APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pria Yang Disimpan

Pria Yang Disimpan

Nadia menderita dalam pernikahan dengan Robin, yang merahasiakan penyakitnya hingga Nadia terus disalahkan oleh mertua. Sementara itu, Riska merasa kesepian karena Alvin, suaminya yang berprofesi sebagai kapten kapal, jarang pulang ke rumah, ditambah tekanan dari ibu mertuanya yang terus membayangi. Di tengah badai konflik ini, hadir Arfan, sosok pria penuh trauma yang perlahan mulai membuka hati. Takdir pun kini mempertemukan dan menguji kesetiaan serta cinta mereka.
Bab
Bagikan

Bab 3

Bunyi bergetar ponsel dengan meja, membuat bunyi berderak yang kasar dan mulai sangat mengganggu. Seorang pria dengan jubah mandi, yang baru keluar dari kamar mandi, memandangi mendekati meja nakas di sisi kiri tempat tidur. Di sana, tidur dengan nyenyaknya seorang wanita yang tubuhnya hanya ditutupi selimut, sedangkan pakaiannya berserakan di lantai.

Pria itu melihat nama yang tertera di layar ponsel dengan kernyitan kening yang dalam. Dirinya merasa aneh dengan nama tertera di layar.

Tangan si wanita tiba-tiba terulur dan dengan kasar meraih ponselnya. Dengan sikap tak acuh, si pria berbalik, berjalan menuju ke meja rias.

"Halo," sapa si wanita dengan setengah menguap. "Kenapa Nad?"

"Ris, kamu ada di rumah? Aku main ke sana, ya," ucap Nadia dari seberang telepon.

Wanita bernama Riska itu, seketika tidak jadi mengantuk lagi. Dia bangun dan mengacak-acak rambutnya sendiri.

"Sekarang?" tanya Riska dengan tatapan tertuju ke punggung lebar si pria, yang mulai mengenakan kemeja lengan pendeknya.

"Iya, sekarang. Aku butuh bicara denganmu."

"Tentang apa?"

"Nanti aja aku cerita. Sekarang aku ke rumahmu, ya."

"Aku mau cek salonku dulu. Gimana kalau nanti siangan aja, sekalian kita makan siang," tawar Riska. Wajahnya terlihat gusar saat si pria melepaskan lilitan handuknya dan mulai mengenakan celana panjang jeans hitamnya.

"Okelah kalau begitu. Aku ke salonmu, ya?"

"Kita ketemu di resto biasa aja, ya." Riska menurunkan kedua kakinya, menarik selimut sebanyak-banyaknya, membelitkannya ke tubuhnya secara serampangan, baru kemudian berjalan mendekati si pria.

Nadia mengiyakan. Segera Riska berpamitan lebih dulu, agar tidak ada pembicaraan lebih lanjut. Dia perlu segera mendekati si pria, sebelum pria itu pergi.

Begitu telepon terputus, Riska langsung memeluk si pria dari belakang. Kepalanya menempel di punggung lebar si pria.

"Kamu mau ke mana?" tanya Riska dengan suara dimanja-manjakan.

"Mau pulanglah," jawab si pria datar.

"Memangnya kamu sudah punya istri? Sampai harus buru-buru pulang." Tangan Riska bergerak nakal, menyusup dari bawah ke meja, dan membelai pusar si pria.

"Jangan ginilah." Si pria terlihat risih. Dia membebaskan tangan Riska dari pusar perutnya. Dia kemudian langsung berbalik, melepaskan diri dari pelukan Riska.

"Aku pulang dulu, ya. Mmm..., berapa bayar kamu?" tanya si pria sedikit ragu.

Riska tidak menjawab. Dia justru melipat kedua tangannya di dada—menahan selimut turun dan juga menahan diri dari keinginannya menampar pria gagah di hadapannya itu. Selain itu, ketenangan si pria, membuat rasa segan muncul di dalam hati Riska.

"Aku bukan perempuan bayaran. Aku bukan perempuan dari aplikasi."

Si pria tercenung menatap Riska. Terlihat sekali kalau dia bingung sendiri. Seolah-olah dia sudah memberi cap, tapi ternyata itu salah.

"Ohhh, maaf. Aku ... aku kira ...," ucap si pria dengan kalimat mengambang.

Sikap salah tingkah si pria, terlihat menggemaskan di mata Riska. Kemarahannya surut, di wajahnya tersungging senyuman.

"Gak semudah itu aku memaafkan seseorang. Apalagi, kalimatmu tadi, cukup merendahkan aku."

"Lalu aku harus apa?"

Riska tidak menjawab. Dia justru mendekati si pria dengankedua matanya yang tidak lepas menatap mata cokelat gelap si pria. Kedua tangan Riska terulur yang langsung memeluk pinggang si pria. Kembali tangan kanannya bergerak liar, menyusup ke balik kemeja, lalu membelai punggung si pria.

"Jangan pergi dulu. Aku masih mau," goda Riska dengan kepala mendongak dan bibir yang sudah dibasahi. Selimutnya mulai melorot, Riska mengabaikan meskipun kedua bongkahan dadanya mulai terlihat setengahnya.

"Maaf, aku tidak bisa. Aku harus kerja."

Riska menghentikan aktifitasnya. Keningnya berkerut, terkejut dengan pernyataan si pria.

"Kamu kan Arfan, seorang pemilik Restoran Gagak di Bali dan Jakarta. Kamu juga pengusaha tambang. Gak ada kewajibannya kamu harus berangkat kerja jam sekian, 'kan?"

"Kamu menyelidiki aku?" tanya si pria bernama Arfan. Ketidaknyamananbya terlihat semakin jelas.

"Tidak. Tapi, mereka yang memberitahukannya ke aku dan semalam..., kamu yang mendekati aku."

"Aku bukan sengaja mendekatimu. Kamu adalah teman Roy dan dia yang mengajakku untuk satu table denganmu dan teman-temanmu. Ya sudahlah, aku tetap harus pulang. Hotel ini dalam tanggunganku," tegas Arfan.

"Tunggu," cegah Riska sembari menahan lengan Arfan. "Simpan dulu nomermu." Riska menggoyang-goyangkan ponselnya yang kemudian diulurkan ke si pria.

"Aku tidak suka menyambung hubungan setelah permainan singkat semalam."

Wajah Riska kembali merengut. Untuk kedua kalinya, Arfan menolak dirinya. Setelah yang tadi ingin buru-buru pulang, sekarang menolak membagi nomer ponsel. Padahal, pria itu adalah seorang lajang. Bahkan dari Roy, dikatakan kalau Arfan sudah lama menjomlo.

"Kalau semalam terasa singkat buatmu, ayo kita lanjutkan lagi sekarang," ajak Riska tanpa rasa malu.

"Dan aku tidak suka melanjutkan permainan semalam, menjadi episode berlanjut di kemudian hari. Bagiku, semalam hanya kesenangan yang tidak perlu dipertahankan."

"Jadi, aku ini hanya tempat pelepasan kesenanganmu?"

Arfan mengedikkan kedua bahunya dengan sikap tak acuh. Membiarkan Riska menilai sendiri.

Plak!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Arfan. Pria itu memang sangat terkejut, tapi bahkan kepalanya bergeming sedikit pun, seolah-olah tamparan itu hanyalah sabetan angin biasa saja.

"Brengsek kamu! Aku bukan penjual tubuh! Aku tidak pernah tidur dengan sembarangan pria."

Arfan menarik napas dan memasukkan kedua tangannya ke dalam masing-masing saku celana. Sikapnya masih adalah ketidakpedulian, kalaupun dia diam, itu hanya menunggu saja sampai wanita di hadapannya selesai bicara sampai puas.

Siratan mata Arfan yang begitu maskulin, menjalar hangat di diri Riska. Keinginannya begitu kuat untuk kembali berdekatan dengan Arfan.

"Aku memilihmu seperti kamu memilihku semalam. Kurasa, kita bisa memulai sesuatu yang baik bersama-sama," lanjut Riska. Jari telunjuknya yang lentik, bermain di dada Arfan. Tubuhnya kembali merapat dna pinggul bawahnya sengaja menggesek bagian jantan Arfan.

"Aku bukan memilihmu. Aku hanya bermain dengan yang ada di dekatku. Kamu mau dan aku mau. Kalau permainannya sudah selesai, kita menjadi masing-masing.

Aku tidak peduli dengan apa yang kamu pikirkan. Aku tidak mengenalimu secara personal dan kamu juga tidak perlu mengenaliku, atau bahkan menjadi bagian dari diriku, karena aku sedang tidak ingin ada tujuan apa-apa dengan seorang wanita mana pun, termasuk kamu.

Tidak peduli sebanyak apa informasi yang kamu dapatkan tentang aku, yang jelas sekarang aku harus pergi dan aku harus kerja. Selamat tinggal."

Riska menjadi gelisah ketika Arfan dengan serius berbalik dan melangkah menuju pintu. Dia tidak bisa melepaskan pria itu, setelah semalaman dirinya menaruh harapan pada pria tersebut. Riska punya tujuan dan Arfan adalah jalan keluarnya. Hanya Arfan yang paling bisa diandalkan untuk bisa merealisasikan tujuannya.

Dengan sedikit terhuyung-huyung, Riska mengejar Arfan. Tepat sebelum Arfan menjangkau pintu, Riska sudah lebih dulu berdiri di depan pintu. Dia menghalangi tangan Arfan yang akan memegang gagang pintu.

"Aku tidak izinkan kamu pergi." Riska melilitkan selimutnya dengan kasar di dada, lalu merentangkan kedua tangannya.

"Minggir. Jangan buat aku memaksamu." Arfan memberikan peringatan tajam.

"Paksa aku, pukul aku..., aku tetap tidak akan minggir. Dan kalau pun kamu berhasil membuka pintu, trus kemu keluar, maka aku akan ikut keluar, mengikutimu. Tidak peduli meskipun keadaan diriku begini."

Arfan menarik napas kesal. Jelas ini adalah ancaman dan Arfan benci itu. Tapi, dia tahu kalau Riska tidak main –main dengan ucapannya. Arfan terdesak. Dia tidak punya jalan.

"Kalau aku berikan nomerku, apa aku bebas sekarang?" tawar Arfan putus asa.

"Tergantung kejujuranmu." Riska tersenyum lebar dan menyodorkan ponselnya ke Arfan.

***

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Membenci Setiap Detik Bersamamu
9.8
Tujuh tahun mendampingi Damian Crestfall, pewaris takhta Crestfall Group, hidup Alira Evangeline Moore hancur seketika saat sang kekasih menolak menikahinya. Di tengah kondisi mengandung, Alira dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan demi cinta atau menyelamatkan janinnya. Merasa dikhianati janji manis Damian, ia memilih pergi selamanya. Alira bertekad melindungi calon bayinya, meninggalkan Damian, dan memulai lembaran baru yang mandiri.
Sampul Novel (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan
9.4
Nasib membawa Serayu ke dalam pernikahan paksa dengan Abra, seorang dokter arogan yang juga pewaris takhta rumah sakit terkemuka. Hubungan yang awalnya hanya sekadar sandiwara tanpa rasa ini lambat laun berubah menjadi ikatan cinta yang tulus. Sayangnya, kebahagiaan mereka tidak bertahan lama. Intervensi dari mertua serta kemunculan kembali mantan kekasih Abra menjadi ujian berat yang mengoyak keutuhan rumah tangga mereka. Kini, bertahan atau melepaskan sama-sama menorehkan luka mendalam bagi keduanya.
Sampul Novel Buku Harian Rahasia Fiona
8.5
Terjebak dalam pelukan erat seorang pria bertubuh tinggi di dalam mobil, Fiona hanya bisa menangis tersedu-sedu sambil memegang erat sandaran kursi penumpang. Sentuhan intim di pinggangnya membuat napasnya kian sesak dan tak berdaya. Di tengah kepasrahan itu, ia memohon agar mereka tidak melakukannya di sana. Namun, saat pria itu membisikkan tawaran untuk pindah ke rumahnya, Fiona yang sudah melemas akhirnya menyerah dan menyetujui ajakan tersebut tanpa berani menatap matanya.
Sampul Novel Elegant Revenge
8.5
Dunia Aira runtuh akibat pengkhianatan suaminya, Awan, yang berselingkuh dengan cinta pertamanya, Amanda. Sempat didera rasa bersalah, Aira akhirnya tersadar bahwa dirinya adalah korban manipulasi berkat bantuan orang-orang terdekat. Didorong amarah yang terarah, ia menyusun rencana pembalasan yang cerdas dan anggun. Di tengah perjuangan menuntut keadilan, sosok Galang hadir menawarkan ketulusan. Kini, mampukah Galang menyembuhkan luka Aira dan menggantikan posisi Awan?
Sampul Novel Get Pregnant Please!
8.3
Nasib buruk terus membayangi Caca. Seorang peramal lalu menyarankannya untuk hamil agar takdirnya berubah. Masalahnya, sang suami misterius yang menikahinya setahun lalu tidak pernah pulang, meski Caca hidup bergelimang harta di rumah mewah. Mengira suaminya adalah lelaki tua berwajah buruk, Caca nekat pergi ke klub malam demi mencari pria tampan untuk menghamilinya. Siapa sangka, pria tampan yang menjadi targetnya malam itu ternyata adalah suaminya sendiri yang selama ini ia hindari.
Sampul Novel Istri Kontraknya Ingin Bercerai
8.2
Akibat satu malam tak terduga, Emalee terikat pernikahan kontrak dengan Jonny. Namun, ia harus menerima kenyataan pahit bahwa suaminya masih mencintai wanita dari masa lalunya. Begitu perempuan itu kembali, Emalee memilih mundur dan meminta cerai untuk mengakhiri luka hatinya. Di luar dugaan, Jonny menolak keras tuntutan tersebut. Dengan sikap dingin, ia menegaskan bahwa Emalee adalah miliknya selamanya, sebab di keluarga mereka, perceraian dilarang dan hanya kematian yang bisa memisahkan.