rumahku, meski aku sebenarnya tidak memiliki pasangan. Demi membuktikan keluhan tetangga, mereka mengirimkan rekaman pengawas. Kejanggalan mengerikan pun terungkap; video itu memperlihatkan prosesi iringan pengantin yang meriah di lorong rumah. Sosok mempelai pria di sana sangat kukenal, ia adalah mantan kekasihku yang sudah berpisah sejak dua setengah tahun lalu.
Sampul Novel Di Balik Kilau Giok, Ada Cinta yang Mati
9.7
Empat tahun menikah, sang istri selalu dihadiahi gelang batu giok setiap kali suaminya berselingkuh. Setelah mengalah dan memaafkan hingga 99 kali, batas kesabarannya habis. Kepulangan sang suami dari dinas luar kota selama tiga hari dengan membawa gelang giok hijau kekaisaran senilai puluhan miliaran rupiah tidak lagi meluluhkan hatinya. Alih-alih menerima hadiah mewah tersebut, ia justru memantapkan tekad untuk segera melayangkan gugatan cerai demi mengakhiri pernikahan mereka.
Sampul Novel Dia Menolak untuk Kembali
8.0
Tiga tahun lamanya Belen bertahan dalam hubungan tanpa kepastian demi mendapatkan hati Lanny. Namun, impiannya pupus seketika saat Lanny memamerkan pacar barunya dan mengusir Belen dari hidupnya. Belen pun memilih pergi dan lenyap tanpa kabar. Kehilangan tersebut justru menyadarkan Lanny akan kesalahannya. Diliputi penyesalan besar, ia mencari Belen ke berbagai penjuru dunia hingga akhirnya bersujud memohon agar wanita itu mau kembali bersamanya.
Sampul Novel Menikahi Ceo
8.7
Arga, seorang CEO yang dingin soal asmara, mendapati hidupnya berubah setelah bertemu Raisya, siswi SMA tegar yang tinggal bersama sang kakak. Pertemuan tak sengaja di depan rumah memicu aksi usil Raisya yang perlahan meluluhkan hati Arga. Sayang, kisah unik ini kandas ketika Raisya kuliah ke luar negeri dan melupakan Arga. Saat kembali, Raisya mendapati Arga telah bertunangan. Akankah cinta lama mereka membara lagi, atau Arga memilih setia pada tunangannya?
Sampul Novel Obsesi dan Cinta
8.8
Hubungan harmonis Lifah Putri Sanjaya, sang putri konglomerat yang sempat menyembunyikan identitasnya, bersama sang tunangan, Bara Wicaksono, kini diuji. Ketenangan hidupnya terusik sejak mulai bekerja di kantor baru. Di sana, ia justru dipertemukan kembali dengan Anggara Prampayoga, sosok masa lalu yang ingin dilupakannya. Terjebak dalam satu tim kerja, Lifah kini bimbang antara kenangan lama atau kesetiaan pada cinta barunya.