APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Puber Kedua Sang Letnan Jendral

Puber Kedua Sang Letnan Jendral

Kehidupan menjanda Nina kembali berwarna sejak mengenal Baskara, Letnan Jenderal TNI sekaligus calon besannya. Kelembutan dan kepedulian sang jenderal yang sering mampir ke warungnya sukses membuat Nina terpikat. Namun, kebahagiaan itu seketika runtuh saat Nina melihat Baskara di televisi bersama seorang selebriti terkenal. Di tengah rasa kecewa yang mendalam, Nina mulai meragukan ketulusan serta niat sebenarnya dari sang perwira tinggi selama mendekatinya.
Bab
Bagikan

Bab 1

Nina duduk di dalam ballroom sebuah institute tekhnologi terkemuka di kota Bandung. Ia di temani oleh Ibu Enny ibu mertuanya. Pagi-pagi sekali mereka sudah datang ke ballroom untuk menghadiri acara wisuda putra sulungnya yang bernama Rasman. Rasman baru saja menyelasaikan strata satu falkutas tehnik mesin di sebuah institute tehnologi negri yang cukup terkemuka di kota Bandung.

“Rasman Albani Erwin.” Seorang MC memanggil nama Rasman. Seketika darah Nina berdesir ketika MC memanggil nama Rasman. Rasman lulus dengan predikat terbaik. Dengan gagah Rasman maju ke depan. Rektor menyematkan toga sebagai tanda Rasman sudah lulus kuliah. Air mata Nina berlinang ketika melihat putranya diwisuda. Rasa bangga dan terharu bercampur menjadi satu.

Setelah selesai acara wisuda Rasman menghampiri mama dan neneknya. Rasman datang bersama seorang perempuan muda berhijab yang berparas cantik.

“Mama masih ingat tidak, ini siapa?” Rasman menunjuk ke perempuan cantik yang berdiri di sebelah Rasman.

Nina mengerutkan keningnya dan memandangi perempuan itu. Ia mencoba untuk mengingat-ingat. “Cantika?” tanya Nina.

“Iya, Tante. Saya Cantika teman SMA Rasman,” jawab Cantika. Cantika mencium telapak tangan Nina dan Ibu Enny.

“Masyaallah, kamu bertambah cantik saja,” puji Nina. Cantika tersenyum menanggapi pujian Nina.

“Apa kabar? Sekarang kuliah dimana?” tanya Nina.

“Kuliah di falkutas kedokteran gigi universitas negeri di Bandung, Tante,” jawab Cantika.

“Alhamdullilah,” Nina senang mendengarnya. Sudah lama Nina tidak bertemu dengan Cantika. Terakhir Cantika datang ke rumah ketika Rasman dan Cantika kelas dua belas.

“Semoga sukses jadi dokter gigi,” ucap Nina dengan tulus.

“Aamiin terima kasih, Tante,” jawab Cantika.

“Oh, ya Tante. Nanti malam Papa mengajak Tante sekeluarga makan malam bersama,” kata Cantika. Nina kaget mendengar undangan Cantika.

“Makan malam bersama?” tanya Nina. Nina tidak mengenal papa Cantika tapi mengapa papa Cantika mengundang mereka sekeluarga.

“Iya, Tante. Untuk merayakan kelulusan Rasman,” jawab Cantika.

“Tidak usah repot-repot. Kelulusan Rasman tidak usah dirayakan!” kata Nina. Rasanya ganjil Rasman yang diwisuda, tapi mengapa papa Cantika yang sibuk merayakan kelulusan Rasman.

“Tidak apa-apa, Tante. Sekalian Papa mau kenalan sama keluarga Tante,” jawab Cantika.

Sekarang Nina mengerti dengan maksud undangan papa Cantika. Nina menoleh ke arah ibu mertuanya meminta pendapat mertuanya.

“Bagaimana, Bu?” tanya Nina.

“Terima saja undangan dari orang tua Cantika. Anggap saja kita bersilahturahmi dengan keluarga Cantika,” jawab Ibu Enny.

“Baik, Bu,” jawab Nina. Nina menoleh ke arah Cantika.

“Baiklah, kami akan datang,” jawab Nina.

“Terima kasih, Tante. Nanti Cantika kirim alamat restaurant,” ucap Cantika.

Ternyata acara wisuda Rasman tidak hanya sampai di situ. Rasman masih ada acara di falkutas tehnik mesin. Namun karena Ibu Enny sudah cape, Nina terpaksa pulang duluan tidak ikut menyaksikan acara di falkutas tehnik mesin. Rasman ditemani oleh Cantika.

“Mama pulang duluan, ya. Kasihan Enin sudah kecapean.” Nina pamit kepada Rasman.

“Iya, Ma,” jawab Rasman.

“Mama sudah pesan taksi?” tanya Rasman ketika Nina dan Ibu Enny hendak pergi.

“Belum,” jawab Nina.

“Mama dan Enin duduk dulu. Aa pesankan taksi.” Rasman mengeluarkan ponsel dari saku celana. Nina memapah Ibu Enny menuju ke tempat duduk. Sementara itu Rasman memesan taksi online melalui ponselnya.

Tak perlu menunggu lama, Rasman langsung mendapatkan taksi online.

“Taksinya sudah dapat. Taksinya ada di depan kampus. Sekarang sedang menuju ke sini,” kata Rasman.

Beberapa menit kemudian taksi yang ditunggupun datang. Taksi itu berhenti di depan ballroom kampus. Rasman berjalan menuju taksi tersebut, ia membuka pintu taksi untuk mama dan neneknya. Cantika mengantar Nina dan Ibu Enny menuju ke taksi. Nina dan Ibu Enny masuk ke dalam taksi.

“A, pulangnya jangan terlalu sore!” ujar Nina sebelum pintu taksi ditutup.

“Iya, Mah.” Rasman mencium tangan Ibu Enny dan Nina.

“Tante pulang dulu, ya.” Nina pamit kepada Cantika.

“Iya, Tante.” Cantika mencium tangan Nina dan Ibu Enny.

“Dah Tante, dah Nenek. Sampai ketemu nanti malam, ya.” Cantika sambil melambaikan tangan ke Nina dan Ibu Enny. Nina membalas lambaian tangan Cantika. Rasman menutup pintu taksi. Taksi online pun jalan meninggalkan ballroom.

Pukul tiga sore Rasman baru sampai di rumah. Ia diantar oleh Cantika.

“Assalamualaikum,” ucap Rasman ketika masuk ke dalam rumah dengan wajah terlihat letih.

“Waalaikumsalam,” jawab semua orang yang ada di dalam rumah. Rasman mencium punggung tangan enin nya yang sedang duduk di depan televisi. Lalu ia ke dapur menghampiri Nina. Rasman mencium punggung tangan Nina.

“Baru pulang? Lama sekali acaranya,” kata Nina yang sedang memanaskan makanan di dapur.

“Iya, Ma. Acaranya wisuda falkutas tehnik mesin banyak sekali,” jawab Rasman sambil menuangkan air dari teko ke gelas. Rasman duduk di kursi makan lalu meneguk air minum yang berada di dalam gelas.

“Sudah makan belum?” tanya Nina sambil mematikan kompor.

“Sudah, Ma. Tadi sebelum pulang makan dulu sama Cantika,” jawab Rasman. Nina duduk di kursi makan. “Dia menunggumu sampai selesai?” tanya Nina.

“Iya, Ma,” jawab Rasman.

“Barusan Cantika yang mengantar Rasman pulang,” kata Rasman.

Nina duduk di kursi lalu menghela napas. “Sebenarnya bagaimana hubunganmu dengan Cantika? Apa kamu serius sama dia, sampai papa nya mau bertemu dengan kita?” Nina menatap wajah putra nya.

“Kalau Mama merestui, Rasman akan serius dengan Cantika,” jawab Rasman dengan mantap.

“Apa mereka mau mempunyai menantu dari kalangan biasa seperti kamu?” tanya Nina.

“Papa Cantika biasa-biasa saja kalau bertemu Aa. Sepertinya beliau tidak keberatan Rasman dekat dengan Cantika,” jawab Rasman.

“Lalu mama nya, bagaimana?” tanya Nina dengan penasaran. Rasman menghabiskan air putih di gelas. “Mama Cantika sudah lama meninggal. Masa Mama lupa,” kata Rasman. Nina diam sejenak, ia mencoba untuk mengingat.

“Oh iya, ya. Mama sudah lupa. Mama sudah lama tidak bertemu dengan Cantika,” ujar Nina.

“Sudah ah, Ma. Aa mau mandi dulu. Sudah bau keringat.” Rasman beranjak dari kursi makan menuju ke kamarnya.

Namun, tiba-tiba Rasma membalikkan badannya.

“Oh ya, Mah. Aa hampir lupa. Nanti malam kita makan malam di café and resto Sarinah. Kita berangkat setelah sholat magrib,” kata Rasman.

“Café and resto Sarinah dimana?” tanya Nina. Ia tidak hafal nama-nama café dan resto di kota Bandung. Semenjak suaminya meninggal ia tidak pernah pergi ke tempat-tempat seperti itu.

“Di Dago Pakar. Nanti kita pergi naik taksi,” jawab Rasman.

***

Setelah selesai sholat magrib Nina pergi berdua dengan Rasman. Ibu Enny tidak ikut karena kecapean setelah mengikuti wisuda Rasman. Lukman juga tidak ikut karena ada acara dengan teman-temannya. Taksi yang mereka tumpangi berhenti di depan lobby cafe. Nina dan Rasman turun dari taksi online. Mereka berjalan masuk ke dalam café.

Rasman mengedarkan pandangannya mencari Cantika dan papanya. Rasman melihat Cantika melambaikan tangan ke arahnya.

“Itu Cantika.” Rasman menunjuk ke arah Cantika. Rasman dan Nina berjalan menghampiri Cantika. Di sebelah Cantika berdiri seorang pria gagah yang tampan rupawan walaupun usianya sudah tidak muda lagi. Dia adalah Baskara papa Cantika.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta CEO dalam Jebakan
8.5
Gabriella kehilangan rumah warisannya akibat penggusuran paksa oleh Perusahaan Quebracha. Saat menuntut keadilan pada sang CEO, Max Evans, sebuah insiden tragis merampas kehormatannya. Max justru menuduhnya sebagai wanita bayaran yang sengaja menjebaknya demi uang. Di tengah kebencian dan tuduhan palsu, mampukah mereka menyadari adanya dalang yang sedang mengadu domba mereka?
Sampul Novel Dok! Oh Dokter!
8.2
Terbaring tak berdaya di atas ranjang medis UKS, pandangan seorang gadis terhalang sepenuhnya oleh tirai pembatas. Di tengah pemeriksaan yang menegangkan, ia harus menahan rasa tidak nyaman saat alat medis mulai digerakkan lebih dalam. Meski ia sempat berteriak menolak, sang dokter yang dingin tetap membisu, terus mengoperasikan mesin medis tersebut, dan mengangkat kakinya lebih tinggi. Kisah romantis remaja modern dalam novel "Dok! Oh Dokter!" ini menghadirkan ketegangan yang tak terduga.
Sampul Novel Kalau Cinta, Pasti Sayang
8.3
Lima tahun pernikahan tanpa cinta membuat sang istri terbiasa diabaikan. Namun, saat dia benar-benar mengembuskan napas terakhir, suaminya justru langsung menemui cinta pertamanya. Menganggap hilangnya sang istri hanya taktik mencari perhatian, pria itu mencemoohnya. Ketika sebuah panggilan telepon datang untuk memastikan kematian istrinya, dia berniat membongkar apa yang dia anggap sebagai kebohongan belaka. Dia sama sekali tidak menyadari bahwa wanita yang pernah mengabdi padanya itu telah tewas beberapa hari lalu.
Sampul Novel Sang Putri Mahkota
8.9
Sairish Dayana Malik, gadis tangguh berusia 19 tahun, siap memimpin Malik Corporation demi amanat mendiang kakeknya. Takdirnya bersilangan dengan Ocean Tyaga, pemuda miskin yang selalu didera kesulitan keuangan. Perbedaan kelas sosial mereka terpampang nyata ketika sang putri mahkota tiba-tiba datang untuk melamar Ocean. Meski terkejut dan merasa tidak pantas bersanding karena kemiskinannya, takdir terus merajut kisah unik antara sang pewaris kaya raya dan pria biasa ini.
Sampul Novel SUAMIKU SEORANG PENDUSTA.
7.8
Demi melindungi aset sang ayah, pewaris tunggal Kinanti Hans terpaksa menikahi Bramasta. Malang, cinta yang ia percayai selama dua belas tahun rupanya palsu. Bram mengkhianatinya dengan menikahi Neni, sahabat sekaligus mantan kekasihnya sendiri. Demi merebut kekayaan Kinanti, mereka tega bersekongkol melenyapkan nyawa anak dan ibu Kinanti secara keji. Kini, Kinanti pun berada di ujung tanduk, menjadi sasaran terakhir dari konspirasi busuk sang suami.
Sampul Novel Terapi Psikologis Khusus
7.9
Di dalam ruang klinik yang sunyi, Dokter Sam menjalankan sesi terapi psikologis pribadi untuk membantu Nina melepaskan tekanan batinnya. Dokter Sam meyakini bahwa kedamaian jiwa hanya bisa dicapai saat tubuh benar-benar rileks. Namun, metode terapi ini mulai melintasi batas ketika sentuhan fisik sang dokter membuat Nina terjebak dalam konflik batin yang hebat. Di satu sisi, akal sehatnya menolak dan memohon agar tindakan itu dihentikan, tetapi di sisi lain, tubuhnya justru mengkhianati keinginannya sendiri.