APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pria Yang Disimpan

Pria Yang Disimpan

Nadia menderita dalam pernikahan dengan Robin, yang merahasiakan penyakitnya hingga Nadia terus disalahkan oleh mertua. Sementara itu, Riska merasa kesepian karena Alvin, suaminya yang berprofesi sebagai kapten kapal, jarang pulang ke rumah, ditambah tekanan dari ibu mertuanya yang terus membayangi. Di tengah badai konflik ini, hadir Arfan, sosok pria penuh trauma yang perlahan mulai membuka hati. Takdir pun kini mempertemukan dan menguji kesetiaan serta cinta mereka.
Bab
Bagikan

Bab 1

Nadia tiduran telungkup dengan salah satu kaki, sengaja menjuntai ke bawah, dan mengayun malas. Kedua matanya memang terpejam, tetapi pikirannya melayang ke mana-mana. Hatinya sedang tidak baik-baik saja.

"Nad...! Nad, bangun, Nad!" Robin membangunkan istrinya dengan guncangan kasar di punggung.

Nadia yang kesal langsung angkat kepala dan menoleh kasar ke suaminya, Robin.

"Apa sih, Mas? Ganggu orang tenang aja," gerutu Nadia yang tak urung bangun juga dan duduk.

"Itu, Mama datang," jawab Robin dengan suara agak panik.

"Mamanya siapa? Kamu apa aku?"

"Mamaku."

Nadia langsung terlonjak bangun. Kedua matanya yang tadinya sayu, juga langsung terbuka. Nadia melompat bangun dari tempat tidur dan bergegas ke kamar mandi tanpa menutup pintunya. Robin sendiri langsung ke lemari pakaian, mengambil salah satu gaun harian untuk dikenakan Nadia.

"Tumben mamamu datang pagi-pagi, sih?" tanya Nadia di tengah-tengah kesibukannya menyikat gigi.

"Aku juga gak tau. Untung tadi Mbok Min langsung bilang, waktu mobil Mama masuk, jadi aku langsung ke kamar dulu buat bangunin kamu."

Nadia sudah menyikat gigi dan mencuci wajahnya. Dia melepaskan pakaiannya begitu saja, menampilkan kemolekan tubuhnya tanpa rasa malu di hadapan Robin yang sudah menjadi suaminya selama sepuluh bulan.

Robin menelan air liurnya saat mengulurkan gaun santai untuk si istri. Hasrat liarnya mulai tergoda dan bangun. Tapi, Robin menahan diri untuk itu.

Setelah Nadia mengenakan bedak dan perona bibir, pasangan suami istri itu keluar kamar, dengan bergandengan tangan. Keduanya langsung ke ruang makan, yang disambut kehadiran Mama Anita, yang sudah duduk di salah satu kursi makan.

"Mama kira kamu sudah berangkat kerja lho, Rob. Untung belum," ucap Mama Anita yang kemudian menyambut pelukan dan ciuman hangat di pipi dari putra dan menantunya.

"Nadia duduk sini, Sayang." Mama Anita menepuk kursi di sebelah kirinya. "Nih, Mama bawain bubur ikan teripang dan jus seledri campur bayam, buat kamu."

Nadia yang melihat suguhan di depannya, menjadi mual. Dia tidak suka jus sayuran dan dia juga tidak suka bubur, apalagi ada ikan teripangnya. Itu membuatnya ingin muntah.

"Dimakan semuanya sampai habis. Jusnya juga diminum sampai habis." Meski diucapkan dengan lembut dan dengan senyuman, tapi kalimat yang keluar adalah perintah Anita untuk menantunya.

"Aku makan nanti aja ya, Ma," elak Nadia.

"Jangan nanti-nanti. Ini buburnya mumpung masih hangat. Dimakan sekarang, ya."

"Nadia gak biasa sarapan, Ma." Robin yang duduk di sebelah nadia, mencoba membantu istrinya yang gelisah.

"Diem kamu, Rob. Ini buat kebaikan Nadia. Biar rahimnya sehat dan hangat. Jadi telur yang masuk dari kamu, bisa langsung terbuahi di dalam."

"Tapi kan Nadianya gak biasa sarapan, Ma. Mama juga biasanya ngantar beginian sore atau malam. Kok, tumben pagi?"

Mama Anita tidak langsung menjawab. Kepalanya sedikit dimiringkan dan kedua bola matanya bergulir ke sudut mata, menatap si menantu yang masih terlihat enggan memakan buburnya atau meminum jusnya.

"Karena Mama curiga, kalau Nadia gak makan buburnya atau semua makanan yang udah Mama kirim ke sini."

Nadia menunduk, menggigit bibir atasnya dengan perasaan tak menentu.

"Nadia makan kok, Ma," ujar Robin yang masih melindungi istrinya. Pada kenyataannya memang Nadia tidak mau memakan atau meminum apa-apa yang dikirimkan ibunya. Nadia punya alasan untuk itu.

"Kalau makan kok gak hamil-hamil? Perempuan-perempuan lain sudah pada hamil setelah makan bubur ini dan minum jus ini. Bahkan satu hari setelah menikah juga, langsung hamil. Ini malah sudah sebelas bulan, gak hamil juga."

"Sepuluh bulan, Ma," ralat Robin.

"Halah sama aja." Mama Anita mengibaskan tangan. "Ayo, Nad, dimakan buburnya. Keburu dingin."

"Aku udah makan roti sama telur, Ma," dusta Nadia. "Aku makan nanti siang, ya."

"Udahlah, makan sekarang. Banyak ngelaknya kamu ini." Mama Anita sudah tidak sabar dengan Nadia yang dianggapnya lambat.

Tidak punya pilihan. Nadia terjepit. Dengan tangan lemas Nadia memegang sendoknya, mulai mengaduk buburnya yang memiliki kuah berwarna abu-abu. Aroma amis, semakin menguar, dan perut Nadia semakin bergejolak.

Di bawah tatapan mata ibu mertuanya, Nadia menyuap sesendok bubur ikan teripang. Begitu masuk ke dalam bibir mungilnya, seketika itu juga Nadia memuntahkannya.

"Lho, kok dimuntahin?" tanya Mama Anita dengan mata mendelik lebar.

Bukannya menjawab, Nadia justru keluar dari kursinya, dan tergopoh-gopoh meninggalkan ruang makan.

"Lihat, itu istrimu! Bisa-bisanya dia muntahin makanan yang Mama bawa!" pekik kesal Mama Anita.

"Kan tadi aku sudah bilang kalau dia gak biasa sarapan. Mama pake maksa segala," protes Robin yang bersiap berdiri dan akan menyusul Nadia, yang dia yakini lari ke kamar.

"Mau ke mana kamu? Duduk!" bentak Mama Anita dengan wajah garang.

Dengan patuh, Robin duduk. Pun begitu, arah matanya masih tertuju pada kepergian Nadia.

"Jadi, selama ini istrimu itu gak makan makanan yang Mama kirim? Iya?" tanya Mama Anita galak.

Robin menghela napas lelah. "Lagian kenapa Mama kirim makanan yang gak jelas gini sih, Ma?"

"Tadi kan Mama sudah bilang kalau itu untuk kebaikan rahimnya. Memangnya buat apa lagi?"

"Tapi makanan yang Mama bawa, aneh semua rasanya. Aku aja mau muntah, apalagi Nadia."

"Ya, ditahan dong. Itu semua kan makanan herbal. Makanan kesehatan."

Robin menarik napas panjang. Ibunya sudah ngotot dan itu tidak bisa didebat.

"Kamu ini memangnya gak khawatir kalau istrimu gak hamil-hamil?" tanya Mama Anita.

"Apa yang dikhawatirkan sih, Ma?" tanya Robin malas.

"Khawatir, dong. Orang lain yang setelah nikah, langsung hamil. Ini udah mau setahun, belum juga hamil. Kalian udah periksa ke dokter?"

"Tidak ada yang salah dengan aku dan Nadia, Ma."

"Kalau gak salah kok gak hamil-hamil?"

"Ya, belum dikasih aja sama Tuhan. Dan lagi, buat apa hamil cepat-cepat, Ma? Udahlah, biarin kami jalani rumah tangga ini dengan tenang. Lagian, aku sama Nadia masih ingin pacaran dulu."

"Apa?!" Mama Anita mendelik menatap putra tunggalnya dengan kesal. Sedari tadi, Robin selalu bersikap melindungi Nadia, padahal yang dia lakukan sebagai ibu adalah untuk kebaikan.

"Kurang puas ya, tiga tahun lebih kalian pacaran? Sampai-sampai sudah menikah aja, masih mau pacaran segala. Yang bener sajalah kamu ini!

Di mana-mana, orang menikah itu tujuan utamanya adalah memiliki anak! Memiliki penerus! Apalagi kamu adalah anak laki satu-satunya, penerus kejayaan papamu. Kalau kamu sampai gak punya anak juga, apa kata orang nanti ke kita?

Kalau bukan karena istrimu itu yang mandul, ya bisa aja kamu yang loyo! Dan Mama gak mau rumor kedua menimpa dirimu. Bikin malu itu namanya!"

Mama Anita berdiri dengan kasar. Ditatapnya Robin yang diam saja, tidak memberikan reaksi apa-apa.

"Dari awal kamu kenalkan Nadia sebagai calonmu, Mama sudah merasakan aura negatif. Aura kesialan. Aura ketidakberuntungan. Kamunya aja yang ngotot tetap nikahin dia.

Kalau sampai akhir bulan ini ,istrimu itu gak ada tanda-tanda hamil, sebaiknya kamu segera pertimbangkan cari istri kedua atau ceraikan saja dia dan menikah lagi dengan wanita yang memiliki rahim kuat."

Anita meluncurkan ultimatumnya tanpa perasaan, sebelum kemudian berpamitan pulang, mengabaikan sang putra yang diam termangu. Di sudut lain rumah, di tempat yang tersembunyi, Nadia mendengarkan sisa percakapan dengan tangan terkepal kuat dan kemudian berlalu kembali ke kamar.

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Membenci Setiap Detik Bersamamu
9.8
Tujuh tahun mendampingi Damian Crestfall, pewaris takhta Crestfall Group, hidup Alira Evangeline Moore hancur seketika saat sang kekasih menolak menikahinya. Di tengah kondisi mengandung, Alira dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan demi cinta atau menyelamatkan janinnya. Merasa dikhianati janji manis Damian, ia memilih pergi selamanya. Alira bertekad melindungi calon bayinya, meninggalkan Damian, dan memulai lembaran baru yang mandiri.
Sampul Novel (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan
9.4
Nasib membawa Serayu ke dalam pernikahan paksa dengan Abra, seorang dokter arogan yang juga pewaris takhta rumah sakit terkemuka. Hubungan yang awalnya hanya sekadar sandiwara tanpa rasa ini lambat laun berubah menjadi ikatan cinta yang tulus. Sayangnya, kebahagiaan mereka tidak bertahan lama. Intervensi dari mertua serta kemunculan kembali mantan kekasih Abra menjadi ujian berat yang mengoyak keutuhan rumah tangga mereka. Kini, bertahan atau melepaskan sama-sama menorehkan luka mendalam bagi keduanya.
Sampul Novel Buku Harian Rahasia Fiona
8.5
Terjebak dalam pelukan erat seorang pria bertubuh tinggi di dalam mobil, Fiona hanya bisa menangis tersedu-sedu sambil memegang erat sandaran kursi penumpang. Sentuhan intim di pinggangnya membuat napasnya kian sesak dan tak berdaya. Di tengah kepasrahan itu, ia memohon agar mereka tidak melakukannya di sana. Namun, saat pria itu membisikkan tawaran untuk pindah ke rumahnya, Fiona yang sudah melemas akhirnya menyerah dan menyetujui ajakan tersebut tanpa berani menatap matanya.
Sampul Novel Elegant Revenge
8.5
Dunia Aira runtuh akibat pengkhianatan suaminya, Awan, yang berselingkuh dengan cinta pertamanya, Amanda. Sempat didera rasa bersalah, Aira akhirnya tersadar bahwa dirinya adalah korban manipulasi berkat bantuan orang-orang terdekat. Didorong amarah yang terarah, ia menyusun rencana pembalasan yang cerdas dan anggun. Di tengah perjuangan menuntut keadilan, sosok Galang hadir menawarkan ketulusan. Kini, mampukah Galang menyembuhkan luka Aira dan menggantikan posisi Awan?
Sampul Novel Get Pregnant Please!
8.3
Nasib buruk terus membayangi Caca. Seorang peramal lalu menyarankannya untuk hamil agar takdirnya berubah. Masalahnya, sang suami misterius yang menikahinya setahun lalu tidak pernah pulang, meski Caca hidup bergelimang harta di rumah mewah. Mengira suaminya adalah lelaki tua berwajah buruk, Caca nekat pergi ke klub malam demi mencari pria tampan untuk menghamilinya. Siapa sangka, pria tampan yang menjadi targetnya malam itu ternyata adalah suaminya sendiri yang selama ini ia hindari.
Sampul Novel Istri Kontraknya Ingin Bercerai
8.2
Akibat satu malam tak terduga, Emalee terikat pernikahan kontrak dengan Jonny. Namun, ia harus menerima kenyataan pahit bahwa suaminya masih mencintai wanita dari masa lalunya. Begitu perempuan itu kembali, Emalee memilih mundur dan meminta cerai untuk mengakhiri luka hatinya. Di luar dugaan, Jonny menolak keras tuntutan tersebut. Dengan sikap dingin, ia menegaskan bahwa Emalee adalah miliknya selamanya, sebab di keluarga mereka, perceraian dilarang dan hanya kematian yang bisa memisahkan.