APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Purba Mahkota

Purba Mahkota

Perebutan takhta Putri Purba memicu perang saudara berdarah di antara tujuh putri yang dulunya saling menyayangi. Di tengah kekacauan ini, mahkota kekuasaan justru jatuh ke tangan Purbasari, putri yang sama sekali tidak mendambakan takhta. Kegagalan ini menyisakan kepahitan mendalam bagi Purbararang, sang kakak sulung yang ambisius. Kini, dari balik jeruji besi, ia meratapi kasih sayang tulusnya kepada sang adik sebagai kesalahan terbesar dalam hidupnya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Putih yang cantik. Memesona seperti intan permata. Lagi suci selayaknya permadani milik bidadari, … adalah hal terindah yang pertama kali didapatkan oleh tuan putri sulungnya kerajaan Pasir Batang, yang memiliki nama Purbararang, … dari penampilan memukaunya sang adik kandung yang baru saja terlahir ke dunia ini.

“Rarang, lihatlah tangan kecilnya. Bukankah dia sangat lucu?”

Ibu kandung dari Purbararang, sang Ratu Kerajaannya Pasir Batang, Ibu Ratu Sari Dewi Bunga Pamasti, … memiliki rupa cantik lagi menawan dalam menurunkan gennya ke adik Purbararang.

Diberkahi dengan rambut putih keperakan yang anggun, juga mata putih bening sesilau jernihnya bekuan air murni, … seorang ratu muda yang dikenal oleh rakyatnya sebagai seorang dewi karena sering menebar banyak kebaikan itu, … lekas mengarahkan tangan putri sulungnya yang baru menginjak usia 5 tahun kurang, untuk mencolek sedikitnya kulit merah bayi mungil di pangkuannya tersebut.

“Dia sangat cantik,” tukas seseorang menyusul.

Orang itu terlihat memiliki mahkota agung di kepala berambut hitam kelamnya, dengan manik mata hitam juga persis seperti ciri fisik yang terdapat pada Purbararang.

Mengusapkan tangannya untuk mengelus lembut kepala kecil sesosok makhluk hidup yang sebesar boneka ini, orang itu kembali menyambungkan ucapan.

“Sangat cantik sehingga segala kecantikan yang ada di dunia ini, seolah-olah berpusat kepadanya. Ah, bukan. Sepertinya, … semua kecantikan di dunia inilah, yang justru berasal darinya.”

Dia, orang itu, adalah seorang laki-laki tampan yang berprofesi sebagai raja muda kerajaan Pasir Batang, suaminya ibu ratu, juga Ayahnya Purbararang.

Yakni, Paduka Raja Prabu Tapa Agung.

“Purbasari, kuberikan nama itu.”

Mengecup dahi kecil si bayi yang baru saja di namakan dengan nama “Purbasari” olehnya, … Prabu Tapa Agung, lekas melengkapi pemberkatannya terhadap anak berdarah keluarga kerajaan yang baru lahir, dengan memanjatkan sebuah harapan.

“Semoga kamu tumbuh dengan baik, menjadi Putri yang sangat bijaksana untuk semua rakyatmu, … Putri Purbasari.”

***

“Teteh Lalang, Teteh Lalang!"

Purbararang kecil yang saat ini tengah bermain rumah-rumahan bersama dengan para putri–anak perempuannya raja dari selir-selir–lain yang kurang lebih memiliki usia tak jauh beda dengannya, … menolehkan kepala dengan rambut hitam sependek bahunya di cepol dua, … ke arah putri berambut hijau lemon dan bermata hijau kulit jeruk.

Putri itu adalah Purbaendah. Putri raja yang terlahir dari selir kedua.

“Endah dengal dari Ibu, adiknya Teteh Lalang sudah bisa belbicala banyak-banyak. Bukan menangis telus. Apa Endah boleh lihat?"

Awalnya terdiam sesaat, tak butuh waktu berapa lama kemudian, Purbararang menyahut dengan diiringi oleh tersimpulnya senyuman lebar yang terlihat begitu manis.

“Owhh, tentu! Saat Adik Rarang berbicara, dia akan sangat lucu, tahu! Dia cantik. Cantiknya mirip Rarang. Kamu ingat kan? Namanya Purbasari.”

“Purbathari?” sahut Putri lain yang tampak tertarik dengan topik pembicaraan.

“Kenapa membicarakan Purbathari? Apa Purbathari thudah bitha menyebut nama Ana? Ana mau lihat!”

Putri itu adalah Purbakancana.

Seorang putri yang memiliki rambut kuning kejinggaan seperti warna pada batu perunggu, … mengerjap-ngerjapkan manik mata yang berwarna serupa miliknya, kepada Purbararang.

Purbakancana, si putri yang juga sering kali mencoba menarik perhatian kakak tirinya ini dengan bersikap sok menggemaskan, adalah anak bungsu yang terlahir dari perut selir pertama raja.

Dia memiliki kakak perempuan yang satu setengah tahun lebih tua darinya. Dan kakaknya, adalah anak yang kurang lebih memang sebaya dengan Purbararang.

Namanya ….

“Ana, bukankah Ibu sudah bilang kalau bayi itu jelek? Untuk apa kita melihat sesuatu yang jelek?”

… Purbamanik.

“Mending kita main rumah-rumahan di sini saja.”

Putri muda berambut merah kejinggaan seperti warna pada langit sore, dengan manik mata serupa seperti yang dimiliki Purbakancana itu, … telah menyirikan sifat arogan sedari dini.

“Ah~ Teteh, … Ana ingin lihat!”

Merengek dan mulai menampakkan muka yang berkaca-kaca, pada akhirnya, Purbakancana mendapatkan dukungan persetujuan dari putri yang lain.

Dari sepasang putri kembar yang dilahirkan dari ibu berupa wanita bergelar selir ketiga.

Mereka adalah ….

“Apa salahnya, melihat sekilas?”

“Ya, itu lebih baik dari pada terus menyimpan rasa penasaran kita.”

… Purbaleuih dan Purbadewata.

Sepasang putri kembar seiras, yang hanya dapat dibedakan melalui warna pada rambut dan juga mata mereka saja.

Jika Purbaleuih memiliki rambut hitam keungu-unguan, dengan manik mata ungu gelap, … maka, Purbadewata memiliki rambut hitam kebiru-biruan, dengan warna mata biru lautan dalam.

“Lihat! Teteh Leuih thama Teteh Dewata thaja thetuju juga, kan?” tukas Purbakancana mempertanyakan keraguan dari si kakak kandungnya ini, dengan membela diri memanfaatkan pendapat dari kakak tirinya yang lain.

“Kalau Teteh Manik tidak mau, ya thudah! Jangan ikut!” lanjutnya, sembari bersembunyi dibalik punggung saudara tiri yang sebaya dengannya, Purbaendah.

Dia melakukan hal itu, karena merasa sangat takut dengan reaksi mengerikan apa yang akan kakak pemarahnya tersebut lontarkan.

Membalas pernyataan mengesalkan adiknya yang menjadikan keningnya berkerut, Purbamanik menyahut. “Siapa juga yang mau ikut! Aku tidak mau! Kalau mau pergi, ya sudah, … pergi saja sana!”

“….”

Kamar tempat bermain para putri ini mendadak hening, segera setelah mendengar Purbamanik menuturkan amarah kekesalannya.

Tentu saja hal ini membuat sang putri yang hampir setiap hari selalu saja dibanding-bandingkan dengan Purbararang oleh ibunya itu pula, mendadak merasa malu.

“A-apa? Ti-tidak pergi?”

Menggeleng-menggelengkan kepalanya dan berdecap menirukan tingkah laku orang dewasa ketika mereka merasa kecewa, Purbararang melontarkan kata.

“Kekanak-kanakan,” ujarnya terdengar konyol, karena mereka semua saat ini memang masih anak-anak.

“Sudahlah, semuanya. Ayo kita pergi,” ajaknya kemudian kepada yang lain, sambil menuntun dan menggenggam tangan Purbaendah beserta Purbakancana, … untuk kemudian mulai melangkahkan kaki diikuti si putri kembar dalam meninggalkan Purbamanik di ruangan bermain ini sendiri.

Dirasa ingin mengucapkan sesuatu tetapi tak kunjung muncul kata yang dapat keluar dari mulutnya, … Purbamanik yang sebetulnya merasa ingin ikut dengan mereka jauh dari dalam lubuk hati, tetapi merasa begitu malu dalam mengatakan segalanya secara jujur, … mengepalkan tangannya erat.

Apa?

Melihat bayi yang konon katanya memiliki sari kecantikan seperti kopiannya paduka ratu. Seseorang perempuan hebat yang menjadi idola untuk Purbamanik, … melebihi rasa hormat kepada ibunya sendiri?

Memangnya, … siapa yang tidak ingin melakukan itu?

“Hei! Tunggu aku!” jerit Purbamanik tak berlangsung lama, mengejar para putri lain setelah bergelut dengan keras melawan rasa gengsi.

“Katanya tidak mau ikut?” cibir Purbararang, membuat wajah Purbamanik memerah melebihi warna pada rambutnya sendiri.

“Ja-jangan salah sangka! Aku ikut karena aku harus mengawasi Ana! Sebagai Kakak yang baik, aku harus menjaga adikku dari kedekatan! Bukan karena ingin melihat adikmu yang jelek!” elaknya, melimpahkan segala alasan dengan melibatkan adiknya yang saat ini memandangnya dengan hati ingin mengatai.

“Kalau begitu … ya sudah.”

Melepaskan tangan Purbakancana untuk terulur meminta raihan tangan Purbamanik, dengan polosnya … Purbararang tersenyum semringah, menampakkan deretan giginya yang bolong-bolong.

“Ayo kita pergi bersama-sama!” ajaknya, segera dibalas Purbamanik dengan membiarkan tangannya tuk lekas digenggam oleh tangan milik saudara tiri yang paling membuatnya iri.

Dengan ikutnya Purbamanik saat ini, kini … formasi yang dilakukan oleh Purbararang untuk menuntun adik-adiknya itu pun jadi berubah.

Dia mengubah posisinya untuk berdiri di tengah-tengah.

Menggunakan tangan kirinya untuk menggandeng tangan Purbamanik yang juga menuntun Purbakancana, … bersama tangan kanannya menggandeng tangan Purbaendah, yang menuntun si putri kembar.

Dengan demikian, secara damai dan terlihat menentramkan jiwa, keenam Putri Kerajaan Pasir Batang tersebut pun, kembali berjalan bersama … dengan lengan mereka yang kecil-kecil, saling bertaut tuk menggandeng tangan satu sama lain.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel TABIB CANTIK DARI MASA DEPAN KESAYANGAN PANGERAN DARI MASA LALU
8.4
Ahli bedah plastik masa depan, Virgolin Asteria, diculik ke dimensi lain oleh sosok misterius. Di bawah ancaman maut, ia dipaksa menggunakan keahlian medisnya demi menyelamatkan sang Ratu. Namun, saat gerbang untuk pulang akhirnya terbuka, Virgolin justru dihadapkan pada dilema batin yang berat. Benih cinta telah tumbuh di hatinya untuk sang penculik, Pangeran Pisceso Helios. Kini, ia harus memilih antara kembali ke keluarganya atau menetap di dunia asing itu demi sang pujaan hati.
Sampul Novel Bermandikan Api: Kisah Reinkarnasi Seorang Putri
8.0
Putri Yun Shang terlahir kembali ke masa lalu saat dirinya masih berumur delapan tahun. Di balik raga kecilnya, ia memikul memori pahit dari masa depan tentang pengkhianatan sang suami, hilangnya buah hati tercinta, serta kekejaman kakak perempuannya. Berbekal kepedihan dan ingatan masa lalu, Yun Shang bertekad mengubah takdirnya. Ia menolak menjadi sosok lemah dan bersiap membalas dendam kepada semua orang yang dahulu menghancurkan hidupnya.
Sampul Novel GAIRAH LIAR ISTRI BOSKU
9.7
Demi membalas dendam atas pengkhianatan suaminya, Charles Bosley, Theresa nekat berselingkuh dengan sang pengawal pribadi, Aaron Parker. Di sisi lain, daya tarik Theresa juga memikat Sean Dalbert, seorang politikus Italia yang penuh ambisi. Begitu Charles berhasil disingkirkan, persaingan sengit pun meletus antara Aaron yang bernaung di bawah Organisasi EXO dan Sean yang mengincar kursi walikota New York. Di tengah intrik politik dan perebutan kuasa, Theresa kini terjebak di antara keduanya.
Sampul Novel Kamu Milikku (Hasrat Gila bersamamu)
9.4
Ulang tahun Thania yang harusnya bahagia berujung tragis ketika ia diculik dan dipaksa melihat orang tuanya dibunuh. Kini, dirinya disekap sebagai pemuas hasrat oleh seorang pemimpin mafia yang amat kejam. Demi bertahan hidup, Thania harus memikirkan cara untuk memikat hati sang penyiksa. Bisakah ia menaklukkan sang bos mafia agar bersedia membantunya membongkar konspirasi besar di balik kematian keluarganya, atau ia justru akan terperangkap selamanya?
Sampul Novel Kasus 21+
9.3
Khusus pembaca 21 tahun ke atas. Sebagai ketua tim khusus kepolisian elit, Eva Avalon mengemban misi besar untuk memberantas kejahatan dan eksploitasi seksual yang merajalela. Di era modern dengan teknologi yang memicu berbagai modus operandi baru yang licin, ia harus memimpin penyelidikan kasus-kasus rumit. Ikuti perjuangan hebat Eva dalam mengungkap setiap misteri dan menegakkan keadilan di tengah tantangan yang berbahaya.
Sampul Novel Mantanku Panik Setelah Pengunduran Diriku
9.5
Setelah terlahir kembali, Yonatan memutuskan mundur dari industri musik demi menghindari tragedi masa lalu. Di kehidupan sebelumnya, ia dituduh memplagiasi karya Sherwin hanya karena kalah cepat rilis sepuluh menit, memicu perundungan kejam yang menewaskan orang tuanya. Kini, saat sang mantan pacar dan Sherwin berpura-pura peduli di depan media, Yonatan memilih mengabaikan mereka. Ia bertekad melindungi keluarganya dan mengungkap kebenaran di balik pencurian lagunya dalam kisah romantis penuh misteri ini.