APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pupus

Pupus

Hubungan Hafiz dan Aina kandas demi menuruti perjodohan dari orang tua mereka. Tiga puluh tahun berlalu, takdir mempertemukan anak-anak mereka, Arsakha dan Gwen, yang kemudian saling jatuh cinta. Kisah asmara ini terancam runtuh ketika ibu Gwen menyadari bahwa kekasih putrinya adalah anak dari masa lalunya. Penolakan keras pun muncul dari ibu Gwen. Akankah takdir pahit orang tua mereka terulang kembali, ataukah Arsakha dan Gwen mampu memperjuangkan cinta mereka?
Bab
Bagikan

Bab 2

Sebentar-sebentar ia melempar pandang ke seberang jalan. Lalu-lalang orang berjalan kaki, becak, sepeda dan pedati, membuat jarak pandanganya terganggu. Ia alihkan kepala--kadang ke kiri, sebentar ke kanan--sekali-dua ia masih melihat perempuan berkebaya encim warna cokelat muda. Kali ketiga rupanya ia kehilangan sosok yang sejak tadi diintainya. Debu jalan menguar, lelaki itu menarik pandangan. Hasratnya kini beralih kepada aroma kopi dari kedai sebelah yang telah memberangsangkan hatinya untuk menikmati seteguk dua Kopi Arabica yang wangi. Lekas ia berjalan meninggalkan toko Babah Liong, penjual tembakau linting harum, setelah dibayarnya harga sejumput besar, seharga dua rupiah. Tembakau sebanyak itu bisa habis dua hari saja baginya.

Lelaki itu masuk ke kedai kopi.

“Kasih aku kopi kental manis!” ujarnya pada pelayan kedai.

“Selain kopi apalagi yang hendak Tuan pesan?” tanya pelayan sambil membungkuk hormat.

“Tidak, tak ada. Kalau nanti terbit niatku pada juadah kau itu, barulah aku panggil kau sekali lagi. Boleh begitu?”

“Oh, tidak mengapa, Tuan. Bagi kami pembeli adalah raja. Sila membayar secangkir kopi, 20 sen saja, Tuan.”

Lelaki itu mendongakkan sedikit wajahnya. Lalu ia melempar senyum. Si pelayan tak tentu perangainya. Malu hati ia.

“Memang kita sudah meniru cara orang luar berniaga, Tuan. Bayar lebih dulu, pesanan baru diantar," ujar pelayan sedikit malu-malu.

“Ini aku bayar kopi kau itu, 20 sen!”

“Tuan tak ada uang 20 sen saja?” si pelayan kedai kopi melihat selembar uang satu rupiah di atas meja.

“Sisanya itu bagianmu, ambil dan simpanlah sebagi pemberian dariku, tapi dengan satu syarat ....”

“Asal tidak memberatkan saya saja, Tuan. Bolehlah saya perturutkan," Si Pelayan tersenyum senang.

“Kau tahu, siapa perempuan yang berkebaya encim warna cokelat muda, yang sudah lebih dari sejam, berdiri di seberang kedai kopi kau ini. Lihat ke sana, di kedai dobi pakaian itu.”

Si Pelayan kedai kopi menjulurkan kepala, mengikut jari yang ditunjuk si lelaki ke seberang jalan.

“Tak ada perempuan seperti ciri yang Tuan sebutkan tadi?” Si Pelayan kedai kopi nampak kebingungan.

Lelaki itu menarik kembali tangannya. Air mukanya tampak menahan geram.

“Memang sekarang sudah tidak ada, yang aku bilang, itu perkara tadi!”

Pelayan tersengih--senyum seperti kuda--ia menoleh pada Si Lelaki.

“Kalau perkara tadi, kenapa baru Tuan tunjuk sekarang?”

Lelaki itu mengambil kertas rokok merek ZIG-ZAG, serta tembakau yang tadi dibelinya di toko Babah Liong. Lelaki itu memilin-milinnya sebentar. Kemudian ia melintingnya.

“Sudah lebih dari sejam perempuan itu berdiri di sana, kenapa bisa kau tak melihatnya, barang sekali- dua?”

“Saya ini bekerja, Tuan. Mana sempat perhatikan orang?” Si Pelayan kedai beranjak pergi.

Lelaki itu tak bersuara lagi. Ia selesai melinting tembakau, memantik korek api dan membakar ujung lintingan tembakau yang serupa balon bentuknya. Asap pun mengepul-ngepul dari mulut lelaki itu. Sebentar saja ia menikmati kepulan asap tembakau, terlihat pula olehnya perempuan berkebaya encim cokelat muda, melintas di depan kedai kopi. Lelaki itu pun berdiri, mengejar keluar.

“Nona!” diberanikannya diri untuk menegur.

Perempuan berkebaya encim cokelat muda berhenti dan menoleh ke belakang. Bukan main seri wajahnya. Setanding dengan kejora, memancar-mancar penuh pesona. Hafiz terpana memandangnya.

“Tuan memanggil saya?” perempuan itu menyahut. Air mukanya menunjukkan kalau ia amatlah terkejut ditegur oleh seorang lelaki, muda dan gagah pula.

Si lelaki tak tahu apa yang telah diperbuatnya. Memanggil tadi tak sengaja ia lakukan. Hanya dorongan hatinya saja, tapi sekarang sudah lacur, nasi sudah menjadi bubur.

“Saya lihat, Nona sejak tadi menunggu sesuatu, tapi pada sangka saya pastilah orang yang Nona tunggu-tunggu tak datang jua.”

Perempuan berkebaya encim cokelat muda tersenyum. Kali ini dipandanginya lelaki itu dengan sangat cermat. Sejak dari kepala hingga ujung kaki. Boleh juga potongannya, seperti pegawai pemerintah, atau kalau pun tidak, mestilah ia berniaga. Pikir hati perempuan itu.

“Saya sedang menunggu Ayah dan Ibu, mereka ada keperluan dengan kawannya.”

“Oh, begitu rupanya? Kenapa Nona tak mengikut saja?”

“Ah, tidak. Saya memilih turun dari mobil, sekalian ada barang yang ingin saya cari di Pekan ini.”

Si Lelaki terdiam sejenak. Turun dari mobil? Pastilah ia anak orang kaya, ujar lelaki itu dalam hati. Lalu dengan tersenyum, ia berkata lagi:

“Baiklah Nona menunggu di dalam kedai kopi saja. Mau minum apa tinggal meminta, lagi pula banyak juadah⁵ yang menerbitkan selera. Tak apa saya yang bayar, marilah masuk.”

“Terima-kasih banyak, Tuan. Saya sudah tak ada waktu lagi, permisi,” perempuan itu pun melangkah pergi.

Tiba-tiba saja Si Pelayan kedai kopi menjulurkan kepala dari ambang pintu, ia memandang keluar.

“Itukah orangnya yang Tuan maksud tadi?”

“Ya, dialah orang.” sahut Si Lelaki sambil terus memperhatikan perempuan berkebaya encim warna cokelat muda pergi menjauh.

“Kenapa ia tak berdiri di depan kedai dobi, seperti yang Tuan katakan tadi?”

“Dia itu manusia, tentulah bergerak ke sana-sini. Mengapa tak sampai pikiran kau ke situ?”

Si pelayan tersengih-sengih.

“Aih, sudahlah Tuan. Itu kopinya sudah terhidang.”

“Oh, ya. Kasih juga aku beberapa macam juadah kau itu,” seru Si Lelaki tanpa menoleh kepada Si Pelayan.

“Agaknya perempuan itu telah membuat perut Tuan menjadi lapar?” goda Si Pelayan sambil beranjak ke dalam kedai.

“Pergilah sana, nanti aku laporkan kau kepada majikanmu, mau?” ancam Si Lelaki menggertak.

“Alahai, janganlah cepat sekali Tuan naik darah. Saya tadi cuma berkelakar saja.”

Si pelayan melangkah pergi mengambilkan juadah. Sedangkan lelaki itu masih berdiri saja di ambang pintu kedai kopi sambil memandang perempuan berkebaya encim cokelat muda yang semakin menjauh. Entahlah kenapa hatinya seperti hendak melompat keluar, mengejar perempuan itu yang seri wajahnya setanding kejora. Belum pernah ia melihat paras sejelita itu. Selama ini hanya ada dalam mimpi saja sangkanya. Siapakah dia? Ah, Si Lelaki semakin tak menentu hatinya.

“Ini juadahnya tuan, semuanya lima ringgit, sepuluh sen!” Si Pelayan meletakkan juadah, bercampur antara kue malaka, dadar, wajik, bika dan kue lumpang.

Bagai tak ada nyala semangat dalam hati lelaki itu, ia melangkah masuk ke kedai kopi. Diambilnya uang satu rupiah lalu meletakkannya di atas meja. Kemudian itu katanya.

“Ambil sisanya untukmu.”

Si Pelayan tersenyum. Matanya berseri-seri, girang bukan kepalang.

“Kalau beginilah semua orang yang minum di kedai, alamat besok lusa, aku pula yang jadi majikan. Punya kedai kopi sendiri.”

“Sudahlah, jangan mengganggu aku lagi,” ujar Si Lelaki sambil menyeruput kopinya yang sudah mulai dingin.

“Baiklah, Tuan. Besok-lusa saya akan coba melihat-lihat kalau perempuan itu datang lagi.”

Si Lelaki mendongak. Memandang Si Pelayan yang masih berdiri di dekat mejanya.

“Apa pula pentingnya bagimu?”

“Siapa tahu, saya bisa mintakan nama dan alamatnya untukmu, Tuan?”

Mendengar itu tersenyum Si Lelaki. Terbit harapan di bola mata. Dipandanginya Si Pelayan.

“Boleh, boleh juga usulmu itu, Ujang.”

“Nama saya bukan Ujang, Tuan. Panggil saja Jali, nama saya Rojali.”

“Baiklah kalau begitu, Jali. Aku mintakan tolong pada engkau. Coba kau amat-amati, mana tahu perempuan itu datang lagi besok-besok?”

“Ya, tapi menurut firasat saya, pastilah perempuan itu berasal dari kota.”

“Kota mana?”

“Barangkali dari Medan, Tuan.”

“Ini juga Medan, Jali!”

“Betul yang Tuan katakan itu, tapi kita ini berada di pinggirnya.”

“Baiklah, kalau dia tinggal di pusat kota, tak sampai setengah hari bersepeda.”

“Itu pun kalau Tuan punya sepeda,” Si Pelayan melempar pandangannya keluar kedai. Tak ada satu pun sepeda yang nampak olehnya.

“Aku bisa pinjam, apa katamu?” ujar Si Lelaki seolah tahu isi hati pelayan kedai.

Si Pelayan kedai terdiam sejenak—berpikir—sambil menggaruk-garuk kepalanya.

“Ah, tapi tak mungkin juga, mustahil Tuan tak punya sepeda. Lagak gaya Tuan saja sudah seperti pegawai.”

“Kita baru saja merdeka, Jali. Kehidupan semua orang sedang susah, kecuali bekas pegawai Belanda atau mereka yang bekerja di Jawatan Negara.”

“Kalau boleh saya tahu, Tuan bekerja di mana?”

“Jali!”

Seorang lelaki gemuk memakai kopiah memandangnya geram. Jali tekejut dan menoleh ke belakang. Majikannya, Pak Badrun telah berdiri di pintu dapur kedai.

“Masak air satu dandang, sebentar lagi orang habis Pekan! Apa kata kau kalau kita kehabisan air panas?” Pak Badrun kembali menghilang ke dalam dapur.

“Baiklah, Tuan!” Jali menyahut, tapi tak juga beranjak dari tempatnya. Ia masih berkeinginan berbincang dengan lelaki yang menjadi tamu di “kedainya” itu. Lalu katanya:

“Kalaulah saya boleh tahu, Tuan bekerja di mana? Sudah lama Tuan jadi pelanggan di kedai kami, tapi sampai sekarang, saya tak tahu apa pekerjaan Tuan yang sebenarnya,” sambil bicara, Jali menoleh sesekali ke belakang, takut ia kalau-kalau Pak Badrun memanggilnya lagi.

“Apa pula perlunya bagi kau, aku bekerja di mana, Buyung?” ujar Si Lelaki itu dengan tiada sukanya.

Si Pelayan bernama Jali itu tersengih lagi. Mirip macam kuda dalam birahi.

“Bukan apa, Tuan. Siapalah tahu ada tempat untuk bekerja di kantor, bolehlah aku minta petunjuk dari, Tuan?”

“Jali!” terdengar lagi suara Pak Badrun.

“I-iya ... Tuan!” Si Pelayan terperanjat.

“Orang seperti kau ini mau bekerja di kantor? Disuruh memasak air sedandang saja oleh majikanmu, tak segera kau tunaikan. Apakah lagi bekerja di kantor yang amatlah sibuknya itu? Pastilah kau dibuang lewat pintu belakang!” ujar Si Lelaki menahan geli di hatinya.

Si Pelayan merengut mendengar ejekan itu. Lalu katanya:

“Aku tak percaya, Tuan bekerja di kantor. Tak ada potongan!” Si Pelayan melangkah pergi setelah puas melampiaskan geram kepada—Si Lelaki—tamu di “kedainya” itu.

“Terserah kau sajalah, Buyung! Masak air sedandang, cepat!” balas Si Lelaki mengejek.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cahaya Diujung Gerbang
9.6
Dibuang sejak bayi di panti asuhan, Nayra dibesarkan oleh Ibu Marisa dengan penuh kesederhanaan. Meski kerap dicemooh, penderitaan terberatnya tiba saat tuduhan palsu memaksanya angkat kaki dari sana. Di tengah kerasnya jalanan, ia bertahan hidup lewat berbagai kerja serabutan demi menjaga harga dirinya. Lewat kegigihan yang tak tergoyahkan, Nayra akhirnya mampu bangkit dari keterpurukan dan meraih kesuksesan, membuktikan bahwa harapan selalu ada untuk mengalahkan takdir kelam.
Sampul Novel Dark Love
8.0
Demi membalas kematian tragis sang ibu, Albert Kenzi Erdinata menargetkan Akira, anak dari perempuan yang ia benci. Setelah merenggut kehormatan Akira melalui penculikan, Albert menjadikannya asisten pribadi untuk melanjutkan siksaan fisik dan batinnya. Namun, interaksi intensif mereka justru menumbuhkan perasaan cinta yang tak terduga. Di tengah terbukanya misteri masa lalu, Albert kini dihadapkan pada pilihan sulit antara menuntaskan dendamnya atau memilih cinta.
Sampul Novel Dendam Membara CEO Mesum
8.5
Kehidupan mapan Jent sebagai CEO terusik oleh konflik pernikahan karena belum memiliki anak. Didorong rasa curiga, ia membuntuti istrinya diam-diam dan memergokinya tengah berselingkuh dengan pria lain. Dikhianati dengan kejam, Jent enggan memilih jalan cerai biasa. Ia menyusun rencana pembalasan yang matang dan sadis untuk menghukum sang istri beserta kekasih gelapnya. Pengalaman pahit ini mengubah karakter Jent menjadi sosok yang dingin demi menuntut keadilan.
Sampul Novel HOT LITTLE WIFE
9.6
Hidup Jelita berubah drastis pada hari kelulusannya saat ia dijodohkan dengan Kenzo Putra Bagaskara. Pria yang jauh lebih tua itu ternyata sudah beristri. Penderitaan gadis yang kerap dirundung di sekolah ini kian mendalam ketika menyadari dirinya hanya menjadi istri kedua di hari pernikahan. Kenyataan pahit pun terungkap bahwa istri pertama suaminya adalah adik kandungnya sendiri. Kini, Jelita terjebak dalam pusaran konflik rumah tangga yang rumit dan penuh kepedihan.
Sampul Novel Kejahatan Termanis
7.9
Demi ambisi jabatan, Nevilla mendekati Adero dan meninggalkan Aron. Namun, langkah keliru ini justru membangkitkan masa lalu kelam dari enam tahun lalu yang menghantuinya kembali. Ketika hubungan mereka semakin intim, Nevilla menyadari dirinya telah terperangkap tanpa jalan keluar. Kini, ia harus menghadapi ancaman dari seorang pria berbahaya yang siap menghancurkan hidupnya dan menyeretnya ke dalam pusaran konflik masa lalu yang mematikan.
Sampul Novel Komodo Hijrah
9.6
Mahesa sukses besar sebagai pengusaha waralaba, namun nasib asmaranya selalu berujung kegagalan. Ia bahkan merasa dikutuk oleh saingan bisnisnya karena tak pernah sukses melangkah ke pelaminan. Berbagai cara logis hingga tak biasa ia tempuh demi menemukan jodoh. Di tengah perjuangan itu, Gayatri, sahabat kecil yang selalu melindunginya, tetap setia menemani. Pertanyaannya, akankah persahabatan mereka tetap kokoh saat benih cinta mulai hadir di antara keduanya?