APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Puber Kedua Sang Letnan Jendral

Puber Kedua Sang Letnan Jendral

Kehidupan menjanda Nina kembali berwarna sejak mengenal Baskara, Letnan Jenderal TNI sekaligus calon besannya. Kelembutan dan kepedulian sang jenderal yang sering mampir ke warungnya sukses membuat Nina terpikat. Namun, kebahagiaan itu seketika runtuh saat Nina melihat Baskara di televisi bersama seorang selebriti terkenal. Di tengah rasa kecewa yang mendalam, Nina mulai meragukan ketulusan serta niat sebenarnya dari sang perwira tinggi selama mendekatinya.
Bab
Bagikan

Bab 2

“Tante, kita ketemu lagi.” Cantika menghampiri Nina lalu mencium tangan Nina. Rasman menghampiri Baskara lalu mencium tangan Baskara.

“Selamat atas kelulusanmu,” ucap Baskara sambil menepuk bahu Rasman.

“Terima kasih, Om,” jawab Rasman.

“Nenek dan Lukman mana?” tanya Cantika ketika tidak melihat Ibu Enny dan Lukman bersama dengan Rasman dan Nina.

“Tidak ikut. Nenek kecapaian, Lukman ada acara dengan teman-teman SMA,” jawab Nina.

“Ehm.” Baskara pura-pura batuk karena Cantika belum memperkenalkan Nina kepada Baskara. Cantika mengerti maksud Baskara.

“Oh iya, Cantika sampai lupa. Tante kenalkan ini papa Cantika, namanya Pak Baskara.” Cantika memperkenalkan Baskara kepada Nina.

“Pah, ini Tante Nina. Mama nya Rasman,” kata Cantika.

Baskara mengatup kedua telapak tangan, mengajak Nina bersalaman ala sunda. Nina membalas salaman Baskara.

“Silahkan duduk, Rasman Ibu Nina.” Baskara mempersilahkan Nina dan Rasman duduk. Seorang lelaki muda memakai t shirt berwarna gelap menarik kursi untuk Nina. Ia adalah Dito ajudan Baskara. “Terima kasih,” ucap Nina. Nina dan Rasman duduk di kursi yang berada di depan kursi Baskara dan Cantika.

Seorang pelayan café datang membawa buku menu lalu diberikan kepada Nina.

“Pilihlah makanan yang Ibu suka. Semua makanan di sini enak-enak Ibu pasti suka,” ujar Baskara. Nina membuka buku menu dan membaca daftar menu yang tertera di buku tersebut. Café itu menyediakan berbagai macam menu makanan mulai dari makanan Indonesia, makanan Chinese sampai makanan western. Nina memilih makanan Indonesia yang cocok dilidahnya. Ia tidak terbiasa makan makanan asing.

Setelah mereka memesan makanan pelayan restaurant pergi meninggalkan meja mereka.

“Apa rencanamu setelah lulus kuliah?” tanya Baskara memandang ke Rasman.

“Saya akan melanjutkan kuliah strata dua. Saya sedang menunggu pengumuman beasiswa, Om,” jawab Rasman.

“Kamu mau ambil beasiswa dimana?” tanya Baskara.

“Di Massachuset Amerika Serikat,” jawab Rasman. Baskara terkejut mendengar jawaban Rasman.

“Wow, jauh sekali,” ujar Baskara.

Baskara menoleh ke Cantika. “Kamu sudah siap untuk ikut Rasman ke sana?” tanya Baskara.

“Ih…, Papa. Apa-apaan, sih,” bisik Cantika sambil mencubit tangan Baskara. Ia malu ditanya begitu di depan Nina dan Rasman.

“Loh, kok Papa dicubit? Kalau Rasman kuliah di sana kamu juga harus ikut Rasman ke sana! Kalau kamu tidak menyusul, nanti ada perempuan yang merebut Rasman. Papa tidak bisa menolong kamu kalau ada perempuan yang merebut Rasman,” ujar Baskara.

“Tapi, ada tapinya. Kalian harus menikah dulu sebelum kamu menyusul Rasman ke Amerika,” lanjut Baskara.

Baskara menoleh ke Nina. “Betul begitu, Ibu Nina?” tanya Baskara. Nina kaget ditanya begitu oleh Baskara. Dari tadi ia hanya memperhatikan percakapan Baskara dan Cantika.

“Tapi Rasman belum bekerja, Pak. Bagaimana cara Rasman bisa menghidupi Cantika kalau Rasman belum bekerja?” tanya Nina. Baskara tersenyum mendengar pertanyaan Nina.

“Ibu Nina tenang saja. Biar saya yang mengatur!” ujar Baskara. Nina menoleh ke Rasman, Rasman terlihat tenang-tenang saja mendengar perkataan Baskara. Sepertinya Rasman sudah tau semuanya.

Seorang pelayan datang membawakan minuman pesanan mereka dan lumpiah goreng. Pelayan menaruh minuman dan camilan di atas meja mereka.

“Silahkan dimakan, Bu. Kita ngobrol sambil ngemil,” ujar Pak Baskara. Mereka pun menikmati lumpia yang disajikan di atas meja.

“Bagaimana? Enak tidak lumpianya, Bu Nina?” tanya Pak Baskara melihat Nina yang sedang menikmati lumpia goreng.

“Enak, Pak,” jawab Nina.

“Pa, Tante Nina pintar masak. Makanannya enak semuanya,” kata Cantika. Baskara menoleh ke Cantika.

“Oh, ya? Bagaimana kamu tau?” tanya Baskara.

“Waktu SMA Cantika dan teman-teman sering main ke rumah Rasman untuk mengerjakan tugas. Tante Nina sering menyediakan makanan kalau Cantika dan teman-teman main ke rumah Rasman. Tante Nina buka warung makan,” kata Cantika.

“Kok kamu tidak pernah cerita sama Papa kalau Tante Nina buka warung makan? Papa kan bisa makan siang di sana,” ujar Baskara.

“Papa ini bagaimana, sih? Waktu itu kan Papa dinas di Jakarta. Masa kalau mau makan siang harus ke Bandung dulu,” kata Cantika.

“Oh, iya. Papa lupa waktu kamu SMA Papa sedang dinas di Jakarta. Tapi setidaknya kamu kasih tau Papa, dong. Kan kapan-kapan kita bisa makan di sana,” ujar Baskara.

Baskara mengalihkan pandanganya ke Nina. “Bu Nina, kapan-kapan saya makan siang di warung Bu Nina. Saya ingin mencicipi masakan Bu Nina,” ujar Baskara.

“Warung makan saya kecil dan tempatnya sempit. Nanti Pak Baskara tidak merasa nyaman makan di sana,” kata Nina.

“Lagi pula makanannya biasa saja tidak ada istimewanya. Cuma makanan biasa saja,” lanjut Nina. “Tidak apa-apa, tidak masalah. Waktu saya masih muda saya sering makan di warung nasi. Sekarang juga saya suka makan makanan di warung nasi. Tapi, saya menyuruh Dito yang membelikan. Saya makan di kantor,” ujar Pak Baskara.

Tiba-tiba dua orang pelayan datang membawakan pesanan makanan mereka. Satu persatu makanan disajikan di atas meja. Setelah selesai menyajikan makanan kedua orang pelayan itu pergi.

“Ayo kita makan dulu. Bicaranya kita lanjutkan nanti,” ujar Baskara. Mereka berhenti berbicara dan menikmati hidangan makan malam mereka. Baskara makan sambil memperhatikan Nina yang sedang makan. Nina menikmati makanannya dengan tenang.

Dua puluh menit kemudian mereka selesai makan. “Bagaimana dengan makanannya, Bu Nina? Apakah rasanya enak?” tanya Baskara melihat makanan di piring Nina sudah habis.

“Alhamdullilah. Enak sekali makanannya, Pak,” jawab Nina.

“Kapan-kapan kita coba makanan di restaurant yang lain,” ujar Baskara.

Baskara memanggil Dito yang duduk di sebelah meja mereka. Baskara mengatakan sesuatu kepada Dito, lalu Dito pun beranjak dari meja dan menghampiri seorang pelayan. Tidak lama kemudia pelayan itu menghampiri meja mereka sambil membawa buku menu. Pelayan itu meletakkan buku menu di atas meja.

“Bu Nina pilih mau dessert apa.” Baskara mengambil buku menu dan menaruh buku menu tersebut di depan Nina.

“Tidak usah, Pak. Terima kasih. Saya sudah kenyang,” jawab Nina. Baskara menoleh ke Rasman. “Rasman, coba kamu pilihkan dessert yang disukai oleh mamamu!” ujar Baskara.

Rasman mengambil buku menu lalu membuka buku menu tersebut. “Mama mau apa? Mau ice cream atau puding atau kue?” Rasman membulak balik buku menu.

“Mama sudah kenyang, A,” ujar Nina.

Baskara dan Cantika memperhatikan Rasman dan Nina yang sedang berbicara. “Mungkin Tante bisa mencoba ice cream yogurt pakai buah-buahan. Rasanya ringan, tidak bikin enek dan tidak membuat perut menjadi kenyang,” kata Cantika. Mendengar perkataan Cantika membuat Nina tertarik untuk mencoba.

“Yang mana ice cream yogurt? Coba Tante lihat,” ujar Nina.

Rasman memberikan buku menu kepada Cantika. Cantika membuka buku menu mencari ice cream yogurt. Setelah ketemu Cantika memperlihatkan ke Nina.

“Yang ini, Tante.” Cantika menunjukkan gambar ice cream yogurt.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Untuk dr. Saka
7.9
Kehidupan Dokter Saka hancur setelah perempuan yang sangat ia cintai memutuskan menikah dengan abang kandungnya sendiri. Pengkhianatan menyakitkan itu seketika meremukkan kesetiaan serta komitmen yang selama ini ia pertahankan. Walau ia sangat andal dan genius dalam memulihkan kesehatan para pasien di rumah sakit, Saka kini justru tak berdaya menyembuhkan kepedihan batinnya sendiri. Sanggupkah sang dokter memulihkan kembali hatinya yang telah hancur lebur?
Sampul Novel Don Juan
8.9
Miliarder asal Italia, Don Juan, dikenal memiliki ketampanan dan kekayaan melimpah. Baginya, wanita tak lebih dari sekadar mainan sementara yang mudah dicampakkan. Namun, prinsip hidup sang playboy seketika runtuh setelah takdir mempertemukannya dengan sosok gadis misterius. Perempuan tak biasa ini berhasil meluluhkan hati dingin sang pria tampan hingga membuatnya bertekuk lutut. Siapakah sebenarnya wanita yang mampu mengubah jalan hidup Don Juan selamanya?
Sampul Novel Enam Bulan Dinikahi, Enam Kali Dikhianati
8.5
Pernikahan perjodohan selama enam bulan menjadi neraka bagiku. Dito, suamiku, terang-terangan berselingkuh dengan mantan kekasihnya, Luna. Kehadiranku diabaikan, ia enggan menyentuhku dan selalu muak. Saat pengkhianatannya kian menjadi, kesabaranku habis. Karena ia tidak bisa adil, aku memutuskan mundur. Di tengah rasa sakit, takdir mempertemukanku dengan Arya Pratama, pria yang sangat dingin.
Sampul Novel Ibuku Seorang Misoginis
9.7
Novel remaja bergenre horor misteri ini mengisahkan penderitaan anak perempuan yang tumbuh bersama ibu pembenci wanita. Sejak kecil, ia kerap disiksa hanya karena memakai lipstik, rok, atau mendekati ayahnya. Menjelang ujian masuk perguruan tinggi, sang ibu tega menyebarkan fitnah di sekolah bahwa putrinya merayu sang ayah sendiri. Kehancuran reputasi memaksa gadis itu melompat dari lantai lima belas, tindakan tragis yang justru memberikan kepuasan luar biasa bagi sang ibu.
Sampul Novel Jodoh Terpilih
8.4
Akibat perbuatan Bulan yang tertangkap basah bermesraan dengan Arjuna, Mentari yang berketerbatasan harus menanggung akibatnya. Demi mengejar karier, Bulan menolak menikah dan menjadikan Mentari sebagai pengantin pengganti, meski sebenarnya ia dan Arjuna saling mencintai. Mentari pun terpaksa menikahi pria asing tersebut. Di tengah ujian cinta Bulan dan Arjuna, mampukah Mentari menemukan kebahagiaannya sendiri?
Sampul Novel Kau Akan Mencariku, Saat Dia Menghilang
8.4
Kehidupan rumah tangga Cantika Putri dan Ardi Permana berjalan sangat harmonis. Pernikahan mereka dipenuhi kasih sayang tulus, dengan Ardi yang begitu memuja kecantikan serta kesempurnaan fisik istrinya. Di sisi lain, kisah ini juga menyoroti kehidupan seorang miliarder sukses bernama Reza Dirgantara. Sang pengusaha kaya raya tersebut diketahui sedang menjalin kasih dengan Luna Amara, sosok gadis desa yang berparas menawan namun tetap hidup dalam kesederhanaan.