
Prahara Orang Ketiga
Bab 3
Dengan kaki yang terluka, ditambah demam akibat kehujanan, dokter menyarankanku untuk menjalani operasi dalam beberapa hari.
Aku tidak punya tempat untuk pergi dan hanya bisa tinggal di rumah sakit.
Bimo meneleponku malam itu, dengan marah menanyakan di mana aku berada.
Riani yang berada di sampingnya mencoba memperkeruh suasana. "Kak Bimo, Kak Erika masih belum pulang, apa dia tidur di tempat temannya? Aku dengar katanya rekan kerjanya banyak yang laki-laki, apa kamu nggak takut terjadi sesuatu dengan mereka?"
Bimo mendengkus, "Kamu nggak tahu secinta apa dia denganku. Dia seperti anjing, diusir saja nggak mau pergi, jadi mana mungkin dia selingkuh?"
Hatiku seperti tersayat pisau. Ketika Bimo ingin mengakhiri hubungan denganku, aku berusaha sekuat tenaga untuk tetap bertahan. Aku pikir aku sudah membuat hatinya luluh, tetapi tidak disangka di matanya, aku hanyalah seekor anjing penjilat yang tidak bisa dia singkirkan.
Bimo menggambarkan perpisahan itu dengan sempurna, bahkan mengulangi permohonan yang pernah aku lakukan.
Riani terkikik. "Kak Bimo, aku baru balik dari luar negeri saat kalian putus. Apa kamu melakukan ini demi aku?"
Bimo menegang sejenak dan menyuruhku untuk tidak berpikir macam-macam. "Waktu itu hanya dorongan hati. Kalau nggak, aku nggak akan mau nikah sama kamu."
Aku menggelengkan kepala dengan nada mengejek, lalu menutup telepon.
Perawat yang mengganti obatku mendengarkan panggilan itu sampai akhir. Ketika dia melihatku lagi, sedikit simpati muncul di matanya. Kata-kata nasihatnya jauh lebih lembut dari sebelumnya.
"Kapan paling cepat aborsi bisa dilakukan?"
"Luka di kaki nggak terlalu serius, jadi bisa dilakukan besok."
Anda Mungkin Juga Suka





